Lelaki Yang Datang Bersama Hujan

Cerpen Jeemee MH

MALAM turun diam-diam di kota kami. Bersama dengan malam, hujan pun datang mengguyur kota. Dingin merasuk kota dan juga hati para penghuninya. Dalam sendiriku kucoba bertanya, "Sampai kapan hal ini terulang dan terus terjadi?" Banyak dari penduduk kota yang tak tahan dengan keadaan ini. Mereka telah mengungsi entah ke mana. Namun, ada yang mengatakan bahwa mereka lebih memilih tempat di balik perbukitan. Mereka ke sana untuk mencari cahaya dan senja yang hilang. Semacamnya ada bayang-bayang kepedihan di masa lalu yang terlintas di benak mereka. Katanya mereka tak ingin mengalami rasa sakit dan kehilangan itu lagi. Nanti kalau situasi sudah kembali normal baru mereka kembali ke kota.


"Kapan?" Aku hanya bergumam dalam hati.
Namun, ada juga orang yang masih ingin bertahan di kota. Mereka tak mau menyingkir ke tempat yang lebih aman. Tempat yang katanya menjanjikan cahaya dan senja. Katanya, kalaupun bencana itu terulang kembali mereka lebih memilih mati di kota ini, di tanah kelahiran mereka sendiri. Mereka tak ingin terusir dari tanah mereka sendiri. Mereka tak ingin kalah dan tersingkir. Mereka ingin bertarung melawan bencana itu sampai mereka sendiri tak berdaya lagi di hadapannya. Di antara mereka yang memilih tinggal ada juga para pelacur jalanan, pemulung dan anak jalanan. Pokoknya mereka yang sudah terbiasa terpinggirkan. Mereka membaur bersama dengan orang-orang yang memilih mati di kota daripada melarikan diri. Dan, tentu saja tak mau meninggalkan apa yang telah mereka raih dengan bersusah-susah. Apa yang telah mereka kumpulkan dan bangun selama bertahun-tahun.
Dalam situasi seperti ini, seorang lelaki entah muncul dari mana, datang ke kota kami bersama malam dan rintik hujan. Usianya telah seputih uban-uban yang tumbuh subur di kepalanya. Uban-uban itu telah menjadi mahkota perjalanan hidupnya. Waktu itu kota telah menjadi sepi. Penghuninya telah terlelap dalam tidur dan mimpi tentang cahaya dan senja yang mulai hilang. Tak ada yang mengenal lelaki beruban itu dan sanggup merasakan kehadirannya. Kehadirannya terasa begitu misterius. Ada rahasia tentang dirinya dan juga keberadaannya. Sepertinya ada sesuatu yang ia sembunyikan ataukah kami yang tak ingin mengetahuinya. Mungkin karena itu sehingga ia datang di saat seperti ini. Tak ada yang dapat memastikannya.
"Adakah bencana atau berkat yang dibawanya untuk kota kami? Mungkinkah kepedihan itu akan muncul lagi ataukah cahaya dan senja yang telah hilang itu yang akan kembali ke kota?"
Inilah pertanyaan-pertanyaan yang menggangguku belakangan ini semenjak lelaki misterius itu muncul di kota kami. Terlebih bila malam mulai turun dan rintik hujan mengekor dari belakangnya. Kecemasan dan harapan itu saling berdesakan di benakku. Sekali lagi tak ada yang sanggup memastikannya. Para penghuni kota kami senantiasa menantikan jawaban atas pertanyaan ini yang keluar dari bibirnya sendiri. Mereka ingin sekali menyingkapkan yang tersembunyi itu. Namun, herannya tak ada seorang pun dari kami yang berani mengajukan pertanyaan kepadanya. Kami tak cukup memiliki keberanian untuk menyingkapkan rahasia tentang dirinya dan juga maksud kedatangannya. Di hadapannya terkadang tak ada kata yang bisa kami ucapkan. Kami hanya terpesona pada keindahan kisah pengembaraannya hingga tiba di kota kami. Setiap kami menyimpan pertanyaan itu untuk diri kami sendiri. Pertanyaan-pertanyaan itu serentak menjadi beku di hadapan tatapan matanya yang begitu jernih. Kami juga tak tahu pasti sampai kapan ia menetap di kota kami.
"Entah sampai kapan pertanyaan itu tetap bertahan sebagai tanya yang serentak tak terucap dan tak terjawab?" tanyaku dalam sendiri.
Sehari-hari ia hanya berkeliling di kota kami sambil mengucapkan kata dan ucapan yang tak jelas artinya. Aku merasa bahwa ada sesuatu yang asing dari gaya bicaranya dan caranya berbahasa. Di tangannya ada sebuah tongkat kayu.
"Mungkinkah ini tanda kewibawaan yang terpancar dari dirinya?" tanyaku dalam hati.
Pakaian yang dikenakannya pun cuma sebuah jubah panjang yang mulai lusuh. Jubah itu telah kehilangan warnanya yang sebenarnya. Jubah itu kini telah berubah warna. Debu tanah adalah warnanya. Ia telah menyatu dengan debu pengembaraan dan tanah ia berpijak.
"Mungkin juga jubah itu telah setua usia pengembaraannya," pikirku. Kakinya tak berkasut. Kukumpulkan segala keberanian diriku untuk bertanya. "Mengapa?"
"Aku ingin bersentuhan langsung dengan bumi yang sedang mengeluh sakit yang kadang hadir dalam mimpiku dan kecemasan orang-orang kota seperti Anda." "Mungkin juga engkau ingin meninggalkan jejak pada tanah yang sering mudah terhapus dan dilupakan oleh derap langkah pembangunan dan kemajuan," aku menimpali.
"Mungkin hanya satu kemungkinan di antara begitu banyak kemungkinan," ujarnya.
Rambutnya tak teratur. Demikian pula dengan janggutnya.
"Apa atau siapakah yang ia cari?" Aku membatin saja.
Tak satu pun dari kami yang sanggup memastikannya. Tak seorang pun dari kami yang sanggup mengerti kata-kata yang ia ucapkan. Apalagi pencariannya sendiri yang penuh dengan tanda. Ia sanggup membaca tanda-tanda langit. Sebuah kemampuan yang semakin jarang ditemui di kota kami. Mungkin setiap kami mengerti ucapan-ucapannya dengan cara kami masing-masing. Kadang ia menangis, kadang juga ia tertawa seorang diri ketika menatap langit entah di malam maupun di siang hari. Aku lalu mulai berusaha merumuskan kalimat tentang kehadirannya.
"Dia memang aneh. Ataukah sebaliknya kami yang aneh di hadapannya. Kehadirannya semacam sebuah hiburan bagi kami yang memilih tetap tinggal di kota ini dan memilih untuk mati di tanah ini. Sebuah hiburan yang lirih dan menyakitkan. Kucoba membayangkan seorang terpidana mati di tiang gantungan yang masih bisa tersenyum. Ia memberi sebuah semangat baru yang telah pergi dari kota kami. Sepertinya ada yang ia tangisi atau pun ia tertawakan. Namun, tak kami sadari. Ucapan, tangisan maupun tawanya terasa sebagai sebuah tikaman sembilu di hati kami. Ia menangisi sekaligus menertawakan kelesuan kami. Tapi herannya tak satu orang pun dari kami yang merasa tergugah atau tersinggung dari sikapnya ini. Ada apa dengan kami dan kota ini yang mulai mati rasa?"
Ia lebih memilih untuk menetap di daerah pinggiran kota. Awalnya semua kami takut akan kehadirannya. Bahkan dari para tetua di kota kami bermaksud untuk mengusirnya pergi.
"Mungkin mereka takut mendapat saingan dalam hal kebijaksanaan," pikirku.
Ia sanggup membaca reaksi para penghuni kota ini terkhusus para tetua kota. Akhirnya ia lebih memilih untuk berdiam di luar kota, di wilayah pinggiran. Ia bertemankan para pelacur jalanan, pemulung dan anak jalanan. Sahabatnya adalah mereka yang terusir dari kota karena kalah dalam persaingan dan kemajuan. Kami tak pernah tahu dari mana ia mendapatkan makanan dan minuman.
"Mungkin makanan dan minumannya adalah tangisan dan tawanya sendiri," pikirku.
Hanya sebuah kemungkinan yang tak masuk akal. Bisa juga karena kebaikan hati mereka yang terpinggirkan itu.
"Herannya dalam segala kekurangan dan keterbatasan kaum pinggiran ini masih bisa memberi," aku membatin. Ia hidup dengan begitu sederhana. Namun, semangatnya untuk bertahan hiduplah yang mengagumkan kami. Secara diam-diam, banyak dari kami yang mulai tertarik dengan gaya hidupnya namun masih malu-malu untuk mengakuinya. Selain itu mereka yang tertarik ini takut terhadap para tetua dan akibatnya yakni disingkirkan.
Melihat keadaannya yang memrihatinkan kami berencana untuk membangun sebuah gubuk sederhana bagi dirinya di wilayah pinggiran kota yang telah dipilihnya. Pikir kami gubuk itu dapat menjadi pelindungnya di kala hari hujan dan dinginnya malam di kota kami yang semakin mengganas. Namun, ia tak ingin diikat oleh sebuah tempat tertentu. Katanya seorang pengembara seperti dirinya tidak memiliki sebuah tempat yang tetap. Dengan jawabannya ini tentu saja keinginan para orang kaya di kota kami untuk memintanya tinggal di rumah mereka sambil mengajarkan kebijaksanaan walaupun cuma sesaat akhirnya luruh di hadapannya.
Ia mengajar banyak hal kepada para pelacur jalanan dan kawan-kawan yang terpinggirkan lainnya. Terkhusus ia mengajari mereka tentang keberanian untuk menjalani kehidupan dalam segala kekurangan dan keterbatasan. Mereka memanggilnya bapa kebijaksanaan. Ia memang pernah menolak sebutan itu. Bahkan ia melarang mereka memanggilnya dengan sebutan itu. Ia juga pernah mengancam kalau ia mendengar lagi sebutan itu maka ia tak segan-segan untuk meninggalkan kota tanpa cahaya dan senja ini. Namun, ia tak bisa melarang kehendak hati para pengikutnya ini. Ia pun mengalah kepada mereka. Tapi, ia selalu mengingatkan bahwa ia bukan guru kebijaksanaan seperti yang mereka sangka. Ia hanya membangkitkan semangat mereka untuk menjalani kehidupan. Semangat dan kebijaksanaan itu sudah ada dalam diri mereka. Hanya saja selama ini didiamkan dan diabaikan. Ia hanya mengajak mereka untuk menghidupkannya. Ia mengatakan bahwa setiap mereka adalah guru kebijaksanaan bagi diri mereka sendiri.
Pengajarannya ini mendatangkan kemarahan para tetua di kota kami. Lelaki tua itu telah menyulap perhatian para pelacur jalanan, pemulung dan anak jalanan. Mereka mulai lupa pada pekerjaan harian atau malaman mereka. Tak ada lagi pelacur jalanan yang meramaikan jalan-jalan kota kami. Tak ada lagi pemulung yang mau membersihkan kota. Tak ada lagi anak-anak jalanan yang memainkan lagu-lagu jalanan. Kota yang telah kehilangan cahaya dan senja itu menjadi semakin sepi. Mereka merasa lebih asyik mendengarkan pengajarannya daripada menunaikan pekerjaan harian atau malaman itu. Para pelacur jalanan mulai lupa untuk bercinta dengan mereka yang mencari kehangatan malam. Para anak jalanan mulai lupa syair-syair lagu jalanan yang menghiasi malam yang tak ramah. Dan, para pemulung tak sanggup lagi berada di antara desakan sampah-sampah jalanan yang kian menggunung. Akhirnya para pelacur jalanan, pemulung dan anak jalanan semakin berani dalam menjalani kehidupan. Mereka tidak takut-takut lagi menentang dan menantang orang-orang yang memiliki kuasa di kota ini.
Aku ingat kematiannya yang sungguh mengenaskan. Semuanya berawal dari pengajarannya itu tentang kebijaksanaan. Kami yang telah menjadi pengikutnya meminta ia untuk segera meninggalkan kota kami. Kami sudah mencium rencana dari para tetua kota kami. Ia harus disingkirkan. Namun, ia tak mau lari dari kota kami. Ia tak ingin menjadi seorang pengecut di hadapan tawaran kematian. Malam itu tidak seperti biasanya. Mungkin ia sudah menyadari ajalnya yang kian mendekat. Ia memutuskan untuk bermalam di salah satu gubuk yang telah kosong. Katanya untuk kali ini ia melanggar janji yang pernah ia ikrarkan di hadapan kami. Ia ingin mengikat dirinya dengan gubuk malam ini. Ketika ia asyik menikmati malam dan mimpinya tentang cahaya dan senja, segerombolan orang sewaan datang ke pemukiman liar itu. Mereka membakar gubuknya malam itu. Aku mencium ada bau daging terbakar. Namun ada keyakinan kecil dalam batinku bahwa malam ini lelaki yang datang bersama hujan itu telah hijrah ke kampung di balik perbukitan itu untuk mencari cahaya dan senja yang hilang.

Arsenn, A Nice-Place,
00:11, 28 Februari 2008
Ketika kucoba mengeja nama dan alamatmu dalam sendiriku yang gagap. (*)

Pos Kupang Minggu, 6 April 2008, halaman 6.


0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda