Impian Tak Sampai

Cerpen Moses Lama Aluk

TAK pernah aku bermimpi indah tentang cinta, namun akhirnya datang juga. Aku menyibak tirai merah adalah kenangan masa silam kala itu di tanah rantau. Perlahan awan menyapu rembulan yang baru terbit membuat bumi puasa kegelapan. Tibalah sosok wajah ayu di depanku di sebuah pertokoan. Dengan senyum ia menyapaku. Aku tersentak sadar dari lamunanku yang jauh di ujung nusa bunga. Spontan ia meminta kesediaanku mengatarnya ke alamat Papa dan Mamanya. Dalam perjalanan, ia menceritakan bahwa sebenarnya dia ikut bersama orangtuanya sewaktu mutasi, namun mumpung studinya belum selesai maka dia baru menyusul sekarang

Ia lalu menyodorkan kartu namanya ketika sampai di depan halaman rumah permanen. Ternyata, ayahnya seorang Kepala Bank Labuan Malaysia. Aku tertegun mendengar penuturannya dan menyaksikan sendiri isi rumah itu yang memang lengkap dengan segala fasilitasnya. Seperti aku tak percaya penglihatanku. Aku lalu disuguhkan minuman dan diajak makan bersama di rumahnya. Perasaanku dirasuki takut yang tiba-tiba datang. Aku takut pamit pulang.
Keesokan harinya aku menghubungi via telepon, bahwa kami berjumpa di Paksonria sebuah bangunan bertingkat yang dikunjungi pengunjung silih berganti. Kami memilih sebuah tempat di taman bunga. Di sana percikan cinta mulai tertanda dalam relung hatiku, cinta tumbuh dari empat mata dua senyum yang berpapasan. Pertemuan inilah yang membuat impianku semakin menerawang jauh di alam khayal, menghayal segala- galanya. Sungguh indah dunia bagai milik kami berdua. Kadang ia menjemputku dengan mobil mewah dan membawaku menikmati indahnya Kota Labuan. Hubungan kami kian erat, bahkan bertambah intim dan tak dipisahkan. Misteri cinta yang terpatri erat dalam sanubari, tak setitik mata insan lain yang mengetahui keintiman kami. Hanya kami berdua saja yang boleh menyingkap rahasia ini. Keluarganya tak pernah menghalangi pergaulan kami, walau dengan cara sekecil apa pun. Masih teringat jelas dalam hatiku, di suatu kesempatan indah yang tak dapat kulupakan, walau ditelan waktu dan selaksa musim.
Nurhayati adalah sebuah nama yang kukenang dalam impian dan tersimpan dalam kotak batinku yang tak akan dimakan rayap walau digilas sejuta zaman. Hari berganti hari, bulan silih berganti, begitu pula tahun terasa cepat sekali berlalu. Tanpa terasa hubungan kami sudah sangat jauh dalam sebuah petualangan cinta. Tibalah kami di sebuh tikungan jalan yang membuat kami harus berpisah.
Dalam perjalanan menuju sebuah arti rumah tangga, tiba-tiba langkah kami tersendat, aku tersentak sadar ketika seorang laki- laki mudah bertubuh kekar mencegatku. Pemuda itu menghinaku dan mengancamku, sambil mengaku dirinya adalah abangnya Nur satu-satunya.
Amarahnya tak dapat diredam oleh orang-orang di seputarku, hanya adiknya yang mampu membelaku dengan mengancam.
"Kalau kau berani melukai calon suamiku, akan kau lihat mayatku berbujur kaku di hadapanmu." Sembari memegang botol minuman yang sudah dipecahkannya sedikit dan tajam sekali. Aku cuma kaku menatap adegan ini, tak sadar kubisik pada Nur.
"Pergilah bersama abangmu. Tolonglah aku tak sanggup menerima kenyataan ini, tapi aku akan bertanggung jawab atas bayi dalam kandunganmu." Dengan mengendarai Both meluncur pergi dan menghilang dari padanganku. Aku terpaku, malu menatap sekelilingku. Hanya tangisku yang terpendam bergelora dalam sukma berkecamuk dasyat menghancurkan hatiku.
Dengan sisa tenaga yang ada aku bangkit pulang. Ingin rasanya menguburkan diriku sebelum ajal, namun aku sadar akan janji yang telah kuucapkan sebelum kami berpisah. Tubuhku lemah tak berdaya dililit dilema yang mencekam. Kutegarkan hatiku. Kuhirup embun kerinduan, kukumpulkan kembali diary biru yang tercecer adalah lembaran kepingan cintaku. Di sana kutemukan sebuah lukisan wajah seorang gadis yang aku cintai. Bila rindu datang menggebu dan mataku terbentur figur wajah Nurhayati, hatiku jadi hampa dan ini semua membuat aku hampir mati dan gila.
Sebulan kemudian aku dikabari Nur bahwa mereka akan kembali ke kota kelahiran ayahnya, Kuala Lumpur, maka aku diharapkan datang ke rumah besoknya, apa pun risikonya. Begitulah ucapan yang kudengar dari teleponnya. Nasibku ibarat telur diujung tanduk, aku justru berpikir panjang sampai di sinikah riwayatku.
Haruskah aku ke sana melihat wajahnya buat terakhir kalinya, atau aku membatalkan saja permintaannya. Aku pada jalur bingung yang menyuruhku harus berhati-hati. Tapi bukankah cinta musti harus berkorban. Aku kembali bertanya pada segenap jagat, tak satu pun mengatakan dengan pasti. Hanya suara hatiku yang mampu memutuskan semua ini.
"Demi cinta sucimu yang telah kau ikrarkan padanya seumur hidupmu hanya Nur di hatimu maka penuhilah undangannya walau apa pun yang akan terjadi."
Jawaban sudah pasti, kubulatkan tekadku untuk bertemu untuk kali terakhir, biar berakhirlah segalanya. Agar sirna musnah dan terlupakan. Aku bergegas ke rumahnya setelah berkeramas seadanya, tibalah aku di pintu gerbang Bangto yang indah. Taksi lalu bergeser pulang setelah menerima beberapa uang logam dariku. Terlihat olehku sebuah pemandangan indah di depan teras rumah itu. Wajah seorang gadis ceria keluar menyambutku. Dengan senyum khasnya dan tangan mengembang sedang mukanya tertutup cadar. Namun, aku tak salah duga. Dia adalah calon istriku. Aku lalu disambut masuk, setelah dipersilahkan duduk, ibunya lalu angkat bicara.
"Dengarlah anakku, walaupun engkau telah mengandung dan sekarang janin berusia tujuh bulan, tapi apa boleh buat. Ibu tak merestui pernikahanmu. Aku tetap bersikeras, walau ayahmu mengiyakan semua ini dan karena itu, kita sekarang pulang ke Kuala Lumpur. Mak kulunakan hatiku biar kau jumpa untuk terakhir kalinya," kata ibunya.
Aku bagai tersambar petir pagi itu. Tangis dengan sendirinya meledak tak terhalang. Aku hanya bisa menangis dan menangis terus. Lalu suara bergema lagi.
"Aku tak mau kau kawin dengan adikku. Apalagi, kau keturunan Timor." Aku tak bisa mengangkat kepalaku, kutunduk memandang lantai hingga tembus lapisan bumi yang ketujuh. Biar aku pergi membawa duka. Terdengar cetusan nada sang ayah. "Kau boleh ikut mengantar anakku, hanya sampai di lapangan terbang. Mari kita beranjak dari sini." Sesampainya di sana di ruang tunggu, kami berdua diperbolehkan berbincang apa saja. Kesempatan ini sungguh berarti. Dalam perbincangan, Nur mengatakan kalau ibu mau menggugurkan bayi ini, namun dia tetap menolaknya.
"Akan kupiara anak ini walau tanpa ayah. Bagiku itu jalan dosa. Aku sudah mencoba menasehati ibu. Aku tetap menyayangi dan membesarkan dengan penuh rasa tanggung jawab, agar ia menjadi teman hidupku, pengganti kamu. Dan apabila rindu tiba nomor HP yang kuberikan ini adalah jembatan untuk kita dalam hubungan suami istri. Karena bagiku jarak dan waktu telah melerai kita. Percayalah walau tubuhku tak kau jamah lagi, namun batinku adalah milikmu. Oleh karena itu, biar kukorbankan sehingga luar dalam kupersembahkan untukmu," katanya.
"Nur, pertemuan pasti ada perpisahan, awal tentu ada akhirnya dan kelahiran pasti pula ada kematian. Aku memaklumi tutur katamu dan jika bayi lahir nanti kabarkan padaku serta jagalah dia sebaik mungkin."
Ia merebahkan tubuhnya di atas pangkuanku dan menangis sekuatnya, biar berakhirlah segalanya. Waktu keberangkatan pun tiba. Ia melambaikan tangannya sembari diapit ketat ia hanya menatap penuh pasrah sampai menghilang di balik ruangan dan terus menghilang entah ke mana. (*)

Pos Kupang Minggu, 27 April 2008, halaman 6


0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda