Puisi-puisi Pion Ratulolly

Rasa

Karena suatu rasa yang intens dan vulgar
Manusia telah berani mendemonstrasikan tingkah Tuhan
Rasa itu membentang kokoh dalam sulbi jiwa
Mengakar pada ruas-ruas saraf
Berkuncupan pada dahan-dahan fikir
Lantas mengembang elok pada pepucukan resah

Karena suatu rasa yang intens dan vulgar
Semua karakter insani terimplikasi
Rasa itu mengkristal tak berneraca
Mengalir gumpal pada desir-desir darah
Berkejar badai pada detak-detak jantung
Dan bermuara pasang pada oase rindu



Oh.........
Itulah makhluk yang namanya cinta
Cerminan tingkah Tuhan lewat karakter insani
Keras tak berwujud
Lembut tak bersentuh

Oh........
Amboinya cinta
Sembunyikan misteri di balik rasa
Namun
Kenapa rasa enggan berdefenisi
Dan kenapa rasa tak sudi berteori
Kenapa juga rasa sembunyi di balik kata
Apa yang kurasa


Naluri vs akal, rasa vs rasio

Adalah masalah punya jadi
Hadir dalam rupa yang ambigu
Naluri hendak punya peran
Akal berbalas dengan agresif
Rasa berpagut dalam imaji
Rasio mulai mencari jalan

Naluri menyerang dalam rasa
Akal berbalas dengan rasio
Naluri vs akal
Rasa vs rasio
Naluri berakal
Rasa berasio
Hasilnya

Hati mulai punya nyali
Ini masalah pasti punya jalan
Hati menimbang naluri berakal
Hati menakar rasa berasio
Hasilnya
Keputusan telah jadi
Ini masalah punya solusi
Ini solusi ada di hati


Puisi Remigius A Barek
--------------------------
Buku

Bentukmu persegi panjang
Dari kertas tipis atau tebal
Dibawa dengan hati senang
Pasti bermanfaat sebagai bekal

Berisi ilmu pengetahuan
Membuka buku membawa isinya
Membimbing cendekiawan
Mendapat ilmu dasar penelitian

Bagi pemalas kau tersia-sia
Manfaatmu tidak terlihat mata
Kau selalu beban baginya
Padahal nilaimu tidak terkira

Bila tahu manfaat baikmu
Menambah ilmu menyongsong hari tua
Sejak kecil biasakan membawa buku
Pasti tercapai harapan dan cita-cita


Puisi-puisi Felixianus Ali
------------------------------------

Harga Terasa Sakit

Saat kau pergi
Menuruni anak tangga
Banyak kehidupan
Terhampar luas di sana

Pohon-pohon menghijau
Segarkan suasana
Alirkan kebebasan
Satukan tekad
Bumikan cita-cita

Tapi, saat kau
Datang kembali
Kemarau menggigit
Mengganjal ranah ini

Di sana, di sini
Ceceran keringat
Membasahi pelupuk
Jari tak bisa
Merangkak bukit keemasan

Sebatang dahan melintang
Menutupi pori-pori kulit
Harga terasa gatal
Langkah tak bisa
Menyembuhkan sakitnya


Kemarau Menggigit

Siang ini kemilau udara
Tak enak untuk
Dipetik syairnya, biarpun
Gitar turut temani
Dalam rahim kata-kata

Rahim kandungan
Sungguh panas, luar biasa panasnya
Membakar anak-anak bumi
Di saat dunia berduka

Kemarau menggigit
Habis-habisan sampai menjalar
Ke seluruh tubuh ibarat menanak nasi
Di atas tungku yang bernyala-nyala

Racunnya bisa diobati
Bila apotek-apotek menyediakan ember
Untuk menanam, menyiram
Anak-anak kehidupan
Sebanyak pasir di laut
Di kamarnya masing-masing

Pos Kupang Minggu, 27 April 2008, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda