Ina Soli

Cerpen Yayang Sutomo

JARI-jemarinya yang keriput menari dengan lincah, memintal benang dikeremangan sinar lampu pelita yang terbuat dari botol minuman suplemen penambah tenaga malam itu. Sudah menjadi kebiasaannya mengisi waktu dengan menggulung benang menggunakan pepaka saat magrib atau petang tiba hingga rasa kantuk menyerang. Saat itu, ia baru beranjak ke pembaringannya melepas lelah setelah seharian bekerja.
Dia dikenal dengan nama Ina Soli. Tak ada yang tahu hari kelahirannya dengan tepat.

Menurut cerita darinya bahwa ia dilahirkan pada waktu perang kemerdekaan tahun 1945 saat orang tuanya mengungsi dari Waikabubak (ibukota Kabupaten Sumba Barat saat itu) ke Wone, daerah perbatasan antara Kecamatan Loli dan Waijewa Timur. Tanggal, bulan, apa lagi hari tak diketahuinya. Ia bersekolah hanya sampai di bangku kelas dua SR, sebab orang tuanya tidak memiliki biaya yang cukup. Ketika dirinya berusia dua belas tahun, orang tuanya menjodohkannya dengan orang kaya di kampung itu. Belis atau mahar perkawinannya berupa kuda, kerbau, dan mamoli. Ia menikah saat berusia empat belas tahun. Tak ada sanggahan ataupun bantahan terlontar dari mulutnya meski sesuatu bergolak di hatinya. Patuh pada perkataan orang tua itu yang terpenting pikirnya. Ketika belis telah lunas diberikan atau dibayar oleh pihak laki-laki, ia dipindahkan atau diantar ke rumah suaminya dengan pakallak dan payawou. Di rumah sang mertua, ia akan membaktikan seluruh hidupnya sampai ia dan suaminya memiliki rumah dan pindah untuk tinggal sendiri. Pekerjaan rutin dilakukannya setiap hari seperti menimba air, mencuci, menumbuk padi, memasak bahkan berkebun. Tak satupun keahlian dimilikinya kecuali menenun.
Aku menatapnya dari kejauhan. Dirinya asyik menusuk-nusuk benang berwarna-warni dengan bambu yang telah diraut atau dihaluskan (Lirra) untuk membentuk motif pada tenunannya. Di atas bale-bale bambu, sesekali terdengar suara malirra. Dengan perlahan aku berjalan mendekatinya. Merasa ada seseorang yang tengah mendekat, dia menoleh dan sejenak memandangku.
"Selamat sore Ina," sapaku lembut.
"Selamat sore, Nona. Dari mana?," balasnya. "Silahkah naik! Maaf, kami punya rumah begini saja," sambungnya sambil berusaha melepaskan bedo dan bangkit lalu keluar dari alat tenunnya. Silahkan duduk!," lanjutnya seraya menggelar selembar tikar pandan. Terlihat keramahannya dengan berusaha menggunakan bahasa Indonesia dialek Loli (Sumba Barat) yang kalau kupikir agak lucu kedengarannya.
"Terima kasih Ina," jawabku sambil melangkah naik ke atas bale-bale bambu dekat seperangkat alat tenun yang terlihat begitu lama, usang dan tua karena termakan usia.
"Ina Soli tinggal sendiri di sini?," tanyaku memulai pembicaraan dan tanpa sepengetahuannya tape recorder kecil kesayanganku telah ku tekan tombol playnya pertanda rekaman telah dimulai.
"Betul Nona, saya punya anak ada enam orang, semua sudah kawin. Anak perempuan ada empat orang. Sekarang mereka tinggal dengan mereka punya suami di kampong laen. Kalau yang laki-laki sudah ada rumah sendiri, jadi saya tinggal sendiri di sini," jawabnya polos dengan aksen Lolinya yang sangat kental.
Pertanyaan demi pertanyaan satu per satu bergulir dari mulutku. Dan setiap jawaban yang muncul selalu membuatku termangu-mangu. Betapa tidak, di usianya yang renta Ina Soli masih memikirkan nasib remaja puteri dan kaum wanita di kampungnya. Tak sabar mendengar ceritanya, kukeluarkan notes kecil dan pena dari ranselku dengan cepat. "Aku harus mendapatkan data yang akurat," kataku dalam hati.
"Jadi, adi Nona ini wartawan?," tanyanya dengan nada penuh selidik.
"Iya, Ina! Maaf! saya tidak berterus terang sebelumnya karena saya takut Ina nanti tidak mau bicara dengan saya," jawabku agak ragu-ragu.
"Tidak apa-apa," balasnya sambil tertawa lepas seolah tantangan kehidupan tak pernah ia rasakan.
***
Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh pagi, namun matahari belum juga beranjak dari tempatnya. Kabut menyelimuti sang surya hingga sinarnya tak tampak menyapa ramah dedaunan yang sedang menanti kedatangannya. Tetes-tetes embun bak kristal bening bergulir perlahan jatuh ke bumi setelah semalaman bermukim di dedaunan. Hawa dingin menusuk tajam menembus pori-pori kulitku. Kurapatkan jaketku sambil melangkah agak cepat menuju Kampung Tarung yang hanya sekitar beberapa ratus meter dari Hotel Manandang tempat aku menginap. Waikabubak, memang kota yang eksotik dan unik. Mengapa? Karena memiliki kampung-kampung tradisional yang berada di tengah-tengah kota tersebut dan masih terlihat asli, yakni rumah panggung tradisionalnya yang dibangun secara berkelompok. Di depan rumah-rumah tersebut berjajar batu-batu kubur yang besar (Megalith) yang proses keberadaan dan pengadaannya dilakukan oleh orang sekampung lewat sebuah pesta adat yang dinamakan tarek batu kubur.
Nafasku tersengal-sengal menaiki kampung ini, terburu-buru karena ingin segera bertemu Ina Soli dan penasaran akan ceritanya.
"Sekarang sudah jam 10.30 Wita, mari kita turun, saya mau menunjukan sesuatu kepada Nona," katanya dengan serius. Aku ingin membantah omongannya karena kelelahanku saat mendaki tadi namun kuurung niatku demi sebuah kejutan yang menanti di depan.
"Kampung ini sudah banyak berubah. Lihat saja, sekarang sudah ada jalan setapak yang permanen, ada listrik, anak muda di sini banyak yang pergi ke Malaysia untuk jadi TKI/TKW," ceritanya agak lesu sambil menggandeng tanganku menuruni kampung lewat jalanan yang sama ketika aku mendaki tadi.
"Ina, senang kan? Kampungnya menjadi bagus dan tidak ketinggalan jaman," jawabku sengaja memancing reaksinya.
Nona salah, saya sebenarnya tidak suka karena banyak orang turis (tourist) yang bilang ini kampung tidak asli lagi. Belum sempat kutanggapi pembicaraannya, Ina Soli sudah menyapa ibu-ibu dan remaja putri di sebuah rumah alang di depan kami. Kuikuti langkahnya danàmataku terbelalak! Bagaikan sebuah sanggar, para ibu dan remaja putri sedang menenun beramai-ramai. Ada yang memintal benang sambil makan sirih pinang, ada yang mencelupkan benang dengan pewarna alami, ada yang menggulung benang dan banyak lagi kegiatan yang mereka lakukan. Pantas aku mendengar suara gaduh ketika mendaki jalanan menuju ke kampung tadi namun tak kuketahui dari mana asal bebunyian tersebut. Ternyata itu suara alat-alat tenun yang berirama membangunkan sang Surya, menguak kabut, meluruhkan embun, menepis awan, dan mengusik dingin ætuk menyongsong hari cerah.
"Ibu-ibu dan anak-anak semua, ini nona wartawan. Dia datang untuk lihat kita tenun. Maaf Nona, saya punya bahasa Indonesia tidak bagus," katanya tersipu-sipu.
Aku tersenyum. Semua yang hadir pun tersenyum mengganguk. Ku amati kain-kain tenun yang beraneka motif sungguh indah tak terkatakan. Hanya yang memiliki bakat dan keahlian khusus dan berjiwa seni yang tinggi yang mampu melakukannya. Sesekali aku memotret. Terlihat wajah-wajah polos mereka dengan pakaian seadanya diliputi kebahagiaan yang tak mampu kuuraikan dengan kata. dan kalimat. Semangat kerja yang tinggi, rasa kebersamaan, solidaritas, kekeluargaan tergurat di wajah mereka menyimpan berjuta makna yang tak kumengerti, membuatku tak sanggup menatap lama.
"Kami berkumpul di tempat ini setiap hari Jumat, Sabtu dan Minggu jam sepuluh pagi untuk tenun sama-sama. Saya ajar mereka bagaimana tenun yang baik, bagaimana cara membuat motif yang lurus atau simetris, tidak bengkok supaya hasil tenunannya atau kainnya bagus . Kalau ada orang toris atau bukan orang Sumba Barat yang beli mereka tidak anggap enteng orang Sumba Barat, apalagi perempuan yang bikin ini kain, Dorang juga bisa cerita ini kain sama orang lain lagi dan orang lain itu bisa datang ke sini untuk beli ini kain,"lanjutnya dengan bahasa Indonesia yang kaku dan tak sempurna namun kumengerti dengan baik.
Aku terperangah mendengarnya. Ina Soli, dalam kesederhanaannya, masih ingin memajukan kaumnya, memperhatikan lingkungan sekitarnya, mempedulikan kehidupan dan perekonomian para perempuan di kampungnya. Dia juga memikirkan cara sederhana untuk mempromosikan daerah tempat tinggalnya lewat jemari lincah kaumnya dalam keterbatasan hidup dan ekonomi di dunia sekarang yang serba sulit ini. Tanpa disadarinya dia telah mampu mempertahankan dan melestarikan budaya daerah yang juga merupakan aset budaya nasional. Yang membuatku benar-benar tak percaya adalah satu keinginannya sebelum tutup usia, yakni bertemu Bapak Bupati Sumba-Barat lewat dinas P&K untuk memasukan "TENUN" sebagai mata pelajaran mulok dan kegiatan ekstrakurikuler di SD. Hal ini dimaksud agar tenun dapat dikenal, dicintai, dipelajari sejak dini dan merubah pola pikir bahwa menenun ini bukan saja milik perempuan kampung tetapi juga perempuan kota sehingga tradisi dan budaya menenun dapat dipelihara dan tidak punah dari generasi ke generasi atau terkikis oleh waktu.
Aku tercengang-cengang dibuatnya hingga mulutku terkatup rapat tak ada waktu untuk berbantah-bantah. Pemikiran yang dimiliki Ina Soli melampaui penampilannya yang teramat sederhana, bahkan membahasakannya pun ia terbata-bata. "Luar biasa," hanya kata ini yang terlontar dari bibirku.
***
Dua hari bersama Ina Soli membuatku merenung, mungkin masih banyak Ina Soli-Ina Soli lain yang belum terekspos. Sebagai wartawati lepas (freelance) yang baru, aku memulai tulisan pertamaku tentang Ina Soli dan semua hal yang telah ia lakukan, tentang sisi kehidupannya yang dikungkung oleh adat-istiadat yang keras, tentang keberanian dan pergolakan bathinnya yang ingin berontak dan keluar dari kepahitan hidup, tentang kepeduliannya terhadap kaumnya, tentang kerinduannya memelihara tradisi menenun, tentang kebanggaannya akan hasil karya cipta dan seni dari tangan-tangan terampil milik kaumnya dan kecintaannya terhadap budaya daerahnya. Aku tersenyum memikirkannya. Jiwa dan semangat ibu Kartini tergambar jelas dalam diri Ina Soli. Tulisanku menjadi berita utama surat kabar tempatku bekerja. Wajah Ina Soli terpampang besar dan tersenyum menyimpan berbagai rahasia hidup. Aku sungguh berterima kasih kepada Ina Soli yang dengan ceritanya aku dapat menemukan arti hidup yang sesungguhnya dan menemukan jati diriku sebagai seorang jurnalis yang mampu mengungkapkan kebenaran yang nyata dalam masyarakat. Sosok Ina Soli adalah sosok Kartini masa kini yang mengajarkan aku untuk selalu berusaha dan berjuang demi kepentingan banyak orang, dan juga diri sendiri dengan sedikit keahlian yang aku miliki. Ku raih koran lokal edisi hari ini kembali, ku pandangi wajah Ina Soli sekali lagi, ku amati senyumannya, senyuman yang menyiratkan keberanian, kebanggaan, ketulusan, keinginan dan harapan. *
Catatan:
Bahasa daerah Loli (Sumba Barat):
Pepaka =alat penggulung benang untuk ditenun.
Mamoli =Perhiasan wanita dari perak/emas untuk telinga/leher
Pakallak =Suara sorak bersama yang melambangkan sukacita (wanita)
Payawou =Sama seperti pakallak namun bagi pria yang didahului/dipimpin oleh seseorang
Lirra =Kayu kecil/lidi/bambu halus dipakai untuk membentuk motif pada kain
Malirra =Alat pemukul benang/kayu panjang saat menenun.
Bedo =Alat tenun yang letaknya dibagian pinggang/belakang terbuat dari kayu.

Pos Kupang Minggu, 20 April 2008, halaman 6.

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda