Oleh Willem Berybe

Guru SMAK Giovanni Kupang. Meraih gelar S1 program studi Bahasa Inggris FKIP Undana, 1982. Pernah menjadi dosen tidak tetap mata kuliah Reading & Writing program studi Bahasa Inggris FKIP Undana (1983-1984), Kepala SMPK St.Yoseph Naikoten, Kupang (1982-1985 dan 1989-1999

SURAT kabar ini genap berusia 15 tahun pada 1 Desember 2007 lalu. Usia remaja, fresh. Sebentar lagi menginjak usia tujuh belas tahun alias sweet seventeen. Terbit pertama kali Selasa, 1 Desember 1992 di Kupang, Ibu kota Propinsi NTT dalam bentuk tabloid. Mungil. Sederhana, hitam putih dengan kualitas kertas seadanya. Belum semarak dan semeriah seperti sekarang. Berwarna dengan tampilan broad sheet (kertas berukuran lebar). Tampak keren, trendy dan OK!
Di awal penerbitannya ia hadir enam kali seminggu, yaitu dari Senin sampai Sabtu. Karena itu masyarakat pembaca harus menunggu sehari untuk bisa bertemu Pos Kupang pada hari Senin pagi pekan berikutnya. Tapi patut dicatat sejak saat itulah masyarakat Flobamora mulai berangsur-angsur tidak bergantung semata-mata pada surat kabar nasional seperti Kompas, Suara Pembaruan, Jawa Pos, Surya, dan lain-lain untuk memperoleh informasi, baik nasional maupun daerah.
Selain surat kabar lokal SKM Dian di Ende yang senior, Pos Kupang mulai ikut berperan menghantar masyarakat NTT ke era informasi media cetak. Ketika peluncuran edisi perdana di Restoran Pantai Timor, Kupang, dr. Hendrik Fernandez, Gubernur NTT saat itu, memberi petuah: "Daerah (baca: NTT) dengan geografi sangat berat, fasilitas telekomunikasi dan transportasi sangat sulit serta manusianya yang sangat beragam asal usul menuntut kehadiran orang-orang yang berani untuk memulai suatu usaha" (Surya, 1 Desember 1992).
Ach, ini bukan sembarang kata. Kata-kata emas yang keluar dari mulut salah satu sesepuh NTT ini punya daya magis. Kata-kata ini menyiratkan sebuah makna yang begitu penting dan menentukan bagi Pos Kupang yaitu keberanian untuk memulai. Sebuah inspirasi yang menguatkan.
Mirip dengan kata-kata bijak Cesare Pavese yang sering dijadikan inspirator oleh para avonturir (tim ekspedisi) dunia 'The only joy in the world is to begin', kebahagiaan satu-satunya di dunia adalah memulai (Neville Shulman: Zen Explorations, in remotest New Guinea, Adventures in the jungles and mountains of Irian Jaya, hal. 10, Turtle Publishing, Boston, 1997). Belum sampai sebulan usia Pos Kupang kala itu bencana alam tsunami gempa Flores 12 Desember 1992 mengguncang dan memporakporandakan Sikka, Ende, Flores Timur bahkan seluruh kawasan Flores terjerembab oleh bencana alam dahsyat ini. Rupanya peristiwa ini menjadi sebuah blessing in disguise.
Para awak Pos Kupang pun turun lapangan untuk mengemban tugas jurnalistik dengan meliput langsung berbagai momen bencana alam yang berskala nasional itu. Foto-foto kerusakan patung Arnoldus Janssen dan panel salib Kristus Sang Penebus di Ledalero yang direkam oleh Robert ME dan Viktus Murin dari Pos Kupang antara lain menjadi saksi sejarah awal mula kehadiran Pos Kupang di NTT.
***
Setiap edisi Pos Kupang Minggu muncul ia selalu menyajikan kepada kita (pembaca) sebuah rubrik pembelajaran sastra yang unik lewat ruang 'Imajinasi'. Pada kolom pinggir kiri sebuah kotak panjang terjurai dari atas ke bawah berisikan puisi-puisi indah dengan aneka judul dan konteks yang dikirim oleh penulis-penulis berbakat dari NTT.
Bersandingan dengan kotak ini di bagian kanan terdapat ruang khusus untuk cerpen yang sarat nilai sastra pula. Dua jenis bentuk sastra ini tak lepas dari isi kurikulum pembelajaran Sastra di sekolah di mana sastra sebagai ilmu dipelajari. Juga para siswa dituntun bagaimana bersastra: mengapresiasi dan menghasilkan karya sastra. Semua ini diajarkan oleh bapak dan ibu guru Bahasa dan Sastra Indonesia.
Dengan kata lain rubrik "Imaginasi" adalah sebuah arena dan media pembelajaran yang cukup efektif bagi siapa saja yang ingin menuangkan imaginasinya dalam bentuk sastra baik puisi maupun prosa tanpa harus lewat pembelajaran formal di dalam kelas.Sastra adalah sebuah institusi sosial yang memakai bahasa sebagai medium. Demikian Rene Wellek & Austin Warren menulis dalam bukunya Theory of Literature, "Teori Kesusasteraan" (Melani Budianta; Penerbit, PT Gramedia, Jakarta, 1990). Keduanya lebih lanjut mengatakan bahwa sastra berkaitan dengan situasi tertentu seperti sistem pilitik, ekonomi, sosial tertentu (hal. 109-110). Sebuah situasi entah bernuansa politik, ekonomi, sosial, budaya, bahkan pengalaman hidup individu yang riil sekalipun bisa menjadi pemicu bagi seseorang untuk bersastra.
Ketika Taufik Ismail berada di Uzbekistan dalam sebuah perjalanan ke luar negeri, di sana ia terkagum-kagum melihat hamparan padang luas yang membentang dan seketika ingatannya tertambat pada alam Sumba yang pernah memikatnya. Maka lahirlah puisi Taufik yang berjudul Beri daku Sumba. Dalam puisi Lonceng Tinju, Taufik Ismail melakukan protes sendirian bahwa bertinju tak bedanya mengadu ayam.Pandangan Rene Wellek dan Austin Waren di atas hendak menyampaikan kepada kita bahwa dalam institusi sosial masyarakat dapat mempengaruhi sastra. Artinya kondisi, nuansa publik tertentu di masyarakat dapat menggerakkan hati dan mendorong seseorang yang berminat dalam bidang bahasa untuk mengekspresikannya menjadi sebuah cerpen atau puisi.
Kehidupan berdemokrasi di Amerika sudah lama disuarakan oleh seorang penulis puisi terkenal AS yaitu Walt Whitman di tahun 1860-an. Ia menyebutkan kondisi sosial masyarakat Amerika di kala itu bak sebuah negara yang tak mengenal "kesetaraan". Ia pun menulis sebuah puisi berjudul Song of myself.
Di antara baris-baris puisi itu terdapat ekspresi-ekspresi seperti: " ...every atom belonging to me .... belongs to you" (setiap atom itu adalah miliku dan milikmu). Untuk kesetaraan gender ia menulis: " The Female equally with the Male I sing" (Tentang perempuan yang setara dengan laki-laki aku berdendang) atau bagaimana kedudukan manusia di hadapan Tuhan, ia pun bersaksi " In the faces of men and women I see God" (Dalam wajah laki-laki dan perempuan saya melihat Tuhan) dan dengan nada agak retoris ia berbicara tentang kota :" A great city is that which has the greatest men and women" (Sebuah kota besar adalah kota yang memiliki kaum lelaki dan perempuan yang hebat).
***
Sajian khusus rubrik "imajinasi" Pos Kupang tak pernah sepi saban minggu. Itu berarti puisi yang masuk ke meja redaksi terus mengalir. Sebagai ilustrasi ada 150 judul puisi yang sempat saya copot secara acak dari edisi Pos Kupang minggu periode 2005 hingga 2007. Setelah dipilah-pilah saya temukan begitu beraneka ragam tema yang diangkat oleh para penulis. Ada nuansa lokal (10), tentang negeri ini (7), hukum (9), guru (2), cinta (50), bernuansa religius (23), ibu (3), kemiskinan (7), cemoohan, sinisme=mockery (12), dan aneka tema umum ( 27). Nuansa lokal dengan konteks NTT dapat kita simak dalam Rambu (Agust Goga), Ile Mandiri (B Bala Kaya), Pantun anak Timor (Amanche Franck). Kekuatan seorang Yohanes Manhitu dalam berpuisi dengan konteks lokal di luar NTT dapat kita temukan dalam Serumpun lilin di wajahku (Mei 2007). Ia sungguh mengagungkan keheningan tempat peziarah Sendangsono dengan aksesoris alam seperti rumpun betung, pohon kelapa, pohon sono, Bukit Menoreh sebagai pengindahnya. Sorotan tajam tentang negeri ini banyak terungkap dalam Jangan diam (Servas K Bero) sebagaimana terungkap dalam bait satu dan dua:

Diam
Takut
Bimbang...jangan!!
Kita mesti bicara
Karna diam, takut, bimbang
Artinya kita bersedia digilas
Padahal kita anak merdeka

Soal kemiskinan sangat menyentuh rasa kemanusiaan (sense of humanity) para penyumbang puisi Pos Kupang seperti tampak pada judul-judul: Puisi si kaya dan si miskin (Reinheart, SE), Jeritan Si Miskin (Gregg Ferreira), Ucapan duka cita (Raymond Meharangga), dll. Sedangkan puisi-puisi religius cukup bervariasi ada doa seperti Senandung Doa (Maria Goretti Baba Nong), Doa pertobatan (Vitalis Sasi), Permenungan (meditasi) dalam Refleksi I, II, III (IW Yogi A Suradi), Adven (Asterius Osa Bulu), dan Di atas sejadah pasrah (Usman D Ganggang). Seputar hukum di negeri ini tak luput dari sorotan mereka seperti Nurani yang meronta (Buat hukum negeri ini) karya Vinsen Making. Ia mengawali puisinya dengan:

Aku anak manusia
Lahir dari rahim kebebasan
Yang hidup oleh kasih Tuhan
Untuk sebuah sejarah

dan di bait ketiga ia berseru:

Namun kini....
Di simpang jalan tak tentu ini
Aku terkapar oleh cengkraman tangan manusia
Siap mati oleh sabda si fana

Usman D Ganggang memberi judul puisinya Hukum telah lama mati dan dalam Untukmu wahai penguasa negeri, Kornelis Timo berteriak (bait ketiga & keempat):
Untukmu wahai penguasa negeriDengarkanlah jeritan merekaIndahkanlah permintaan merekaRingankanlah beban penderitaan mereka
Untukmu wahai penguasa negeriJangan kau garap milik merekaJangan kau makan jatah merekaJangan kau tertawa atas penderitaan mereka.
Relasi emosional antara penulis dengan sang ibunda dilukiskan oleh Thilde Menge 'Warkat buat mama', Perjalanan cinta (Hengki Ola Sura), dan Mama (Carol Lwanga T), sementara tokoh guru sebagai figur yang berhasil mencetak pejabat-pejabat di negeri ini mulai dari pak lurah hingga presiden disuarakan oleh Lodia Lay Wadu dalam Rintihan guru SD. Bukan apa-apa, bukankah lantaran guru SD seorang presiden dan gubernur tahu huruf A ....? Begitu Wadu berargumentasi dalam puisinya dan Felixianus Ali bergumam; di balik kesengsaraan kebahagiaan itu terpampang lewat senyum sang guru. Kalau tema cinta, jangan bilang lagi. Masa remaja, (pe)muda-mudi adalah usia-usia untuk berpuisi. 'Youth is an age of poetry,' kata orang Inggris. Tidak heran jika tema ini paling dominan dalam perpuisian Pos Kupang. Dan masih banyak lagi. Dari gambaran arena puisi Pos Kupang di atas saya berkesimpulan bahwa rubrik spesial ini sungguh diminati oleh para pencinta bahasa khususnya di NTT untuk berpuisi. Ini patut dihargai. Di sinilah surat kabar Pos Kupang secara tidak langsung berperan sebagai "guru" pembelajaran sastra nonformal.
Setiap karya puisi yang dikirim ke redaksi Pos Kupang disimak, dicermati, dinilai baik dari segi bahasa maupun isi (expression dan content). Pada saat inilah si pengarang biasanya menunggu dalam keadaan tidak pasti, apakah karyanya pantas dimuat atau tidak? Apakah karyanya itu memenuhi kriteria sebuah puisi yang layak untuk dipublikasikan?
Di situlah sang penulis (pengarang) dinilai tentang kemampuan kesastraannya. Tak membedakan entah berlatar belakang pendidikan bahasa, politisi, pelajar, mahasiswa, rohaniwan, dsbnya. Pos Kupang seakan membangunkan kemampuan berpuisi para pembacanya yang tersembunyi. Karena itu proses penulisan sebuah karya puisi tak lain adalah sebuah proses kreativitas yang ada pada seseorang. Secara otodidak ia mempelajari seluk beluk penulisan puisi, mengapresiasi, lalu mengaplikasikan apa yang diperolehnya melalui pembelajaran sastra di sekolah maupun lewat buku-buku sastra.
Sepanjang menulis (kompetensi menulis) apakah dalam bentuk puisi atau prosa bertumpu pada konsep dasar yaitu sebuah proses berpikir, maka di sanalah aspek pendidikan intelektual itu terbentuk. Inilah upaya sadar (aktivitas belajar) dalam diri seseorang untuk selalu belajar dan mematuhi aspek-aspek kepenulisan puisi itu sendiri. Hakekat pendidikan sastra mencakup dua aspek: (1) sastra sebagai pengalaman manusia yang bersifat estetis (indah) dan memberi dampak kegembiraan, (2) sebagai obyek belajar, intellectual curiousity (Albert Valdman:1966).
Karena itu tujuan pembelajaran sastra mencakup tiga hal, yaitu menekankan keunikan pembelajaran sastra sebagai pengalaman estetis kesastraan di dalam sebuah karya puisi, membantu siswa untuk memahami dan menempatkan sastra di dalam konteks sosial serta mengarahkan siswa kepada pendalaman implikasi etika bahwa setiap pengarang (penulis) puisi mempunyai tanggung jawab moral sebagai "visi estetikanya". Untuk mengakiri tulisan ini saya tampilkan puisi Usman D Ganggang, yang bernuansa sinisme (mockery) tentang kehidupan ini dalam Ada-ada saja:
Manusia di dunia ini, katanyaHaus akan air kehidupanSayang kata bijak lestariHanya sebagian kecil minum airDari mata air kehidupan yang adaLainnya, sekadar berkumur-kumurYa, ada-ada saja hidup iniDan ujungnya kehidupan itu tawar (Krara, Maret 2005)
Mudah-mudahan rubrik "Imajinasi" Pos Kupang dapat menjadi alat dan sumber belajar Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah, sebagai referensi alternatif dan variasi atmosfer pembelajaran sastra di kelas. Proficiat Pos Kupang. Opini Pos Kupang edisi Selasa, 15 Januari 2008. *http://www.indomedia.com/poskup/2008/01/15/edisi15/opini.htm

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda