Valentine oh Valentine!!!

Cerpen Yayang Sutomo

AKU baru saja hendak terlelap, ketika tiba-tiba sekelebat bayangan putih datang melintas di depanku. Aku tersentak. Aku tidak sedang bermimpi dan aku pun tidak sedang berkhayal, tetapi sosok bayangan itu kukenal betul. " Fendy!", gumamku berbisik pada malam gelap sambil menatap arah bayangan itu menghilang. Aku jadi sulit memejamkan mataku kembali.
Fendy, seorang pemuda tampan dan cerdas. Kulitnya kuning, rambut ikal, berkaca mata minus, sederhana dan bertanggung jawab. Mengapa ia tiba-tiba muncul dalam pikiranku malam ini?. "Ah! Aku ingat sekarang . Besok, tanggal 14 Februari, Hari Valentine," desisku. Bulu kudukku berdiri setiap kali menyebut kata valentine. Dia bagaikan monster besar dan menyeramkan yang siap menelanku bulat-bulat. Hari Valentine menyebabkan sebuah penyakit baru bagiku, trauma!..yaà trauma! Bagaimana tidak? Hari Valentine telah merampas dan merenggut kebahagiaanku sehingga aku jadi ketakutan jika mendengar kata itu.
Kegelisahan mulai menggerogotiku. Penyakitku mulai kambuh. Napasku sesak seketika dan air mataku menetes berirama. Pikiranku menari-nari memaksa jiwaku untuk kembali ke hari-hari yang telah lalu. Ketika itu, aku dan Fendy adalah dua orang sahabat yang begitu akrab dan kompak. Kepintarannya sangat membantu aku yang hanya pas-pasan. Bermula dari perkenalan di halaman FKIP kampus Undana lama, hingga masing-masing bekerja pada instansi yang berbeda, namun kasih sayang dan perhatian yang dijalin erat tak terputuskan hanya karena jarak, ruang dan waktu.
Seperti remaja dan para muda-mudi lainnya, kami selalu merayakan hari valentine bersama. Baik itu menghadiri pesta yang diadakan oleh teman-teman maupun merayakannya berdua saja. Setiap hari valentine menjelang, Fendy selalu memberikan hadiah kecil untukku. Macam-macam dan berbeda-beda setiap tahunnya. Ada bunga mawar merah dan pink. Ada juga jepit rambut, jam dinding, buku, boneka, dan banyak lagi yang nota benenya disukai wanita. Aku pun sebaliknya, memberikan hadiah untuknya sebagai ungkapan rasa sayang seperti yang telah ia tunjukkan.
Suatu hari, Fendy meneleponku untuk menemuinya di salah satu toko di Jalan Siliwangi, Kupang. "Ada yang ingin kuberikan untukmu," katanya lembut. Aku segera meluncur ke arah Kupang dengan sepeda motor butut kesayanganku. Aku sudah lupa entah itu hari valentine ke berapa yang akan kami rayakan. Setibanya di sana, aku mencari-cari nama toko yang disebutkan Fendy, dan...ah, itu dia!. Fendy berdiri di depan toko itu sambil melambai-lambaikan tangannya memanggilku. Motor kuparkir, lalu berjalan kearahnya. Fendy tersenyum lebar. Senyuman itu yang kadang membuat hatiku deg-degan. Senyuman itu juga yang membuat aku tidak tidur. Namun, kucoba menekan perasaanku sebab aku takut persahabatan yang telah kami bina selama ini terputus hanya karena lima huruf : c-i-n-t-a.
"Cepat! Akan kutunjukkan sesuatu untukmu," katanya tergesa-gesa. Aku menurut saja tanpa bantahan.
" Ini untukmu," katanya sambil memberikan seikat mawar merah kepadaku. " Danà ini juga untukmu," lanjutnya seraya meyodorkan sebuah kotak kecil berwarna pink.
"Apa ini, Fen?," tanyaku keheranan, sebab tidak biasanya Fendy memberikan hadiah lebih dari satu. Biasanya cuma satu kado untuk satu kali merayakan hari valentine. Kali ini berbeda. Aku sedikit bingung, namun kuterima saja kado tersebut sambil membayangkan isinya.
"Jangan dibuka dulu, kita cari tempat yang lain saja," katanya bernada larangan sambil menggeret aku keluar dari toko itu. Fendy terlihat sangat gembira.
"Ayo, nyebrang! Kita duduk di dekat Teddy's Bar, menghadap ke laut kan bagus,"celotehnya. Aku mengangguk mengiyakan. Di saat menyebrang, tanganku terlepas dari genggamannya entah karena apa. Aku telah berdiri di atas trotoar ketika bunyi suara tabrakan mengagetkanku. Aku berbalik dan.. ..kulihat tubuh Fendy terpental ke atas, jatuh tepat di depan sebuah mikrolet lampu dua. Aku menjerit sejadi-jadinya. Darah segar keluar dari pelipis, kepala dan hidungnya. Mataku berkunang-kunang, semuanya gelap dan aku tak ingat apa-apa lagi.
***
Aku sedang berjalan-jalan di suatu taman yang penuh dengan bunga mawar berwarna-warni saat sebuah suara memanggil namaku.
"Yelly, bangun, Nak!," suara itu seperti kukenal. Kubuka mataku perlahan.
"Kamu sudah sadar, Nak!," suara mama lembut di telingaku. " Kamu pingsan berjam-jam lamanya,"lanjut mama lirih.
Bau obat-obatan sangat menusuk hidung. "Fendyà, Fendy!," teriakku. Aku melompat dari tempat tidur dan berlari keluar. Perawat di ruangan itu mencoba menghalangiku, namun aku tak peduli. Satu-satunya keinginanku adalah bertemu Fendy.
Akhirnya aku diizinkan untuk menemui Fendy di ruangan lain. Wajah Fendy hampir tak terlihat ditutupi perban. Aku mendekatinya.
"Fen, ini aku, Yelly!," suaraku sendu menahan tangis. Seakan tahu keberadaanku, Fendy membuka matanya. Helaan napasnya begitu berat seperti sedang mendaki sebuah gunung yang terjal. Fendy menggerakkan tangannya, meraih tanganku dan berkata dengan terbata-bata," Yel, kamu sahabat terbaikku. Maafkan aku jika tanpa sengaja telah menyakitimu. Bukalah kotak itu setelah aku keluar dari ruangan ini. Jangan lupakan aku. Aku mencintaimu...."
Terbelalak aku mendengar pengakuannya. Genggamannya pun telah lepas dariku. Teriakanku menggema kembali untuk yang ke sekian kalinya. Fendy telah pergi dengan membawa semua cerita indah tentang kami. Kepergiannya menoreh luka yang mendalam. Jiwaku seolah terbang bersamanya menggapai awan. Aku bagaikan mayat hidup. Tak lagi ada asa yang mengisi hari-hariku. Kotak pemberiannya tak pernah kubuka hingga bayangannya melintas malam ini mengingatkanku. " Fendy..!,"lirih suaraku berbisik.
***
Hari ini, hari valentine ke tujuh sejak kepergian Fendy, sahabat terdekatku. Kukuatkan hatiku untuk mampu mendengar kata itu kembali. Aku bersimpuh di pusaranya sambil meletakkan seikat mawar merah. "Happy Valentine Day, Honey!," bisikku di batu nisannya. Air mataku tak mampu kubendung. Aku tahu dia mendengarkanku. Kotak pink pemberiannya kubuka danà.sebuah kalung berliontin jantung (heart), di dalamnya berisi fotoku dan dirinya. Aku semakin dirundung kesedihan, hatiku pilu, aku tak sanggup menahan tangis. Aku percaya Fendy sedang melihat dan menatapku saat ini... Selamat hari valentine, Fen!.Aku akan selalu mengingatmu. Kini tinggal hatiku yang dingin dan beku.*
Kabut di atas Pasir Panjang
Cerpen Paulus Ngongo Riti
GELOMBANG bergulung menghempas bibir pantai. Ombak putih berkejaran di pasir putih. Semilir angin sepoi-sepoi basah bertiup lembut di sela gerimis senja itu. Bau khas air laut menyeruak. Nun jauh di sana, di bawah naungan pohon bakau, sepasang remaja asyik mereguk asmara.
Pasir Panjang, begitu sapaan manis pantai yang terletak tak jauh dari jantung Kota Kupang itu. Entah mengapa demikian, aku tak begitu paham. Mungkin karena pantainya berpasir panjang, atau mungkin juga karena sejauh mata memandang hanya bentangan pasir di sepanjang bibir pantai. Yang jelas, meski terkesan agak jauh, kepenatan ke tempat wisata itu tidak terlalu terasa karena sepanjang jalan, aku disuguhkan kehidupan beraroma khas Kupang, kota yang sedang bergeliat menuju era globalisasi. Beberapa gadis Kota Karang yang nampak trendi dengan rambut yang tak bergoyang ditiup angin karena rebounding, ikut menghidupkan suasana.
Di pantai itu juga, di waktu-waktu tertentu ramai didatangi pengunjung. Walau tak seramai Lasiana yang berfasilitas agak complete, namun cukup menarik minat warga kota bertandang ke sana. Di kala sang bagaskara mulai terbenam di ufuk teduh, tak sulit menemui pasangan kawula muda yang datang menikmati indahnya panorama senja. Tak jarang, ada pula yang memanfatkan suasana romantis itu tak sekadar untuk bercerita, namun cenderung mencari tempat menyendiri agar lebih bebas berkreasi dan bereksplorasi. Pagut memagut sambil bergerilya di sela alunan lagu gelombang seakan merupakan pemandangan biasa.
"Jangan sayang, beta takut,'' desah Dita, gadis bau kencur perlahan.
"Tidak sayang, tidak apa-apa. Beta hanya merasa dingin saja,'' timpal Johny manja, sama bau kencurnya.
"'Kalau ketahuan orangtua, terus bagaimana?'' Tanya Dita lagi.
"Tidak, tenang saja. Tidak ada yang lihat kita. Kalau ada yang lihat, kita pura-pura tidak tahu. Anggap saja tidak ada apa-apa. Kalau ditanya, bilang saja cuma berduaan karena mau menikmati pemandangan alam,'' ajar Johny sambil semakin merapatkan posisi duduk.
"Kak Johny, bisa saja. Terus kalau tertangkap sama guru dan teman-teman, beta bilang apa?'' Kejar Dita penuh harap agar Johny menghentikan kurang ajarnya.
"Ah! Persetan dengan guru. Bilang saja zaman sudah modern,'' seru Johny dengan nafas memburu sambil mengeratkan pegangan.
"Terus, kalau ada apa-apa dengan beta?'' Tanya Dita seakan menantang Johny untuk terus maju, meski ia sendiri berusaha menghindar.
"Sudah sayang. Beta kan sudah bilang tidak usah takut. Kita kan hanya berdekatan saja. Tidak ada yang lihat kita. Percayalah, di hatiku hanya ada kau,'' gombal Johny lupa diri, dan tidak pernah mau sadar sebelum terlambat, meski sejak tadi ada sepasang Mata Pencipta-Sang Maha Kasih Abadi yang terus mengawasi mereka.
"Jangan Johny, beta takut. Beta masih mau sekolah,'' pinta Dita bergetar sambil terus berusaha keluar dari godaan itu.
"Ah sayang. Kamu sayang beta ko sonde?'' tantang Johny.
"Sayang, tapi kan kau tak harus kurang ajar seperti begini,'' tegas Dita.
"Ya, kalau sayang kenapa takut? Toh semua orang juga pernah muda, dan tahu rasanya kala cinta menggetarkan nurani,'' ungkap Johny lagi dengan bisa maut yang kesekian kali. Di batas itu, keduanya semakin dekat pada jurang kehancuran. Rintik hujan tak membuat mereka berhenti, bahkan guntur yang kadang menggelegar pun seolah tak mampu menggetarkan kesadaran mereka. Kedua insan yang masih sangat hijau itu pun semakin jauh melangkah, meniti tebing-tebing curam pendakian, di tengah gemuruh asmara dan gelombang laut Timor yang ganas. Perlahan mawar yang sedang mekar itu pun layu sebelum berkembang.
"Adakah yang lebih indah daripada cinta, dan lebih manis dari asmara?'' tanya Johny, playboy kampungan sembari mengebaskan butir-butir pasir dari celana jeansnya. Direngkuhnya Dita kekasihnya yang terus sesenggukan bagaikan anak kecil kehilangan boneka kesayangan. Ditatapnya Johny dengan penuh kebencian. Namun Johny balik menatapnya dengan ekspresi penuh kemenangan. Tak sedikitpun tergurat raut penyesalan di wajahnya. Sejenak ia menyeringai seraya membathin, satu lagi `'Mutiara'' berhasil ditaklukkannya dan menjadi bagian dari koleksi perbendaharaannya. Keduanya lupa, bahwa Hawa jatuh karena tidak berani menolak godaan ular, dan Adam lumpuh karena Hawa menyerah pada manisnya bisikan maut sang ular tua. Di batas ini pula keduanya lengah, bahwa apa yang ditabur manusia, itu jualah yang akan dituai. Sehingga tanpa berpikir panjang, larut dalam kebahagian semu masa muda. Mereka terlambat menyadari, bahwa tiap biji beras yang disantapnya dan helai demi helai benang yang dipakainya, masih seratus persen tergantung pada belaskasihan orangtua.
Memang, semenjak ditinggal sang ayah setahun yang lalu karena terperangkap kasus Wanita Idaman Lain (WIL), Dita merasa kehilangan figur ayah sejati. Ayahnya pun tak pernah lagi mau tahu tentang dirinya dan ibunya, hal yang semakin membuatnya kehilangan keseimbangan. Ironisnya lagi, ia bukannya mencari perlindungan pada ibunda, satu-satunya wanita yang amat mengasihinya, tetapi Dita mencari pelarian dengan cara yang salah.
"Mama..., Dita hamil...,'' aku Dita sambil menangis pada wanita yang sedang melipat beberapa potong pakaian usang. Sang ibundanya sendiri yang semakin kurus karena tekanan bathin.
"Apa Dita? Ham.., hamil? Oh! Tidak nak, Tidaaakkkk!!!" teriak ibunya dengan mata nanar.
"Ia ma, Dita...Ditt..uuuhhhh.....''
"Plakk!! Kurang ajar kau nak. Mengapa kau lakukan hal ini pada ibu? Oh! Sembilan bulan sepuluh hari ibu mengandungmu dengan penuh perjuangan, nak. Sekian jam antara mati dan hidup ibu menanti kelahiranmu. Dan puluhan menit ibu berjuang menahan penderitaan melahirkanmu. Setiap hari ibu rela bekerja apa saja demi menghidupimu. Inikah balasanmu, nak?'' Seru ibunya sambil menekan dadanya yang terasa semakin perih. Dunia seakan runtuh. Bagaikan tersambar petir di siang bolong, serta merta ibunya pun ambruk di depan kakinya.
"Mama, beta minta ampun mama,'' teriak Dita histeris seraya mengguncang-guncang tubuh mamanya yang renta. Tak ada jawaban, bahkan nadi ibunya pun tak lagi berdetak. Malangnya lagi, Johny pun telah pindah ke kota lain, setelah terlebih dahulu meminta Dita aborsi. Kini tak ada lagi sapaan kasih ibunda, bahkan belaian kasih Johny pun berubah jadi benci. Getar suara dan gemelatuk gigi sang bunda pun telah hilang. Harapan masa depannya pun telah sirna. Tak ada lagi alunan melodi cinta dan alunan sungai-sungai sukacita dalam hentakan nafas memburu.***
(Kupang, medio Januari 2008. Dedicated to the young generation, don't make rash decision).
* Arti kata untuk pembaca luar NTT : Sonde (bhs Kupang) = tidak.
Pos Kupang Minggu, 17 Februari 2008, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda