Labuan Bajo, Kompas - Wartawan harian Pos Kupang, Nusa Tenggara Timur, Yacobus Lewanmeru, yang bertugas di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, Minggu (17/2) sekitar pukul 02.00, dianiaya empat laki-laki. Akibat penganiayaan itu, Obby, panggilan akrab Yacobus, luka parah di bagian bibir. Di beberapa bagian tubuh dan kepala juga tampak memar terkena pukulan.
”Saya kenal tiga dari empat pelaku yang biasa dipanggil Medi, Yance, dan Juven,” kata Obby. Kasus itu dilaporkan ke Kepolisian Resor Manggarai, Minggu.
Kepala Polres Manggarai Barat Ajun Komisaris Besar Butje Hello ketika dikonfirmasi membenarkan kasus penganiayaan itu. Empat tersangka pelaku pun sudah ditangkap dan ditahan.
Kepala Bagian Operasional Polres Manggarai Barat Ajun Komisaris Victor Jemadu menyebutkan, pemeriksaan terhadap para tersangka masih berlangsung. ”Dugaan sementara kasus itu bermotif dendam pribadi, tidak ada kaitan dengan orang suruhan pejabat, tak ada hubungan ke sana,” katanya.
Obby menuturkan, penganiayaan berawal saat ia dalam perjalanan pulang memakai sepeda motor ke tempat kosnya di Labuan Bajo setelah meliput peristiwa di sebuah pub di Desa Gorontalo, juga Labuan Bajo. Saat melintas dekat Hotel Wisata, ia mendengar namanya dipanggil Medi yang sedang duduk-duduk bersama sejumlah pemuda.
Obby tidak berhenti. Dengan sepeda motor, Medi lalu mengejar Obby. Keduanya berhenti di dekat Kantor Balai Taman Nasional Komodo. ”Medi mengatakan ingin berbicara tentang sesuatu. Tak lama kemudian ketiga temannya menyusul. Mereka lalu mengeroyok, setelah mengatakan tidak senang atas berita saya tentang Bank NTT,” kata Obby. Alasan itu janggal karena selama bertugas di Labuan Bajo ia tidak merasa pernah menulis berita seputar Bank NTT di daerah itu.
Beberapa pihak di Labuan Bajo menduga, kasus penganiayaan terhadap Obby berhubungan dengan pemberitaan mengenai dugaan korupsi proyek singkong senilai Rp 2,8 miliar. Pos Kupang sejak awal Februari gencar memberitakan proyek yang diduga fiktif itu. Oleh DPRD Manggarai Barat, dugaan penyimpangan proyek singkong itu secara resmi dilaporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Jakarta.
Ketua Umum Perhimpunan Wartawan Flores Hieronimus Bokilia di Ende menyatakan mengutuk keras aksi premanisme terhadap insan pers. Ia mendesak kepolisian mengusut tuntas.
Guru besar Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Nusa Cendana (Undana) Kupang Prof Dr Alo Liliweri menyatakan pula, jika tulisan wartawan salah, ada cara tepat untuk menyelesaikannya. Dosen Fakultas Hukum Undana, Willem Watan, menambahkan, pemerintah seharusnya menjadikan pers sebagai mitra.
Pemimpin Redaksi Pos Kupang Dion DB Putra menyayangkan kasus penganiayaan terhadap Obby. Dion akan mengambil langkah lebih lanjut, termasuk langkah hukum guna menuntaskan kasus tersebut, termasuk motif di baliknya.
Dion juga merasa janggal jika kasus itu terkait pemberitaan tentang Bank NTT. ”Obby tidak pernah menulis berita tentang Bank NTT. Pasti ada motif lain,” katanya. (SEM/KOR/ANS). Kompas, Senin 18 Februari 2008, halaman 1.

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda