Oleh Marsel Robot

PERSIS kala cuaca di Kota Kupang lagi cuek lantaran mendung melulu, ternyata tidak jadi turun hujan; sebentar-sebentar udara cerah dan teramat panas, ternyata hujan turun dengan lebatnya. Para petani tak putus dirundung gelisah karena ulah alam seperti itu; para buruh tak putus dirundung malang lantaran bencana PHK kian memajang di pelupuk mata sebagai hasil sah dari krisis moneter. Dan barangkali buat mereka, moneter lebih dilihat sebagai monster yang mencekam atau monster moneter yang menakutkan.

Saat Kota Kupang lagi pilek seperti itu, dan rakyat lagi murung, para peminat seni dan beberapa seniman membikin ritus kecil yang mempercakapkan hal besar yakni ingin membangun Dewan Kesenian Daerah NTT. Ritus seni ini dilangsungkan tanggal 14 Desember 1997 di Taman Ria Kupang. Sebuah tempat yang cukup intuitif dan representatif untuk menggelar ritus langkah seperti itu. Di bawah atap alang, berdinding karang, ada angin laut berhembus meramba aula seolah melembabkan jiwa para seniman yang sedang mencari cinta di sana. Di sana hadir Gerson Poyk, ada Gubernur Herman Musakabe, ada Pieter Rohi, ada Abraham Gampar, ada ibu Len Ga.

Gerson Poyk cerpenis kondang asal Namodale (Rote) mengawali percakapannya dengan suara terbata-bata dan berkata patah-patah. Ini bukan ekspresi seni seorang aktor, melainkan ekspresi alamiah seorang anak rantau yang jauh meninggalkan pulau: "Aaaa....., saya ulangi; Aaa.....saya kagum pada gubernur muda dari kampung saya ini." Ia melanjutkan ucapannya dengan begitu puitis sambil menunjukkan dadanya: "Meski saya jauh, tapi nusa ini ada di sini, batu karangnya ada di sini, air sungainya ada di sini."

Pertemuan Taman Ria
Bagi saya, pertemuan Taman Ria itu menyenangkan dan menyedihkan sekaligus. Menyenangkan oleh karena pertemuan itu merupakan tanda biru dalam album sejarah kesenian di NTT. Betapapun, pertemuan Taman Ria merupakan embrio lahirnya Dewan Kesenian Daerah NTT. Ada harapan yang menumpuk, ada kerinduan yang membukit akan perlunya Dewan Kesenian. Sebab, siapa tahu, Dewan Kesenian akan menjadi ufuk yang menerbitkan dan mengorbitkan arah berolah seni di NTT. Minimal Dewan Kesenian memberikan semacam assesoris seni dalam skala makro dan menjadi investasi kultural dalam skala makro. Dan bagi semiman, Dewan Kesenian akan menjadi ladang untuk berekspresi, atau menjadi tanah sawah untuk mengolah seni yang mungkin selama ini tumbuh dan berkembang sendiri-sendiri, berkreasi sendiri-sendiri, dan terima honor yang biasanya kecil sendiri-sendiri pula. Di samping itu, pada suatu saat tertentu Dewan Kesenian menjadi sungai Yordan tempat pembabtisan bagi seniman potensial tanpa melalui Taman Ismail Marzuki (TIM), atau tanpa melalui hegemoni horison (baca Majalah Horison).

Sebaliknya, pertemuan Taman Ria, terutama dari rasa dan tesa sebagai seniman mengandung kesedihan. Kesedihan permulaan dimulai ketika pertemuan Taman Ria justeru lebih banyak dihadiri oleh penikmat seni dan birokrat yang berhubung dengan urusan kesenian. Pertemuan menjadi tak seni, bahkan tanpa bintik-bintik acara kesenian guna melenturkan suasana. Saya sungguh tidak tahu persis kenapa seniman yang begitu banyak tidak sempat hadir di Taman Ria? Meski di sana hadir Gerson, Peter Rohi, toh sesungguhnya saya tidak merindukan mereka itu. Saya benar-benar merindukan seniman NTT yang berkarya tanpa melalui Jawa, tanpa melalui Jakarta. Saya merindukan seniman-seniman yang sambil menunggu masak gula menulis cerpen, seniman yang bersajak sambil menggembala sapi, yang melukis sambil rebus jagung. Karena itu, saya tidak pernah memuja Gerson Poyk, Peter Rohi, Umbu Landu Paranggi, Yulius Siyaranamual. Mereka cuma seniman yang kampung halamannya di NTT, tetapi sawah dan humanya di Jawa. Saya lebih senang pada John Dami Mukese yang bersajak dari Ende, meski hampir saja saya kurang percaya pada moment kreatif Dami yang menulis dan menerbitkan sajak setiap minggu. Saya lebih mengagum kepada Piet Riki Tukan yang menggubah lagu-lagu gereja dari bukit Noemuti (Tarus), Len Ga menulis Novel dari Pasir Panjang.

Kesedihan berikutnya ialah keraguan saya terhadap peran Dewan Kesenian nanti. Diktum ad hoc yang saya kemukakan sehubungan hal tersebut bahwa Dewan Kesenian bukan dewa penyelamat kesenian di NTT. Sebab, kadang-kadang sebagai lembaga lebih mengutamakan kepentingan lembaga daripada apa yang diperjuangkan dan apa yang harus diwadahkan oleh lembaga tersebut.

Terus terang, saya angkat topi di hadapan Peter Rohi, Jeck Adam, Len Ga dan kawan-kawan yang ekstra sibuk mengurus seniman yang susah diurus itu. Mereka membuat pertemuan, membentuk formatur pemilihan anggota dewan dan tetek bengek lainnya. Pekerjaan mereka yang demikian berat tentu tidak cukup dengan senyum tipis sambil mengucapkan terima kasih, tetapi harus dipenuhi dengan makna dan arti dalam konteks sejarah perjalanan pembentukan Dewan Kesenian Daerah di NTT. Pekerjaan Jeck Adam dkk ibarat usaha mengirimkan gerimis di atas ladang-ladang kesenian di NTT yang telah lama dilanda kemarau panjang. Pun bagi seniman laksana rusa merindukan sumber air.

Ada kata menarik, ada wacana memikat ketika Jeck Adam menyampaikan aransemen percakapan pada pertemuan Taman Ria. "Bahwa Dewan Kesenian diperlukan guna mewadahi kreativitas seniman di daerah ini." Yang mungkin selama ini berlangsung liar. Tetapi benarkah Dewan Kesenian berfungsi sebagai lembaga ekspresi yang lugas dan bebas? Atau ada pengkondisian eksternal? Karena itu, saya menyikapi Dewan Kesenian mulai dengan keraguan. Sesekali kita harus percaya pada keraguan. Oe Omnibus dubitandum (segala harus diragukan) kata Rene Descartes.

Tesa dasar yang mendasari keraguan saya terhadap Dewan Kesenian ialah bahwa kehidupan kreativitas seniman di NTT justeru terletak pada seni hidupnya. Dengan kata lain, yang lebih asyik dinikmati dari tampilan kesenian di NTT justeru hidupnya yang merana dan liar itu. Di bidang teater misalnya, begitu sulit menebak gerak-gerik perkembangannya.

Sebentar-sebentar (terutama pada musim lomba) bermunculan teater dengan kesegaran-kesegaran mempesona, ternyata sekaligus siap untuk mampus. Sebentar-sebentar ia redup dan tenggelam begitu lama, ternyata sekaligus siap untuk muncul menjamur teater musiman. Gairah hidupnya singkat. Dan lazimnya sesudah perlombaan, teater mulai sekarat sampai karatan di bengkelnya. Hidupnya bagai pohon pisang, sekali berubah sesudah itu mati, sekali pentas sesudah itu mampus.

Salah satu gejala khas yang merongrong Dewan Kesenian Daerah NTT ialah jiwa yang gundah dan hati mendua. Benarkah lembaga ini sebagai wadah murni untuk memberikan tempat kepada seniman berekspresi bebas dan lugas? Tetapi bisa dituduh kiri lalu kantingnya kere karena pihak eksternal tidak mau mengulurkan tangannya? Atau demi kantong tebal biarlah pihak eksternal yang menentukan ritmik langkah Dewan Kesenian, lalu dipedomani, diarahi, dan yang pasti harus menerima risiko artistik. Ya...semacam kebangkrutan artistik. Tetapi, pilahan terakhir ini mungkin dapat diterima, karena sampai saat ini begitu sulit seniman memasarkan dan menyeponsori kegiatan tanpa bantuan dana dari pihak luar. Contoh soal, setelah saya mementaskan Opera Cermin Surga di Undana dan di GOR para penonton yang datang cuma-cuma itu berkomentar. "Ah.....opera Anda terlalu singkat, kami tidak puas." Balik saya berkomentar: Ya...saya membuat opera supaya Anda tidak puas. Sebab saya tidak menjual karcis. Betapa sulit dibayangkan sebuah pementasan tanpa sponsor. Hampir tidak ada pementasan yang hanya mengharapkan kerelaan penonton untuk membeli karcis.

Dengan jiwa yang gundah dan hati mendua itu, Dewan Kesenian mengharuskan semacam sikap hati-hati, toleransi dan solider dengan pihak eksternal yang tidak lain pihak resmi itulah. Lebih sial lagi, kalau Dewan Kesenian hanya merupakan ajang untuk mempertegas main mata dengan pihak resmi. Kemudian menjadikan Dewan Kesenian sebagai tempat bermanja-manja kepada pihak pemerintah. Karena itu Gubernur Herman Musakabe pagi-pagi menyarankan agar jangan menjadikan Dewan Kesenian sebagai tempat untuk mencari makan. Tentu saja saran gubernur perlu dikaji lebih jauh tentang Dewan Kesenian yang bagaimana agar seniman tidak memposisikannya sebagai tempat untuk mencari makan. Sebab, terkadang kemiskinan finansial berakibat pula pada kemiskinan artistik. Itulah pula sebabnya, di NTT seniman sulit hidup hanya dengan mengarang sajak, tidak bisa menghidupkan keluarga hanya dengan mengarang cerpen, atau mementaskan drama yang hanya merupakan proyek rugi. Meski banyak seniman NTT sekaliber Gerson Poyk atau Umbu Landu, tetapi mereka lebih memilih judul hidup sebagai guru, sebagai sastrawan, sebagai dosen, sebagai sopir atau jenis pekerjaan lain yang memberikannya nafkah.

Dewan Kesenian Daerah NTT dengan ciri jiwa yang gundah hati yang mendua sekalian memposisikan dirinya di daerah perbatasan; perbatasan antara "keinginan untuk berekspresi secara bebas dan lugas dan keharusan untuk memperpanjang hidup sambil menunggu uluran tangan eksternal." Dan...Ini sebuah episod di antara trumbu dan karang/ dan menulis mimpi di album lontar/ atau mengumpul siul burung dan di tepi jurang/ di Nusa Sabana ada bunga ada korona. (* Penulis adalah seniman)

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda