Alexandra

Cerpen Christo Ngasi


PURNAMA mau mengisyaratkan akan keindahan malam yang berpadu cahaya bintang. Hening dan tenang hanya mampu menangkap suara angin. Bunyi petasan mengagetkan penghuni alam. Kakekku hampir mati karena bunyi itu. Petasan itu bersumber dari rumah tetangga. Suasanapun menjadi tenang. Ibuku menjerit kesakitan. Ibu hendak melahirkanku. Ayah meraih tangan ibu dan dengan cekatan membaringkan ibu pada tempat tidur. Tak dapat ditunda lagi. Itulah kata yang keluar dari mulut bibiku. Ini saatnya ibu harus melahirkanku. Inginnya aku dilahirkan di rumah, tapi rumah sakit lebih menjamin untuk keselamatan aku dan ibuku.
"Dok...tolong istri saya hendak melahirkan." Permohonan ayah kepada dokter dengan suasana batin yang tak tenang.
"Baik, Pak...sabar sebentar.'' Dokter menyuruh ayah untuk tenang. "Suster tolong siapkan peralatannya," pinta dokter.
"Pak, istri Anda harus segera dioperasi," ungkap dokter melihat kondisi tak mengijinkan untuk melahirkan dengan normal.

Penantian dan kegelisahan. Itulah dua kata yang sedang dialami ayahku saat itu. Menantikan kelahiranku dan gelisah apakah aku selamat atau tidak. Suasana sedikit ada kesan saat keluarga berdatangan, baik keluarga ayah juga ibu. Satu jam telah berlalu, sementara suara ibu menjerit masih terdengar. Ibu masih sadarkan diri. Ibuku belum terkena bius dari dokter. Ibu memanggil ayah untuk menemani. Mungkin karena ayah memberi kekuatan untuk ibu. Pintu ruang persalinan ditutup. Gorden penutup jendela ditarik. Ayahku keluar. Ibu tak sadarkan diri karena bius. Berbagai cara ditempuh dokter guna membantu ibuku. Ayah tak tahu lagi harus berbuat apa. Paman mengajak ayah untuk berdoa. Waktu berselang, aku pun dilahirkan tetapi lahir bukan dengan tangisan, aku pasti tidak selamat. Panik gelisah dan gaduh dalam ruang persalinan. Tampak keluargaku ada yang menangis. Apakah aku atau ibu yang harus diselamatkan. Pikiran hanya sebatas yang mereka pikirkan. Suara tangisan kehidupan terdengar dari mulutku. Dokter lega, perawat puas. Ayah senang dan keluarga mengusap air mata lega dan bahagia. Aku lahir sebagai bayi perempuan yang murni dan suci lagi lemah dan tak berdaya. Aku pun dididik untuk menjadi perempuan yang sukses di kemudian hari. Itulah impian dan cita-cita ayahku sekalipun aku tidak diinginkan untuk lahir sebagai anak putri ke dua dari tiga bersaudara. Bukannya aku ingin mengungkit masa lalu yang terjadi, tapi memang seperti itu yang terjadi. Saat sekaranglah aku ketahui sejarah siapa aku. Tidak terbayang olehku, kini telah menjadi kenyataan. Semua kisahku aku peroleh dari kakekku yang dulunya hampir tewas karena bunyi petasan itu. Kini aku harus jujur tentang siapa aku.
***
Namaku adalah Alexsandra Estella. Sebuah nama yang diberikan oleh ayah. Nama yang adalah nama kota lama Mesir. Panas, kering, namun ada kehidupan dan keajaiban dunia. Sedangkan estella artinya bintang. Memang cocok dengan karakterku. Ayahku adalah seorang pegawai negeri sipil yang memiliki jabatan tertinggi di kantornya. Sedangkan ibuku adalah seorang pegawai bank. Aku sering di panggil Alexy. Nama antara laki- laki dan perempuan. Aku hanya ingin berbagi kepada kamu tentang aku. Tahukah kamu bahwa aku lahir pada tanggal 29 Februari 1988. Tahukah kamu bahwa aku dijuluki Tomboy? Oh... sebaiknya kamu dengarkan kisahku.
Mengenangkan kembali pada tanggal 29 Februari 1988 sungguh menyakitkan untuk saat ini. Aku dilahirkan tapi tidak atas keinginan orang tuaku. Tidak ada rencana bagi ayah dan ibu untuk menambah anak lagi. Ayah terus merindukan ibu, begitu juga sebaliknya ibu. Tiga tahun berpisah tak sekamar. Ayah pergi menuntut ilmu di negeri Paman Sam. Gelar doktor adalah yang ayahku cari, sedangkan ibuku hanya mengurusi kedua kakakku Francis dan Ingren. Maklum saat itu ibu masih tenaga honor. Penantian dan kerinduan selama tiga tahun terjawab sudah. Hubungan layaknya suami isteri terjalin. Ini hanya sebagai pelepas kerinduan tidak untuk menambah anak lagi. Memang benar kata penyair "tidak semua yang diinginkan dapat terjadi." Saat itu ibuku sedang mengalami masa subur maka terpaksa aku dikandung. Untung tidak terpikir untuk digugurkan. Toh aku juga anak mereka. Jadi kandungan ibu betul-betul dijaga. Sekalipun ayah dan ibuku tak ingin kehadiranku di tengah mereka. Bukan saja saat itu tetapi sekarang juga.
Tak terduga waktu terus berlari mengejar zaman yang menuntut. Hari, minggu, bulan dan tahun bagai petir menyambar pada permukaan laut. Cepat tanpa ada tanda selain bunyi. Begitu pula aku bertumbuh dalam keluarga yang kurang memperdulikanku. Tapi aku senang karena lingkungan mau menerimaku. Untuk pertama kalinya aku mendapat julukan tomboy. Aku senang dengan julukan itu, karena mereka menerima aku. Julukan ini semua karena sifat dan sikapku seperti laki-laki. Aku bertumbuh dalam lingkungan yang serba berantakan. Banyak pemabuk, peminum, penganggur dan tak luput juga kebanyakan dari mereka yang putus sekolah. Dari lingkungan ini aku bertumbuh menjadi perempuan nakal. Tapi bukan yang sebenarnya. Nakal karena tak pernah turut kata orang tua. Aku selalu membantah apa yang mereka katakan. Kalaupun aku turuti itu karena ada maunya. Bagiku kawan adalah segalanya. Tanpa kawan aku pasti tak berbuat apa-apa. Aku juga terasa begitu akrab kepada laki-laki dari pada perempuan. Hal ini bukan berarti aku tak senang kepada sesama jenisku. Tapi.....aku kurang simpati kepada mereka karena terlalu banyak mencari perhatian dari sang arjuna. Tak heran lagi kalau aku dijuluki tomboy. Nama di luar akta kelahiranku yang sebenarnya. Alexandra Estella atau artinya bintang kering.
***
Pagi yang indah di bulan Juni, ayah dan ibuku mengajakku untuk berlibur di Pulau Dewata. Itu adalah keinginanku sejak dulu untuk menikmati panorama Tanah Lot. Aku senang. Merasa sungguh diperhatikan oleh mereka dan inilah yang kudambakan dari mereka. Aku tahu ini semua mereka lakukan karena kedua kakakku telah berkuliah di tanah seberang. Kak France kuliah di Yogya sebagai mahasiswa hukum. Sedangkan Ingren kuliah di Kota Malang sebagai seorang mahasiswi Sastra Inggris sesuai dengan namanya.
Ajakan orang tuaku untuk berlibur hanyalah kesia-siaan. Keinginanku tertunda untuk melihat Pulau Dewata. Ayahku tiba-tiba jatuh sakit. Ini semua karenaku. Aku sadar bahwa gadis seusiaku tidak layak untuk begadang bersama sang Adam. Mulai saat itu aku berjanji untuk senantiasa mencintai kedua orang tuaku. Aku terus berdoa kepada Sang Khalik supaya ayah dan ibu serta kedua kakakku selalu dilindungi Tuhan. Aku hanya terkurung di rumah saja. Sekolah membuat aku memiliki kegiatan di luar rumah. Memang berat rasanya kebebasanku harus terkurung karena sadarku. Janji tingal janji aku tidak bisa menepati diriku sendiri. Orang tua sudah tidak memperhatikanku lagi. Marah dan marah. Itulah kata yang kurasakan selama mendekam di rumah sendiri. Aku mencoba bertahan dalam sadarku ini namun tak bisa. Ini memang salahku atau salah bunda yang melahirkanku?
Ayah dan ibuku selalu sibuk dengan pekerjaan mereka. Aku merasa sungguh diterlantarkan. Aku hendak mengungsi ke rumah kakek, tapi aku takut dan malu. Terpaksa berdiam di rumah sendiri meski hati serasa diiris. Terpikir olehku untuk lari dari rumah, tapi apalah daya aku hanyalah seorang perempuan yang selama ini menggunakan gaya laki-laki. Inilah hari baik dalam hidupku yang sempat aku catat dalam buku harianku. Aku diajak oleh kedua orang tuaku untuk menemui seorang psikolog. Awalnya aku tak mau tapi ini juga demi masa depanku. Ini untuk pertama kalinya aku ke psikolog. Bingung. Itulah yang aku alami. Pertanyaan demi pertanyaan ditujukan kepadaku. Aku menjawab dengan jujur karena tidak ada kepalsuan bagiku. Hari kedua aku menemui psikolog yang sama, tapi saat ini aku sendiri tanpa ditemani oleh kedua orang tuaku. Saat inilah baru aku sadari siapa diriku sebenarnya. Pertanyaan membuat aku harus membuka kembali memori lama yang selama ini aku pendam.
"Alexsandra. Terima kasih kamu mau datang untuk kedua kalinya. Apa yang kamu inginkan dari pertemuan ini, nak." Tanya psikolog itu kepadaku yang lagi tersenyum memandang lukisan Putri Diana yang terpajang di tembok.
"Maaf ya, Pa... yang aku inginkan yaitu supaya kedua orang tuaku dapat menerima aku sebagai anak mereka. Itu saja bapa...!" Pintaku dengan kepolosan seorang anak Kelas 2 SLTA.
"Apa saat ini Anda merasa bahagia?" Tanya Psikolog itu lebih serius lagi menatapiku.
"Ya...aku bahagia tapi dalam diriku sendiri." Jawabku semangat tak tahu bahwa itu adalah pertanyaan menjebak.
"Apakah Anda sungguh-sungguh bahagia dalam hidup Anda?" Tanya untuk kedua kalinya.
Aku tak dapat menjawab melainkan tertunduk dan malu pada diriku sendiri. Tapi aku bangkit dari kursi dan berkeliling sekitar ruangan itu. Aku melepaskan semua persoalan yang selama ini aku alami. Cukup singkat ceritaku tapi psikolog itu sudah mengetahui masalahku yang sebenarnya. Aku diberi suatu metode untuk dapat mengatasi persoalan hidupku.
"Terima kasih karena bapa sudah mau membantuku. Tapi ada satu permintaanku kepada bapa," pintaku
"Apa itu nak!" Suara kebijaksanaan keluar dari sang psikolog itu.
Tanpa sungkan aku menunjuk gambar Putri Diana itu. Cukup berat bagi sang psikolog untuk melepas pergi gambar kesayangannya itu. Tapi hari ini lebih memihak kepadaku. Aku mendapatkan lukisan itu. Aku berlalu dari hadapannya dengan membawa lukisan Putri Diana itu.
***
Setiap saat suasana pasti berubah. Aku tetaplah aku sebagai seorang Alexandra. Julukan tomboy tak dapat lepas dariku. Sebentar lagi usiaku 16 tahun. Tepat saat itu 29 Februari 2004. Waktu terus bergulir. Aku tak dapat melawan rasa ini. Rasa yang baru kualami saat usiaku ini. Rasa jatuh cinta. Aku mencoba dan mencoba untuk melawan tapi tak bisa. Kagelisahan terus kurasakan. Jujur aku tak dapat mengatasi rasa ini sendiri. Aku coba berbagi kepada teman dekatku. Tapi yang kudapat hanyalah tawa dari mereka.
"Lucu, kalau kamu jatuh cinta, Lex." Pikiranku buntu. Ingin berbagi kepada teman cewek tapi aku sudah terlanjur membenci mereka. Ini semua karena mereka terlalu feminin yang berlebihan. Tapi sebenarnya aku salah. Keberanian memaksaku untuk mengungkapkan ini kapada dia. Dia yang selama ini membuat aku tak bisa tidur nyenyak. Bumi, itulah namanya. Waktu yang tepat bagiku yaitu saat acara Valentine Day nanti, 14 Februari 2005.
Dengan pakaian harianku. Baju kaus oblong warna hitam, bertuliskan Stone dengan lipatan pada tangan kiri, itu adalah bajuku. Celana panjang levis dengan sobekan pada lutut dan bokong, itulah celanaku. Anting, gelang, cincin dan rantai dengan salib besar itulah assesorisku. Aku hadir dalam acara itu. Tapi aku tak punya nyali untuk mengungkapkan itu. Terpaksa perasaan ini kupendam. Aku tak menyangka seorang Bumi yang pendiam dan kalem mendekatiku. Aku gugup hingga sirup di tanganku tumpah. Ia mendekat dan memberi salam kepadaku. Aku hanya tersenyum tanpa kata. Lain dari hari lainnya aku selalu berani menghadapi laki-laki. Kamipun bercerita. Tapi sungguh, Bumi memberiku perhatian. Ia banyak menasehatiku. Malam itu menjadikanku sadar akan artiku sebenarnya yang adalah seorang perempuan. Tidak sepantasnya aku harus bergaya laki-laki. Tidak ada yang lebih darinya. Sepintas aku menatap dan ia berhasil meluluhkan hatiku. Aku jatuh cinta pada Bumi. Itulah kalimat pada judul buku harianku. Tetapi aku tak punya kekuataan untuk mengatakan. Tanggal 29 Februari 2004 aku genap berusia 16 tahun. Tidak ada acara yang dibuat. Cuma doa keluarga dengan ujud supaya aku lebih dewasa. Memang betul, aku mulai menyadari akan aku. Ini semua buka karena orang tuaku tetapi karena Bumi yang memberiku semuanya. Terima kasih Bumi, aku mendukung jalan yang telah engkau pilih. Bumi hanyalah kenangan bagiku yang tak sempat kuungkapkan namun kini ia telah dipilih Tuhan.
***
Waktulah yang telah membentuk aku untuk menjadi seorang perempuan yang asli. Aku sendiri kaget ketika harus mengenakan rok panjang saat menghadiri pesta. Aku mencoba untuk menerima orang tuaku. Memang awalnya sulit tetapi saat ini semuanya berjalan lancar. Kini tugas mereka untuk menemaniku. Kuharap kasih sayang mereka yang merata. Aku, ka'Francis dan ka' Ingren. Aku tak ingin mengingat lagi kejadian yang dulu kualami itu hanya menambah luka. Kini aku bukan lagi seorang Tomboy. Tapi kini aku adalah Alexandra. Hanya satu ungkapan terima kasihku kepada Bumi yang sudah menyadarkanku. Terima kasih karena kamu sudah menggoreskan kisahku ini. Sekarang aku sudah di kota pelajar Jogjakarta. Aku kuliah bagian psikologi bimbingan konseling. Tolong doakan aku supaya berhasil. Adikmu Alexandra.* Penfui, 1 Januari 2008. Diterbitkan Pos Kupang Minggu, 13 April 2008, halaman 6.


0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda