Mama

Cerpen Yayang Sutomo
Pos Kupang Minggu, 13 Januari 2008, halaman 6

"TANGGAL 2 Desember mama berangkat ke Saudi Arabia, kamu harus datang sebelum tanggal itu!" Demikian pesan singkat yang kuterima dari kakak perempuanku.
Aku merasa bersalah karena seolah-olah aku tidak peduli terhadap keberangkatan mama ke Arab Saudi untuk menunaikan ibadah haji.
Sementara aku sibuk menyalahkan diri sendiri, telepon genggamku berbunyi lagi pertanda ada pesan masuk dan baru, yang dikirim oleh seseorang. Kupencet tombol yes dan pesan yang sama kuterima untuk yang kedua kalinya namun kali ini datangnya dari adik laki-lakiku.
Rasa bersalahku kian menjadi. Untuk menguranginya aku membalas pesan adikku dengan mengatakan aku pasti datang sebelum tanggal tersebut seraya meyakinkannya dengan kata-kata penuh kepastian.
Segera sesudah pesan terkirim, aku menelepon agen pesawat merpati dan memesan (booking) satu tiket atau tempat tujuan Kupang. Alhamdulillah, aku mendapat satu tempat duduk (seat) untuk keberangkatan lusa. Lega rasanya.
Mentari merangkak perlahan bersembunyi di balik bukit. Sinarnya yang kemerah-merahan memanggil Sang Dewi malam keluar dari peraduannya. Langkah sang Dewi seirama gemulai lenggangnya sang waktu. Malam tiba dalam keanggunannya.
Suara binatang malam terdengar dikejauhan mengiringi langkah kaki Sang Dewi dan menyapa malam yang mulai bertugas menggantikan sang siang.Aku menatap nanar langit-langit kamarku yang diam membisu. Bayangan masa lalu mengusik pikiran yang ada. Anganku melayang melintasi batas waktu.
Menyeberangi hari, bulan dan tahun. Menembus lorong-lorong masa dan terhenti ketika aku masih berumur enam tahun, adikku Ferrel berusia tiga tahun, sedangkan Nunik, kakak perempuanku, berusia delapan tahun Ketika itu kami bertiga menangis ketakutan, berdiri, sambil berpelukkan di salah satu pojok kamar menyaksikan perkelahian antara papa dan mama.
"Aku tak tahan kalau papa begini terus. Berhentilah mabuk-mabukan, Pa! Uang kita sudah habis, tidak ada lagi yang bisa dijual. Kasihan anak-anak," isak mama lirih beruraian air mata.Plak! sebuah tamparan mendarat tepat di pipi kanan mama.
"Jangan mengguruiku! Aku bosan mendengar nasihatmu, perempuan cerewet," suara papa meninggi dengan wajah garang. "Malam ini aku talak engkau!" kata papa tegas sambil ngeloyor pergi.Kakakku Nunik adalah yang paling mengerti akan keadaan ini. Dia menangis terisak-isak.
Melihatnya seperti itu, aku dan Ferrel yang tidak tahu apa-apa ikut menangis sedih.Sejak malam itu, hidup kami jadi berubah. Papa jarang pulang untuk melihat kami. Mamalah yang mengambil alih tugas papa sebagai kepala rumah tangga, mencari nafkah, mencukupi kehidupan sehari-hari dan melindungi anak-anaknya. Mama begitu tegar menghadapi rumitnya kehidupan.
Mungkin zaman sekarang istilahnya adalah KDRT (kekerasan dalam rumah tangga). Ya, mama adalah korban kekerasan dalam rumah tangga. Sayangnya dulu belum ada yang berani mengungkapkan ini.Mama..yah...mama, usianya masih muda ketika segalanya terjadi. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mama berjualan kue-kue yang dititipkan di salah satu kantin di sebuah SD Inpres yang tak jauh dari rumah kami.
Sore harinya mama bekerja di salon kecantikan. Mama memang cantik. Kulitnya kuning langsat. Rambutnya lurus, hitam dan tebal sebahu. Bulu matanya lentik. Alisnya tebal dan rapi. Hidungnya mancung seperti wanita-wanita Timur Tengah. Tubuhnya ideal bagi wanita Indonesia.
Sangat cocok untuk bekerja di salon kecantikan, bahkan jadi model pun mama layak diperhitungkan.Setiap malam, kami selalu menanti kepulangan mama, sebab mama akan membawakan oleh-oleh buat kami, mulai dari buah-buahan, roti, coklat dan banyak lagi yang menyenangkan hati kami.
Suatu hari, ketika aku baru pulang dari sekolah, seorang ibu yang adalah tetangga kami berkata setengah suara, "Jaga bosong pung mama bae-bae, awas ko bosong nanti dapa papa baru."Aku hanya tersenyum, mengangguk dan terus berjalan. Beribu pertanyaan menari-menari di benakku.
Kenapa si ibu itu berkata begitu? Apa betul kami akan mendapat papa baru? Kalau betul, bagaimana nasib kami? Pertanyaan-pertanyaan ini berlalu tanpa jawaban. Ach! Aku percaya pada mama. Mamaku mama yang baik. Tidak mungkin mama melakukan hal-hal yang menyakiti hati anak-anaknya.
***
HARI terus berganti. Waktu berlalu tanpa kompromi. Hasil perjuangan mama mulai nyata. Dua anak perempuannya telah berhasil menamatkan pendidikan mereka di perguruan tinggi. Kak Nunik terlebih dahulu di wisuda dengan titel sarjana ekonomi (SE) dan saat ini bekerja sebagai teller di Bank Indonesia.
Sedangkan aku meraih gelar sarjana di bidang pendidikan (S.Pd) program studi fisika. Ketika aku diwisuda, mama meneteskan air mata, seperti hendak mengatakan sesuatu, namun tak kesampaian.Saat mama berusia 45 tahun, kami merayakan HUTnya dengan mengadakan pesta seadanya. Mama begitu bahagia. Senyumnya tersungging menawan. Sisa-sisa kecantikannya tergurat diwajahnya. Mama masih seperti berusia 30-an. Tetap mempesona. Kami bangga padanya. Setelah pesta usai, mama memanggil kami bertiga.
"Ada yang ingin mama bicarakan kepada kalian. Sini, jagoan mama duduk di samping mama," suara mama lembut sambil menarik tangan Ferrel agar Ferrel duduk di dekatnya. Aku mengambil tempat tepat di depan mama. Sedangkan kak Nunik duduk rapat di samping kanan mama.
"Mama ingin berhenti bekerja. Mama ingin istirahat. Mama sudah tua, mama lelah. Biaya kuliah Ferrel mama serahkan pada kalian berdua. Itu menjadi tanggung jawab kalian. Kalian atur bagaimana baiknya!""Beres Ma, jangan khawatir, pokoknya itu tanggung jawab kami, mama tidak usah pikir", kataku percaya diri.
"Mama ingin mengakui kesalahan mama. Kalian boleh membenci mama. Mama sudah tidak sanggup menyembunyikan ini. Sekian lamanya hati mama berperang. Sekaranglah waktunya mama mengungkapkan fakta yang sesungguhnya. Sebenarnya selama ini mama tidak bekerja di salon kecantikan. Sebenarnya mama bekerja sebagai wanita panggilan," suara mama lirih, sendu diantara isak tangisnya.
Aku terdiam, suaraku hilang, tercekat di tenggorokan. Teganya mama melakukan itu. Untuk apa? segumpal kebencian membludak di hatiku. Aku jijik melihat mama. Kutatap matanya dalam-dalam, Munafik!!! Hanya kata itu yang tepat buat mama.
"Kenapa mama melakukan itu, Ma?" tanya Kak Nunik."Mama terpaksa, Nik! Untuk biaya sekolah dan kuliah kamu dan adik-adikmu terlalu besar. Hasil penjualan kue-kue di kantin tidak mencukupi. Hanya itu jalan satu-satunya yang bisa mama lakukan," suara mama membela diri. "Omong kosong!" sambarku.
"Tidak bisa bekerja yang lain? Bikin malu! Pantas ibu Ramli tetangga kita mewanti-wanti agar kami menjaga mama. Ternyata betul!," suaraku setengah berteriak."Marahlah sepuasmu, Nung! mama terima. Mama tahu resiko yang mama hadapi. Mama tahu ini akan terjadi," suara mama merendah dan tersendat."Sudalah Nung, kasihan mama! Pikirkanlah kembali kata-katamu! Pikir juga semua hal yang sudah mama lakukan untuk kita sejak kita kecil hingga sekarang ini," lagi-lagi kak Nunik mencoba melumerkan amarahku.
Namun amarahku belum sepenuhnya mencair. Aksi protesku kulakukan dengan bersedia dipindahkan ke kabupaten lain, untuk mengajar fisika di sebuah SMA negeri di sana. Aku hanya berpamitan pada kakakku. Sedangkan mama berdiri di kejauhan menatapku dengan berurai air mata.
Hatiku membaja. Susah untuk memaafkan meski beribu nasehat terlontar dari mulut kakakku, aku tak peduli. Aku muak melihat mama.Tahun-tahun berlalu, tak terasa lima tahun sudah aku terpisah dari mama sejak pengakuannya malam itu.Berita tentangnya hanya kudengar dari kak Nunik lewat surat, sms, ataupun telepon. Sebenarnya di lubuk hatiku, aku merasa kasihan pada mama. Hanya saja aku malu mengakui itu. Diam-diam aku juga merindukannya.
Aku rindu dongengnya sebelum aku tertidur pulas. Aku rindu masakannya yang melebihi restoran mana pun. Aku rindu kecupannya di pipiku sebelum aku keluar rumah. Aku rindu tangannya menyisir dan mengikat rambutku sebelum ke sekolah, aku rindu.. ach mama! Air mataku menetes mengingatnya.
"Tok, tok, tok," suara ketukan pintu mengagetkanku."Bu guru, makan malam sudah siap," suara muridku yang tinggal bersamaku di mess guru dekat sekolah memanggil dengan lembut. "Ya ampun, ternyata sudah waktunya makan malam," gumamku.
Kucoba mengingat-ingat kira-kira berapa jam lamanya aku merenungkan semua hal yang berkaitan dengan mama setelah memesan tiket pesawat tadi pagi. Ach, ternyata lama juga. Sambil menikmati makan malam pun ingatanku terhadap mama tak hilang. Masih dan terus berpikir tentang mama. "Mamaaa..mamaaa." desahku.
***
Pesawat yang membawaku ke Kupang mendarat mulus di Bandara El Tari tepat jam 13.30 Wita. Perjalanan dari Bandara Mauhau-Waingapu hanya sekitar 45 menit. Cuaca yang cerah mendukung penerbangan itu sendiri. Ketika kakiku menapaki tangga turun, bathinku sedikit bergolak.
"Bagaimana reaksi mama nanti?" desah hatiku.Dari kejauhan kulihat kak Nunik melambai-lambaikan tangannya. Seolah-olah mengatakan ini aku, aku di sini datang untuk menjemputmu adiku. Aku tersenyum sendiri sambil membalas melambaikan tangan. Begitu bertemu, kami berpelukan erat.
"Akhirnya kamu pulang, Nung! Mama pasti senang sekali. Mama sudah banyak berubah. Mulai dari dandannya sampai kegiatannya sehari-hari. Mama sekarang memakai kerudung, rajin shalat, ikut pengajian dan pokoknya semua kegiatan yang berbau keagamaan dilakukannya," panjang lebar kak Nunik bercerita.
Aku hanya tersenyum. Tak satu pun kata terucap dari bibirku. Mobil kijang kapsul milik pacarnya kak Nunik yang telah menjemputku berhenti tepat di depan pintu pagar rumah kami. Banyak sekali perubahan setelah lima tahun tidak pulang.
Rumah permanen yang asri dipenuhi tanaman seperti adenium, evorbia, lidah mertua, mawar, seruni, dan banyak lagi jenis tanaman lain yang takku ketahui namanya rapi berjejer di dalam pot yang berwarna-warni. Pagar yang modern yang kulihat di rumah-rumah pejabat juga berdiri megah membatasi jalan dan tanah rumah kami."Kenapa berdiri di situ terus? Ayo masuk! Heran ya? Ini semua berkat uangmu juga yang kamu kirim tiap bulan," suara kak Nunik mengagetkanku."Iya kak!," jawabku gelagapan.
"Ma, Mama, Nunung datang!" Nunik memanggil mama.Aku menatap tajam ke arah pintu depan. Mama keluar setengah tergopoh-gopoh menyambutku."Nung, Nunung, kamu pulang nak!" tangis mama sambil memelukku erat-erat. Merasakan dekapannya, runtuhlah tembok keegoisanku.
Tangiskupun meledak. Penyesalan yang meluap terlebur dalam air mata keharuan dan kerinduan"Maafkan Nunung, Ma! Nunung tidak pernah pulang. Nunung menyesal, Ma!"Mama sudah memaafkanmu jauh sebelum kamu mamaafkan Mama," suara mama bergetar. Benar kata pepatah, kasih anak sepanjang galah, kasih mama sepanjang masa.
"Istarahat dulu, Nung! Lusa kita akan mengadakan doa syukur bersama (tahlilan). Kita akan mengundang teman-teman pengajiannya mama, ustad dan tetangga dekat sebelum mama berangkat naik haji.Hari itu serasa seperti di surga. Canda tawa melengkapi kebahagiaan kami. Mama tak henti-hentinya tersenyum.
Duduk diantara kami, mama seakan tak mau beranjak. Malam itu kami tidur berempat. Mama menatap kami satu per satu, tersenyum dan tersenyum.Tatkala acara doa syukur (tahlilan) dimulai, rumah kami ramai dengan tamu.
Mereka melantukan pujian-pujian, berdoa agar mama selamat diperjalanan nanti, berdoa agar mama diberi kekuatan dan kemudahan dalam menjalankan ibadah haji. Mereka juga berdoa agar keluarga yang ditinggalkan diberi kemurahan rezeki dan ketabahan. Menunaikan ibadah haji merupakan rukun Islam yang terakhir dan mama mampu memenuhi syarat untuk melakukannya.
Aku tidak tahu dari mana sumber dananya, namun diam-diam kak Nunik menabung untuk mama. Semua uang lembur dan sebagian gajinya ditabung untuk mama. Selain itu, ternyata kak Nunik mempunyai bisnis sampingan yaitu mengkreditkan alat-alat rumah tangga. Keuntungannya ditabung untuk ibadah haji mama.
"Hebat juga, kak Nunik", pikirku. Pengorbanan mama ketika kami masih kecil, sangatlah besar. Perjuangannya agar anak-anaknya berhasil dalam pendidikan patut dipuji. Kerja kerasnya melebihi papa. Siksaan yang dilakukan papa terhadap mama baik itu fisik maupun psikis diterima mama tanpa perlawanan.
Sekali membantah, tamparan melayang. Sekali mengeluh, talak (bercerai menurut hukum agama Islam) terlontar dari mulut papa. Mama begitu tabah, sabar, pasrah namun ulet. Di sisa umurnya, pantaslah kalau mama ingin merasakan kebahagiaan sejati yaitu melaksanakan kelima, rukun Islam secara utuh dan rukun yang kelima adalah impian terakhirnya yaitu menunaikan ibadah haji
***.
Menjelang keberangkatan mama, segala keperluan dipersiapkan dengan matang. Mengenakan kerudung hijau muda, mama terlihat cantik. Sinar kecantikannya dari dalam terpancar digurat wajahnya. Mama menjadi Muslimah sejati yang sholeh dan shakinah.Dari bandara El Tari Kupang mama bersama rekan-rekannya menuju ke Bandara Juanda Surabaya.
Beribu nasehat terlontar dari bibir mama. Kecupan, ciuman, tangisan membaur menjelang keberangkatan mama."Jaga adik-adikmu, Nik! Mama titip mereka kepadamu. Nung dan kamu, Fer, turut nasehat kakakmu. Dia adalah pengganti mama, "suara mama serak sambil bergantian memeluk kami.Pesawat take off dan menghilang dari pandangan kami. Mama telah siap lahir batin manunaikan ibadah haji. Beliau akan melaksanakan serangkaian ibadah tersebut.
Setelah tiba di Bandara King Abdul Azis Jeddah, rombongan mama akan diantar ke penginapan kemudian mereka menuju ke Masjidil haram Mekkah untuk tawaf Qudum: Tawaf ketika memasuki Masjidil haram, lalu ihram, dan wukuf di Padang Arafah selanjutnya sa'i yaitu berlari-lari kecil antara bukit safah dan marwah, kemudian tawaf mengelilingi Ka'bah, melempar jumrah baik jumratul wulah maupun aqabah serta jumratul wusta. Sesudah itu bermalam di Mina dan kemudian mengunjungi tempat-tempat bersejarah seperti makam Nabi dan lain-lain.
Seluruh rangkaiaan ibadah haji berpusat pada wukuf di Padang Arafah, sebab seluruh umat manusia di penjuru dunia melaksanakan doa dan zikir untuk mengingat kebesaran dan keagungan Allah SWT.Hari Raya Idul Adha kami rayakan tanpa mama. Namun suka citaku melebihi segalanya. Segala dendam kepada mama bersih tersapu sejak melihat kasih sayangnya tetap sama, tidak berubah. Allah saja mengampuni dosa manusia mengapa aku tidak?
Bathinku berseru meminta ampun dan memohon belas kasihanNya. Masih terngiang suara mama melantunkan ayat-ayat suci Alqur`an setiap malam setelah sholat isya, aku merasakan mama berbeda, dan sungguh berbeda.Kuhitung-hitung, tinggal beberapa hari lagi mama akan pulang, entah itu dengan kloter penerbangan ke berapa. "Nung, Nung!", teriakan kak Nunik membuyarkan lamunanku.
"Ada pak ustad dan petugas dari kantor agama", suaranya terdengar tak stabilAku keluar dari kamarku menuju ruang tamu. Kulihat ada beberapa orang yang tak kukenal mendampingi pak ustad."Kalian harus tabah! Mama kalian telah meninggal di Tanah Suci setelah mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan tengah bersiap-siap kembali ke tanah air," suara pak ustad berat.
"Jalan Allah kita tidak tahu. Rencananya bagi umatnya selalu baik," lanjutnya.Aku terpana sesaat dan terasa sesak seluruh dadaku. Aku tak mampu berkata-kata. Kak Nunik menangis terisak-isak. "Mamaaaa..," teriak hatiku. Air mataku menetes perlahan. Aku bangga padamu. Mama adalah wanita terhebat yang kumiliki. Apapun yang telah kau lakukan, aku tak peduli. Apapun yang dikatakan orang tentangmu aku lebih tak peduli lagi. Yang aku tahu, kau patut ku hargai, kuhormati dan kusayangi.
Pengorbananmu melintasi harga diri, perjuanganmu dan kerja kerasmu melompati pagar gender, tanggung jawabmu mengatasi prinsip yang hakiki, Mama..a. mamaaaaa sampai kapanpun engkau tetap mamaku..Pergilah mama sayang..Hiduplah dalam kedamaian abadi di sisi Allah SWT. *

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda