Wartawan Pos Kupang dianiaya preman

KUPANG, PK -- Wartawan Surat Kabar Harian (SKH) Pos Kupang, Obby Lewanmeru yang bertugas di Kabupaten Manggarai Barat, dianiaya empat preman, di depan Kantor Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) di Labuan Bajo, Minggu (17/2/2007) sekitar pukul 02.00 Wita. Akibatnya, Obby mengalami luka robek pada bibir.
"Tiga orang pelaku saya kenal yang biasa dipanggil Medi, Yance, dan Juven. Yang seorang lagi saya tidak kenal. Sebelum memukuli mereka hanya mengatakan tak senang dengan pemberitaan soal Bank NTT Cabang Labuan Bajo. Padahal, saya tidak pernah menulis soal itu. Dan hubungan saya dengan mereka baik-baik saja," kata Obby yang melaporkan kejadian itu lewat telepon ke Redaksi Pos Kupang di Kupang, Minggu pagi.
Obby telah melaporkan kejadian itu ke Kepolisian Resor (Polres) Manggarai Barat. Ia juga telah diambil visum untuk kepentingan penyidikan. Aparat Polres setempat sudah menangkap dan menahan keempat tersangka pelaku. Keempat pelaku adalah Yohanes Din, Gregorius Iven, Benediktus Darsiadi, dan Rofinus A Rois, semuanya warga Labuan Bajo.
Motif penganiayaan tersebut masih dalam penyelidikan polisi. "Saya tidak mengetahui apa motif mereka, sebab saya tidak pernah menulis soal kasus Bank NTT," katanya.Kepala Polres Manggarai Barat, AKBP Butje Hello yang dikofirmasi, membenarkan bahwa aparat sudah menangkap empat tersangka pelaku.Kabag Operasional Polres Mabar, AKP Victor Jemadu mengatakan, polisi masih memeriksa empat tersangka pelaku. Pemeriksaan tersebut, katanya, juga untuk mengungkap motif kasus penganiayaan tersebut. (aca)

Polisi diminta ungkap motifnya
MENANGGAPI kasus penganiayaan tersebut, Pemimpin Umum Surat Kabar Harian (SKH) Pos Kupang, Damyan Godho meminta kepada aparat Polres Mabar agar mampu mengungkap motif kasus itu.
"Polisi agar tidak secara sederhana saja melihat persoalan ini. Karena polisi di Manggarai Barat mestinya tahu pasti dari membaca koran tiap hari, bagaimana Obby menjalankan tugasnya, mengangkat persoalan hukum dan keadilan, praktek-praktek KKN, membela yang miskin dan papa. Terima kasih kepada Polres yang langsung menciduk preman-preman itu," katanya.
Damyan yang juga Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang NTT ini, berpesan kepada para wartawan tidak usah takut dan gentar melawan praktek-praktek preman, intrik, teror dan intimidasi.
"Di tengah penegakan hukum yang belum maksimal, praktek-praktek KKN yang menggurita, cara-cara preman bisa saja terjadi. Mereka yang terkena pemberitaan bukan tidak mungkin tidak bereaksi. Mereka menggeliat dengan berbagai cara termasuk gaya preman yang direkayasa sedemikian rupa dalam menghadapi kontrol pers terhadap perbuatan yang merugikan rakyat dan negara ini," katanya.
Pemimpin Redaksi SKH Pos Kupang, Dion DB Putra mengatakan, kasus yang menimpa Obby merupakan kekerasan terhadap insan pers. Kasus itu merupakan ancaman terhadap kebebasan pers sehingga aparat penegak hukum harus memrosesnya hingga tuntas. Redaksi Pos Kupang, kata Dion, telah mengambil langkah dengan melaporkan kasus tersebut kepada aparat Polres Mabar.
Ketua DPRD Manggarai Barat, Matheus Hamsi, juga menyatakan prihatin dan menyesal atas penganiayaan terhadap Obby. Bagi DPRD Mabar, katanya, keberadaan wartawan/pers sangat penting dalam upaya bersama membangun pemerintahan yang bersih.Hamsih yang sedang di Surabaya dalam perjalanan kembali ke Labuan Bajo, hari ini, mengharapkan agar polisi mampu mengungkap motif penganiayaan yang menimpa Obby yang belakangan ini gencar menulis kasus-kasus KKN di Mabar.
Hamsi mengaku baru saja menelpon Obby dan menyatakan dukungan atas keberadaan Obby dan semua wartawan yang bertugas di Labuan Bajo. Hamsi bahkan menawarkan kepada Obby untuk menginap saja di rumahnya jika merasa tidak aman di tempat kos.
PWF kutuk
Perhimpunan Wartawan Flores (PWF) mengutuk keras kejadian itu dan menganggap tindakan penganiayaan itu sebagai perbuatan biadab. Dalam pernyataan sikap yang ditujukan kepada polisi yang ditandatangani Hironimus Bokilia (ketua umum) dan Bernadus Barat Daya (sekretaris umum), PWF mendesak Kapolres Manggarai Barat beserta jajarannya agar segera mengusut tuntas kasus tersebut, termasuk aktor intelektual di balik tindak kekerasan itu. PWF menolak dengan keras jika kasus tersebut diselesaikan secara kekeluargaan.
"Jika pernyataan sikap ini tidak ditanggapi dan disikapi, maka Perhimpuan Wartawan Flores dan organisasi wartawan seluruh Flores akan melakukan perlawanan keras," tulis PWF.Perhimpunan Wartawan Manggarai Barat (PWMB) juga menentang kekerasan terhadap wartawan. PWMB menyatakan menolak keras jika kasus tersebut diselesaikan secara kekeluargaan. "Karena kekerasan merupakan tindakan yang tidak berperikemanusian," tulis PWMB. (aca)
  • KRONOLOGI PEMUKULAN:
    * Minggu (17/2/2008) pukul 02.00 Wita dinihari: Obby dan temannya Beny menggunakan sepeda motor dalam perjalanan pulang ke tempat kost Obby di Gang Pengadilan, Desa Gorontalo, Kecamatan Komodo, Mabar. Saat melintas di depan Toko Swalayan, keduanya melihat ada empat pria yang sedang duduk di depan kantor BNI 46 Cabang Labuan Bajo.
    * Saat melintas di depan kantor Balai Taman Nasional Komodo (BTNK), terdengar bunyi suitan dan tepukan tangan sambil memanggil nama Obby. Namun Obby dan temannya terus melaju.
    * Dalam perjalanan Beny menoleh ke belakang dan melihat ada sebuah sepeda motor yang menyusul mereka. "Ada yang kejar kita, berhenti dulu," kata Beny kepada Obby. Obby menghentikan sepeda motor namun tidak turun dari motor yang dikendarainya.
    * Tidak lama sebuah sepeda motor berhenti tepat di depan motor Obby. Pengendaranya adalah Nedi. Pria itu turun dan bertanya, "Om Obby wartawan Metro TV-kah? Obby menjawab, "Bukan, saya wartawan Pos Kupang". Nedi menimpal, "Saya mau bicara sama om Obby. Tidak enak, karena ada berita tentang Bank NTT. Obby langsung menjawab, "Saya tidak pernah menulis berita tentang Bank NTT". Nedi menimpal, "Saya ini keluarganya Dus. Tidak enak to, ada berita tentang dia". Obby kembali menegaskan, "Saya tidak pernah menulis tentang Bank NTT".
    * Saat Obby dan Nedi sedang "berdialog", datang lagi tiga orang pria, Aven, Yance dan Ruis. Mereka menggunakan dua sepeda motor. "Tanpa omong apa-apa mereka langsung pukul saya ulang-ulang di wajah sehingga saya pusing," kata Obby.
    * Selain memukul, mereka mengancam Obby. "Kau mau lapor ke mana saja, lapor sudah. Kami ini orang asli di sini," ancam para pria sambil menuju sepeda motornya dan kabur dari TKP.
    Sumber http://www.indomedia.com/poskup/2008/02/18/edisi18/plus.htm

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda