Pemukulan wartawan: Pelaku dijanjikan proyek

LABUAN BAJO, PK --Tiga dari empat pelaku pemukulan dan penganiayaan Obby Lewanmeru, wartawan Pos Kupang yang bertugas di Kabupaten Manggarai Barat, mengaku dijanjikan proyek oleh aktor intelektual. Adapun proyek yang dikasih dan rencananya dikerjakan Maret 2008 mendatang, yakni proyek pembangunan Polsek Terang, proyek tembok pagar rumah jabatan camat dan proyek dermaga kayu di Rangko.
Demikian diungkapkan Yohanes Din, Rofinus A Roys dan Benediktus Darsiadi, pelaku pemukulan dan penganiaan Obby Lewanmeru, saat ditemui Pos Kupang dari balik terali sel tahanan Polres Manggarai Barat, Rabu (20/2/2008).
Skenario pemukulan terhadap wartawan dengan iming-iming proyek, jelas ketiganya, dilakukan oleh seseorang yang saat ini bekerja di salah satu bank swasta daerah di Labuan Bajo. Pegawai tersebut memakai jasa salah seorang oknum yang dikenal oleh pegawai bank itu, bernegosiasi dengan mereka untuk memukul wartawan. Jika ketiganya berhasil melaksanakan tugas, maka akan dikasih proyek.
Ketiganya mengatakan, sebelum melakukan aksi, mereka sempat bertemu di rumah salah seorang pegawai bank swasta itu. Ketiganya dipercayakan menjadi eksekutor.
"Pegawai bank itu juga yang pernah menyuruh kami untuk pukul salah seorang pegawai bank di tempat yang sama," ujar Din.
"Kami diperalat untuk pukul wartawan. Kami menyesal karena kami harus melakukan itu. Kami mohon maaf kepada Obby. Kami sudah bersalah," ujar Darsiadi yang dibenarkan Din dan Roys.
Ketiganya berjanji akan membongkar secara jujur otak pelaku pemukulan Obby. Hal itu dilakukan mengingat ketiganya sangat mengenal Obby.
"Waktu kami lapor kepada seorang oknum yang menjanjikan kami proyek, dia mempersalahkan kami bahwa bukan Obby target yang harus dipukul, tetapi wartawan Metro TV," tambah Din.
Yuven Tanis, pelaku lainnya, mengaku tidak mengetahui rencana pemukulan terhadap Obby dengan iming-iming proyek. Menurutnya, apa yang mereka lakukan terhadap Obby ada hubungan dengan keributan sebelumnya yang mereka alami.
"Saya pukul hanya sebagai solidaritas kepada teman. Saya kira ada kaitan dengan keributan sebelumnya. Saya tidak tahu dijanjikan proyek dan yang kami pukul itu wartawan," ujar Tanis.
Kapolres Manggarai, AKBP Butje Hello, melalui Kasat Reskrim, Iptu Zeth N Kehi, S.H, yang dikonfirmasi tentang perkembangan kasus pemukulan terhadap Obby, mengatakan, penyidik sedang melengkapi administrasi yakni surat pemberitahuan dimulainya penyelidikan yang ditujukan kepada Kejaksaan, administrasi penyitaan barang bukti sepeda motor dan baju korban. Sementara aktor intelektualnya masih dalam pendalaman.
"Sejumlah data awal sudah ada, namun masih perlu bukti guna meminta yang bersangkutan memberi keterangan. Kasus ini prioritas, kami akan kerja sampai tuntas," kata Zeth Kehi.
Secara umum kondisi Obby sudah berangsur baik. Meski demikian, ia mengaku masih merasa sakit di kepala dan pusing-pusing.
Wakil Ketua DPRD NTT, Drs. Kristo Blasin menilai, pemukulan terhadap wartawan sebagaimana terjadi pada Obby merupakan suatu bentuk kepanikan dari pihak-pihak yang merasa terganggu dengan pemberitaan media massa.
"Peristiwa itu sangat memprihatinkan karena terjadi di era otonomi yang menuntut pemerintah dan masyarakat, termasuk insan pers, bersinergi untuk membangun daerah. Wartawan dan pers memiliki peran yang tidak kalah pentingnya, karena itu tidak bisa dipisahkan dari pembangunan. Peristiwa itu juga terjadi akibat pemahaman sebagian orang yang terbatas tentang dunia pers," kata Kristo saat ditemui di gedung DPRD NTT, Rabu (20/2/2008). (lyn/aca).Pos Kupang, 21 Februari 2008.

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda