Jakob Oetama: Kita kehilangan keindonesiaan

Maumere, PK --- Bangsa Indonesia masih cenderung saling menyalahkan. Rasa saling percaya di antara sesama melemah. Kita seperti kehilangan idealisme keindonesiaan yang mengikat kebersamaan bangsa. Padahal revolusi teknologi informasi yang telah mengglobal, serentak dan interaktif seharusnya bisa menumbuhkan rasa saling percaya atau rasa solidaritas di antara sesama umat manusia.
Demikian pokok pikiran yang dikemukakan Presiden Direktur (Presdir) Kelompok Kompas Gramedia (KKG), Jakob Oetama, ketika tampil sebagai pembicara tunggal dalam seminar di Aula Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Maumere, Jumat (28/10/2005). Seminar bertema “Peran Pers Indonesia dalam Membentuk Budaya Politik Demokratis” itu merupakan bagian dari rangkaian acara pembukaan Festival Ledalero 2005-2006.
Jakob Oetama yang pertama kali mengunjungi Flores, bahkan NTT itu datang bersama tokoh nasional asal Sikka, Drs. Frans Seda, serta sejumlah wartawan senior Kompas dan petinggi KKG seperti August Parengkuan, St. Sularto, Julius Pour, Rikard Bagun, Petrus Waworuntu dan Wandi Brata. Hadir pula Pemimpin Umum Pos Kupang, Damyan Godho, dan Pemimpin Redaksi Pos Kupang, Dion DB Putra.
Seminar itu dihadiri seluruh sivitas akademika STFK Ledalero, peserta workshop festival, para pejabat dari Kabupaten Sikka dan utusan dari sejumlah sekolah menengah di Maumere dan sekitarnya. Dalam kondisi melemahnya rasa saling percaya itu, Jakob Oetama menawarkan pemikirannya tentang mengenal lebih jauh Indonesia agar kita menemukan kembali idealisme keindonesiaan yang mengikat seluruh bangsa dari Sabang hingga Merauke.
Mengenal kembali Indonesia, jelas Jakob, adalah mengenal sumber daya alam, keragaman adat istiadat, mengenal bhineka tunggal ika sebagai living community, mengenal semangat rela berkorban, kerja keras dan ulet. Dengan demikian kita mendapatkan inspirasi baru.
Langkah konkret yang dilakukan Harian Kompas, demikian Jakob, adalah menggelar Tour Jurnalistik Lintas Timur-Barat mulai dari Atambua (Belu) hingga Aceh sejak medio 8 Oktober lalu. Melalui upaya itu, kata Jakob, kita bisa kembali menemukan pemahaman baru yang lebih benar dan lebih lengkap mengenai tanah air. Kita segera akan menemukan Indonesia yang sedang terpuruk, tertinggal dan cenderung saling mempersalahkan. “Juga menemukan tanah air yang begitu luas, namun dalam perjalanannya hingga 60 tahun merdeka, orientasinya tetap ke tanah, sementara airnya kurang. Mudah-mudahan dengan menemukan kembali Indonesia akan membangkitkan rasa kebersamaan sebangsa,” harap tokoh pers nasional itu.
Melalui reformasi, kata Jakob, Indonesia kini sedang mengusung perubahan orientasi struktur negara dan pemerintahan, di antaranya melalui otonomi daerah. Dengan perubahan orientasi ini, maka segala sesuatunya mengalir dari daerah ke pusat, berbeda dengan sebelumnya, dari pusat ke daerah. “Perubahan itu haruslah menjadi spirit baru bagi bangsa Indonesia untuk bangkit dari keterpurukan. Mengapa? Implikasi dari otonomi daerah adalah mengenalkan tanah air dari bawah. Kita perlu mengenal sosoknya, seluruh isi alam, peninggalan budaya, peninggalan sejarah. Tapi ini memerlukan pemikiran, komunikasi, memerlukan informasi sehingga pariwisata tumbuh, mendatangkan wisatawan domestik dan mancanegara yang menghasilkan devisa,” ujarnya.
Kagumi Flores
Mengawali ceramahnya, Jakob Oetama melukiskan kekagumannya akan panorama alam dan budaya masyarakat Flores. “Saya ke Flores ini suatu penziarahan pribadi. Sebagai wartawan saya sudah sering bepergian ke mana-mana. Tapi di sini (Flores) saya melihat panorama, lingkungan alam yang memikat, mencerminkan kebesaran Tuhan. Luar biasa,” kata Jakob dengan suara serak menahan haru.
Menurutnya, keindahan panorama alam itu harus diketahui tidak hanya masyarakat Flores, masyarakat NTT, tetapi masyarakat Indonesia dan dunia. “Masalahnya adalah bagaimana dikenal sehingga menarik rombongan wisatawan domestik maupun mancanegara,” katanya.
Beberapa saat sebelum menyampaikan ceramah di STFK Ledalero, Jakob bersama Frans Seda dan rombongan berkesempatan melakukan ziarah ke bukit Nilo, sekitar 7 kilometer arah selatan Maumere. Di bukit ini sejak Mei 2005 lalu telah dibangun sebuah tempat ziarah di bawah patung Bunda Maria Segala Bangsa. Patungnya setingggi 28 meter. Sehari sebelumnya, Jakob sempat berkunjung ke Lekebai, sekitar 40 km arah barat Kota Maumere. Lekebai merupakan tanah kelahiran Frans Seda.
Ketua STFK Ledalero, P. Dr. Henrikus Dori Wuwur, SVD, dalam pengantar seminar itu mengatakan, bagi para pembaca, Kompas dan Jakob Oetama adalah dua nama yang sudah menjadi satu. “Yang membahagiakan kami bahwa kegiatan festival ini juga terdengar oleh Bapak (Jakob Oetama) bersama seluruh rekan kerja Kompas sebagai satu surat kabar terkemuka, bukan hanya di Indonesia tetapi juga di Asia,” kata Wuwur. Pos Kupang edisi Sabtu, 29 Oktober 2005. Site http://www.indomedia.com/poskup

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda