Washington (ANTARA News) - Sebanyak 30.000 halaman pertama Ensiklopedia Kehidupan yang dapat diakses secara online diluncurkan, Rabu, sebagai bagian proyek ambisius untuk membuat katalog 1,8 juta spesies yang dikenal di Bumi.
Sebagai tanda keberhasilan awalnya, laman (situs Internet) http://www.eol.org itu secara cepat dibanjiri pengunjung, dan tak dapat diakses pada tengah hari, demikian laporan AFP.
Ensiklopedia itu, yang diluncurkan secara resmi pada Mei 2007, memberikan akses gratis atas semua pengetahuan terkini mengenai keragaman hayati di planet Bumi dalam upaya membantu melindungi lingkungan dari perubahan iklim dan eksploitasi berlebihan dari umat manusia.
Dibutuhkan waktu satu dasawarsa untuk merampungkan buku acuan digital itu, yang pada akhirnya akan memuat informasi tentang segala mahluk hidup yang didokumentasi selama 250 tahun lalu melalui riset ilmiah.
Ensiklopedia itu akan terus diperbaharui, sehingga akan mencakup berbagai penemuan baru atau katalog atas spesies yang telah mengalami kepunahan.
Pembuatan situs web rujukan raksasa ini terlaksana berkat kemajuan teknologi dalam berbagai mesin pencari online dan teknik visualisasi online, kata kordinator proyek itu.
Ensiklopedia tersebut juga akan diperluas yang akan mencakup berbagai kehidupan mikroskopik.
Dengan mengelompokkan seluruh 1,8 juta spesies yang telah diketahui, ensiklopedia itu akan menjadi sarana yang berharga bagi para ilmuwan dalam meriset segala bidang ilmu pengetahuan, mulai dari penularan penyakit hingga melindungi satwa yang terancam punah, kata Direktur Proyek, Jim Edwards. (*)
Lanjut...

Oleh Marsel Robot
Dosen Undana Kupang, mahasiswa Program Doktor Ilmu Komunikasi Unpad Bandung


SALAH satu perjumpaan paling asyik dan teramat nikmat antara sastrawan dan pengamat sastra adalah pertengkaran yang sengaja diciptakan di antara mereka. Pertengkaran menjadi kebiasaan eksentrik dan dibutuhkan untuk menyuburkan kreativitas dalam bersastra. Itulah sebabnya, mereka tidak banyak yang gemuk dan terkadang 'kemomos' lantaran banyak waktu dipakai merenung dan mencari argumentasi untuk membangun debat demi debat, hasil debat didebatkan lagi.
Gara-gara semacam itu terjadi antara AG Netti dan Maria Matildis Banda beberapa waktu lalu (Pos Kupang, 16 Januari 2008). Di bawah artikel berjudul agak arogan: "Marginalia atas opini Maria Matildis Banda: Seputar Imajinasi, Fantasi dan Khayalan", Netti menyerang tulisan Maria Matildis Banda yang dimuat dalam buku 15 Tahun Pos Kupang. Tulisan Matildis Banda dalam buku itu berjudul: "Imajinasi dan Hasrat Seorang Jurnalis" (Catatan Tentang Jurnalisme Sastra).
Saya menyebut pertengkaran itu sebagai pertengkaran 'di kamar dalam', oleh karena topik pertengkaran (imajinasi, fantasi, dan khayalan) terlalu eksklusif untuk digelar di meja publik, tetapi teramat keren dalam komunitas sastrawan, peminat dan penikmat sastra. Meski dalam ranah lain fantasi banyak pula digunakan.
Baiklah, sebelum memasuki daerah sengketa antara Netti dan Banda, saya ingin menukilkan kedua orang yang saya kagumi ini. Saya tidak mengenal Netti secara fisik, tetapi saya sangat mengenalnya melalui telaahan sastra yang dilakukannya pada beberapa media surat kabar. Saya mengaguminya karena uraiannya sangat bernas, sistematis, dan bahkan metodis. Pengetahuan kesastraannya begitu endemik dalam aula kognisinya. Itulah sebabnya, ia mampu merantau jauh ke dalam sebuah sajak sampai pada sum-sum sajak itu. Saya mengakui itu, ketika ia menelaah beberapa sajak saya yang dimuat di Mingguan Dian (Ende) beberapa tahun lalu. Dia memang penggarap setia di ladang yang disebut sastra, sebuah bidang kajian yang gersang, tapi dia kerasan menikmati dunia yang sepi itu. Saya sangat sulit menemukan sosok seperti Netti yang bertahan hidup dalam daerah gersang seperti itu, sementara karya sastra bukan merupakan kebutuhan dalam masyarakat NTT yang masih sibuk mempertahankan taraf hidup dan belum bergerak untuk meningkatkan taraf hidup.
Sedangkan Maria Matildis Banda adalah seorang sastrawati yang saya kagum bukan hanya karena sering menempelkan latar lokal pada tema besar: 'perarakan sosial' dari old society ke modern society dalam cerpen dan novelnya. Akan tetapi, yang lebih penting pula bahwa ia sanggup berkarya dengan tidak harus melalui Jakarta atau melalui Majalah Horison yang dianggap Sungai Jordan tempat pembabtisan sastrawan. Ia seorang dosen sastra Udayana (Bali), kemudian pindah ke FKIP Undana Kupang dan mengajar pada Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia tempat saya juga mengajar. Ia juga redaktur sastra Harian Umum Pos Kupang.
Kebiasaan Maria Matildis Banda menggarap daerah keilmuan yang sarat tertib ilmiah ikut memberikan karakteristik literer cerpen dan novelnya. Gaya realisme formal, bahkan aroma deskripsi kadang begitu kental. Demikian pula, jarak fiksi dan fakta demikian dekat. Cerpen dan novelnya begitu apik dalam kesederhanaan bentuk. Ia memang bukan ahli ngobrol seperti Putu Widjaya, Danarto, Gerson Poyk, yang sering menelantarkan pembaca awam. Ia menulis cerpen dan novel dalam format literer konvensional, karakter-tokoh-tokoh ceriteranya hitam-putih sehingga mudah dipahami. Pokoknya ia tidak ingin menyiksa pembaca. Tetapi, itu tidak berarti cerpen atau novel Maria M Banda hanya sekadar album sosial yang berisikan fakta yang difiktifkan, atau lamunan sosial yang diberi baju fiksi. Kualitas cerpen Maria M Banda bukan pada lagak literer, tetapi pada tema dan warna lokal yang disodorkannya.
Tentang fantasi
Baiklah, perkenankan saya memasuki lokus pertengkaran dengan mengutip kembali konsep fantasi yang diutarakan oleh Matildis Banda sebagaimana dikutip oleh AG Netti dari buku 15 Tahun Pos Kupang sebagai berikut: "Fantasi sama dengan khayalan yang tidak nyata. Tidak masuk akal, dibuat-buat, mimpi yang tidak mungkin menjadi kenyataan. Fantasi adalah gambaran semu tentang sesuatu yang tidak bisa diubah menjadi kenyataan. Berfantasi sama dengan mengandai-andai yang hanya menimbulkan rasa lelah atau membawa si pengandai tenggelam dalam khayalan-khayalan yang indah berbunga-bunga. Fantasi adalah daya yang menghasilkan khayalan, berkaitan dengan gambaran obyek yang tidak mungkin dan memang tidak ada dalam kenyataan."
Netti membantah pendapat itu. Merujuk pada pendapat sarjana Prancis Roger Fretigny dan Andre Viler, Netti mengatakan, fantasi merupakan kesadaran imajinatif. "Tanpa fantasi, maka daya pemikiran kita yang kerja secara diskursif akan menjadi pincang dan terkurung dalam sebuah sistem yang tertutup dan beku." Dengan beberapa kutipan lain sebagai pisau penodong, sebenarnya Netti sekadar meyakinkan bahwa fantasi adalah suatu kesadaran imajinatif, fantasi itu mewujud, dapat diwujudkan dan berguna. Jadi, fantasi merupakan proses mental yang paling dasar dalam kesadaran imajinasi manusia. Fantasi, dengan demikian, bukan daya yang menghasilkan khayalan, berkaitan dengan gambaran obyek yang tidak mungkin dan memang tidak ada dalam kenyataan sebagaimana dijelaskan Maria Matildis Banda.
Singkatnya, Bila Maria M Banda mengatakan bahwa fantasi merupakan sesuatu khayalan yang tak akan terwujud, ilutif, sia-sia dan percuma, maka Netti mengatakan bahwa fantasi merupakan kesadaran imajinatif, ruh yang mempunyai daya hidup dan mampu memfasilitas energi intelektual manusia. Fantasi, oleh karena itu, suatu yang mewujud, dan dapat diwujudkan.
Hemat saya, baik Netti maupun Banda hanya terlalu hemat berpikir atau tak terbiasa berpikir hermeneutis yang berusaha memandang persoalan dalam dialektika yang utuh di mana setiap unsur yang berbeda memberikan kontribusi terhadap keutuhan makna fantasi. Terasa ada yang hilang dari penjelasan mereka. Dan yang sial bahwa Netti tidak menyadari bahwa penjelasan mereka saling mendukung dan tidak ada perbedaan yang substansial. Keduanya hanya memegang dua sobekan dari sebuah kertas yang utuh.
AG Netti benar ketika ia berangkat dari terminologi atau konsep fantasi sebagai metabolisme pikiran. Hakekat fantasi adalah kesadaran imajinasi. Sebagai kesadaran (imajinatif), fantasi merupakan proses mental paling inti dan paling kreatif dalam pikiran manusia, dan fantasi adalah khas manusia. Manusia hidup dalam lingkungan fantasi, dan setiap manusia mampu berfantasi baik tingkat fantasi rendah (low fantasy) maupun fantasi tinggi (high fantasy). Kemampuan manusia berfantasi yang membedakannya dengan binatang. Herder, anjing kesayangan Anda diajari cara tertentu untuk merespon. Katakan, setiap kali hendak memberikan makan kepadanya, Anda akan mengeluarkan bunyi: "ooo..." lalu disusul dengan menyodorkan piring yang berisikan makanan. Herder pun datang mendekati Anda. Kemudian ia melahap makanan yang Anda berikan. Setiap kali bunyi "ooo... " maka Herder selalu memberikan respon yang sama. Perilaku anjing itu adalah bentuk respon dari stimulus kata "ooo..." yang selalu disertai dengan tindakan memberikan makanan kepadanya. Dalam konteks ini, perilaku Herder bukan berdasarkan fantasi. Karena, ketika Anda mengeluarkan bunyi "ooo..." ia pun datang mendekati Anda dan Anda menghantam batok kepala Herder dengan palu, Herder pun tewas di depan Anda, lalu dijadikan erwe (daging anjing yang telah dibumbui dan siap disaji), lantas disuguhkan kepada tamu Anda. Jadi, berfantasi adalah proses mental yang sangat mendasar dan berpusat pada otak kanan manusia. Karena itu, Kenneth Burke, sosiolog penganjur teori Draturgi, membedakan tindakan manusia dan binatang. Menurut Burke manusia beraksi, sedangkan binatang bergerak. Beraksi berarti melibatkan fantasi, sengaja dan mempunyai maksud. Sedangkan gerakan bisa juga bermakna, bisa juga tidak, dan seringkali tidak bertujuan. Berfantasi adalah proses mental yang sengaja, kreatif, bertujuan dan bermakna.
Maria Matildis Banda juga benar ketika ia mengkaji fantasi berangkat dari hasil karya. Fantasi memang sesuatu yang tidak masuk akal. Kenyataan dalam Fantasi memang sulit dijangkau. Kenyataan dalam fantasi mengalami ditorsi dan distance dengan kenyataan empirik. Pada akhirnya kenyataan fantasi adalah kenyataan fantasi. Suatu kenyataan yang dikonstruksi melalui fantasi yang kreatif, tetapi tak dapat dialami.
Mari kita masuk ke 'kamar dalam' (sastra) di mana dua orang ini berdebat. Dan saya memulai masuk lokus sastra dengan menenteng ensiklopedi online Wikipedia. Ensiklopedi Wikipedia memberikan pengertian, fantasi is genre that uses magic and other supernatural forms as a primary element plot, theme, and/or setting. Jadi, unsur magik dan bentuk-bentuk supranatural yang tidak masuk akal menjadi elemen dasar dalam membangun baik plot (alur ceritera) maupun tema-tema dalam sebuah karya sastra. Unsur utama fantasi ialah ketidakmasukakalannya dan suddenly (ketiba-tibaan). Makhluk Poti Wolo yang difantasikan sebagai makhluk berkaki kuda berwajah monster, berbuluh lebat-hitam adalah makhluk yang hanya ada dalam fantasi orang Manggarai sebagai makhluk yang berurusan dengan mencabut nyawa manusia secara acak. Dalam kenyataannya makhluk Poti Wolo itu tak ada. Tetapi, fantasi makhluk Poti Wolo sangat berpengaruh terhadap kepercayaan orang Manggarai sehingga pada jam tertentu tidak boleh keluar rumah karena makhluk itu akan lewat. Ini sebuah fantasi yang dikonstruksi oleh pikiran kreatif nenek moyang orang Manggarai.
Baiklah, saya ingin mempertemukan Maria Matils Banda dengan AG Neti dalam sebuah ilustrasi yang lain. Dalam sebuah situs internet dilukiskan seorang gadis telanjang, berambut pirang dan panjang, dua payudara yang menjulur menggulung awan, gadis itu mengendarai kuda berekor naga, kuda itu berlari di udara seolah turun gunung-gunung awan dan menuju bulan setengah bulat dibalut korona.
Sangat jelas bahwa karya fantasi ini lahir dari pergumulan pikiran kreatif yang sangat intens, dibentuk melalui kesadaran yang mendalam dan kepekaan estetis yang luar biasa dari seseorang. Bukan sekadar kerja asal-asal untuk menghasilkan kesia-siaan. Di sinilah Netti berdiri. Akan tetapi, keseluruhan karya lukisan itu adalah kenyataan yang tidak mungkin dicapai, khayalan semata. Dan itulah kenyataan fantasi. Sampai maut menjemput Anda, tak akan ada payudara gadis mana pun yang bisa menggulung awan. Sampai kapan pun kuda tidak akan berlari di udara menuruni gunung-gunung awan dan seterusnya. Di sinilah posisi Maria Matildis Banda berdiri. Ini adalah kenyataan fantasi dikonstruksi oleh pikiran yang kreatif. Sebuah kenyataan fantasi sengaja dikonstruksi agar didekonstruksi (ditelaah) oleh orang lain. Sebagaimana hasil karya (musik, film, drama, dan sastra), fantasi dikonstruksi kreator dengan tujuan didekonstruksi oleh penikmat.
Perjumpaan Netti dan Banda menjadi lebih mesrah jika keduanya berpikir lebih intens ialah bahwa obyek fantasi adalah kenyataan, kenyataan yang dialami. Dengan kata lain, sublimitas fantasi terletak pada obyek yang disubyektivikasikan dan dikreatifkan. Seorang gadis, dua buah payudara, kuda, awan, bulan adalah obyek yang dapat diindrai, suatu kenyataan empirik. Akan tetapi, proses mental seseorang mengkonstruksi ornamen-ornamen yang diambil dari sampah-sampah kenyataan itu menjadi sebentuk fantasi dan jadilah kenyataan fantasi yang memang tidak masuk akal, dan tidak dapat dicapai.
Dalam karya sastra, terutama sastra klasik, kisah-kisah fantasi selalu mengandung unsur sihir, horor, monster, dewa-dewa, pahlawan atau kesatria. Jalan ceritera dan latar yang tidak nyata. Kejadian-kejadian dalam ceritera sebenarnya tidaklah masuk akal. Tetapi kejadian tersebut mengikuti alur magis dan suddenly (ketiba-tibaan). Legenda Batu Ba Daun di Larantuka mengisahkan seorang ibu yang begitu sabar meski pada akhirnya sebagai manusia ia mengelak dari kesabaran itu. Anak sang ibu yang berusia kurang lebih dua tahun kepalang rewel. Ia meminta ikan, setelah dikasih ikan meminta udang, setelah dikasih udang, meminta tripang dan seterusnya. Suatu saat, ibunya tak sanggup lagi melunasi permintaan anaknya itu. Lalu, sang ibu mengambil kulit keong di tepi pantai untuk meneteskan air susunya. Air susu itu dititipkan kepada anaknya yang agak besar. Kepada sang anak, sang ibu berpesan: "Nak, kalau adikmu menangis dan haus, berikan susu ini." Tanpa mengucapkan selamat tinggal, sang ibu pergi meninggalkan dua anaknya. Pergi jauh dan teramat jauh. Tapi, tiba-tiba dua anaknya membuntut. Semakin dibuntut semakin jauh jarak antara mereka. Sang adik yang merengek di gendongan kakaknya meminta ibu berhenti. Tapi, ibu tak menoleh, apalagi berhenti. Ketika sampai di Batu Ba Daon ia mencemplungkan diri, dan leher batu itu mereguknya, yang tertinggal hanya rambut sang ibu yang terjuntai di bibir batu. Kedua anaknya meratapi sambil mengelus rambut ibunya. Air susu ibu di kulit keong tetap penuh, setiap kali si kecil minum dan habis, maka air susu ibu menggenang lagi pada kulit keong hingga penuh dan seterusnya.
Tak banyak orang yang mencoba secara kualitatif mengkorelasikan fantasi dalam legenda Bato Ba Daon ini dengan misalnya melankolisme lagu-lagu Flores Timur, dan lagu-lagu mereka yang selalu mengandung syair yang berhubungan dengan laut, penyesalan nasib, dan selalu mengajak bale nagi (pulang kampung). Apakah orang Flores Timur sampai hari ini mencari ibu mereka? Dan masih banyak lagi kisah lisan yang menggambarkan fantasi nenek moyang kita. Dalam kazanah sastra dunia kita mengenal kisah Mahabrata, kisah Odisus, kisah Ramayana, kisah Seribu Satu Malam dan lain-lain.
Dalam sastra tulis, fantasi sesungguhnya muncul ketika George MacDonal, penulis asal Skotlandia dalam novelnya berjudul: The Princess and the Goblin dan satu lagi berjudul Phantastes. Karya-karya MacDonal memberikan inspirasi kepada penulis-penulis lain terutama JRR Tolkien dan CS Lewis. Bahkan pada abad rasional ini kekuatan fantasi justru menguasai dunia. Lihat saja sukses JK Rowling pengarang novel. Ia menjadi wanita terkaya dunia karena fantasinya sangat memukau dalam buku-buku Harry Potter. Beberapa film yang diambil dari ceritera Harry Potter mencapai rating tertinggi, tertutama film The Lord of the Rings yang disutradarai oleh Peter Jackson. Sejak tahun 1975 para penerbit, seniman, sastrawan, kaum intelektual yang tertarik pada fantasi mengadakan konferensi tiap tahun di setiap kota berbeda. Pada acara ini biasanya diberikan penghargaan terhadap karya fantasi yang terhebat.
Sayangnya, serangan Netti menjadi rendah mutunya ketika menyerempet hal yang bersifat merendahkan profesi, terutama ketika Netti terlalu arogan dengan sejengkal argumentasi dan memamerkan pustaka lamanya dengan mengatakan kepada Maria Matildis Banda: "dengan demikian, teori sastra Maria Matildis Banda tentang imajinasi, fantasi, khayalan pada gilirannya mencederai citra Maria Matildis Banda sendiri sebagai dosen sastra." Padahal, uraian Netti tidak lebih benar dari argumetasi Maria Matildis Banda. Lebih ngawur lagi ketika Netti mengatakan bahwa tulisan Maria Matildis Banda dapat mengurangi kualitas buku 15 Tahun Pos Kupang. Ah, yang benar Bung! Jangan terlalu rajin berpikir generatif, nanti terperosok ke dalam cara berpikir masif. Sedangkan uraian Anda hanya satu sobekan yang tak lengkap tentang fantasi dan hanya menjadi lengkap jika digabungkan dengan sobekan yang dipegang oleh Maria Matildis Banda.
Meski demikian, bagi saya, inilah pertengkaran yang menyembuhkan. Sebab, argumentasi kedua orang ini secara substansial saling melengkapi. Perbedaan tidak selalu bertentangan, dan dua orang yang terlibat berdebat hanya cara khas untuk merampungkan keutuhan mengenai konsep fantasi. Tetapi, pertengkaran ilmiah seperti ini harus keluar dari lokus yang melecehkan dan berusaha mengurangi hasrat tendensius. Saya kira Bung Netti hanya sengaja lupa pepatah kuno: "dalam ilmu silat tidak ada yang juara dua, dan dalam silat ilmu tidak ada yang juara satu." * Opini Pos Kupang, 26 Februari 2008, halaman 14.
Lanjut...

Kekerasan terhadap Fungsi Pers

Oleh Leo Batubara, Wakil Ketua Dewan Pers



PERSOALAN yang dihadapi wartawan dalam melaksanakan profesinya adalah kesenjangan antara apa yang diamanatkan dan apa yang terjadi dalam praktik. Dalam acara puncak Hari Pers Nasional 2008 di kompleks kantor Gubernur Jawa Tengah, Semarang (9/2/2008), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, "Terima kasih kepada insan pers yang telah memberi dukungan kritis terhadap pemerintah. Kalau saya harus memilih antara pers yang bebas dan pers yang dikontrol atau dipasung, saya pilih yang bebas."
Baru delapan hari setelah amanat itu disiarkan, wartawan Pos Kupang, NTT-Yacobus Lewanmeru (Obby)-yang bertugas di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, dianiaya empat laki-laki (17/2). Bibir Obby luka parah, beberapa bagian tubuh dan kepala memar terkena pukulan. Keempat penganiaya ditahan untuk penyidikan.
Menurut Kepala Bagian Operasional Polres Manggarai Barat Ajun Komisaris Victor Jemada, kasus itu diduga dendam pribadi. Sementara dalam suratnya ke Kepala Polres Manggarai Barat, Pos Kupang meminta Polres mengungkap motif penganiayaan, termasuk pihak-pihak yang "mungkin" menjadi otak penganiayaan dan pengeroyokan karena amat mungkin, peristiwa itu terkait kegiatan jurnalistik Obby.
Kemungkinan itu ada nalarnya karena berdasar dugaan beberapa pihak di Labuan Bajo, kasus penganiayaan terhadap Obby terkait pemberitaan dugaan korupsi proyek singkong senilai Rp 2,8 miliar. Sejak awal Februari, Pos Kupang gencar memberitakan proyek yang diduga fiktif itu. Dugaan penyimpangan proyek singkong itu dilaporkan oleh DPRD Manggarai Barat kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Jakarta (Kompas, 18/2).
453 tindak kekerasan
Penganiayaan terhadap Obby mengingatkan kita akan nasib wartawan harian Bernas Yogyakarta, Fuad Muhammad Syafruddin alias Udin. Ia tewas dianiaya orang tak dikenal (16/8/1996). Sebelumnya ia menulis terjadinya penyogokan dalam pemilihan Bupati Bantul. Tim Pencari Fakta PWI berpendapat, pembunuhan itu terkait kegiatan jurnalistik Udin. Namun, penegak hukum berkilah, kematian Udin tidak terkait pekerjaan pers.
Di era pemerintahan Orde Baru, saat tidak ada kebebasan pers, dapat dimengerti pengungkapan keterkaitan tewasnya Udin dengan pemberitaan tentang dugaan KKN dalam pemilihan Bupati Bantul sulit dilakukan. Namun, saat Presiden SBY menegaskan komitmennya tentang kebebasan pers dan apresiasinya terhadap kritik pers, tidakkah kebijakan itu menjadi pedoman bagi aparat penegak hukum di NTT untuk fokus mengungkap siapa otak penganiayaan terhadap Obby?
Penderitaan wartawan dalam pekerjaan profesinya belum berakhir. UU Pers (No 40/1999) sebenarnya memberi perlindungan. Pasal 8 menyebutkan, "Dalam melaksanakan profesinya, wartawan mendapat perlindungan hukum." Pasal 18 Ayat 1 mengamanatkan, "Setiap orang yang menghambat pelaksanaan kegiatan jurnalistik dipidana dengan pidana penjara paling lama dua tahun atau denda paling banyak Rp 500 juta."
Kenyataannya, kekerasan terhadap pers dan wartawan terus berlanjut. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) melaporkan, dari Mei 1999 sampai 2007 terdapat 453 tindak kekerasan terhadap pers dan wartawan. Pada tahun 2004 tercatat 27 kasus, 2005 (43), 2006 (53), dan 2007 (42). Pelaku kekerasan hingga 2005, 42,4 persen oleh polisi, aparat pemerintah, TNI, parlemen, jaksa, dan 39,7 persen oleh massa.
Banyaknya tindak kekerasan terhadap wartawan dan pers, selain puluhan diancam atau divonis masuk penjara atau diancam denda miliaran sampai triliunan rupiah. Ini memperburuk peringkat kemerdekaan pers Indonesia. (lihat tabel)
Sinar terang
Presiden SBY di Semarang lebih lanjut mengamanatkan, "Ada pelajaran yang amat berharga, ketika di satu era di negeri ini, insan pers merasa sangat sakit karena kekuasaan politik pers dibredel, ditahan, dipenjarakan tanpa proses hukum. Penderitaan itu barangkali tidak terbayangkan. Menjadi catatan sejarah dan Tuhan Maha Besar, bangsa ini sadar itu tidak sepatutnya terus terjadi di negeri kita ini."
Amanat itu adalah perintah Presiden kepada jajaran polisi dan kepala daerah di seluruh Indonesia, termasuk NTT, agar tindakan kekerasan terhadap pers dan wartawan tidak lagi terjadi dan polisi memberi perlindungan hukum terhadap pers.
Jika penegak hukum masih melakukan pembiaran tindak kekerasan terhadap wartawan dan pers, dan memberi perlindungan terhadap pejabat yang diberitakan pers sebagai bermasalah, fungsi kontrol sosial pers menjadi tidak efektif. Rakyat akan terus menjadi korban penyalahgunaan kekuasaan oleh penyelenggara negara. *
Sumber: Opini Kompas, Sabtu 23 Februari 2008.
Lanjut...

Valentine oh Valentine!!!

Cerpen Yayang Sutomo

AKU baru saja hendak terlelap, ketika tiba-tiba sekelebat bayangan putih datang melintas di depanku. Aku tersentak. Aku tidak sedang bermimpi dan aku pun tidak sedang berkhayal, tetapi sosok bayangan itu kukenal betul. " Fendy!", gumamku berbisik pada malam gelap sambil menatap arah bayangan itu menghilang. Aku jadi sulit memejamkan mataku kembali.
Fendy, seorang pemuda tampan dan cerdas. Kulitnya kuning, rambut ikal, berkaca mata minus, sederhana dan bertanggung jawab. Mengapa ia tiba-tiba muncul dalam pikiranku malam ini?. "Ah! Aku ingat sekarang . Besok, tanggal 14 Februari, Hari Valentine," desisku. Bulu kudukku berdiri setiap kali menyebut kata valentine. Dia bagaikan monster besar dan menyeramkan yang siap menelanku bulat-bulat. Hari Valentine menyebabkan sebuah penyakit baru bagiku, trauma!..yaà trauma! Bagaimana tidak? Hari Valentine telah merampas dan merenggut kebahagiaanku sehingga aku jadi ketakutan jika mendengar kata itu.
Kegelisahan mulai menggerogotiku. Penyakitku mulai kambuh. Napasku sesak seketika dan air mataku menetes berirama. Pikiranku menari-nari memaksa jiwaku untuk kembali ke hari-hari yang telah lalu. Ketika itu, aku dan Fendy adalah dua orang sahabat yang begitu akrab dan kompak. Kepintarannya sangat membantu aku yang hanya pas-pasan. Bermula dari perkenalan di halaman FKIP kampus Undana lama, hingga masing-masing bekerja pada instansi yang berbeda, namun kasih sayang dan perhatian yang dijalin erat tak terputuskan hanya karena jarak, ruang dan waktu.
Seperti remaja dan para muda-mudi lainnya, kami selalu merayakan hari valentine bersama. Baik itu menghadiri pesta yang diadakan oleh teman-teman maupun merayakannya berdua saja. Setiap hari valentine menjelang, Fendy selalu memberikan hadiah kecil untukku. Macam-macam dan berbeda-beda setiap tahunnya. Ada bunga mawar merah dan pink. Ada juga jepit rambut, jam dinding, buku, boneka, dan banyak lagi yang nota benenya disukai wanita. Aku pun sebaliknya, memberikan hadiah untuknya sebagai ungkapan rasa sayang seperti yang telah ia tunjukkan.
Suatu hari, Fendy meneleponku untuk menemuinya di salah satu toko di Jalan Siliwangi, Kupang. "Ada yang ingin kuberikan untukmu," katanya lembut. Aku segera meluncur ke arah Kupang dengan sepeda motor butut kesayanganku. Aku sudah lupa entah itu hari valentine ke berapa yang akan kami rayakan. Setibanya di sana, aku mencari-cari nama toko yang disebutkan Fendy, dan...ah, itu dia!. Fendy berdiri di depan toko itu sambil melambai-lambaikan tangannya memanggilku. Motor kuparkir, lalu berjalan kearahnya. Fendy tersenyum lebar. Senyuman itu yang kadang membuat hatiku deg-degan. Senyuman itu juga yang membuat aku tidak tidur. Namun, kucoba menekan perasaanku sebab aku takut persahabatan yang telah kami bina selama ini terputus hanya karena lima huruf : c-i-n-t-a.
"Cepat! Akan kutunjukkan sesuatu untukmu," katanya tergesa-gesa. Aku menurut saja tanpa bantahan.
" Ini untukmu," katanya sambil memberikan seikat mawar merah kepadaku. " Danà ini juga untukmu," lanjutnya seraya meyodorkan sebuah kotak kecil berwarna pink.
"Apa ini, Fen?," tanyaku keheranan, sebab tidak biasanya Fendy memberikan hadiah lebih dari satu. Biasanya cuma satu kado untuk satu kali merayakan hari valentine. Kali ini berbeda. Aku sedikit bingung, namun kuterima saja kado tersebut sambil membayangkan isinya.
"Jangan dibuka dulu, kita cari tempat yang lain saja," katanya bernada larangan sambil menggeret aku keluar dari toko itu. Fendy terlihat sangat gembira.
"Ayo, nyebrang! Kita duduk di dekat Teddy's Bar, menghadap ke laut kan bagus,"celotehnya. Aku mengangguk mengiyakan. Di saat menyebrang, tanganku terlepas dari genggamannya entah karena apa. Aku telah berdiri di atas trotoar ketika bunyi suara tabrakan mengagetkanku. Aku berbalik dan.. ..kulihat tubuh Fendy terpental ke atas, jatuh tepat di depan sebuah mikrolet lampu dua. Aku menjerit sejadi-jadinya. Darah segar keluar dari pelipis, kepala dan hidungnya. Mataku berkunang-kunang, semuanya gelap dan aku tak ingat apa-apa lagi.
***
Aku sedang berjalan-jalan di suatu taman yang penuh dengan bunga mawar berwarna-warni saat sebuah suara memanggil namaku.
"Yelly, bangun, Nak!," suara itu seperti kukenal. Kubuka mataku perlahan.
"Kamu sudah sadar, Nak!," suara mama lembut di telingaku. " Kamu pingsan berjam-jam lamanya,"lanjut mama lirih.
Bau obat-obatan sangat menusuk hidung. "Fendyà, Fendy!," teriakku. Aku melompat dari tempat tidur dan berlari keluar. Perawat di ruangan itu mencoba menghalangiku, namun aku tak peduli. Satu-satunya keinginanku adalah bertemu Fendy.
Akhirnya aku diizinkan untuk menemui Fendy di ruangan lain. Wajah Fendy hampir tak terlihat ditutupi perban. Aku mendekatinya.
"Fen, ini aku, Yelly!," suaraku sendu menahan tangis. Seakan tahu keberadaanku, Fendy membuka matanya. Helaan napasnya begitu berat seperti sedang mendaki sebuah gunung yang terjal. Fendy menggerakkan tangannya, meraih tanganku dan berkata dengan terbata-bata," Yel, kamu sahabat terbaikku. Maafkan aku jika tanpa sengaja telah menyakitimu. Bukalah kotak itu setelah aku keluar dari ruangan ini. Jangan lupakan aku. Aku mencintaimu...."
Terbelalak aku mendengar pengakuannya. Genggamannya pun telah lepas dariku. Teriakanku menggema kembali untuk yang ke sekian kalinya. Fendy telah pergi dengan membawa semua cerita indah tentang kami. Kepergiannya menoreh luka yang mendalam. Jiwaku seolah terbang bersamanya menggapai awan. Aku bagaikan mayat hidup. Tak lagi ada asa yang mengisi hari-hariku. Kotak pemberiannya tak pernah kubuka hingga bayangannya melintas malam ini mengingatkanku. " Fendy..!,"lirih suaraku berbisik.
***
Hari ini, hari valentine ke tujuh sejak kepergian Fendy, sahabat terdekatku. Kukuatkan hatiku untuk mampu mendengar kata itu kembali. Aku bersimpuh di pusaranya sambil meletakkan seikat mawar merah. "Happy Valentine Day, Honey!," bisikku di batu nisannya. Air mataku tak mampu kubendung. Aku tahu dia mendengarkanku. Kotak pink pemberiannya kubuka danà.sebuah kalung berliontin jantung (heart), di dalamnya berisi fotoku dan dirinya. Aku semakin dirundung kesedihan, hatiku pilu, aku tak sanggup menahan tangis. Aku percaya Fendy sedang melihat dan menatapku saat ini... Selamat hari valentine, Fen!.Aku akan selalu mengingatmu. Kini tinggal hatiku yang dingin dan beku.*
Kabut di atas Pasir Panjang
Cerpen Paulus Ngongo Riti
GELOMBANG bergulung menghempas bibir pantai. Ombak putih berkejaran di pasir putih. Semilir angin sepoi-sepoi basah bertiup lembut di sela gerimis senja itu. Bau khas air laut menyeruak. Nun jauh di sana, di bawah naungan pohon bakau, sepasang remaja asyik mereguk asmara.
Pasir Panjang, begitu sapaan manis pantai yang terletak tak jauh dari jantung Kota Kupang itu. Entah mengapa demikian, aku tak begitu paham. Mungkin karena pantainya berpasir panjang, atau mungkin juga karena sejauh mata memandang hanya bentangan pasir di sepanjang bibir pantai. Yang jelas, meski terkesan agak jauh, kepenatan ke tempat wisata itu tidak terlalu terasa karena sepanjang jalan, aku disuguhkan kehidupan beraroma khas Kupang, kota yang sedang bergeliat menuju era globalisasi. Beberapa gadis Kota Karang yang nampak trendi dengan rambut yang tak bergoyang ditiup angin karena rebounding, ikut menghidupkan suasana.
Di pantai itu juga, di waktu-waktu tertentu ramai didatangi pengunjung. Walau tak seramai Lasiana yang berfasilitas agak complete, namun cukup menarik minat warga kota bertandang ke sana. Di kala sang bagaskara mulai terbenam di ufuk teduh, tak sulit menemui pasangan kawula muda yang datang menikmati indahnya panorama senja. Tak jarang, ada pula yang memanfatkan suasana romantis itu tak sekadar untuk bercerita, namun cenderung mencari tempat menyendiri agar lebih bebas berkreasi dan bereksplorasi. Pagut memagut sambil bergerilya di sela alunan lagu gelombang seakan merupakan pemandangan biasa.
"Jangan sayang, beta takut,'' desah Dita, gadis bau kencur perlahan.
"Tidak sayang, tidak apa-apa. Beta hanya merasa dingin saja,'' timpal Johny manja, sama bau kencurnya.
"'Kalau ketahuan orangtua, terus bagaimana?'' Tanya Dita lagi.
"Tidak, tenang saja. Tidak ada yang lihat kita. Kalau ada yang lihat, kita pura-pura tidak tahu. Anggap saja tidak ada apa-apa. Kalau ditanya, bilang saja cuma berduaan karena mau menikmati pemandangan alam,'' ajar Johny sambil semakin merapatkan posisi duduk.
"Kak Johny, bisa saja. Terus kalau tertangkap sama guru dan teman-teman, beta bilang apa?'' Kejar Dita penuh harap agar Johny menghentikan kurang ajarnya.
"Ah! Persetan dengan guru. Bilang saja zaman sudah modern,'' seru Johny dengan nafas memburu sambil mengeratkan pegangan.
"Terus, kalau ada apa-apa dengan beta?'' Tanya Dita seakan menantang Johny untuk terus maju, meski ia sendiri berusaha menghindar.
"Sudah sayang. Beta kan sudah bilang tidak usah takut. Kita kan hanya berdekatan saja. Tidak ada yang lihat kita. Percayalah, di hatiku hanya ada kau,'' gombal Johny lupa diri, dan tidak pernah mau sadar sebelum terlambat, meski sejak tadi ada sepasang Mata Pencipta-Sang Maha Kasih Abadi yang terus mengawasi mereka.
"Jangan Johny, beta takut. Beta masih mau sekolah,'' pinta Dita bergetar sambil terus berusaha keluar dari godaan itu.
"Ah sayang. Kamu sayang beta ko sonde?'' tantang Johny.
"Sayang, tapi kan kau tak harus kurang ajar seperti begini,'' tegas Dita.
"Ya, kalau sayang kenapa takut? Toh semua orang juga pernah muda, dan tahu rasanya kala cinta menggetarkan nurani,'' ungkap Johny lagi dengan bisa maut yang kesekian kali. Di batas itu, keduanya semakin dekat pada jurang kehancuran. Rintik hujan tak membuat mereka berhenti, bahkan guntur yang kadang menggelegar pun seolah tak mampu menggetarkan kesadaran mereka. Kedua insan yang masih sangat hijau itu pun semakin jauh melangkah, meniti tebing-tebing curam pendakian, di tengah gemuruh asmara dan gelombang laut Timor yang ganas. Perlahan mawar yang sedang mekar itu pun layu sebelum berkembang.
"Adakah yang lebih indah daripada cinta, dan lebih manis dari asmara?'' tanya Johny, playboy kampungan sembari mengebaskan butir-butir pasir dari celana jeansnya. Direngkuhnya Dita kekasihnya yang terus sesenggukan bagaikan anak kecil kehilangan boneka kesayangan. Ditatapnya Johny dengan penuh kebencian. Namun Johny balik menatapnya dengan ekspresi penuh kemenangan. Tak sedikitpun tergurat raut penyesalan di wajahnya. Sejenak ia menyeringai seraya membathin, satu lagi `'Mutiara'' berhasil ditaklukkannya dan menjadi bagian dari koleksi perbendaharaannya. Keduanya lupa, bahwa Hawa jatuh karena tidak berani menolak godaan ular, dan Adam lumpuh karena Hawa menyerah pada manisnya bisikan maut sang ular tua. Di batas ini pula keduanya lengah, bahwa apa yang ditabur manusia, itu jualah yang akan dituai. Sehingga tanpa berpikir panjang, larut dalam kebahagian semu masa muda. Mereka terlambat menyadari, bahwa tiap biji beras yang disantapnya dan helai demi helai benang yang dipakainya, masih seratus persen tergantung pada belaskasihan orangtua.
Memang, semenjak ditinggal sang ayah setahun yang lalu karena terperangkap kasus Wanita Idaman Lain (WIL), Dita merasa kehilangan figur ayah sejati. Ayahnya pun tak pernah lagi mau tahu tentang dirinya dan ibunya, hal yang semakin membuatnya kehilangan keseimbangan. Ironisnya lagi, ia bukannya mencari perlindungan pada ibunda, satu-satunya wanita yang amat mengasihinya, tetapi Dita mencari pelarian dengan cara yang salah.
"Mama..., Dita hamil...,'' aku Dita sambil menangis pada wanita yang sedang melipat beberapa potong pakaian usang. Sang ibundanya sendiri yang semakin kurus karena tekanan bathin.
"Apa Dita? Ham.., hamil? Oh! Tidak nak, Tidaaakkkk!!!" teriak ibunya dengan mata nanar.
"Ia ma, Dita...Ditt..uuuhhhh.....''
"Plakk!! Kurang ajar kau nak. Mengapa kau lakukan hal ini pada ibu? Oh! Sembilan bulan sepuluh hari ibu mengandungmu dengan penuh perjuangan, nak. Sekian jam antara mati dan hidup ibu menanti kelahiranmu. Dan puluhan menit ibu berjuang menahan penderitaan melahirkanmu. Setiap hari ibu rela bekerja apa saja demi menghidupimu. Inikah balasanmu, nak?'' Seru ibunya sambil menekan dadanya yang terasa semakin perih. Dunia seakan runtuh. Bagaikan tersambar petir di siang bolong, serta merta ibunya pun ambruk di depan kakinya.
"Mama, beta minta ampun mama,'' teriak Dita histeris seraya mengguncang-guncang tubuh mamanya yang renta. Tak ada jawaban, bahkan nadi ibunya pun tak lagi berdetak. Malangnya lagi, Johny pun telah pindah ke kota lain, setelah terlebih dahulu meminta Dita aborsi. Kini tak ada lagi sapaan kasih ibunda, bahkan belaian kasih Johny pun berubah jadi benci. Getar suara dan gemelatuk gigi sang bunda pun telah hilang. Harapan masa depannya pun telah sirna. Tak ada lagi alunan melodi cinta dan alunan sungai-sungai sukacita dalam hentakan nafas memburu.***
(Kupang, medio Januari 2008. Dedicated to the young generation, don't make rash decision).
* Arti kata untuk pembaca luar NTT : Sonde (bhs Kupang) = tidak.
Pos Kupang Minggu, 17 Februari 2008, halaman 6
Lanjut...

Puisi-puisi Louis Jawa

Lonceng tua

Senja itu merayap hening
Terukir pesona cintaNya
Sang biru tenang menghanyutkan
Agung kasihMu

Hampa nian
Musafir muda
Tapak gemuruh derita
Bisumu waktu
HadirMu Tuhan
Berdentanglah lonceng tua
Dengarlah pinta kami:
Hanya padaMu

Ku berlari

Perih sebuah ziarah
Terjatuh daku sahaya
Gores merah luka
Merana buana

Badai sedahsyat amarah
Hempas kau, sang cilik
Meneteslah butiran hati
Tak sanggup Dewata

Berlarilah anak
Ku-dekap susahmu

Dewata

Pertapa muda
Kiblat gapura
Berdekut laksana merpati
Ke suaka nun bahari

Sang waktu itu bayang
Yang tinggi sinarnya
Dewata dalam nuranimu

Mentari pagi di bundaku

Kau mekar di gersangku
Kau mewangi di pengapnya hidupku
Kau tetesi kelesuanku

Oh Bundaku
Tak pernah salah kau merahimiku
Tak pernah kecewa
Ku bersamamu
Sang kelana

Tuhanku, dewata segala dewata
Anggrek trah semedimu
Panah masa laluku
Api yang membakar
Brahmananya

Dewata
Apakah kini saatnya
Wisnu berestu
Tuk gersang dan hancurku
Restu pada sekuntum anggrek pagi
Ataukah
Kini saatnya
Shiwa berkutuk
Pada karma dan sesat
Hancurkan kuil dan cita-cita
Lenyapkan impian Brahma

Dewata
Beri daku
Gumbang bijaksanaMu

Di bunda Ritapiret-ku



Puisi-puisi Jimmy M Hayong

Malam yang tak terlupakan

Kau datang padaku tanpa nama dan tanda pengenal
Katamu, perjumpaan seperti ini tak perlu identitas,
Nama lengkap dan alamat rumah.
Aku pinjam tubuhmu untuk malam ini
Katanya kau tak tahan dingin
Di rumah tak ada lagi kehangatan malam
Saat kita tiba di perhentian akhir
Aku lihat kau menggigil ketakutan
Kehangatan itu tak kunjung tiba
Hanya ada kehampaan dan rasa sesal
Menjelma dalam air mata

Doa seorang penggali kubur

Tuhan, berilah aku rezeki pada hari ini
Semoga hari ini ada lagi yang mati
Tak perlu seperti hari-hari kemarin
Yang terlampau ramai
Aku takut terlalu capek
Biarlah cukup satu orang saja
Tuhan jangan ada lagi yang mati

Hari ini
Aku sudah terlalu tua

Janji

Aku lihat ada api dan air di matamu
Mata api dan mata air
Sedang terbakar dan mengalir di wajahmu

Ketika janji itu kita ikrarkan
Kenapa kini yang kuharapkan
Tak kujumpai lagi?
Yang indah tak dapat

Kunikmati lagi?
Bakarlah dan sejukkanlah aku
Sekali lagi
Dalam mata api dan mata airmu
Seperti dahulu ketika
Janji itu kita ikrarkan


Puisi-puisi Fr. Albert Kaesnube
Kupu-kupu malam
Kupu-kupu malam
Menjamur di kolom bumi
Mencari nafkah di negeri kelam
Membalut hidup setiap hari
Kupu-kupu malam
Bersayapkan intan permata
Berbusana Britney Spears
Menarik insan harus birahi
Kupu-kupu malam
Impian berhidung belang
Meniti duka menuai hidup
Menabur virus menuai maut

Sobat
Sobat
Kemarin aku senang
Hari ini aku sedih
Melihat penguasa kita
Aku risih mendengar namanya
Aku mau dengan kata-katanya
Aku bingung dengan pikirannya
Aku stress dengan tindakanya
Sobat
Kini nuraniku menangis
Melihat jalan kembar Nenuk-Atambua
Dihiasi insan tak berjiwa seni
Kini tinggal bekas setapak
Ditinggal insan haus uang
Insan tak bertanggung jawab
Insan asal-asalan
Sobat
Jangan tidur di siang bolong
Menanti lonceng rakyat berbunyi
Membiarkan virus korupsi menjamur
Merajalela di negeri beriman ini
Pos Kupang Minggu, 17 Februari 2008, halaman 6
Lanjut...

Puisi-puisi Teofani Odilia

Puisi-puisi: Teofani Odilia

BUMI

Ibu, apakah kau marah
Aku ingat usiamu jauh
Maafkan,
Kupakai mantel hijaumu dan tercabik-cabik

Ibu, tungkaimu bergetar
Suhu tubuhmu tinggi
Batukmu ditemani isi perutmu
Air matamu tumpah merendam

Ibu, jangan melangkah keluar
Tetaplah berputar di jalanmu
Kan kutisik mantel hijaumu
Agar payudaramu meneteskan lagi air susumu


HUTAN

Membunuh dan tegak berdampingan
Menghabisi dan tak pernah punah
Memberi dan tak pernah kekurangan
Melupakan dan tak meninggalkan jejak

Anggun meski bisu
Ramah meski bergolak
Terpandang damai meski penuh pertikaian
Paradoks kehidupan: Munafik dan Telanjang

Teladan kerumitan yang patuh
Simbol kebersamaan yang konfiguratif
Wujud hamba yang paripurna
Menghirup ampas saudaramu MANUSIA. Lanjut...

Berkaitan dengan kasus penganiayaan yang menimpa Wartawan Pos Kupang, Obby Lewanmeru pada tanggal 17 Februari 2008, kami penggemar Harian Pos Kupang dengan ini menyatakan sikap sebagai berikut:
  1. Meminta keseriusan aparat kepolisian di Labuan Bajo agar mengusut kasus penganiayaan ini sampai tuntas. Hendaknya polisi jangan main-main dalam menangani kasus ini. Tuntas dalam pengertian bisa menggali motif penganiayaan tersebut, mengungkap aktor interlektual di balik kasus ini serta memproses para pelaku sampai masuk meja pengadilan.
  2. Mendesak semua tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda, LSM serta tokoh pemerintahan di Kabupaten Manggarai Barat agar serius dan sungguh-sungguh memberikan perhatian terhadap kasus penganiayaan tersebut. Hendaknya semua pihak mengawal proses hukum yang sedang berlangsung dan ikut menciptakan suasana yang kondusif agar tidak menimbulkan masalah baru. Agaknya semua sepakat bahwa kasus penganiayaan terhadap Wartawan Pos Kupang telah mencoreng citra masyarakat Labuan Bajo serta Manggarai Barat umumnya yang cinta damai dan anti kekerasan.
  3. Kepada siapa pun yang merasa dirugikan oleh pemberitaan media massa, hendaknya menempuh cara-cara yang elegan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
  4. Kepada semua wartawan media cetak dan elektronik yang bertugas di Manggarai Barat hendaknya kasus penganiayaan terhadap Obby tidak menyurutkan spirit dan kesungguhan Anda dalam melaksanakan tugas jurnalistik sehari-hari.
  5. Khusus kepada Obby, semoga lekas sembuh agar dapat kembali bekerja.

Salam anti kekerasan dan kebebasan pers

ANA KALO FAI WALU

Penggemar setia Pos Kupang

Lanjut...

Labuan Bajo, Kompas - Bupati Manggarai Barat Wilfridus Fidelis Pranda membantah keras tudingan yang menyatakan bahwa pihaknya telah mendalangi kasus penganiayaan wartawan Pos Kupang, Yacobus Lewanmeru, di Labuan Bajo (kota kabupaten), Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, Minggu (17/2).
"Pemerintah Manggarai Barat tegas menyampaikan bahwa kasus kekerasan yang dialami wartawan Pos Kupang, Obby (panggilan akrab Yacobus Lewanmeru), sama sekali tak dibekingi atau disuruh, apalagi didalangi, oleh pemkab (pemerintah kabupaten)," kata Kepala Kantor Informasi dan Komunikasi Semana Matheus, mewakili bupati, kepada Kompas, Kamis (21/2). Pernyataan serupa dikirimkan ke redaksi melalui faksimile.
Pihak Pemkab Manggarai Barat, kata Matheus lagi, merasa perlu menyampaikan penjelasan ini guna menanggapi tudingan miring berbagai pihak. "Pemkab melihat kasus kekerasan atas Obby telah dimanfaatkan pihak tertentu untuk menjatuhkan pemerintahan yang sah saat ini," paparnya.
Dalam siaran persnya ke redaksi, yang ditandatangai Matheus, Pemkab Manggarai Barat menyatakan mengutuk tindakan kekerasan tersebut. "Kami mengutuk aksi kekerasan yang menimpa wartawan Pos Kupang itu. Pemkab Manggarai Barat selama ini sangat mendukung dan menjunjung tinggi profesi wartawan. Hal itu terbukti, wartawan senantiasa dilibatkan dalam berbagai kegiatan yang diprakarsai pemkab," demikian pernyataan Pemkab Manggarai Barat.
Kasus pemukulan terhadap wartawan Pos Kupang di Labuan Bajo, kata Matheus menambahkan, merupakan perbuatan yang kontraproduktif terhadap pengembangan demokrasi di bidang pers. "Pemkab Manggarai Barat merasa sangat dirugikan atas pemberitaan kasus kekerasan tersebut. Sebab, terkesan seolah Pemkab di balik aksi premanisme itu," keluh Matheus.
Sebagaimana diberitakan, Minggu dini hari lalu Obby mengalami tindak kekerasan yang dilakukan oleh Yohanes Din, Gregorius Viventius P, Benediktus Darsiadi, dan Rofinus Agustinus Rois. Kini keempat orang tersebut ditahan di Markas Kepolisian Manggarai Barat.
Sejumlah kalangan menduga penganiayaan tersebut terkait dengan pemberitaan Obby seputar proyek singkong di Manggarai Barat senilai Rp 2,8 miliar yang diduga fiktif. Obby telah mengangkat kasus itu sejak awal Februari 2008.
Berkaitan dengan proyek singkong itu, DPRD Manggarai Barat secara resmi melaporkan dugaan penyimpangan proyek itu kepada Komisi Pemberantasan Korupsi pekan lalu. Sementara pihak kepolisian dan kejaksaan setempat kini sedang menyelidiki kasus tersebut. (SEM)
Sumber: http://www.kompas.co.id/kompascetak/read.php?cnt=.kompascetak.xml.2008.02.22.02094767&channel=2&mn=9&idx=9
Lanjut...

LABUAN BAJO, PK --Tiga dari empat pelaku pemukulan dan penganiayaan Obby Lewanmeru, wartawan Pos Kupang yang bertugas di Kabupaten Manggarai Barat, mengaku dijanjikan proyek oleh aktor intelektual. Adapun proyek yang dikasih dan rencananya dikerjakan Maret 2008 mendatang, yakni proyek pembangunan Polsek Terang, proyek tembok pagar rumah jabatan camat dan proyek dermaga kayu di Rangko.
Demikian diungkapkan Yohanes Din, Rofinus A Roys dan Benediktus Darsiadi, pelaku pemukulan dan penganiaan Obby Lewanmeru, saat ditemui Pos Kupang dari balik terali sel tahanan Polres Manggarai Barat, Rabu (20/2/2008).
Skenario pemukulan terhadap wartawan dengan iming-iming proyek, jelas ketiganya, dilakukan oleh seseorang yang saat ini bekerja di salah satu bank swasta daerah di Labuan Bajo. Pegawai tersebut memakai jasa salah seorang oknum yang dikenal oleh pegawai bank itu, bernegosiasi dengan mereka untuk memukul wartawan. Jika ketiganya berhasil melaksanakan tugas, maka akan dikasih proyek.
Ketiganya mengatakan, sebelum melakukan aksi, mereka sempat bertemu di rumah salah seorang pegawai bank swasta itu. Ketiganya dipercayakan menjadi eksekutor.
"Pegawai bank itu juga yang pernah menyuruh kami untuk pukul salah seorang pegawai bank di tempat yang sama," ujar Din.
"Kami diperalat untuk pukul wartawan. Kami menyesal karena kami harus melakukan itu. Kami mohon maaf kepada Obby. Kami sudah bersalah," ujar Darsiadi yang dibenarkan Din dan Roys.
Ketiganya berjanji akan membongkar secara jujur otak pelaku pemukulan Obby. Hal itu dilakukan mengingat ketiganya sangat mengenal Obby.
"Waktu kami lapor kepada seorang oknum yang menjanjikan kami proyek, dia mempersalahkan kami bahwa bukan Obby target yang harus dipukul, tetapi wartawan Metro TV," tambah Din.
Yuven Tanis, pelaku lainnya, mengaku tidak mengetahui rencana pemukulan terhadap Obby dengan iming-iming proyek. Menurutnya, apa yang mereka lakukan terhadap Obby ada hubungan dengan keributan sebelumnya yang mereka alami.
"Saya pukul hanya sebagai solidaritas kepada teman. Saya kira ada kaitan dengan keributan sebelumnya. Saya tidak tahu dijanjikan proyek dan yang kami pukul itu wartawan," ujar Tanis.
Kapolres Manggarai, AKBP Butje Hello, melalui Kasat Reskrim, Iptu Zeth N Kehi, S.H, yang dikonfirmasi tentang perkembangan kasus pemukulan terhadap Obby, mengatakan, penyidik sedang melengkapi administrasi yakni surat pemberitahuan dimulainya penyelidikan yang ditujukan kepada Kejaksaan, administrasi penyitaan barang bukti sepeda motor dan baju korban. Sementara aktor intelektualnya masih dalam pendalaman.
"Sejumlah data awal sudah ada, namun masih perlu bukti guna meminta yang bersangkutan memberi keterangan. Kasus ini prioritas, kami akan kerja sampai tuntas," kata Zeth Kehi.
Secara umum kondisi Obby sudah berangsur baik. Meski demikian, ia mengaku masih merasa sakit di kepala dan pusing-pusing.
Wakil Ketua DPRD NTT, Drs. Kristo Blasin menilai, pemukulan terhadap wartawan sebagaimana terjadi pada Obby merupakan suatu bentuk kepanikan dari pihak-pihak yang merasa terganggu dengan pemberitaan media massa.
"Peristiwa itu sangat memprihatinkan karena terjadi di era otonomi yang menuntut pemerintah dan masyarakat, termasuk insan pers, bersinergi untuk membangun daerah. Wartawan dan pers memiliki peran yang tidak kalah pentingnya, karena itu tidak bisa dipisahkan dari pembangunan. Peristiwa itu juga terjadi akibat pemahaman sebagian orang yang terbatas tentang dunia pers," kata Kristo saat ditemui di gedung DPRD NTT, Rabu (20/2/2008). (lyn/aca).Pos Kupang, 21 Februari 2008.
Lanjut...

LABUAN BAJO, PK--Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) membentuk panitia khusus (pansus) untuk membahas kasus pemukulan wartawan Pos Kupang, Obby Lewanmeru. Tujuannya, untuk menyamakan persepsi sekaligus mengeluarkan pernyataan sikap secara lembaga untuk mendesak aparat penyidik menuntaskan kasus tersebut sesuai prosedur hukum yang berlaku.
Ketua DPRD Manggarai Barat, Matheus Hamsi, menyampaikan hal itu saat berdialog dengan wartawan di ruang sidang DPRD Mabar di Labuan Bajo, Selasa (19/2/2008). Sebanyak 20 wartawan media cetak dan elektronik yang bertugas di Manggarai Barat menggelar aksi damai sebagai tanda solidaritas terhadap wartawan Pos Kupang, Obby Lewanmeru.
Sebelum sampai di DPRD Mabar, para wartawan terlebih dahulu mendatangi Polres Mabar dengan melakukan long march sambil berorasi.
Dalam pernyataan sikapnya, para wartawan mendesak seluruh jajaran kepolisian, baik tingkat lokal, regional maupun nasional, untuk senantiasa memberi rasa aman dengan melindungi, mengayomi warga negara/masyarakat.
Mereka juga mendesak aparat kepolisian Manggarai Barat agar mengusut tuntas kasus penganiayaan terhadap wartawan Pos Kupang, termasuk aktor intelektual di balik tindak kekerasan itu.
Para wartawan juga mendesak aparat penegak hukum (polisi, jaksa, hakim) agar senantiasa menjalankan tugas dan kewenangannya dalam rangka menegakkan supremasi hukum di wilayah itu tanpa diskriminasi, serta mendesak DPRD Mabar untuk ikut menyikapi berbagai fenomena sosial seperti perilaku premanisme dan kekerasan yang semakin berkembang di daerah itu.
Kepada Pemerintah Kabupaten Mabar, para wartawan meminta agar memperhatikan secara serius berbagai kebijakan pembangunan di wilayah itu agar mampu mengatasi berbagai persoalan kemasyarakatan, terutama masalah sosial dan kamtibmas demi terwujudnya masyarakat yang adil dan sejahtera.
Pada saat menerima rombongan wartawan, Hamsi didampingi Wakil Ketua DPRD Suherman dan Ambros Janggat serta sejumlah anggota Dewan dan beberapa wakil eksekutif. Hamsi mengatakan, DPRD secara lembaga mengutuk premanisme terhadap wartawan. Menurut dia, adanya perbuatan premanisme menunjukkan arogansi dan dangkalnya rasa kemanusiaan.
Dewan Manggarai Barat menyatakan prihatin dan terlibat langsung dalam perjuangan menegakkan keadilan terhadap wartawan. Karena itu, Dewan menggelar rapat khusus guna mengeluarkan pernyataan sikap kepada penyidik agar menuntaskan kasus tersebut sesuai prosedur hukum yang berlaku.
"Kami akan mengeluarkan pernyataan sikap secara lembaga untuk mendesak penyidik menuntaskan kasus tersebut," kata Hamsi.
"Kami tidak main-main dengan kasus penganiayaan terhadap wartawan. Apalagi Dewan Pers sudah menyatakan kepada kami bahwa hari ini mereka akan tiba di Manggarai menyikapi kasus pemukulan wartawan," tegasnya.
Ditemui terpisah, Wakil Bupati Manggarai Barat, Drs. Agustinus Ch Dula, mengatakan, Pemkab Mabar mengeluarkan pernyataan sikap mendesak penyidik untuk menyelesaikan kasus itu sesuai hukum yang berlaku. Pernyataan sikap Pemkab Mabar sebagai representasi pemkab kepada penyidik agar kasus itu mendapat kepastian hukum dan memberi efek jera kepada pihak lain untuk tidak melakukan hal serupa kepada wartawan.
Kaplres Manggarai, AKBP Butje Hello, melalui Kabag Ops, AKP Viktor Jemadu, mengatakan, penyidikan kasus pemukulan dan penganiayaan wartawan menjadi prioritas. Pihaknya sedang mengumpulkan data untuk melengkapi BAP. Sementara adanya indikasi aktor intelektual, menurut dia, harus mendapat data dukungan. Jika data cukup kuat, maka penyidik segera menciduk dan memeriksa untuk diproses sesuai hukum yang berlaku.
"Kami tidak main-main dengan kasus ini. Kami terus mendalami semua keterangan para pelaku serta membidik aktor intelektual di baliknya," kata Jemadu. (lyn)
Bank NTT tempuh upaya hukum
BANK NTT Cabang Labuan Bajo akan melakukan upaya hukum terhadap oknum-oknum yang memukul wartawan Pos Kupang, Obby Lewanmeru, karena secara sengaja menyeret Bank NTT Cabang Labuan Bajo. Manajemen Bank NTT merasa keterangan pelaku sebagaimana dilansir media massa merugikan lembaga Bank NTT Cabang Labuan Bajo.
Kepala Bank NTT Cabang Labuan Bajo, Adam Husen mengatakan hal itu kepada wartawan di Labuan Bajo, Selasa (19/2/2008).
"Dalam keterangannya, pelaku menyebut lembaga Bank NTT Cabang Labuan Bajo. Padahal lembaga kami tidak ada sangkut-pautnya dengan pemberitaan selama ini. Apa yang disampaikan pelaku pemukulan wartawan sudah menodai Bank NTT. Karena itu, kami akan memproses hukum dengan delik aduan pemfitnahan dan pemulihan nama baik lembaga," kata Adam.
Menurut Adam, upaya hukum itu dilakukan untuk memulihkan nama baik Bank NTT Cabang Labuan Bajo. Namun, hal itu dilakukan setelah pihaknya berkonsultasi dengan direksi Bank NTT di Kupang.
"Apabila mendapat restu dari Kupang, maka kami akan mengadu secara hukum ke penyidik. Karena, kami merasa dirugikan dan akan memulihkan nama baik lembaga," katanya.
Ketua Pengurus Anak Cabang (PAC) PDI Perjuangan Kecamatan Komodo, Manggarai Barat, dalam pesan singkatnya kepada Pos Kupang, menyatakan, mengutuk keras tindakan preman di Labuan Bajo yang memukul wartawan Pos Kupang, Obby Lewanmeru.
"Saya berharap, masalah ini diselesaikan melalui proses hukum supaya kejadian tersebut tidak akan terulang," tulis orang itu. (lyn/aca). Pos Kupang, 20 Februari 2008
Lanjut...

Memberdayakan Pencarian di Google

Oleh Amir Sodikin
Tak semua orang yang melek internet mengerti harus bagaimana untuk mendapatkan informasi, data, atau lagu dari internet. Dia tahu, googling atau mencari dengan enjin Google merupakan cara bertanya, tetapi sering kali gagal. Itu semua karena satu hal: meremehkan Google tak mengerti bahasa kita.
Popularitas Google sebagai mesin pencari hampir sama dengan internet sendiri. Tampilan sederhana dan algoritma perhitungan yang canggih membuat Google banyak disukai dibandingkan dengan pesaingnya, Yahoo.
Pencarian sering lama dan membuang waktu karena kata kunci yang diberikan terlalu sedikit, misalnya: "iwan fals". Padahal, yang diinginkan download lagu MP3 dari Iwan Fals.
Makin banyak kata yang dimasukkan, seperti: "iwan fals download mp3" (tanpa tanda kutip) barulah lagu yang diinginkan bermunculan. Semakin banyak dan makin spesifik informasi yang kita masukkan, makin cepat menemukan yang dicari.
Cara pencarian dengan memasukkan banyak kata yang kemungkinan ada di dalam dokumen merupakan "cara bodoh" paling mudah jika kita tak ingin menghafal "rumus" tertentu.
Jika ingin cara yang lebih cepat, bisa menggunakan "rumus" tertentu. Untuk pencarian MP3, misalnya, ada banyak cara, salah satunya seperti "iwan fals site:multiply.com/music", berarti hanya mencari lagu Iwan Fals di situs jaringan sosial Multiply.
Cara lain yang telak adalah memanfaatkan format pencarian dengan format seperti: intitle: "index of" mp3 "peterpan", untuk mencari lagu Peterpan.
Cara bodoh
Tidak tahu siapa yang menemukan mesin uap? Masukkan saja kata kunci sederhana, misalnya "mesin uap ditemukan oleh" (tanpa tanda kutip), atau tanda * (bintang) bisa mewakili sembarang kata, maka secara cepat akan mendapatkan jawaban dengan memasukkan "mesin uap ditemukan oleh *" (tanpa tanda kutip) dan jawabannya akan muncul.

Google mampu menginterpretasikan parameter yang diberikan untuk mempercepat pencarian. Tanda "+" dan tanda kutip (" ") untuk pencarian frase seperti: mesin+uap atau "mesin uap". Pencarian pun bisa memasukkan file spesifik, misalnya hanya file pdf. Contoh: jika ingin mencari dokumen pdf Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu, kita bisa memasukkan "taman nasional laut kepulauan seribu filetype:pdf". Jika file yang dicari dalam Microsoft Word, tinggal mengisi filetype:doc.
Jika sudah tahu di situs mana akan dilakukan pencarian, bisa digunakan format "site:nama situs". Misal, jika ingin mencari kesehatan reproduksi di situs Kompas, bisa diketik: "site:kompas.com kesehatan reproduksi" (tanpa tanda kutip). Masih banyak tanda-tanda spesifik untuk meningkatkan pencarian dan semuanya bisa dicari di Google.
Kalkulator
Jika sudah di depan Google, tak perlu membutuhkan kalkulator. Coba langsung masukkan 245*234+123-45, hasilnya akan langsung terlihat. Google juga bisa langsung mengonversi satuan yang berbeda, misalnya jika ingin mengetahui 500 pounds itu berapa kg, bisa mengetikkan "500 pounds in kg".
Untuk mengonversi mata uang asing tak perlu menelepon ke sana kemari. Misal, jika ingin tahu 50 dollar Singapura itu ada berapa rupiah, tinggal mengetikkan "50 SGD in IDR" (tanpa tanda kutip). IDR merupakan kode Indonesian rupiah.
Khusus yang menyukai buku, Google menyediakan alamat khusus di www.books.google.com. Berbagai ragam buku disediakan di sini.
Masih ada seabrek fitur, seperti google map yang mengintegrasikan Google Earth, google images untuk mencari khusus koleksi foto, google video, dan semua ada di internet.
***
Tips Pencarian
1. Prinsip pertama dalam menghadapi mesin pencari seperti Google atau Yahoo adalah jangan "under-estimate" dengan kemampuannya. Masukkan informasi sebanyak mungkin dalam pencarian itu.
2. Untuk mencari gambar, klik khusus pencarian khusus "images" dan video. Baik di Google maupun Yahoo, tersedia.
3. Google juga memiliki kamus penerjemah. Klik Language Tools di bagian bawah untuk menerjemahkan bahasa tertentu ke dalam bahasa yang Anda pahami. Namun, hanya bahasa besar dunia yang tersedia. Untuk English-Indonesia dan Indonesia-English, gunakan www.kamus.net.
4. Untuk memperdalam informasi, Wikipedia merupakan ensiklopedia terbuka. Untuk Wikipedia Bahasa Inggris, alamatnya http://en.wikipedia.org dan untuk Bahasa Indonesia di http://id.wikipedia.org. Sebagai ensiklopedia bebas, jika artikel di Wikipedia tidak bagus, kita bisa menyumbangkan artikel di situ. (AMR)

Sumber: http://www.kompas.co.id/tekno/read.php?cnt=.xml.2008.02.04.21051476&channel=7&mn=117&idx=117
Lanjut...

Oleh Amir Sodikin
Seorang praktisi pembuatan website yang termasuk masih pemula berkirim pesan online, intinya menggunjingkan harga jual website yang gila-gilaan. Harganya tidak sekadar jutaan, tetapi miliaran. Bahkan ada yang mencapai tiga triliunan rupiah. "Akhirnya saya ikutan jualan website, laku Rp 1,5 juta, lumayan buat pemula," katanya.
Era sekarang sudah berbeda dengan lima tahun lalu. Jika dulu bisnis utama para spekulan adalah bagaimana mencari nama domain dot com yang bagus (premium name), hal seperti itu sudah lewat.
Memang sampai sekarang masih ada yang nekat "membabi buta" pasang harga nama domain melangit, seperti www.kompas.mobi dan www.klikbca.mobi yang dipasang harga oleh broker 800.000 dollar AS. Tetapi, hanya sekadar memarkir domain itu tanpa ada isinya tak akan membuat orang tertarik.
Kini arah bisnis sudah berubah. Angka traffic atau lalu lintas pengunjung web jauh lebih menarik dari sekadar nama domain. Walau demikian, tetap nama domain harus dijaga.
Setidaknya, untuk sebuah perusahaan akan terlihat menggelikan jika nama perusahaannya sudah dibajak orang. Contoh lama kasus ini melanda www.gudanggaram.com dan www.satelindo.com (untung sudah berubah nama jadi Indosat) yang berada di tangan orang lain.
Bisnis portal
Traffic atau lalu lintas pengunjung di sebuah website sekarang lebih dilirik pembeli website. Jika ingin membeli sebuah website, pertama kali yang dicek adalah seperti apa statistik lalu lintas datanya.
Kategori "portal news" adalah website yang mudah dibuat karena tersedia berbagai software pembuat website interaktif yang bisa didapatkan gratis. Karena itu, para pemain bisnis website ini rata-rata membangun portal (gerbang informasi). Bisa portal selebriti Indonesia, selebriti internasional, portal olahraga, portal berita umum, portal teknologi informasi, apa pun bisa "dijual".
Semakin menarik isi portal tersebut, semakin banyak yang mengunjungi, dan semakin banyak yang membuat link atau tautan untuk website itu, maka semakin tinggi traffic-nya dan semakin mahal harganya.
Luput dari sorotan publik, ternyata bisnis penjualan website di Indonesia cukup mencengangkan. Seorang tenaga staf sebuah perusahaan yang mengelola beberapa portal mengatakan perusahaannya beberapa bulan lalu menjual portal yang isinya selebriti internasional dengan harga tiga triliun rupiah.
"Portal entertainment itu paling banyak dikunjungi dan mudah update-nya, beda dengan berita-berita umum atau berita politik," kata tenaga staf tadi. Pemain kecil tak akan turun di segmen portal berita umum karena sudah kalah jauh dengan media massa.
Hebatnya, bisnis seperti itu dilakoni secara individual, dari rumah saja, bukan dari perusahaan resmi yang berkibar namanya. "Bos saya itu sudah lama jualan website, kadang beli website yang belum jadi, terus dikembangkan isinya, kalau sudah bagus baru dijual," katanya.
Kini, pemain-pemain baru di Indonesia terus tumbuh. Pemain baru akan membuka harga ratusan ribu hingga jutaan rupiah saja. Cek di mesin pencari di google.com, rata-rata website berbahasa Indonesia dijual murah dengan harga Rp 1,5 juta. Harga itu tidak terlalu jelek karena modal mereka untuk nama domain dot com plus web hosting-nya per tahun bisa cuma Rp 200.000.
"Website" komunitas
Tren yang masih berkembang saat ini adalah bagaimana meng-online-kan komunitas-komunitas yang ada. Hingga kini hampir semua segmen komunitas sudah dibuatkan website-nya.
Konsep website komunitas selalu menarik perhatian karena komunitas yang loyal dan banyak akan semakin membuat website ramai sekaligus meningkatkan rating website di mata mesin pencari. Salah satu ciri adalah memiliki sistem keanggotaan yang terdaftar.
Data teknis anggota seperti daerah asal, umur, pekerjaan, akan menjadi profil yang menarik bagi pendistribusian informasi yang sesuai. Karena itu, website komunitas menjadi kandidat kuat untuk mendapatkan iklan online secara lebih mudah.
Fotografer.net adalah salah satu komunitas pehobi fotografi yang anggotanya ribuan dan memiliki loyalitas tinggi. Dari sisi kepentingan bisnis, nilai domain dan website fotografer.net akan mahal (jika dijual).
Chip.co.id (dari majalah komputer CHIP) juga menjadi contoh yang baik bagaimana mereka mengelola komunitas. Tak ada catatan valid, website mana yang anggotanya paling banyak di Indonesia. Namun, chip.co.id pernah mengklaim sebagai komunitas bidang teknologi informasi yang terbesar di Indonesia.
Keberhasilan situs-situs komunitas Indonesia sebenarnya tak bisa dinilai dengan uang. Loyalitas anggota komunitas lebih dari sekadar uang. Karena itu, akan menjadi kendala tersendiri jika sewaktu-waktu pemilik komunitas itu menjual website-nya.
Jika ingin memulai menjadikan website sebagai komoditas, jenis portal berita akan lebih baik daripada website komunitas. Namun, jika fokusnya adalah mengembangkan website untuk mendapatkan pendapatan dari iklan online, website komunitas bisa jadi pilihan.
Valuasi "website"
Anda punya website dan ingin menjualnya tetapi bingung menentukan harga? Beberapa perusahaan sudah banyak mencoba membuat software online untuk menilai website. Perhitungan ini biasanya didasari pada jumlah link website kita di tempat lain.
Contohnya www.dnscoop.com. Dari situs ini, perkiraan harga Yahoo.com adalah 2.147.483.647 dollar AS. Ada juga www.estibot.com, perkiraan harga Yahoo.com 13.000.000 dollar AS untuk nama domainnya dan 372.000.000 dollar AS untuk traffict-nya. Satu lagi, www.smartpagerank.com, maka perkiraan harga Yahoo.com 3.103.366.084 dollar AS.
Harga sebuah website akan meroket jika traffict juga meroket. Karena itu, bagi perusahaan yang berkecimpung di dalamnya, bisnis jualan website yang sudah ada traffict-nya jauh lebih menggiurkan dibandingkan dengan bisnis real estat.
Harga valuasi di atas hanya perkiraan dan valid bagi domain utama. Untuk kategori subdomain dan weblog (seperti anggota blogger.com), bisa jadi harga yang tertera tak berarti apa-apa karena tak akan ada yang mau membeli blog/subdomain. Jadi, jika ingin serius, tinggalkan blog gratisan dan bangun blog atau portal sendiri dari domain utama.

Sumber: http://www.kompas.co.id/tekno/read.php?cnt=.xml.2008.02.21.21133045&channel=7&mn=115&idx=115
Lanjut...

Pemerintahan lewat "Kantor Maya"

Oleh Sonya Hellen Sinombor dan Subur Tjahjono

Parjo (40) dua bulan belakangan ini makin betah di kantornya, Balai Desa Gilirejo, Kecamatan Miri, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Kepala Desa Gilirejo itu punya "mainan" baru, yakni dua perangkat komputer dilengkapi printer dan telepon bebas pulsa. Komputer di kantor Parjo terkoneksi secara online dengan lebih dari 500 komputer lain di Kabupaten Sragen.
"Saya bisa sampai pukul 17.00 di kantor. Sebelumnya siang sudah pulang," ujar Parjo, terkekeh, ketika ditemui pada Sabtu (16/2) siang. Fasilitas komputer tergolong mewah untuk ukuran Desa Gilirejo yang masuk kategori desa tertinggal. Desa dengan penduduk 3.656 jiwa itu sempat bergolak saat pembangunan Waduk Kedung Ombo. Selain bertani jagung dan ketela pohon di tegalan, penduduk bertani ikan keramba di waduk.
Berbagai informasi terbaru yang tersedia di http://www.sragenkab.go.id dan http://kantaya.sragenkab.go.id merupakan menu yang wajib dibaca tiap hari. Alamat yang terakhir merupakan intranet yang menjadi sarana komunikasi dari kantor kabupaten hingga ke 20 kecamatan dan 208 desa di Sragen. Kantaya adalah akronim dari "kantor maya" Pemkab Sragen.
Bagi Parjo, komputer tersebut sangat membantu memperlancar urusan pemerintahan. Apalagi jarak desa itu paling jauh dari pusat Kabupaten Sragen, sekitar 50 kilometer. Sebelumnya, untuk membuat surat perjalanan dinas (SPD), ia harus ke rental komputer di Gemolong, 15 kilometer dari Gilirejo. Ongkos ojek Rp 20.000 sekali jalan. Sekarang, tinggal diketik di folder "lemari" di kantaya, lantas dikirim ke kantaya kecamatan.
Sejak 2003
Program pemerintahan elektronik atau e-government dimulai Bupati Sragen Untung Wiyono sejak tahun 2003 untuk tingkat kecamatan dan 2007/2008 untuk tingkat desa.
"Sebelum kita membangun infrastruktur, kita bangun dulu manusianya," ujar Untung, bupati dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu. Pejabat di Sragen dikursuskan komputer dan bahasa Inggris. Itu menjadi syarat bagi pejabat Sragen untuk naik pangkat.
Untung Wiyono yang berlatar belakang pengusaha itu sejak awal mengutamakan efisiensi dalam menjalankan pemerintahannya. Teknologi informasi digunakan untuk memangkas biaya. Sebelumnya, biaya telepon dan belanja alat tulis kantor Kabupaten Sragen mencapai Rp 2,3 miliar per tahun. Dengan teknologi informasi, pengeluaran hanya Rp 250 juta per tahun, berupa kerja sama dengan internet service provider.
Aplikasi kantaya di antaranya laporan monitoring setiap dinas, satuan kerja, dan kecamatan; sarana pengiriman data; informasi dan monitoring proyek secara online pada setiap satuan kerja; agenda kerja setiap satuan kerja; forum diskusi dan chatting antarpersonel dan satuan kerja; surat dinas atau undangan.
Dengan teknologi informasi itu, Untung Wiyono mengontrol kinerja birokrasinya yang didukung 12.000 PNS dari komputer di ruang kerjanya. Kalau membutuhkan pertemuan mendadak dengan camat atau kepala desa, Untung tak perlu memanggil bawahannya, cukup mengadakan telekonferensi dengan webcam. Laporan harian kegiatan pembangunan dan laporan keuangan cukup disampaikan lewat komputer.
Di kantaya juga tersedia sistem informasi pemerintahan daerah, perizinan terpadu, sistem informasi perdagangan antarwilayah, kepegawaian, keuangan daerah, kependudukan, pertanahan, sistem rumah sakit umum daerah, sistem informasi strategis, pendapatan daerah, pengelolaan barang daerah, sistem informasi geografis, kredit, dan pembayaran perusahaan daerah air minum.
Aplikasi tersebut betul-betul diterapkan saat Kompas berkeliling ke beberapa kantor kecamatan dan desa di Sragen. Loket pelayanan kartu tanda penduduk dan surat-surat lain di Kantor Kecamatan Kalijambe, misalnya, tak kalah dengan bank. Tursini (38), Warga Desa Banaran, Kecamatan Kalijambe, tidak sampai 5 menit memperpanjang KTP. Ia pun hanya perlu membayar Rp 5.000. Dengan sistem online, tak akan ada KTP kembar di Sragen karena database 863.914 penduduk sudah terintegrasi.
Tiap pagi pukul 07.00-07.30 para perangkat kecamatan dan desa sudah harus membuka komputer untuk melihat informasi, baik berupa kegiatan, undangan, maupun perintah bupati. "Pernah saya baru buka pukul 08.30 ternyata ada undangan rapat di kabupaten pukul 08.30 sehingga telat," ujar Camat Kalijambe Tugino.
Rapat jagabaya atau keamanan desa di Kecamatan Masaran, misalnya, tidak perlu menggunakan surat yang ditandatangani Camat Masaran Yuniarti. Sekretaris Kecamatan Nanang Hartono cukup mengetik undangan di kantaya. "Kami bisa menghemat tagihan telepon dan belanja kertas hingga 70 persen," kata Camat Masaran Yuniarti.
Yuniarti pun ingin usaha batik yang berkembang di wilayahnya dipromosikan di internet. Sumarsono, pengusaha batik dari Desa Kliwonan, Masaran, kini mulai mendapat pesanan, bahkan dari Malaysia, karena promosi di internet itu. Program e-government Sragen sudah diadopsi pemerintah pusat untuk diterapkan di kabupaten/kota lain. Inilah wujud nyata dari reformasi birokrasi.
Sumber: http://www.kompas.co.id/tekno/read.php?cnt=.xml.2008.02.21.11245191&channel=7&mn=115&idx=115
Lanjut...

Kupang, Kompas - Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur meminta agar penyidik Kepolisian Resor Manggarai Barat bersikap profesional dalam mengusut dan mengungkap motif kekerasan terhadap wartawan Pos Kupang, Yacobus Lewanmeru.
”Kami sudah meminta aparat penyidik di Polres Manggarai Barat agar mengusut tuntas kasus pemukulan terhadap wartawan itu,” kata Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) Komisaris Marthen Radja di Kupang, Senin (18/2).
Ia mengemukakan, sejauh ini tidak ada pemberitaan tentang persoalan Bank NTT di Labuan Bajo yang dilansir media massa, termasuk Pos Kupang. Jika para pelaku mengaku memukul Obby, panggilan akrab Yacobus, karena persoalan berita Bank NTT, hal itu hanya alibi para pelaku.
Wartawan harian Pos Kupang, Yacobus Lewanmeru, yang bertugas di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Minggu pukul 02.00 dianiaya empat laki-laki. Akibatnya, bibir Yacobus luka parah. Di beberapa bagian tubuh dan kepala pun memar terkena pukulan (Kompas, 18/2).
Beberapa pihak menduga penganiayaan terhadap Obby berhubungan dengan pemberitaan dugaan korupsi proyek singkong senilai Rp 2,8 miliar di Manggarai Barat.
Salah paham
Kepala Bagian Operasional Polres Manggarai Barat Ajun Komisaris Victor Jemadu menduga kasus kekerasan atas Obby dipicu kesalahpahaman. Empat pria itu dalam keadaan mabuk saat memanggil lalu mengeroyok korban. ”Ini keterangan para tersangka, tapi polisi tak bisa percaya begitu saja,” katanya.
Menurut Victor, yang menjadi pertanyaan dalam kasus itu, mengapa semua tersangka dalam keadaan mabuk dan tiba-tiba menyerang wartawan tanpa ada masalah jelas. ”Dari kasus ini tampak ada kemungkinan motif lain. Kami melakukan pengembangan yang bisa saja mengarah kepada auktor intelektualis di balik penganiayaan itu,” tambahnya.
Sehari sebelumnya, Victor Jemadu menyebutkan, dugaan sementara kasus itu bermotif dendam pribadi, tidak ada kaitan dengan orang suruhan pejabat.
Di Jakarta, Wakil Ketua Dewan Pers Leo Batubara ketika dihubungi menyebutkan, polisi jangan terburu-buru mengambil kesimpulan. Polisi seharusnya melakukan penyelidikan yang berimbang terlebih dahulu.
Aliansi Wartawan Manggarai dan Perhimpunan Wartawan Flores (PWF) pun mengutuk aksi premanisme tersebut. Direktur Pengembangan Inisiatif dan Advokasi Rakyat NTT Sarah Lery Mboeik di Kupang meminta polisi supaya tidak menutup-nutupi gaya premanisme yang diperlihatkan pejabat di Manggarai Barat pada khususnya dan NTT pada umumnya.
Hingga Senin petang, Obby masih dirawat intensif di Poliklinik Susteran Katolik St Yoseph di Labuan Bajo. ”Kondisi saya masih oleng dan lemas, juga belum bisa makan karena luka pukulan di bibir,” ucap Obby.(SEM/KOR/ANS/MUL)
Lanjut...

Polisi bidik aktor interlektual

LABUAN BAJO, PK--Aparat penyidik Polres Manggarai Barat berkesimpulan bahwa ada aktor intelektual kasus penganiayaan wartawan Pos Kupang, Yakobus Lewanmeru atau Obby. Kini penyidikan polisi mengarah kepada aktor intelektual kasus tersebut.
"Kasus pemukulan wartawan menjadi prioritas penyelidikan kami. Kami akan mengusut tuntas kasus ini. Indikasi awal cukup kuat bahwa penganiayaan itu telah dikoordinasikan. Apalagi mereka adalah orang sederhana yang melakukan pemukulan terhadap wartawan.
Kami menyimpulkan ada aktor intelektual di balik kasus ini," ujar Kapolres Manggarai Barat, AKBP Butje Hello, melalui Kabag OPS, AKP Viktor Jemadu, ketika ditemui Pos Kupang di ruang kerjanya, Senin (18/2/2008).Obby yang bertugas di Kabupaten Manggarai Barat dianiaya empat preman di depan Kantor Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) di Labuan Bajo, Minggu (17/2/2007), sekitar pukul 02.00 Wita.
Akibatnya, Obby mengalami luka di bibir, sementara rahang dan leher terasa nyeri sehingga menjalani perawatan di Klinik St. Yoseph Labuan Bajo. Suster Leoni, suster yang merawat Obby, mengatakan, hingga saat ini Obby belum dapat makan dan berkomunikasi dengan baik. Karena kondisi korban lemas, maka ia harus diinfus. Korban hanya bisa makan bubur saring.
Jemadu menjelaskan, setelah mendapat laporan, penyidik langsung membawa korban ke puskesmas untuk mendapat perawatan dan visum. Sementara anggota Intelkam memburu dan berhasil menciduk para pelaku, yakni Yohanes Din, Gregorius Iven Resdimeru, Benediktus Darsuyadi dan Rofinus A Roys.
Para pelaku sudah ditahan hingga BAP dinyatakan lengkap atau P21.Jemadu yang didampingi Kaur Bin OPS Reskrim, Aiptu Hajarin, mengatakan, dari keterangan sementara, para pelaku mengaku menganiaya korban karena dendam pribadi. Keterangan itu masih harus didalami untuk mengungkap secara tuntas kasus tersebut.
Anggota Intelkam terus melakukan investigasi. Sementara para pelaku yang ditahan sudah cukup unsur adanya perbuatan melawan hukum pasal 170 subsider 351 jo pasal 55 KUHP.Kasat I Pidana Umum Direktorat Reserse dan Kriminil Polda NTT, AKBP Agus Suryatno melalui Kabid Humas Polda NTT, Kompol Marthen Radja, meminta aparat penyidik di Polres Manggarai Barat yang menangani kasus penganiayaan wartawan Pos Kupang bersikap profesional dalam mengusut dan mengungkap motif kasus tersebut.
"Kita minta aparat penyidik di Polres Manggarai Barat untuk tetap bersikap profesional dalam mengusut kasus tersebut. Karena kasus pemukulan yang dilaporkan korban, maka kasus itu yang harus diusut," kata Agus Suryatno di Kupang, kemarin.
Agus Suryatno mengungkapkan, dari pantauannya terhadap berita-berita yang dilansir Pos Kupang, tidak ada pemberitaan tentang persoalan Bank NTT di Labuan Bajo. Jadi, apabila para pelaku mengaku memukul Obby Lawanmeru karena persoalan berita Bank NTT, hal itu hanya merupakan alibi para pelaku."Saya kira itu hanya alibi para pelaku saja. Oleh karena itu kita minta aparat di Polres Mabar untuk mengusut kasus pemukulan itu secara tuntas," katanya.
Secara terpisah anggota DPRD Manggarai Barat dari PKP Indonesia, Tobias Wanus, mengutuk keras arogansi premanisme yang menganiaya wartawan. Dia meminta penyidik mengusut tuntas hingga mengungkap aktor intelektual. Menurut Wanus, adanya mentalitas premanisme adalah ekspresi dari orang yang mau menutup diri terhadap fungsi kontrol media massa. Padahal media adalah mitra yang menjalankan fungsi demokratisasi dan fungsi kontrol sosial yang efektif dan memadai. Pernyataan serupa juga disampaikan penasihat Aliansi Wartawan Manggarai (AWAM), Rofino Kant dan Sekretaris Lembaga Pengkajian dan Penelitian Demokrasi Masyarakat Manggarai (LPPDM), Avent Jalut.Keduanya menilai tindakan premanisme adalah pengkhianatan terhadap demokratisasi yang sangat dijunjung tinggi di era reformasi ini. Pengkhiatan terhadap media adalah pelecehan yang radikal terhadap profesi wartawan sekaligus proses demokratisasi. "Dugaaan saya, perbuatan itu bermotif pemberitaan media massa selama ini. Saya harapkan bidikan penyidik mengarah kepada aktor di balik kasus itu," ujar Jalut. (lyn/ben)
BANK NTT tidak tahu
"SAYA bersumpah demi Allah, saya tidak tahu. Jika saya bohong saya tidak selamat. Pos Kupang sangat membantu lembaga kami. Sebagai mitra, selama ini berjalan dengan baik. Saya justru menyesalkan tindakan dari oknum tertentu itu."Demikian pernyataan Kepala Bank NTT Cabang Labuan Bajo, Husen Adam, saat ditemui di Labuan Bajo, Senin (18/2/2008). Adam dikonfirmasi seputar keterkaitan lembaga yang ia pimpin dengan kasus penyaniayaan Obby Lewanmeru, wartawan Pos Kupang.Sebagaimana diketahui, sebelum menganiaya Obby, para pelaku yang adalah preman mengatakan tidak senang dengan pemberitaan soal Bank NTT Cabang Labuan Bajo di Pos Kupang. Oby mengatakan, selama ini dia tidak pernah menulis berita tentang persoalan Bank NTT Cabang Labuan Bajo.Adam menyesalkan jika pemukulan itu menyeret Bank NTT Labuan Bajo. Ia meminta agar aparat penyidik mengusut tuntas kasus tersebut agar bisa memberi efek jera pada para pelaku. Adam mengungkapkan, sekitar Juni 2007, Pos Kupang pernah memuat aspirasi (rubrik curhat, Red) tentang Bank NTT Labuan Bajo. "Aspirasi itu saya tidak baca, hanya ada telepon dari Kupang minta diklarifikasi dan kami sudah lakukan itu sehingga tidak ada masalah. Menyesatkan jika kasus pemukulan itu ada hubungan dengan lembaga kami. Kalau individu tertentu atau karyawan Bank NTT, saya tidak tahu," katanya.Dus Helmon, pegawai Bank NTT Cabang Labuan Bajo, yang disebut-sebut ikut terlibat penganiayaan terhadap Obby, membantah. Dus merasa dirugikan dengan adanya informasi keterlibatan dirinya, karena dirinya tidak tahu-menahu. "Hanya Tuhan yang tahu," ujar Dus.Ditemui terpisah, Wakil Bupati Manggarai Barat, Agustinus Ch Dula, menyesalkan tindakan penganiayaan wartawan. Karena merupakan tindakan kriminal, maka aparat penyidik diminta untuk segera menuntaskan kasus itu agar memberi efek jera pada pelaku."Kita harapkan kasusnya segera selesai sampai tuntas. Kita bersyukur kasus tersebut sudah di aparat penyidik," kata Dula. (lyn)
Sumber http://www.indomedia.com/poskup/2008/02/19/edisi19/plus.htm Lanjut...

KUPANG, PK -- Wartawan Surat Kabar Harian (SKH) Pos Kupang, Obby Lewanmeru yang bertugas di Kabupaten Manggarai Barat, dianiaya empat preman, di depan Kantor Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) di Labuan Bajo, Minggu (17/2/2007) sekitar pukul 02.00 Wita. Akibatnya, Obby mengalami luka robek pada bibir.
"Tiga orang pelaku saya kenal yang biasa dipanggil Medi, Yance, dan Juven. Yang seorang lagi saya tidak kenal. Sebelum memukuli mereka hanya mengatakan tak senang dengan pemberitaan soal Bank NTT Cabang Labuan Bajo. Padahal, saya tidak pernah menulis soal itu. Dan hubungan saya dengan mereka baik-baik saja," kata Obby yang melaporkan kejadian itu lewat telepon ke Redaksi Pos Kupang di Kupang, Minggu pagi.
Obby telah melaporkan kejadian itu ke Kepolisian Resor (Polres) Manggarai Barat. Ia juga telah diambil visum untuk kepentingan penyidikan. Aparat Polres setempat sudah menangkap dan menahan keempat tersangka pelaku. Keempat pelaku adalah Yohanes Din, Gregorius Iven, Benediktus Darsiadi, dan Rofinus A Rois, semuanya warga Labuan Bajo.
Motif penganiayaan tersebut masih dalam penyelidikan polisi. "Saya tidak mengetahui apa motif mereka, sebab saya tidak pernah menulis soal kasus Bank NTT," katanya.Kepala Polres Manggarai Barat, AKBP Butje Hello yang dikofirmasi, membenarkan bahwa aparat sudah menangkap empat tersangka pelaku.Kabag Operasional Polres Mabar, AKP Victor Jemadu mengatakan, polisi masih memeriksa empat tersangka pelaku. Pemeriksaan tersebut, katanya, juga untuk mengungkap motif kasus penganiayaan tersebut. (aca)

Polisi diminta ungkap motifnya
MENANGGAPI kasus penganiayaan tersebut, Pemimpin Umum Surat Kabar Harian (SKH) Pos Kupang, Damyan Godho meminta kepada aparat Polres Mabar agar mampu mengungkap motif kasus itu.
"Polisi agar tidak secara sederhana saja melihat persoalan ini. Karena polisi di Manggarai Barat mestinya tahu pasti dari membaca koran tiap hari, bagaimana Obby menjalankan tugasnya, mengangkat persoalan hukum dan keadilan, praktek-praktek KKN, membela yang miskin dan papa. Terima kasih kepada Polres yang langsung menciduk preman-preman itu," katanya.
Damyan yang juga Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang NTT ini, berpesan kepada para wartawan tidak usah takut dan gentar melawan praktek-praktek preman, intrik, teror dan intimidasi.
"Di tengah penegakan hukum yang belum maksimal, praktek-praktek KKN yang menggurita, cara-cara preman bisa saja terjadi. Mereka yang terkena pemberitaan bukan tidak mungkin tidak bereaksi. Mereka menggeliat dengan berbagai cara termasuk gaya preman yang direkayasa sedemikian rupa dalam menghadapi kontrol pers terhadap perbuatan yang merugikan rakyat dan negara ini," katanya.
Pemimpin Redaksi SKH Pos Kupang, Dion DB Putra mengatakan, kasus yang menimpa Obby merupakan kekerasan terhadap insan pers. Kasus itu merupakan ancaman terhadap kebebasan pers sehingga aparat penegak hukum harus memrosesnya hingga tuntas. Redaksi Pos Kupang, kata Dion, telah mengambil langkah dengan melaporkan kasus tersebut kepada aparat Polres Mabar.
Ketua DPRD Manggarai Barat, Matheus Hamsi, juga menyatakan prihatin dan menyesal atas penganiayaan terhadap Obby. Bagi DPRD Mabar, katanya, keberadaan wartawan/pers sangat penting dalam upaya bersama membangun pemerintahan yang bersih.Hamsih yang sedang di Surabaya dalam perjalanan kembali ke Labuan Bajo, hari ini, mengharapkan agar polisi mampu mengungkap motif penganiayaan yang menimpa Obby yang belakangan ini gencar menulis kasus-kasus KKN di Mabar.
Hamsi mengaku baru saja menelpon Obby dan menyatakan dukungan atas keberadaan Obby dan semua wartawan yang bertugas di Labuan Bajo. Hamsi bahkan menawarkan kepada Obby untuk menginap saja di rumahnya jika merasa tidak aman di tempat kos.
PWF kutuk
Perhimpunan Wartawan Flores (PWF) mengutuk keras kejadian itu dan menganggap tindakan penganiayaan itu sebagai perbuatan biadab. Dalam pernyataan sikap yang ditujukan kepada polisi yang ditandatangani Hironimus Bokilia (ketua umum) dan Bernadus Barat Daya (sekretaris umum), PWF mendesak Kapolres Manggarai Barat beserta jajarannya agar segera mengusut tuntas kasus tersebut, termasuk aktor intelektual di balik tindak kekerasan itu. PWF menolak dengan keras jika kasus tersebut diselesaikan secara kekeluargaan.
"Jika pernyataan sikap ini tidak ditanggapi dan disikapi, maka Perhimpuan Wartawan Flores dan organisasi wartawan seluruh Flores akan melakukan perlawanan keras," tulis PWF.Perhimpunan Wartawan Manggarai Barat (PWMB) juga menentang kekerasan terhadap wartawan. PWMB menyatakan menolak keras jika kasus tersebut diselesaikan secara kekeluargaan. "Karena kekerasan merupakan tindakan yang tidak berperikemanusian," tulis PWMB. (aca)
  • KRONOLOGI PEMUKULAN:
    * Minggu (17/2/2008) pukul 02.00 Wita dinihari: Obby dan temannya Beny menggunakan sepeda motor dalam perjalanan pulang ke tempat kost Obby di Gang Pengadilan, Desa Gorontalo, Kecamatan Komodo, Mabar. Saat melintas di depan Toko Swalayan, keduanya melihat ada empat pria yang sedang duduk di depan kantor BNI 46 Cabang Labuan Bajo.
    * Saat melintas di depan kantor Balai Taman Nasional Komodo (BTNK), terdengar bunyi suitan dan tepukan tangan sambil memanggil nama Obby. Namun Obby dan temannya terus melaju.
    * Dalam perjalanan Beny menoleh ke belakang dan melihat ada sebuah sepeda motor yang menyusul mereka. "Ada yang kejar kita, berhenti dulu," kata Beny kepada Obby. Obby menghentikan sepeda motor namun tidak turun dari motor yang dikendarainya.
    * Tidak lama sebuah sepeda motor berhenti tepat di depan motor Obby. Pengendaranya adalah Nedi. Pria itu turun dan bertanya, "Om Obby wartawan Metro TV-kah? Obby menjawab, "Bukan, saya wartawan Pos Kupang". Nedi menimpal, "Saya mau bicara sama om Obby. Tidak enak, karena ada berita tentang Bank NTT. Obby langsung menjawab, "Saya tidak pernah menulis berita tentang Bank NTT". Nedi menimpal, "Saya ini keluarganya Dus. Tidak enak to, ada berita tentang dia". Obby kembali menegaskan, "Saya tidak pernah menulis tentang Bank NTT".
    * Saat Obby dan Nedi sedang "berdialog", datang lagi tiga orang pria, Aven, Yance dan Ruis. Mereka menggunakan dua sepeda motor. "Tanpa omong apa-apa mereka langsung pukul saya ulang-ulang di wajah sehingga saya pusing," kata Obby.
    * Selain memukul, mereka mengancam Obby. "Kau mau lapor ke mana saja, lapor sudah. Kami ini orang asli di sini," ancam para pria sambil menuju sepeda motornya dan kabur dari TKP.
    Sumber http://www.indomedia.com/poskup/2008/02/18/edisi18/plus.htm
Lanjut...

TOKYO, PK - Kebebasan pers di Indonesia dalam pandangan LSM pemantau media internasional berada dalam urutan ke-100 dari 167 negara yang disurvei oleh sebuah lembaga yang bernama Reporters Without Borders (RWB).Dalam indeks kebebasan pers tahun 2007 yang diterima Antara di Tokyo, Minggu (17/2/2008), posisi Indonesia berada di urutan nomor dua, di bawah Kamboja yang menempati tempat teratas untuk kawasan Asia Tenggara.
Berdasarkan indeks tersebut, "freedom of the press" di negara-negara Asia Timur umumnya lebih baik ketimbang di kawasan Asia Tenggara.Kebebasan pers di Asia Timur berada di urutan 30- 40, kecuali Republik Rakyat China (RRC). Bahkan kebebasan pers di negara Timor Leste lebih baik ketimbang Indonesia, yakni di posisi ke-92.
Dalam indeks yang hanya memasukkan unsur minimnya kekerasan ataupun ancaman bagi wartawan dalam menjalankan tugas jurnalistiknya itu, posisi kebebasan pers di 10 negara ASEAN secara berurutan adalah: Kamboja (85), Indonesia (100), Brunei (118), Malaysia (124), dan Filipina sendiri di urutan 128.Kemudian urutan ke-6 adalah Thailand (138), diikuti Singapura (141), Laos (161), Vietnam (162) dan terakhir Myanmar yang menempati peringkat ke-164.
Penilaian indeks itu juga terpisah dari faktor kualitas wartawan di masing-masing negara. Kematian wartawan dan kekerasan baik langsung maupun tidak langsung lebih menempati pertimbangan utama.
Kebebasan pers di Asia Timur peringkat pertama ditempati Taiwan yang berada di urutan ke-32, kemudian diikuti Jepang (37) , Korea Selatan (39), Hong Kong (61). Sedangkan China menempati urutan 163 atau nomor tujuh dari bawah.Sementara kebebasan pers di Australia menempati posisi ke-28, jauh di atas Amerika Serikat, sumber kebebasan pers itu sendiri, yang menempati urutan ke-48.
Menurut Kepala Perwakilan Reporters Without Borders (RWB) di Tokyo, Michel Temman, Minggu, wartawan di Asia perlu bekerja sama secara lebih kuat untuk bisa menghasilkan kualitas jurnalistik yang tangguh.
"Kerja sama akan mendorong tumbuhnya kegiatan jurnalistik yang berkualitas, dan itu akan mendorong terciptanya iklim kebebasan pers yang semakin baik," katanya. (*)Sumber http://www.indomedia.com/poskup/2008/02/18/edisi18/plus.htm
Lanjut...

Labuan Bajo, Kompas - Wartawan harian Pos Kupang, Nusa Tenggara Timur, Yacobus Lewanmeru, yang bertugas di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, Minggu (17/2) sekitar pukul 02.00, dianiaya empat laki-laki. Akibat penganiayaan itu, Obby, panggilan akrab Yacobus, luka parah di bagian bibir. Di beberapa bagian tubuh dan kepala juga tampak memar terkena pukulan.
”Saya kenal tiga dari empat pelaku yang biasa dipanggil Medi, Yance, dan Juven,” kata Obby. Kasus itu dilaporkan ke Kepolisian Resor Manggarai, Minggu.
Kepala Polres Manggarai Barat Ajun Komisaris Besar Butje Hello ketika dikonfirmasi membenarkan kasus penganiayaan itu. Empat tersangka pelaku pun sudah ditangkap dan ditahan.
Kepala Bagian Operasional Polres Manggarai Barat Ajun Komisaris Victor Jemadu menyebutkan, pemeriksaan terhadap para tersangka masih berlangsung. ”Dugaan sementara kasus itu bermotif dendam pribadi, tidak ada kaitan dengan orang suruhan pejabat, tak ada hubungan ke sana,” katanya.
Obby menuturkan, penganiayaan berawal saat ia dalam perjalanan pulang memakai sepeda motor ke tempat kosnya di Labuan Bajo setelah meliput peristiwa di sebuah pub di Desa Gorontalo, juga Labuan Bajo. Saat melintas dekat Hotel Wisata, ia mendengar namanya dipanggil Medi yang sedang duduk-duduk bersama sejumlah pemuda.
Obby tidak berhenti. Dengan sepeda motor, Medi lalu mengejar Obby. Keduanya berhenti di dekat Kantor Balai Taman Nasional Komodo. ”Medi mengatakan ingin berbicara tentang sesuatu. Tak lama kemudian ketiga temannya menyusul. Mereka lalu mengeroyok, setelah mengatakan tidak senang atas berita saya tentang Bank NTT,” kata Obby. Alasan itu janggal karena selama bertugas di Labuan Bajo ia tidak merasa pernah menulis berita seputar Bank NTT di daerah itu.
Beberapa pihak di Labuan Bajo menduga, kasus penganiayaan terhadap Obby berhubungan dengan pemberitaan mengenai dugaan korupsi proyek singkong senilai Rp 2,8 miliar. Pos Kupang sejak awal Februari gencar memberitakan proyek yang diduga fiktif itu. Oleh DPRD Manggarai Barat, dugaan penyimpangan proyek singkong itu secara resmi dilaporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Jakarta.
Ketua Umum Perhimpunan Wartawan Flores Hieronimus Bokilia di Ende menyatakan mengutuk keras aksi premanisme terhadap insan pers. Ia mendesak kepolisian mengusut tuntas.
Guru besar Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Nusa Cendana (Undana) Kupang Prof Dr Alo Liliweri menyatakan pula, jika tulisan wartawan salah, ada cara tepat untuk menyelesaikannya. Dosen Fakultas Hukum Undana, Willem Watan, menambahkan, pemerintah seharusnya menjadikan pers sebagai mitra.
Pemimpin Redaksi Pos Kupang Dion DB Putra menyayangkan kasus penganiayaan terhadap Obby. Dion akan mengambil langkah lebih lanjut, termasuk langkah hukum guna menuntaskan kasus tersebut, termasuk motif di baliknya.
Dion juga merasa janggal jika kasus itu terkait pemberitaan tentang Bank NTT. ”Obby tidak pernah menulis berita tentang Bank NTT. Pasti ada motif lain,” katanya. (SEM/KOR/ANS). Kompas, Senin 18 Februari 2008, halaman 1.
Lanjut...

Barangkali ceritera dari Malaysia ini layak kita baca dan kita sadari. Benarkah Malaysia tak seburuk seperti kita dan mereka bayangkan sendiri? Seandainya Anda presiden atau perdana menteri negara mana pun, apakah kebijakan rasial yang akan Anda terapkan? <—— Malaysia Today, 20 Desember 2007
Oleh Discordant Dude
Saya seorang warga negara biasa dari Malaysia. Sekarang saya tinggal di Inggris, sudah hampir setengah tahun. Saya tak pernah merasa sungguh-sungguh jadi warga bangsa Malaysia seperti sekarang ini, justru setelah saya sampai di Inggris.
Saya bangga punya jatidiri sebagai seorang Cina Malaysia. Saya tak pernah merasa lelah untuk menjelaskan kepada siapa pun bahwa yang disebut dengan orang Cina tak serta-merta berarti bahwa ia berasal dari Republik Rakyat Cina, Hong Kong atau Taiwan.
Ketika saya berjalan menuju tempat kerja saya di sebuah hostel di sini, baru-baru ini saya diumpat-umpat dengan kata-kata kasar oleh orang setempat, yang pada dasarnya bernada anti-ras dan pelecehan agama. Saya kesal dan marah, karenanya tak begitu menyadari seriusnya masalah ini. Langsung saja saya laporkan kejadian ini ke yang berwewenang.
Hari berikutnya ada telpon dari boss saya. Ia menyuruh saya untuk bertemu dengan wakil manager dari kompleks perumahan, termasuk hostel di mana saya bekerja, karena laporan saya dipandang sangat serius. Singkat ceritera, wakil manajer itu lalu membantu saya mengisi laporan resmi mengenai pidana menyatakan perasaan kebencian. Akibatnya orang itu dipecat dari hostel beberapa minggu kemudian.
Saya pikir semua urusan sudah selesai. Tapi kemudian hari ini saya mendapat sebuah pesan dari seorang polisi. Ia meninggalkan nomor telpon kontaknya. Ia bertanya apakah saya berkeinginan untuk melanjutkan kasus ini. Ia juga mengatakan bahwa lain kali kasus pelecehan semacam ini dapat dilaporkan langsung kepadanya, jika saya merasa tidak enak menggunakan jalur tempat kerja saya.
Sebagai seorang non-warga negara Inggris, saya merasa sangat dilindungi oleh hukum negara ini. Di sini tak mau saya katakan bahwa Inggris memiliki sistem yang sempurna atau bahwa rasisme tak ada dalam masyarakat Inggris. Tapi setidaknya secara kelembagaan saya terlindung dari sikap-sikap diskriminatif langsung seperti prasangka-prasangka rasial dan keagamaan.
Saya tak pernah mengalami sebelumnya bahwa rasisme ditangani secara serius seperti yang baru saja saya alami. Barangkali hal ini karena saya dibesarkan di sebuah lingkungan di mana diskriminasi ras telah dilembagakan dan diterima sebagai bagian utuh dari kehidupan kami di Malaysia. Setelah 50 tahun merdeka, sistem pendidikan, kebijakan ekonomi dan politik kami masih dikendalikan berdasarkan perbedaan ras. Saya merasa kami sama sekali belum terbebaskan dari kungkungan mentalitas kolonial “divide et impera”.
Mungkin juga ini disebabkan karena saya tidak melihat persoalannya dari perspektif yang lebih luas berdasarkan hukum dan kebijakan negara kami. Tapi jelas saya tak sendiri dalam hal ini. Berbalikan dari hasil-hasil pemilihan umum yang heboh yang dikutip-kutip oleh pemerintah kami setiap kali ada kritk-kritik, saya yakin sekali bahwa kenyataan di sekitar kami sesungguhnya sangat berbeda.
Saya kenal juga mahasiswa-mahasiswa (asal Malaysia) yang menolak pulang ke Malaysia setelah selesai belajar. Di Malaysia sendiri juga banyak terdapat mahasiswa-mahasiswa yang telah lulus tapi kemudian bekerja di luar sistem yang ada. Banyak kawan dan keluarga-keluarga yang tak merasa puas. Mereka semua tak punya cara-cara lain kecuali menghabiskan waktu menggerutu di warung-warung “mamak”. Setidak-tidaknya dapat saya katakan bahwa hukum dan kebijakan negara kami sesungguhnya merusak jiwa dari bangsa kami.
Bagaimana mungkin kita mau percaya bahwa hasil pemilihan umum sungguh-sungguh menggambarkan kesadaran publik dan kesadaran politik jika para menteri yang bekerja untuk kantor perdana menteri itu jelas-jelas mengatakan dalam suatu wawancara dengan TV al-Jazirah bahwa pandangan-pandangan pihak oposisi tidak memiliki bobot apa pun?
Hal ini berbalikan dengan sistem demokrasi. Bagaimana mungkin kita bisa percaya bahwa pemilihan umum yang dijalankan itu memang bersih dan adil, jika usaha-usaha untuk membuka perdebatan secara publik tentang berbagai masalah itu justru dikecilkan maknanya dengan sebutan “kekanak-kanakan” dan pertikaian sepele, remeh-temeh?
Ya, saya memang membuat perbandingan antara Inggris dan Malaysia. Baru-baru ini perdana menteri Malaysia mengatakan bahwa keamanan masyarakat merupakan kepentingan utama. Tapi terus-terang saya sungguh-sungguh tidak lebih merasa aman dan terlindungi oleh sistem hukum negara asing daripada yang sekarang saya alami (di Inggris). Hari-hari saya yang pendek di Inggris telah menyadari saya bahwa penegakan hukum yang mampu meredakan rasa takut saya terhadap diskriminasi dibandingkan dengan lama hari-hari saya di Malaysia bertemu dengan polisi-polisi Malaysia yang melakukan intimidasi dan suap-menyuap.
Semua jadi lebih rumit lagi ketika saya sadari kesenjangan antara apa yang ditulis di surat-surat kabar utama dibandingkan dengan kenyataan pribadi yang ada di sekitar saya. Media massa mengatakan bahwa mereka yang tak puas itu hanyalah segelintir saja dalam masyarakat Malaysia, tapi rasanya semua orang di sekitar saya merasa tidak puas. Media juga mengatakan bahwa hanya minoritas saja dari antara para polisi itu korup, tapi sebaliknya semua orang yang saya kenal setidaknya pasti tahu satu ceritera jelek tentang polisi. Perkiraan berapa jumlah peserta demo yang baru-baru ini terjadi rasanya sulit dipercaya dibandingkan dengan apa yang saya lihat di Youtube.
Tak mau saya katakan di sini bahwa Malaysia sebaiknya meniru begitu saja negara tuan-tuan penjajahnya di masa silam. Tapi jelas banyak sekali hal yang masih harus saya pelajari. Jika saya boleh mengangkat satu langkah perbandingan lagi, negara Inggris sesungguhnya memperlakukan saya, sebagai seorang buruh migran, lebih seperti manusia daripada yang kami, orang Malaysia, lakukan terhadap para buruh migran kami.
Bagaimana mungkin para buruh migran kami itu tidak lebih dari komoditas jika ternyata kami memiliki sebuah undang-undang yang membatasi kehidupan pribadi mereka dan tidak menyediakan apa pun yang sifatnya lebih manusiawi dalam kondisi kerja mereka? Melihat kenyataan bahwa kami mengalienasikan warga negara Indonesia, tetangga kami, di dalam negeri kami, maka tak heran jika mereka tak merasa bahwa kami berasal dari akar budaya yang sama dengan mereka.
Perdana menteri yang terhormat, saya bertanya kepada diri saya sendiri, lagi dan lagi, mengapa saya (dan semua orang lain yang bersikap seperti saya) perlu kembali ke Malaysia? Seorang Cina Malaysia yang biasa tetapi ternyata saya lebih merasa terlindungi oleh hukum, lebih merasa mendapatkan kesempatan yang didasarkan pada kemampuan kami dan dapat memperoleh kehidupan yang lebih nyaman di Inggris.
Satu-satunya alasan yang dapat saya katakan pada diri saya sendiri adalah bahwa Malaysia adalah negara asal saya, negara tambatan diri saya. “Tanah tumpah darahku.” Malaysia adalah masyarakat saya. Di situlah saya ingin menyumbangkan tenaga produktif dan kreatif saya.
Sejauh ini saya sudah mengambil jarak terhadap perasaan-perasaan kebangsaan seperti itu. Para warga negara yang jujur dan setia dalam berjuang untuk Malaysia yang lebih baik justru telah dibikin jadi kelihatan seperti pengkhianat yang paling jahat, didakwa dengan ancaman hukum mati dan dituduh melakukan persekongkolan dengan kelompok-kelompok teroris. Retorika “Ketuanan Melayu” semakin nyaring terdengar dari hari ke hari, memperkuat sistem budaya dan politik, yang justru membuat saya semakin, semakin terasing. Orang-orang yang berada dalam kekuasaan melakukan perubahan justru secara absurd terus menolak kenyataan. Padahal semua orang waras mengakui kebenarannya.
Perdana menteri yang terhormat, saya menulis dan menyatakan pikiran saya ini hanyalah karena saya masih punya kepercayaan dan harapan. Meskipun banyak orang tak lagi ingin pulang ke Malaysia, saya masih ingin bersikap optimistik tentang kemungkinan perubahan. Saya yakin Anda juga masih memegang janji Anda mau bekerja bersama dan untuk masyarakat.
Saya hanyalah seorang Malaysia biasa yang ingin melihat adanya Malaysia yang lebih baik. Saya berdoa agar Anda mau mendengarkan suara-suara keprihatinan dan agar Anda mau memperkuat keyakinan saya bahwa Malaysia adalah negeri untuk semua orang – tak peduli apa suku, ras, agama atau kepercayaannya.** Sumber http://ecosocrights.blogspot.com/
Lanjut...

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda