Puisi-puisi Louis Jawa

Lonceng tua

Senja itu merayap hening
Terukir pesona cintaNya
Sang biru tenang menghanyutkan
Agung kasihMu

Hampa nian
Musafir muda
Tapak gemuruh derita
Bisumu waktu
HadirMu Tuhan
Berdentanglah lonceng tua
Dengarlah pinta kami:
Hanya padaMu

Ku berlari

Perih sebuah ziarah
Terjatuh daku sahaya
Gores merah luka
Merana buana

Badai sedahsyat amarah
Hempas kau, sang cilik
Meneteslah butiran hati
Tak sanggup Dewata

Berlarilah anak
Ku-dekap susahmu

Dewata

Pertapa muda
Kiblat gapura
Berdekut laksana merpati
Ke suaka nun bahari

Sang waktu itu bayang
Yang tinggi sinarnya
Dewata dalam nuranimu

Mentari pagi di bundaku

Kau mekar di gersangku
Kau mewangi di pengapnya hidupku
Kau tetesi kelesuanku

Oh Bundaku
Tak pernah salah kau merahimiku
Tak pernah kecewa
Ku bersamamu
Sang kelana

Tuhanku, dewata segala dewata
Anggrek trah semedimu
Panah masa laluku
Api yang membakar
Brahmananya

Dewata
Apakah kini saatnya
Wisnu berestu
Tuk gersang dan hancurku
Restu pada sekuntum anggrek pagi
Ataukah
Kini saatnya
Shiwa berkutuk
Pada karma dan sesat
Hancurkan kuil dan cita-cita
Lenyapkan impian Brahma

Dewata
Beri daku
Gumbang bijaksanaMu

Di bunda Ritapiret-ku



Puisi-puisi Jimmy M Hayong

Malam yang tak terlupakan

Kau datang padaku tanpa nama dan tanda pengenal
Katamu, perjumpaan seperti ini tak perlu identitas,
Nama lengkap dan alamat rumah.
Aku pinjam tubuhmu untuk malam ini
Katanya kau tak tahan dingin
Di rumah tak ada lagi kehangatan malam
Saat kita tiba di perhentian akhir
Aku lihat kau menggigil ketakutan
Kehangatan itu tak kunjung tiba
Hanya ada kehampaan dan rasa sesal
Menjelma dalam air mata

Doa seorang penggali kubur

Tuhan, berilah aku rezeki pada hari ini
Semoga hari ini ada lagi yang mati
Tak perlu seperti hari-hari kemarin
Yang terlampau ramai
Aku takut terlalu capek
Biarlah cukup satu orang saja
Tuhan jangan ada lagi yang mati

Hari ini
Aku sudah terlalu tua

Janji

Aku lihat ada api dan air di matamu
Mata api dan mata air
Sedang terbakar dan mengalir di wajahmu

Ketika janji itu kita ikrarkan
Kenapa kini yang kuharapkan
Tak kujumpai lagi?
Yang indah tak dapat

Kunikmati lagi?
Bakarlah dan sejukkanlah aku
Sekali lagi
Dalam mata api dan mata airmu
Seperti dahulu ketika
Janji itu kita ikrarkan


Puisi-puisi Fr. Albert Kaesnube
Kupu-kupu malam
Kupu-kupu malam
Menjamur di kolom bumi
Mencari nafkah di negeri kelam
Membalut hidup setiap hari
Kupu-kupu malam
Bersayapkan intan permata
Berbusana Britney Spears
Menarik insan harus birahi
Kupu-kupu malam
Impian berhidung belang
Meniti duka menuai hidup
Menabur virus menuai maut

Sobat
Sobat
Kemarin aku senang
Hari ini aku sedih
Melihat penguasa kita
Aku risih mendengar namanya
Aku mau dengan kata-katanya
Aku bingung dengan pikirannya
Aku stress dengan tindakanya
Sobat
Kini nuraniku menangis
Melihat jalan kembar Nenuk-Atambua
Dihiasi insan tak berjiwa seni
Kini tinggal bekas setapak
Ditinggal insan haus uang
Insan tak bertanggung jawab
Insan asal-asalan
Sobat
Jangan tidur di siang bolong
Menanti lonceng rakyat berbunyi
Membiarkan virus korupsi menjamur
Merajalela di negeri beriman ini
Pos Kupang Minggu, 17 Februari 2008, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda