Usut penganiaya wartawan Pos Kupang

Kupang, Kompas - Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur meminta agar penyidik Kepolisian Resor Manggarai Barat bersikap profesional dalam mengusut dan mengungkap motif kekerasan terhadap wartawan Pos Kupang, Yacobus Lewanmeru.
”Kami sudah meminta aparat penyidik di Polres Manggarai Barat agar mengusut tuntas kasus pemukulan terhadap wartawan itu,” kata Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) Komisaris Marthen Radja di Kupang, Senin (18/2).
Ia mengemukakan, sejauh ini tidak ada pemberitaan tentang persoalan Bank NTT di Labuan Bajo yang dilansir media massa, termasuk Pos Kupang. Jika para pelaku mengaku memukul Obby, panggilan akrab Yacobus, karena persoalan berita Bank NTT, hal itu hanya alibi para pelaku.
Wartawan harian Pos Kupang, Yacobus Lewanmeru, yang bertugas di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Minggu pukul 02.00 dianiaya empat laki-laki. Akibatnya, bibir Yacobus luka parah. Di beberapa bagian tubuh dan kepala pun memar terkena pukulan (Kompas, 18/2).
Beberapa pihak menduga penganiayaan terhadap Obby berhubungan dengan pemberitaan dugaan korupsi proyek singkong senilai Rp 2,8 miliar di Manggarai Barat.
Salah paham
Kepala Bagian Operasional Polres Manggarai Barat Ajun Komisaris Victor Jemadu menduga kasus kekerasan atas Obby dipicu kesalahpahaman. Empat pria itu dalam keadaan mabuk saat memanggil lalu mengeroyok korban. ”Ini keterangan para tersangka, tapi polisi tak bisa percaya begitu saja,” katanya.
Menurut Victor, yang menjadi pertanyaan dalam kasus itu, mengapa semua tersangka dalam keadaan mabuk dan tiba-tiba menyerang wartawan tanpa ada masalah jelas. ”Dari kasus ini tampak ada kemungkinan motif lain. Kami melakukan pengembangan yang bisa saja mengarah kepada auktor intelektualis di balik penganiayaan itu,” tambahnya.
Sehari sebelumnya, Victor Jemadu menyebutkan, dugaan sementara kasus itu bermotif dendam pribadi, tidak ada kaitan dengan orang suruhan pejabat.
Di Jakarta, Wakil Ketua Dewan Pers Leo Batubara ketika dihubungi menyebutkan, polisi jangan terburu-buru mengambil kesimpulan. Polisi seharusnya melakukan penyelidikan yang berimbang terlebih dahulu.
Aliansi Wartawan Manggarai dan Perhimpunan Wartawan Flores (PWF) pun mengutuk aksi premanisme tersebut. Direktur Pengembangan Inisiatif dan Advokasi Rakyat NTT Sarah Lery Mboeik di Kupang meminta polisi supaya tidak menutup-nutupi gaya premanisme yang diperlihatkan pejabat di Manggarai Barat pada khususnya dan NTT pada umumnya.
Hingga Senin petang, Obby masih dirawat intensif di Poliklinik Susteran Katolik St Yoseph di Labuan Bajo. ”Kondisi saya masih oleng dan lemas, juga belum bisa makan karena luka pukulan di bibir,” ucap Obby.(SEM/KOR/ANS/MUL)

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda