Tentang Fantasi

(Sebuah Tanggapan untuk AG Netti)

Oleh Marsel Robot
Dosen FKIP Undana, mahasiswa Program Doktor Ilmu Komunikasi Unpad Bandung


SETIAP tulisan yang sudah ditaruh di meja publik berarti pula memberikan kebebasan kepada siapa pun untuk menanggapi tulisan tersebut tanpa harus mengetahui niat awal penulis artikel tersebut. Semakin banyak tanggapan terhadap tulisan itu semakin teruji keunggulan dan keoriginalan opini tersebut. Itulah yang menghasratkan saya untuk menanggapi tulisan saudara AG Netti.
Akan tetapi, menggelikan sekali tanggapan Netti melalui tulisannya berjudul: "Beberapa catatan atas opini Marsel Robot Tentang Fantasi : Sebuah Pertengkaran yang Menyembuhkan" yang dimuat Pos Kupang 14 Maret 2008 lalu terhadap tulisan saya berjudul sebagaimana dikutip Netti (Pos Kupang, 26 Februari 2008). Sumber kegelian saya terutama oleh karena seluruh argumentasi Netti belepotan (berlumuran) emosi sambil mengobok-obok wilayah profesi, bahkan privasi saya.

Terkesan polemik dikerutkan menjadi sekadar eksploitasi kehebatan dia.
Coba baca kutipan berikut ini: "Dia (maksudnya Marsel Robot) juga tidak tahu, bahwa antara tahun 1991 dan tahun 2000, dua kali saya diundang untuk menyajikan makalah dalam seminar sastra (29 April 1991 dan 6 Mei 2000); satu kali menjadi anggota dewan juri lomba karya tulis cerpen dan pusi bersama-ama Drs. Hayon G Nico dan Drs. H Jehane pada seleksi daerah Badan Seni Mahasiswa Indonesia Tingkat Daerah Propinsi NTT yang akan diikutsertakan pada Pekan Seni Mahasiswa Tingkat Nasional Tahun 1991 di Surakarta; satu kali menjadi ketua dewan juri puisi pada Festival Seni Kampus Tahun 1992 FKIP Undana Kupang, dan satu kali menjadi narasumber dalam diskusi panel sastra dalam rangka memperingati hari Chairil Anwar pada 29 April 1998, banyak mahasiswa FKIP Undana Kupang Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia telah memungut manfaat dari saya yang setia berkontemplasi dalam bilik kontemplasi sastra."
Setelah ia memamerkan kehebatannya itu ia mengolok saya dengan kalimat ini: "Sangat disayangkan bahwa selama beberapa kali saya dilibatkan dalam kegiatan seni sastra di kampus Undana sebagaimana telah dikemukakan di atas, panitia tidak pernah melibatkan Marsel Robot untuk bersanding dengan saya, kecuali hanya Drs. Hayon G Nico dan Drs. H. Jehane." Dan masih banyak kalimat-kalimat Netti yang tidak pantas untuk dikutip kembali dalam tulisan ini.
Apa sih hubungan dengan tema polemik (tentang fantasi) dengan memamerkan kehebatan Netti di atas? Itulah, kalau sudah kelewat emosi persis orang kesurupan lantas segalanya menjadi sangat ceroboh. Karena itu, saya perlu meluruskan pernyataan Netti agar sembuh dari kesurupannya. Pertama, sekadar Netti tahu bahwa tahun 1991 saya baru PNS percobaan alias PNS 80 persen sebagai dosen di Undana. Belum menjadi dosen penuh. Jatah saya dalam mengajar dan kegiatan ekstra pun masih sangat terbatas. Bagaimana kita bersanding bersama pada tahun-tahun itu? Kemudian, sepanjang tahun 1998 saya pulang-pergi Kupang-Bandung untuk mengikuti Program Magister di Universitas Padjadjaran hingga tahun 2002. Tahun 2002 kembali ke Kupang, dan tahun 2003 kembali ke Bandung melanjutkan studi program doktor hingga sekarang.
Toh, kalau dengan sekian kegiatan di FKIP Undana itu lantas Netti merasa lebih superior dari saya. Silahkan Anda bersolek dengan kehebatan itu. Tetapi, jangan gunakan kehebatan itu untuk mengolok orang lain seakan Anda lebih berkelas. Kalaupun saya pernah bersanding dengan Bill Derck pengamat sastra Indonesia asal Leiden dan beberapa dari Australia, dari Brunai Darussalam dan Uni Soviet sebagai pembicara dalam seminar Internasional Sastra Lisan Nusantara di Depok UI tahun 1996, itu tidak perlu Anda tahu. Kalau orang biasa seperti saya ini ditunjuk sebagai pengamat dalam Festival Teater Nasional di STSI Bandung juga pada tahun 1996, itu tidak perlu Anda tahu. Saya hanya bersyukur kepada Tuhan bahwa saya ini diundang dalam rangka setengah abad Antropologi UI di Depok untuk membawa makalah di depan sejumlah punggawa antropolog UI Desember 2007. Terus terang, saya malah merasa tak punya apa-apa kalau menyebutkan hal-hal yang gituan. Sebab, banyak orang yang lebih hebat. Bahkan beberapa mantan mahasiswa saya kini jauh lebih hebat dari saya. Saya sangat bangga dengan mereka. Tetapi yang lebih hebat dari mereka karena mereka tidak pernah merasa hebat.
Kedua, siapa sih Anda buat saya? Anda tidak perlu tahu apa yang saya lakukan untuk FKIP dan Undana umumnya selama periode itu. Kalau Rektor Undana Prof. Agus Benu dan sejumlah pejabat NTT pernah suntukan menonton Opera Cermin Surga di GOR Oepoi Kupang dalam rangka Natal bersama Undana Desember 1997 setelah sukses dalam acara yang sama di FKIP Undana yang saya garap dan pentaskan, itu tidak perlu saya laporkan kepada Anda. Gubernur NTT, Herman Musakabe dan Wagub Piet A.Tallo, Gerson Poyk dan sejumlah pejabat NTT suntukan menonton Angin Kebebasan yang saya pentaskan atas permintaan panitia Dewan Kesenian Kupang pada pertengahan tahun 1998 sebelum saya berangkat ke Bandung, dan itu tidak perlu saya bersanding dengan Anda.
Padahal, saya sudah menyarankan Anda untuk berpolemik di luar lokus profesi dan privasi seseorang. Dan hindari cara berpikir generatif yang merendahkan mutu dalam polemik seperti ini. Sedangkan tanggung jawab sosial seorang penulis terletak pada mutu argumentasi, bukan pada perihal merendahkan profesi dan privasi seseorang. Mari kita berpolemik secara etis, attackting everybody, agonizing nobody, kata Ignas Kleden dalam buku 'Indonesia Sebagai Utopia' (2001:160).

Tentang Fantasi
Kembali ke substansi. Netti menanggapi tulisan saya dimulai dengan kesimpulan bahwa apa yang saya tulis tentang fantasi mendukung argumentasi atau pernyataannya. Tetapi aneh, pada detil-detil penjelasannya malah menolak seluruh argumentasi saya. Netti tidak sadar bahwa ia menafikan argumentasinya sendiri. Saya pun maklum, kala seseorang sedang emosi, maka cenderung sulit mengontrol hulu-hilir argumentasinya.
Saya menandaskan bahwa fantasi sebagai metabolisme pikiran, merupakan proses mental paling inti dan paling kreatif dalam pikiran manusia, dan fantasi adalah khas manusia. Manusia hidup dalam lingkungan fantasi, dan setiap manusia mampu berfantasi baik tingkat fantasi rendah (low fantasy) maupun fantasi tinggi (high fantasy). Pada point terakhir di atas, di mana perbedaan tingkat fantasi seseorang lebih banyak ditentukan oleh susunan kimiawi pada otak manusia. Karena itu, pada kasus tertentu, derajat fantasi seseorang dapat diubah dengan mengubah susunan kimiawi otaknya misalnya melalui obat-obat tertentu, atau menggunakan aliran listrik pada bagian tertentu pada otak manusia.
Kemampuan manusia berfantasi yang membedakannya dengan binatang. Untuk menegaskan hal itu saya mencotohkan kasus herder, anjing kesayangan Anda diajari cara tertentu untuk merespon. Katakan, setiap kali hendak memberikan makan kepadanya Anda akan mengeluarkan bunyi: 'ooo.... h', lalu di susul dengan menyodorkan piring yang berisikan makanan. Herder pun datang mendekati Anda. Kemudian ia melahap makanan yang Anda berikan. Setiap kali bunyi 'ooo... h', maka herder selalu memberikan respon yang sama. Perilaku anjing itu adalah bentuk respon dari stimulus kata 'ooo....h' yang selalu disertai dengan tindakan memberikan makanan kepadanya.
Contoh ini saya ajukan untuk menegaskan bahwa manusia berfantasi dan binatang tidak. Kemudian ditegaskan pula oleh sosiolog Kenneth Burke penganjur teori Draturgi yang membedakan tindakan manusia dan binatang. Menurut Burke, manusia beraksi, sedangkan binatang bergerak. Beraksi berarti melibatkan fantasi, sengaja dan mempunyai maksud. Sedangkan gerakan bisa juga bermakna, bisa juga tidak, dan seringkali tidak bertujuan. Berfantasi adalah proses mental yang sengaja, kreatif, bertujuan dan bermakna.
Tetapi Netti menanggapinya secara salah. Pengajuan contoh tentang cara herder (anjing) merespon tidak berpretensi menanyakan, apakah Netti sudah membaca penelitian Pavlov, dan kapan Anda membaca penelitian Pavlov? Contoh herder dibutuhkan untuk menjelaskan bahwa fantasi memang khas manusia. Saya ingin menegaskan bahwa fantasi atau dalam rumusan kata kerja 'berfantasi' adalah salah satu keunikan manusia sebagai makhluk berpikir. Fantasi sebagai energi kreativitas, sebagai salah satu bentuk pikir dalam diri manusia. Akan tetapi, fantasi mempunyai unsur ketidakmasuakalan. Itulah pula sebabnya, sering fantasi disorot sebagai bentuk deviasi dari pikiran rasional. Si tukang madu yang malas ingin menjadi kaya sebagaimana dicontohkan Maria Matildis Banda adalah sebuah fantasi. Disebut fantasi oleh karena ada unsur ketidakmasukakalan. Bagaimana si tukang madu, 'malas' lagi menjadi orang kaya?
Meski fantasi si tukang madu pemalas ingin menjadi kaya dianggap tidak berguna, sia-sia dan percuma, tetapi fantasi itu lahir dari pergumulan pikiran kreatif, proses mental yang sangat intens, dibentuk melalui kesadaran yang mendalam dan kepekaan atas realitas. Fantasi tentang si tukang madu yang malas ingin menjadi kaya setidaknya memberikan afirmasi kepada kita bahwa menjadi kaya tidak bisa dengan bermalasan. Karena itu, saya mengajukan sejumlah contoh, terutama dalam bentuk karya sastara sebuah medan garapan yang banyak menggunakan fantasi. Selain untuk meluaskan horison tentang konsep fantasi (bukan teori fantasi), tetapi juga untuk mengetahui peran dan manfaat fantasi, sekaligus memperlihatkan bagaimana kekuatan fantasi memberikan energi esensial terhadap pikiran kreatif manusia.
Saya mengajukan beberapa contoh fantasi baik dalam kisah makhluk Poti Wolo yang difantasikan sebagai makhluk berkaki kuda berwajah monster, berbuluh lebat-hitam adalah makhluk yang hanya ada dalam fantasi orang Manggarai sebagai makhluk yang berurusan dengan mencabut nyawa manusia secara acak. Dalam kenyataannya makhluk Poti Wolo itu tak ada. Tetapi, fantasi makhluk Poti Wolo sangat berpengaruh terhadap kepercayaan orang Manggarai sehingga pada jam tertentu tidak boleh keluar rumah karena makhluk itu akan lewat. Ini sebuah fantasi yang dikonstruksi oleh pikiran kreatif nenek moyang orang Manggarai. Demikian pula kisah Batu Badaon di Larantuka (Flores Timur). Selain itu, saya senagaja tampilkan peran dan kegunaan fantasi dalam satra tertulis, seperti kisah Ramayana, Mahabrata, kisah Seribu Satu Malam, juga dalam film seperti film The Lord of the Rings yang disutradarai oleh Peter Jackson mencapai rating tertinggi di dunia. Kisah film itu bersumber dari buku-buku Harry Potter karya JK Rowling dan menjadi wanita terkaya dunia karena fantasinya itu.
Lagi-lagi Netti membantah dengan mengatakan bahwa contoh yang saya ajukan tidak ada sangkut pautnya. Sebab, yang diperdebatkan menurut Netti adalah fantasi yang diteruskan dalam pikiran. Lagi-lagi Netti bingung. Bukankah berfantasi adalah juga kegiatan mental atau proses berpikir itu sendiri? Netti tidak mampu mensangkutpautkan konteks perdebatan dengan sejumlah contoh yang saya ajukan. Bagaimana Anda mengetahui manfaat dan peran fantasi jika tidak diperlihatkan dengan contoh. Ataukah Anda mampu melihat proses fantasi dalam pikiran seseorang. Dan fantasi hanya dapat didekontruksi oleh penikmat apabila dia telah berwujud biak dalam bentuk hasil karya sastra, film, lukisan, musik, atau bentuk karya lainnya.
Pada bagian lain, lagi-lagi dengan arogan Netti mengatakan: "Tetapi dengan ini saya ingin memberitahukan kepada Robot bahwa sumber (referensi) yang paling tepat untuk menjelaskan "genre" (aliran/gaya sastra) yang Robot kutip dari Eksiklopedi Wikipedia itu ada di dalam Chambers Twentieth Century Dictonary. Dalam Chambers Terntieth Century Dictonary (London 1972:473) disebutkan bahwa fantasia: a story, film, etc, not based ond realistic characters or setting (fantasi: suatu cerita, film dan lain-lain yang tidak didasarkan pada karakter-karakter atau setting yang realistis atau menurut keadaan yang sesungguhnya)". Maaf Netti, mau tanya. Tulisan yang benar antara kata based dan realistic on atau and? Ya, salah ketik itu lumrah, tetapi jangan menggunakan kesalahan itu untuk merendahkan orang. Sebelum saya lanjutkan. Maaf Netti, sekadar tanya: tulisan yang benar Twentieth atau Terntieth? Ya, kesalahan ketik itu lumrah. Tapi tak usah dieksploitir untuk merendahkan orang lain. Kata orang Jawa, 'boro-boro' mengoreksi orang lain, padahal kesalahan sendiri lebih banyak.
Berkuranglah kebiasaan berlagak hebat lantas mengatakan bahwa definisi fantasi dalam kamus lebih tepat daripada ensiklopedi. Bukankah justru sebaliknya? Sengaja saya mengambil pengertian fantasi dari ensiklopedi, karena yang dijelaskan dalam ensiklopedi lebih khusus dan yang didefinisikan adalah sebuah konsep atau sebuah konstruk. Sebuah konsep dan konstruk digunakan sebagai bangunan dasar sebuah teori. Fantasi diperluas dalam berbagai ranah, disertai tokoh penganjurnya, ciri sejarah dan contoh dalam berbagai lokus. Tentu saja, saya tidak bisa memuat dalam kolom pendek seperti ini. Sedangkan arti kamus lazimnya menitikberatkan pada defini nominal dan pencarian sinonim terhadapnya. James Ablack dan Dean J Champion (1992:58) mengatakan: "Definisi nominal adalah definisi yang seringkali ditemukan dalam kamus. Berbagai istilah yang didefinisikan secara nominal seringkali merupakan pernyataan atau kata-kata lain yang sinonim dengan istilah itu. Hal ini menyebabkan pengulangan istilah, sehingga mengganggu, sebab istilah tersebut jarang didefinisikan dalam bentuk yang utuh (uniform fashion) mengenai sesuatu hal atau sesuatu makna tertentu". Karena itu, dalam tulisan ilmiah (khusus), orang cenderung menganjurkan agar menggunakan ensiklopedi daripada kamus.
Pada ujung artikelnya Netti menganjurkan agar saya berargumen dengan metode berpikir secara dialektika ala Hegel. Saya pikir Netti dalam keadaan tersesat mengarungi dialektika Hegel. Hegel justru menekankan dialektika yang mendialogkan dua ujung spektrum yang berbeda. Hegel menekankan bahwa 'negativitas hendaknya dipandang secara positif jika kita mau memahami rasionalitas realitas. Pemikiran Hegel sebagai ajakan untuk memperdamaikan kita dengan segala-galanya. Dan yang masuk akal dan nyata bagi Hegel justru dalam kontradiksi realitas yang tidak masuk akal' (Magnis Suseno, 2005).
Jangan pula Anda bayangkan bahwa cara berpikir hermeneutis begitu sengit dan rumit sehingga Anda menganjurkan kepada saya berpikir 'stick to the point' dalam membahas fantasi ini. Cara berpikir hermeneutis juga sederhana. Haluan utama hermeneutika pada kerja pikir menginterpretasi, memahami dan merefleksikan. Sekali lagi saya menyarankan kepada Anda, hindarilah cara berpikir 'stick to the point'. Itu hanya berlaku bagi orang yang sudah kekurangan stok argumen sehingga yang muncul justeru lahar emosi yang menggenang kolom opini Pos Kupang yang bergengsi ini. Atau karena Anda penganut Hegel secara sesat menjadikan pikiran sebagai instrumen untuk memaksa argumentasi Anda sebagai kebenaran tunggal? Dan inilah salah satu bentuk kecelakaan dalam berpikir ilmiah. * Pos Kupang, Senin 21 April 2008, halaman 14.

Catatan Redaksi :
Polemik tentang tulisan Maria Matildis Banda dalam buku '15 Tahun Pos Kupang' telah keluar dari koridor, jauh dari substansi dan argumentasi yang dibangun cenderung menyerang pribadi. Redaksi sesungguhnya mengharapkan sebuah polemik yang bergengsi, berkelas dengan bangunan argumentasi yang jernih, cerdas, dan kokoh menuju penyempurnaan gagasan tentang fantasi yang menjadi inti masalahnya. Karena harapan itu melenceng jauh dan polemik cenderung menyerang pribadi, maka dengan ini redaksi menghentikan dan tidak melayani lagi tulisan tentang fantasi. Redaksi mengucapkan banyak terima kasih kepada semua mereka yang terlibat dalam polemik ini. Terima kasih.

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda