Polisi bidik aktor interlektual

LABUAN BAJO, PK--Aparat penyidik Polres Manggarai Barat berkesimpulan bahwa ada aktor intelektual kasus penganiayaan wartawan Pos Kupang, Yakobus Lewanmeru atau Obby. Kini penyidikan polisi mengarah kepada aktor intelektual kasus tersebut.
"Kasus pemukulan wartawan menjadi prioritas penyelidikan kami. Kami akan mengusut tuntas kasus ini. Indikasi awal cukup kuat bahwa penganiayaan itu telah dikoordinasikan. Apalagi mereka adalah orang sederhana yang melakukan pemukulan terhadap wartawan.
Kami menyimpulkan ada aktor intelektual di balik kasus ini," ujar Kapolres Manggarai Barat, AKBP Butje Hello, melalui Kabag OPS, AKP Viktor Jemadu, ketika ditemui Pos Kupang di ruang kerjanya, Senin (18/2/2008).Obby yang bertugas di Kabupaten Manggarai Barat dianiaya empat preman di depan Kantor Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) di Labuan Bajo, Minggu (17/2/2007), sekitar pukul 02.00 Wita.
Akibatnya, Obby mengalami luka di bibir, sementara rahang dan leher terasa nyeri sehingga menjalani perawatan di Klinik St. Yoseph Labuan Bajo. Suster Leoni, suster yang merawat Obby, mengatakan, hingga saat ini Obby belum dapat makan dan berkomunikasi dengan baik. Karena kondisi korban lemas, maka ia harus diinfus. Korban hanya bisa makan bubur saring.
Jemadu menjelaskan, setelah mendapat laporan, penyidik langsung membawa korban ke puskesmas untuk mendapat perawatan dan visum. Sementara anggota Intelkam memburu dan berhasil menciduk para pelaku, yakni Yohanes Din, Gregorius Iven Resdimeru, Benediktus Darsuyadi dan Rofinus A Roys.
Para pelaku sudah ditahan hingga BAP dinyatakan lengkap atau P21.Jemadu yang didampingi Kaur Bin OPS Reskrim, Aiptu Hajarin, mengatakan, dari keterangan sementara, para pelaku mengaku menganiaya korban karena dendam pribadi. Keterangan itu masih harus didalami untuk mengungkap secara tuntas kasus tersebut.
Anggota Intelkam terus melakukan investigasi. Sementara para pelaku yang ditahan sudah cukup unsur adanya perbuatan melawan hukum pasal 170 subsider 351 jo pasal 55 KUHP.Kasat I Pidana Umum Direktorat Reserse dan Kriminil Polda NTT, AKBP Agus Suryatno melalui Kabid Humas Polda NTT, Kompol Marthen Radja, meminta aparat penyidik di Polres Manggarai Barat yang menangani kasus penganiayaan wartawan Pos Kupang bersikap profesional dalam mengusut dan mengungkap motif kasus tersebut.
"Kita minta aparat penyidik di Polres Manggarai Barat untuk tetap bersikap profesional dalam mengusut kasus tersebut. Karena kasus pemukulan yang dilaporkan korban, maka kasus itu yang harus diusut," kata Agus Suryatno di Kupang, kemarin.
Agus Suryatno mengungkapkan, dari pantauannya terhadap berita-berita yang dilansir Pos Kupang, tidak ada pemberitaan tentang persoalan Bank NTT di Labuan Bajo. Jadi, apabila para pelaku mengaku memukul Obby Lawanmeru karena persoalan berita Bank NTT, hal itu hanya merupakan alibi para pelaku."Saya kira itu hanya alibi para pelaku saja. Oleh karena itu kita minta aparat di Polres Mabar untuk mengusut kasus pemukulan itu secara tuntas," katanya.
Secara terpisah anggota DPRD Manggarai Barat dari PKP Indonesia, Tobias Wanus, mengutuk keras arogansi premanisme yang menganiaya wartawan. Dia meminta penyidik mengusut tuntas hingga mengungkap aktor intelektual. Menurut Wanus, adanya mentalitas premanisme adalah ekspresi dari orang yang mau menutup diri terhadap fungsi kontrol media massa. Padahal media adalah mitra yang menjalankan fungsi demokratisasi dan fungsi kontrol sosial yang efektif dan memadai. Pernyataan serupa juga disampaikan penasihat Aliansi Wartawan Manggarai (AWAM), Rofino Kant dan Sekretaris Lembaga Pengkajian dan Penelitian Demokrasi Masyarakat Manggarai (LPPDM), Avent Jalut.Keduanya menilai tindakan premanisme adalah pengkhianatan terhadap demokratisasi yang sangat dijunjung tinggi di era reformasi ini. Pengkhiatan terhadap media adalah pelecehan yang radikal terhadap profesi wartawan sekaligus proses demokratisasi. "Dugaaan saya, perbuatan itu bermotif pemberitaan media massa selama ini. Saya harapkan bidikan penyidik mengarah kepada aktor di balik kasus itu," ujar Jalut. (lyn/ben)
BANK NTT tidak tahu
"SAYA bersumpah demi Allah, saya tidak tahu. Jika saya bohong saya tidak selamat. Pos Kupang sangat membantu lembaga kami. Sebagai mitra, selama ini berjalan dengan baik. Saya justru menyesalkan tindakan dari oknum tertentu itu."Demikian pernyataan Kepala Bank NTT Cabang Labuan Bajo, Husen Adam, saat ditemui di Labuan Bajo, Senin (18/2/2008). Adam dikonfirmasi seputar keterkaitan lembaga yang ia pimpin dengan kasus penyaniayaan Obby Lewanmeru, wartawan Pos Kupang.Sebagaimana diketahui, sebelum menganiaya Obby, para pelaku yang adalah preman mengatakan tidak senang dengan pemberitaan soal Bank NTT Cabang Labuan Bajo di Pos Kupang. Oby mengatakan, selama ini dia tidak pernah menulis berita tentang persoalan Bank NTT Cabang Labuan Bajo.Adam menyesalkan jika pemukulan itu menyeret Bank NTT Labuan Bajo. Ia meminta agar aparat penyidik mengusut tuntas kasus tersebut agar bisa memberi efek jera pada para pelaku. Adam mengungkapkan, sekitar Juni 2007, Pos Kupang pernah memuat aspirasi (rubrik curhat, Red) tentang Bank NTT Labuan Bajo. "Aspirasi itu saya tidak baca, hanya ada telepon dari Kupang minta diklarifikasi dan kami sudah lakukan itu sehingga tidak ada masalah. Menyesatkan jika kasus pemukulan itu ada hubungan dengan lembaga kami. Kalau individu tertentu atau karyawan Bank NTT, saya tidak tahu," katanya.Dus Helmon, pegawai Bank NTT Cabang Labuan Bajo, yang disebut-sebut ikut terlibat penganiayaan terhadap Obby, membantah. Dus merasa dirugikan dengan adanya informasi keterlibatan dirinya, karena dirinya tidak tahu-menahu. "Hanya Tuhan yang tahu," ujar Dus.Ditemui terpisah, Wakil Bupati Manggarai Barat, Agustinus Ch Dula, menyesalkan tindakan penganiayaan wartawan. Karena merupakan tindakan kriminal, maka aparat penyidik diminta untuk segera menuntaskan kasus itu agar memberi efek jera pada pelaku."Kita harapkan kasusnya segera selesai sampai tuntas. Kita bersyukur kasus tersebut sudah di aparat penyidik," kata Dula. (lyn)
Sumber http://www.indomedia.com/poskup/2008/02/19/edisi19/plus.htm

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda