Dua wartawan Lampung TV dianiaya

BANDAR LAMPUNG, KOMPAS — Aksi penganiayaan kepada wartawan kembali terjadi. Dua wartawan Lampung Mega Televisi mengalami luka memar setelah dipukuli oleh puluhan preman saat meliput proses tender di Balai Besar Wilayah Sungai Mesuji-Sekampung.
Informasi yang diperoleh Kompas, Jumat (18/1) petang ini dari Firman Seponada, Deputi Pemberitaan Lampung Mega Televisi atau L-TV menyebutkan, dua wartawan L-TV yang dianiaya itu kameramen Hariadi dan reporter Sri Hastuti.
Kejadian bermula ketika Hariadi meliput proses tender di Balai Besar Wilayah Sungai Mesuji-Sekampung pukul 12.00. Sesampainya Hariadi di lokasi, ia melihat banyak orang berkumpul dan berkerumun. Kemudian ia langsung mengeluarkan kamera dan mengambil gambar kerumunan tersebut.
Di saat Hariadi tengah mengambil gambar, seorang pria tidak dikenal mendatangi Hariadi. Ia mempertanyakan izin pengambilan gambar itu. Karena tidak memiliki izin, Hariadi menjawab, ”Tidak ada yang memberi izin. Saya di sini meliput,” Hariadi.
Pria tidak dikenal itu lantas mengancam Hariadi dan memaksa Hariadi memberikan kaset rekamannya. Merasa diintimidasi dan diancam, Hariadi menyerahkan kaset tersebut. Namun Hariadi kemudian menelepon redaksi L-TV dan melaporkan intimidasi tersebut.
Redaksi L-TV memutuskan mengirim perwakilan untuk mengklarifikasi kejadian tersebut. Pukul 15.00 enam wartawan L-TV dan tiga kontributor televisi nasional untuk Lampung segera mendatangi Balai Besar Wilayah Sungai Mesuji-Sekampung untuk mengklarifikasi.
Di kantor balai besar itu, perwakilan L-TV dan tiga kontributor televisi tidak dapat menemui siapapun termasuk Kepala Kantor Balai Besar. Namun perwakilan L-TV sempat menemui pria tak dikenal yang mengintimidasi Hariadi dan mengklarifikasi, wartawan tetap diperbolehkan meliput proses tender. ”Karena itu proses terbuka,” jelas Firman.
Belum selesai perwakilan L-TV mengklarifikasi, puluhan pria tidak dikenal malah mengerubungi dan mendorong-dorong sembilan wartawan itu. Sri Hastuti yang ingin melerai justru mendapat tamparan di pipi kanan. Sementara Hariadi mendapat bogem mentah dan membuat pelipis mata kiri Hariadi lebam.
Beruntung pihak L-TV segera melapor kepada polisi sehingga satu mobil patroli dikerahkan menuju ke kantor Balai Besar Wilayah Sungai. Dua butir peluru sempat ditembakkan untuk mengakhiri kerusuhan itu.
Tiga preman sudah diamankan di Polsek Telukbetung Selatan, yaitu Patrik Hopa, Yen El, dan Lanang Gunawan (salah seorang diantaranya adalah PNS di Dinas Pengairan—Red). Proses verbal atas penganiayaan itu selesai pukul 19.00 ini. Sri dan Hariadi sekarang masih di RS Bumi Waras untuk mendapatkan visum.(HLN ). Sumber: http://www.kompas.com/

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda