Oleh Rosalia Raesita Rabu

Perempuan ini menyimpan banyak kepahitan di dalam hatinya. Terlahir sebagai anak pertama dari empat bersaudara, menjadikan perempuan ini kuat memikul semua beban yang dipercayakan Papi dan Maminya, agar adik-adiknya bisa bersekolah hingga urusan menikahkan adik-adiknya. Nama perempuan ini Josephin. Umurnya sudah berkepala tiga.

"Adikku akan menikah minggu depan. Satu lagi tugas berat menanti", ujar Josephin padaku. Ditariknya nafas dalam-dalam.

Aku memandangnya, tak mengerti dengan ucapannya. "Memangnya tugas berat apa, Kak?"
"Biasalah, utang sana sini untuk keperluan pesta", jawab Josephin.

"Aku harus menyiapkan banyak hal dari urusan adat, gaun pengantin, make-up, gedung resepsi, acara, hingga menu pestanya," kata Josephin. Terbayang rumitnya mengurusi itu semua. Aku menganggukkan kepala membenarkan alasannya menyebut pesta ini sebagai suatu tugas berat.
"Kalau butuh bantuan, hubungi saja aku", kataku sambil tersenyum. Josephin memandangku dan tertawa.


Berbicara tentang Josephin seakan tak ada habisnya. Josephin merupakan pegawai senior di kantor kami. Pertama kali berkenalan dengannya membuatku berpikir hidupnya nyaris sempurna. Wajahnya yang manis, dengan pekerjaan bagus sebagai acoounting di kantor kami, membuat Josephin tidak hanya beruntung dalam karirnya.

Seorang anak laki-laki tampan yang berumur 3 tahun dengan kulit putih bersih dan bulu mata lentik membuat semua terkagum-kagum begitu memandang Gerald, anak semata wayangnya itu. Dan tentang suaminya? Begitu sempurna. Reynold nama lelaki itu, bertubuh atletis dengan postur tubuh tinggi dan wajah tampan. Keluarga yang sempurna.

Namun bannyak hal yang tidak kuketahui tentang keluarga Josephin. Dari isu yang berhembus, ternyata perempuan mungil ini sering mendapat perlakuan kasar dari suaminya. Dia menyimpan rapat-rapat hal ini dari aku. Namun tanteku yang kebetulan bertetangga dengannya sering bercerita tentang ini. Hingga di suatu siang, aku terkejut ketika melihatnya baru tiba di kantor hampir pukul 12 siang. Namun bukan waktu terlambat masuk kantor yang membuatku terperangah, tapi pada wajahnya. Tepatnya pada lebam di wajahnya.


"Kak, ada apa Kak?" aku mulai bertanya ketika Josephin menangis tersedu-sedu di meja kerjanya. Dia menatapku dan kembali menangis. Aku membiarkannya menangis.

"Ada apa Kak?" tanyaku lagi.

"Semalam Reynold memukulku. Dia bahkan hampir membunuhku".



Aku terkejut. Bayangan tentang sebuah keluarga sempurna kontan runtuh dari pandanganku. Keduanya semalam bertengkar hebat. Rupanya sang suami takut Josephin yang menjadi event organizer akan bertemu dengan mantan pacarnya yang kebetulan juga diundang ke pesta itu. Josephin awalnya tak pernah menyangka hal ini terjadi.

Kupandangi sekujur tubuh Josephin. Bola mata kanannya berwarna merah darah. Kaki kanannya penuh dengan bekas lebam berwarna hitam kebiru-biruan. Aku terperangah ketika dia menggulung lengan kanan bajunya dan menunjukkan sesuatu padaku. Sebuah luka memar menganga.

Dari cerita Josephin aku jadi tahu penyebab luka dan memar di sekujur tubuhnya itu. Beberapa hari yang lalu suaminya mendapat kabar bahwa David, mantan pacar Josephin juga diundang ke pesta itu. David merupakan teman kerja adik Josephin.. Namun Reynold beranggapan lain. Dia curiga Josephin sengaja mengundang David untuk bisa bertemu lagi dengan mantan pacarnya itu. Semalam hal itu ditanyakan pada Josephin. Josephin tersenyum dan menjelaskan pada Reynold bahwa David memang diundang tapi oleh adik Josephin, bukan oleh dirinya.

Ah, ternyata hal ini membuat Reynold naik pitam. Kaki kanannya secepat kilat menendang perut perempuan ini hingga terjatuh. Dengan segera telapak kakinya menginjak lengan kanan Josephin berulang kali. Josephin bereteriak keras menahan sakit. Di saat itu, ibunda Reynold yang rumahnya bersebelahan dengan mereka mendatangi Josephin. Melihat menantunya diperlakukan seperti itu, orang tua itu mencoba menarik anaknya menjauhi Josephin.

Reynold tak menghiraukan ibunya. Dia berlari ke arah dapur dan mengambil sebilah pisau dapur. Baru saja pisau itu akan diayunkan ke tubuh Josephin, tiba-tiba pisau itu terlepas dari gagangnya. Mungkin ini campur tangan Tuhan, yang tak ingin agar kisah hidup Josephin berakhir seperti ini. Namun Reynold semakin kesetanan. Tangan kanannya yang kuat itu dikepalkan dan dihantamkan pada bola mata kanan isterinya.

Di saat itu tetangga mulai berdatangan. Josephin dilarikan ke rumah sakit sedangkan Reynold diamankan di rumah tetangganya. Gerald yang melihat perkelahian orang tuanya itu menangis sekuat-kuatnya. Semuanya menjadi mimpi buruk bagi Josephin, dan tentunya juga bagi Gerald.

Aku terdiam memandangi Josephin. Kuingat benar beberapa hari lalu aku dan dia telah membeli sebuah gaun cantik berwarna biru berlengan pendek untuk dikenakan Josephin pada pernikahan adiknya. Namun melihat Josephin dengan kondisi sepert ini membuatnya nyaris cacat dengan gaun barunya. Aku memandangnya lagi.

Tak kuasa kubayangkan tubuh mungil isterinya ini dihantam dengan kekuatan penuh lelaki atletis yang setiap hari kerjannya hanya fitness. Tapi tunggu dulu.Tiba-tiba aku teringat satu hal.

"Kak Reynold bekerja dimana Kak? Kita laporkan masalah ini pada atasannya", kataku.

"Dia pengangguran", jawab Josephin sambil tertunduk.


Aku terdiam. Pantas saja. Kekerasan dipakai sebagai senjata untuk menaklukkan isterinya, membuat perempuan ini tidak berdaya. Rasa cemburu yang berlebihan membuat Reynold tak segan-segan memperlakukan isterinya dengan kejam. Laki-laki yang tidak bekerja seringkali merasa takut dikuasai oleh isterinya yang bekerja sehingga kekerasan dianggap cara lumrah untuk menekan sang isteri.

"Aku tak pernah peduli jika dia tak punya pekerjaan tetap. Apapun pekerjannya aku selalu menghormatinya. Walau sekarang dia pengangguran toh aku selalu menghargainya sebagai seorang suami. Namun dia sama sekali tak pernah menyadari hal ini. Penampilannya juga tak mau kalah dengan laki-laki lain yang punya pekerjaan. Pakaian, sepatu, perhiasan hingga suplemen termahal selalu aku berikan padanya. Aku mencintainya tapi tak pernah jadi isteri yang baik di matanya", Josephin menangis lagi.

"Mama, mama....", tanpa kami sadari, Gerald, anak Josephin sudah berada didekat kami. Rupanya dia diantar pembantu.

"Mama menangis?" tanya Gerald sambil menghapus air mata ibunya dengan tangannya yang mungil. "Kalau Gerald sudah besar, Gerald bunuh Papa nanti. Mama diam yah?" hibur anak kecil itu.

Aku memandanganya. Kekerasan dalam rumah tangga menjadi momok yang menakutkan. Namun di tempat kami orang sering melihatnya sebagai sebuah urusan rumah tangga biasa, sebuah masalah privat yang tidak boleh dicampuri. Tiba-tiba aku teringat sesuatu.

Seminggu kemudian ketika Josephin sedang sibuk dengan urusan pernikahan adiknya, aku pun sedang sibuk dengan sebuah urusan lain. Kisah Josephin menghantarkan aku ke Solidaritas Perempuan Flores atau SPF yang konsen menangani masalah kekerasan terhadap perempuan. Kasus kekerasan dalam rumah tangga merupakan yang tertinggi ditangani oleh lembaga ini. Aku tahu akan ada berita baik buat Josephin.

"Bagaimana, sukses dengan acara pernikahan?" tanyaku pada Josephin suatu hari.
"Syukurlah, semuanya lancar", kulihat senyum mengembang pada wajahnya. Matanya masih menyisakan nanar yang belum sembuh benar.

"Kak, mau tidak jadi relawan di SPF?" tanyaku.

"SPF?" kening Josephin menyimpan tanya.

"SPF itu Solidaritas Perempuan Flores. Lembaga ini memperjuangakan hak-hak perempuan dan anak khususnya dalam kasus kekerasan terhadap perempuan. Letaknya langsung bersebelahan dengan rumah Kakak", kataku.



Josephin terdiam.
"Bilang sama Kak Reynold. Sekali lagi dia memukul Kakak seperti tempo hari kami akan menghadapi dia", kataku sambil tersenyum.

Kini Josephin tak pernah mengeluhkan lagi perbuatan kasar suaminya. Rupanya kehadiran SPF yang berada tepat disebelah rumahnya merupakan momok yang menakutkan buat Reynold. Namun sebaliknya bagi Josephin dan aku sendiri, SPF mengajarkan kami bahwa kekerasan terhadap perempuan bukan suatu bentuk pengajaran bagi perempuan. Karena cinta tidak membutuhkan kekerasan sebagai pelajaran bukan?*

Sumber http://ww1.indosiar.com/v7/lomba-cermin/read.htm?id=16
Lanjut...

Kehidupan

Cerpen Benya Jegaut

BUNYI weker menyadarkan Ann dari tidur. Kali ini Ann yang bersegera mengangkat tubuh lalu mematikan weker yang terletak di samping bantal mamanya. "Sepertinya weker jatuh lagi tadi malam", gumamnya. Ann kemudian beranjak menuju tempat diletakkannya patung Bunda Maria. Dia menyalakan lilin yang berada di depan patung. Patung itu berada tepat di samping kanan tempat tidur mereka. Di pojok. Cukup tinggi dari tempat tidur mereka. Setelah itu Ann menunggu mamanya untuk berdoa. Ann duduk di tempat tidur. Kedua kakinya ke belakang dijadikan alas untuk duduk. Sesekali direntangnya lurus ke depan. Kadang juga dia mencenguk. Matanya ke arah cahaya lilin.

Aku melihat lilin itu cepat meleleh. Lain daripada biasanya. Api itu rasanya begitu panas. Dan sepertinya seluruh kalori yang dihasilkan tubuhku menyatu pada mata-mataku. Kemudian kedua mataku membawa kalori itu menuju api lilin itu. Apalagi kalau papa ada di sini dan sama-sama memandang lilin ini. Pasti lilin ini dalam sekejap saja habis oleh kalorinya sendiri, aku dan papa. Biar nenek cukup hanya memandang dari jauh dari hadirat Sang Khalik. Biar orang-orang hidup saja yang melakukan hal ini. Lalu bagaimana dengan Kakak Riki dan mama? Kalau kakak dan mama ikut, lilin ini tidak cocok. Maunya pakai lilin yang lebih besar. Atau biar mereka tunggu giliran berikutnya dengan lilin yang baru. He...em....
Ann tersadar dari khayalnya.

Mama belum juga bangun. Aku sebaiknya berdoa sendiri. Aku pun berdoa dengan menyampaikan ujud yang selalu aku-keluarga sampaikan setiapkali berdoa. Ujudnya: mohon penyertaan Tuhan dan doa-doa Bunda Maria dalam karya papa agar ia berhasil, tetap sehat dan bisa kembali. Sebelum beranjak dari tempat tidur Ann bingung. Kenapa mamanya belum juga bangun? Biasanya mama yang lebih dulu sadar lalu menepuk-nepuk lenganku dengan lembut. Aku bisa saja membangunkan mama tapi aku tidak mau mengganggu tidurnya. Barangkali mama sangat lelah. Atau mungkin mama sakit? Dalam ketakpastian itu ia bergegas ke dapur untuk memasak air sesuai kebiasaan keluarganya.

Ann seorang gadis kecil yang ditinggalkan oleh papanya belasan tahun lalu. Kata mamanya, papa pergi mencari nafkah di negeri seberang. Jauh. Ann mengenal wajah papa lewat foto yang tergantung pada dinding ruang tamu.

Aku selalu mengelus-elus wajah papa dalam foto itu. Seingatku, aku pernah membuat sebuah karangan, tugas dari guru Bahasa dan Sastra Indonesia. Aku mendeskripsikan papa menurut apa yang diceritakan foto itu. Baju kaus berkerah yang bersih dan apik. Rambutnya yang agak keriting. Alis mata yang lebat. Hidungnya mancung dengan dagu sedikit ditumbuhi jenggot. Selain itu aku melihat dalam foto itu sinar mata papa yang tak pernah redup. Matanya putih, bersih dan terang. Aku sungguh-sungguh mendeskripsikan kekhasan papaku. Aku lebih banyak membahasakan sinar matanya yang tak pernah kabur oleh usia dan debu yang melekat pada foto itu dengan bahasa yang sungguh hidup. Aku mendapat nilai dengan predikat sangat baik. Aku juga tahu banyak tentang papa dari Kakakku Riki. Dia berusia lima tahun di atasku. Tapi kadang aku tidak mempercayainya karena dia pernah bercerita bahwa papa hebat. Pemberani, hampir sama seperti yang aku tonton dalam sinetron-sinetron. Setelah aku tanya kepada mama, itu tidak benar. Lalu yang benarnya mana? Apakah semua yang diceritakan Kakak Riki salah?

Mama biasanya tidak langsung menjawab pertanyaanku. Beberapa hari kemudian baru dia menjelaskannya. Sementara asyik menuangkan air ke dalam termos, Ann mendengar suara mamanya. Ann.... Ya, ma! Balas Ann sembari berjalan cepat ke bilik. "Mama sakit?" "Tidak, mama baik-baik saja. Atau mama memikirkan Kakak Riki? Ma, kakak masih ada. Dia belum bangun. Saya sangat yakin dia sungguh mencintai kita."
* * *

Ma, pagi ini Ann mesti cepat ke sekolah. Kami ada apel bendera. Selama di perjalanan ia terus berpikir dan tanya tentang situasi rumahnya. Pertanyaan terus muncul meski dia sudah duduk di dalam kelas. Aku tidak tahu apa yang mama kerjakan di rumah sekarang. Apa mama melanjutkan pekerjaannya yang sudah dimulai minggu lalu? Aku tahu mama pasti sangat capek karena sendirian mengurus sawah. Kami sudah ketinggalan dari para tetangga dan warga kampung lain. Tenaga mama tidak sebanding dengan mereka yang mampu mengupahi orang lain. Di kampung kami upah untuk satu orang yang bekerja sehari penuh Rp10.000,-.

Demikian kalau lebih dari satu orang. Pasti uang yang dikeluarkan lebih besar. Mama memang masuk anggota Campe Tau (=saling bantu). Ini kelompok kecil yang anggotanya tidak lebih dari sepuluh orang. Anggota kelompok ini akan bekerja di sawah/kebun anggotanya secara bergilir tanpa upah. Ini semacan arisan tenaga.

Aku juga ingat Kakak Riki. Akhir-akhir ini kakak menjadi bahan cerita aku dan mama. Aku yakin orang-orang sekampung juga. Dia tidak seperti dulu. Kakak jarang di rumah. Dan kalaupun ada di rumah dia lebih banyak diam. Kakak sering berbicara ketika sedang tidur. Dia berbicara dengan teman-temannya. Dalam pembicaraannya kakak sering menyebut nama sebuah negeri yang jauh. Setelah itu dia diam sampai akhirnya bangun. Aku masih ingat sikap kakak dulu. Dia baik dan kehadirannya dalam kebersamaan kami selalu menyenangkan. Dulu dia memanggilku dengan Enu (nona), panggilan kesayangan di daerah kami. Saat itu aku sungguh merasakan kasih sayang papa lewat kembarnya, Kakak Riki. Kakak punya sinar mata yang sangat mirip dengan sinar mata papa dalam foto yang tergantung pada dinding ruang tamu.
* * *

"Ma, kenapa mama menangis?" tanya Ann. Ann, apa benar tadi pagi kamu melihat Riki tidur di sini?" "Iya ma," jawab Ann kecil. "Ann ini surat Kakak Riki. Ann mengulurkan tangannya dan menerima surat itu dari mamanya. Isinya singkat: Mama dan Adik Ann yang sangat Riki cintai. Selama ini aku bergulat cukup lama. Apakah aku pergi atau tidak ke Malaysia bersama teman-temanku. Mereka teman-teman sepermainan Riki. Pada akhir pergulatanku aku memutuskan untuk pergi ke sana. Pertama sekali, tujuanku bukan untuk mencari nafkah, tapi mau mencari kabar yang pasti tentang keberadaan papa. Aku janji, aku akan cepat pulang. "Apakah aku dan mama meminta kakak untuk mencari papa? Apakah kakak sudah mendapatkan surat dari pemerintah dan berstatus orang Indon yang legal? Tadi pagi aku lihat siapa? Apakah itu jiwanya kakak? Tuhan, bersama Bunda-Mu kami berdoa lindungilah dan pertemukanlah kakak dengan papa agar suatu saat mereka bisa kembali dan berkumpul bersama aku dan mama di rumah ini. Amin."

Benyamin Jegaut, Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret
Maumere, Flores.

Pos Kupang Minggu, 25 Mei 2008 halaman 6
Lanjut...

Puisi-Puisi Waty F

Harapan

Awan semakin gelap
Pertanda akan segera turun hujan
Dengan tegar kubertahan dalam keletihanku
Sang bayu berhembus memberi sedikit kesegaran
Dalam panasnya suasana

Sementara dalam kebingungan
Ku berada di antara sekelompok pejuang hari esok
Senyum
Canda
Tawa....dan

Gerah
Terlintas di wajah-wajah yang penuh harapan
Di atas hamparan karang yang menikam
Kaki-kaki telanjang mengayunkan langkah kaki pasti
Berusaha tetap tegap menapaki liku-liku kehidupan
Walau hidup dihiasi berjuta tantangan
Namu jiwa-jiwa tetap tegar
Menghadapinya....

Rumah Poetica 2007


Penantian

Memikirkan hadir dalam hidup ku bahagia
Membayangkanmu membuat ku tentram
Merindukanmu adalah kehendak hatiku yang tak pernah berakhir
Kuingin rebahkan kepalaku dalam pangkuanmu dan
Mendengarkan senandung cintamu

Kau telah hadir dalam hidupku
Bayanganmu selalu mengisi hari-hariku yang sepi
Walaupun semua itu bagaikan mimpi
Mimpi yang entah kapan 'kau berakhir!!!

Aku merindukan kehadiranmu
Ku ingin menatap wajahmu secara utuh,
Merasahkan belaiannya kasih sayangmu... dan.....
Melewati hari-hari ku bersamamu.... tapi ....

Sampai kapan aku harus menunggu?
Seandainya cinta telah menguasai hatiku..
Sampai kapan rindu ini terobati?
Kalau malam-malamku belum juga berakhir ....
Hanya satu yang ku pinta .....
Semoga Tuhan menjadikan cintaku abadi!

Rumah Poetica, 2007

Pos Kupang Minggu 25 Mei 2008, halaman 6
Lanjut...

Sopir Bemo

Oleh Maria Matildis Banda

PANAS terik begini, antri bensin begini, enaknya buat apa ya? Mau sedot es sirup yang dijual di pinggir jalan depan SPBU, leher tidak terima es karena sudah satu minggu antero terserang batuk pilek. Mau narek rokok, dada sudah enam bulan sakit. Bahkan hasil rontgen ada flek hitam di dada kiri. Mau pulang rumah sudah tidak mungkin lagi karena terjepit di antara antrian depan belakang kiri dan kanan. Lagi pula, kalau pulang tanpa bensin, sudah pasti kena caci maki dari bos. Duh, nasib, nasib...
***
Makanya ketika temannya tanya mau pilih siapa 14 Juni nanti? Dia enggan menjawab. Sebenarnya bukan enggan tetapi tidak tahu pasti mau pilih yang mana karena dalam obrolan sesama supir, tidak ada kata pasti untuk satu paket yang mereka yakin bisa meningkatkan kesejahteraan para supir bemo. Pada hal para calon punya visi misi hebat, tidak hanya untuk NTT. Itu visi misi kalau dipakai untuk bangun Indonesia bahkan bangun dunia, pasti jamin akan sejahtera lahir batin. Rupanya Rara dan Jaki supir angkot ini, dengan kesederhanaannya mengerti bahwa kata-kata sering kali hanya wacana, hanya lipstik, hanya penghias permukaan wajah, yang akan terhapus oleh tetesan keringat.

Bisa apa para calon dengan kenaikan BBM?” Rara bicara sambil terbatuk- batuk menahan rasa sakit di dada. Bisa apa mereka dengan antrian begini panjang. Stok BBM menipis dan lenyap tiba-tiba. Pedagang eceran seenaknya jual dengan sepuluh ribu rupiah satu liter. Para toke menumpuk solar bertangki-tangki, menunggu saat yang tepat untuk raup keuntungan besar dengan modal kecil. Bisa apa mereka dengan beras naik harga, gula naik harga, kangkung naik harga, ikan teri naik harga, dan tempe tahu naik harga dengan alasan BBM naik pada hal BBM belum naik? Bisa apa?”

***

Memang tidak bisa apa-apa! BBM naik itu kebijakan pemerintah pusat dengan pertimbangan macam-macam. Pemerintah daerah tinggal akui saja. Biar mahasiswa mau demo sampai gergantang putus, biar para bos yang duduk di kursi kuasa bilang suara rakyat akan dilanjutkan ke pusat. Biar janji macam-macam, tetap janji tinggal janji, hanya wacana saaaa...” Jaki menyambung.

Apalagi mau turunkan harga beras, kangkung, dan tahu tempe? Mimpi kali yeee. Pedagang lebih pintar berkelit dengan alasan-alasan enteng. Sementara para bos hanya pintar bicara dan buat janji tanpa bukti. Pintar sekali rancang kata-kata dan lempar ke publik,” Rara menarik nafas panjang.
Coba kalau lu yang jadi cagub pasti laen ceritanya,” kata Jaki.

Jangan omong begitu teman. Saya tahu diri bukan siapa-siapa. Jangan menghina begitu ko! Saya sudah susah, penyakitan lagi! Panas terik begini jangan pancing emosi. Bisa bahaya!”

Bagaimana kalau cagup dan cawagub antri bensin seperti kita? Capek, panas, gerah, batuk, haus, sakit pikiran, sakit perasaan, gerah, malas, kesal, dan tidak karu-karuan seperti kita?”
***

Nah, itu dia! Cagub antri bensin!” Teriak Jaki. Ini baru namanya kisah nyata!” Keduanya sama-sama menoleh. Betul! Benza calon gubernur sedang antri bensin sambil tersenyum. Kok bisa ya? Ada apa gerangan sampai mau- maunya Benza antri bensin di antara para supir bemo. Jangan-jangan hanya trik untuk cari simpati, cari suara, cari dukungan. Biasa musim begini semua orang berupaya ramah, murah senyum, tegur sapa sana sini.

Kita mendekat. Berani?” Ajak Jaki. Dia teman kelas kita waktu SD sampai SMP. Cuma ya, nasib berbeda. Dia calon gubernur sementara kita berdua hanya supir angkot. Tetapi sebagai teman pasti dia masih ingat kita bukan? Ayoh, kita tegur sapa!”
Aduh, saya takut! Malu. Kita hanya orang kecil!”
Tetapi dia kita punya teman!”
Tidak!”

Mumpung lagi di pom bensin, tidak ada birokrasi, tidak ada penjaga, sekretaris, anak buah di sekitar beliau. Mari sudah...” Jaki memaksa Rara. Tetapi Rara berkeras tidak mau ikut mendekati cagub yang sangat terkenal itu.

***

Rupanya Benza melihat aksi tarik menarik kedua sahabatnya pada masa kecil dulu. Sahabat pada jaman tidak enak sampai sekarang jaman tidak enak lagi. Sebagai calon gubernur dia memang sengaja turun lapangan pada saat prihatin seperti ini. Merasakan bagaimana harus antri BBM pada saat harga belum naik. Dia tahu diri bahwa dirinya tidak mampu buat apa-apa. Dia tidak punya pengaruh sedikit pun untuk mengubah keadaan.Keputusan memang ada di Jakarta. Sementara dia sendiri hanya orang daerah yang sembilan puluh sembilan persen tergantung pada apa kata orang pusat. APBD tergantung pusat, DAU DAK dari pusat, dana bencana dari pusat, mau makan dari pusat, mau minum tunggu pusat, mau goreng tadah tangan ke pusat, mau bolak balik badan pun tergantung pusat. Jadi pusat mau atur bagaimana, mau perintah apa, mau buat bagaimana tinggal akui saa... Urusan BBM mau omong apa? Benza mau buat janji BBM tidak akan naik dan kalau dia terpilih, pemerintah bisa beri subsidi secukupnya kepada rakyat, hanya gombal. Rakyat pasti tidak percaya dan marah setengah mati, sebab janjinya kelak hanya janji palsu.

Selamat siang, Pak Benza!” Jaki sudah berdiri di sisi jendela mobil Benza.
Siang juga. Kamu Jaki bukan?” Sambut Benza dengan ramah tamah. Mana teman kita Rara? Apa khabar?”
Baik Pak! Bapak antri bensin juga ya Pak?”

***
Jaki jadi salah tingkah saat Benza turun dari mobil dan bergabung bersamanya di antara bemo. Bapak calon gubernur ya?” Tanyanya dengan sangat hati-hati. Bisa bantu tegur SPBU? Biar tidak sembunyi minyak, biar tidak buat kami supir bemo gila antri begini Pak. Tolong Pak! Kami pasti pilih Bapak!” Kata Jaki sambil membungkuk.

Saya akan ke KPU besok siang. Mau batal jadi cagup. Rasanya saya tidak pantas jadi tumpuan harapan kalian semua, khususnya temanku Jaki dan Rara,” kata Benza.

Bapak mimpi apa mimpi Pak!” Rara ikut bergabung. Di dunia ini tidak ada balon alias bakal calon dan calon yang merasa tidak pantas Pak! Semua merasa bisa rebut kursi nomor satu. Yang paling penting bukan BBM Pak! Yang paling penting itu bapak bisa ngomong janji semanis dan seyakin mungkin. Soal nantinya janji hanya tinggal janji, itu urusannya lain!”

Saya bukan tipe pemimpin seperti itu. Saya akan undur diri besok pagi!”
Ini NTT Pak, bukan Propinsi Mengigau!” Rara dan Jaki tidak percaya.
Justru karena ini NTT saya berani putuskan untuk mundur,” jawab Benza. Saya malu menghadapi kalian para supir angkot. Pintar-pintar sekali kalau bicara!”
Orang kita memang tidak ada yang tidak pintar, Pak! Kalau soal bicara!” Kata Rara sambil tertawa-tawa. Kali ini ketiga sahabat masa kecil itu merasa diri sama seperti dulu dan kini dan akan datang. Tidak ada yang tidak pintar bicara... *

Parodi Situasi, Pos Kupang edisi Minggu 25 Mei 2008, halaman 1
Lanjut...

BBM

Oleh Maria Matildis Banda
GARA-gara isu kenaikan harga BBM, pernikahannya batal. Bagaimana tidak? Semua harga keburu naik sebelum BBM benar-benar naik. Bahkan ada yang simpan stok satu gudang menunggu saat yang pas untuk dijual dan mendapat keuntungan besar. Cerita ini membuatnya ambil langkah pasti, batal nikah. Untung segenap anggota keluarga kedua belah pihak bersedia sabar menunggu sampai tiba saat yang tepat untuk mengantarnya naik ranjang pelaminan bersama Nona Mia.

Namun, tidak ada seorang pun yang tahu, bahwa Nona Mia tersinggung gara-gara Jaki membuat pembatalan sepihak. Nona Mia merasa dirinya disamakan dengan BBM. Konon, diam-diam Nona Mia mencari dukun sakti agar pernikahannya tetap berjalan sesuai rencana

***

"Apa? Batal nikah gara-gara BBM?" Rara terbelalang. "Ini berita yang tidak lucu. Kesempatan naik ranjang kok ditolah gara-gara BBM?"
"Apa boleh buat! Terpaksa batal."

"Tunda sampai kapan? Tanya Rara sambil berpikir merencanakan sesuatu.
"Entahlah! Mungkin saya akan menunggu kepastian harga-harga dan merencanakan ulang kembali. Mungkin sebuah pesta sederhana atau entahlah. Lebih baik setelah pilkada Juni nanti. Kamu bagaimana?" Jaki balik bertanya.

"Tancap terus dong!" Sambung Rara. "Bagaimana mungkin saya mesti batalkan pilkada dan pencalonan saya sebagai cagub dan pasangan saya sebagai cawagub hanya gara-gara BBM?" Nanti kalau saya sudah terpilih, baru saya atur sedemikian rupa supaya BBM yang sudah naik tidak jadi naik alias turun kembali".
"Apa kamu yakin?" Jaki kebinguangan. "Bagaimana mungkin BBM yang sudah naik diturunkan lagi? Yang benar saja!"

"Saya janji! Saya akan turunkan harga BBM, saya beri subsidi sebesar mungkin, sehingga masyarakat hanya bayar sekian rupiah saja. Bila perlu gratis BBM. Beres bukan?" Kata Rara dengan bangga. "Makanya pilih saya, jangan pilih Benza! Daripada suaramu terbuang percuma, lebih baik serahkan seluruhnya untuk saya! Urusan BBM itu keciiiil," Rara menjentikkan jarinya. "Rara kok dilawan," demikian rara berdiri sambil membusungkan dada.

***
Semua orang juga tahu, BBM singkatan dari Bahan Bakar Minyak. Sekarang BBM lagi di atas angin. Jadi topik di mana-mana. Pagi siang malam hanya BBM yang dibahas. Maklum, BBM dapat dihubungkan dengan apa dan siapa saja termasuk dengan dukun sakti yang tinggal di ujung jalan itu. Penampilan dukun cukup menyakinkan. Dengan topeng monyet yang selalu menghiasi wajahnya, tidak ada seorang pun yang tahu siapa dia sebenarnya. Justru di sinilah letak kesaktian dukun. Justru karena ini pula sang dukun terkenal di mana-mana. Kecuali satu hal yang tidak diketahui semua pengguna jasanya. Konon, dukun sakti ini dapat mengubah air menjadi BBM. Senang sekali dia karena akan makan untung besar dari profesinya sebagai dukun. Dukun sakti ini bakal kaya mendadak. Bayangkan saja! Air berubah menjadi BBM.

Makanya ketika semua orang stress dengan kenaikan BBM sang dukung tenang-tenang saja. Bahkan topeng poleng hitam putih diubahnya menjadi hitam merah biar lebih menyeramkan. Begitulah!.

"Jadi engkau inginkan pernikahanmu tetap berjalan?" Tanya Dukun kepada Nona Mia. " Ha ha ha hanya gara-gara BBM naik, calon suamimu batalkan?"
"Ya, Pak Dukun! Tolonglah. Saya tidak ingin batal, saya ingin nikah secepatnya!" Nona Mia penuh harap. "Bisakah Pak Dukun menolong saja?"

"Tentu saja," kata Dukun dengan penuh siasat. "Batal saja! Pernikahanmu dengan Jaki. Kamu menikahlah denganku. Saya akan mengubah air menjadi BBM. Kita akan kaya raya. Aku akan mengajakmu berbulan madu di langit biru. Kamu bersedia bukan?" Jurus rayuan Sang Dukun rupanya kena sasaran telak. Nona Mia setuju. "Kamu harus pegang janji," kata Dukun. Nona Mia setuju. "Apapun yang terjadi kami akan tetap menikah denganku," Dukun memastikan. Nona Mia setuju.

***

"BBM naik, Naik kemana?" Tanyannya dengan pura-pura bego. "Biar saja BBM baik turun atau berhenti di tempat, untuk apa dipikir itu urusannya BBM bukan urusan kita," kata lagi. "Urusan kita hanya jalani saja apa yang bakal terjadi. Mau ngomong apa? BBM mau naik saja jadi resah begini!" kata sang Dukun. Topengnya yang poleng-poleng semakin poleng saat dia melihat ke sana kemari sambil tertawa puas meninggalkan Jaki seorang diri.

"BBM naik itu sama artiya dengan beras naik, ikan naik, sayur naik, dan semua kebutuhan pokok naik. Ongkos angkot ikut naik. Bagaimana tidak resah? Penghasilan pas-pasan, tidak bertambah malahan berkurang, mau mencukupi kebutuhan hidup bagaimana? Bagaimana saya bisa menikah?" Jaki meremas kepalanya.
"Sudahlah, nikah bisa diatur kapan-kapan. Yang penting kami tenang menghadapi BBM baik turun," Benza mencoba menghibur hati sahabatnya.

Maka, bertambah keraslah Jaki meremas kepalanya sendiri, karena Nona Mia lari dari dirinya dan akan menikah dengan dukun terkenal. Jaki bertambah pusing tujuh keliling. Dia memohon bantuan Benza, namn kali ini Benza terlambat sebab Nona Mia sudah berada di dalam pelukan dukun, sebelum saatnya tiba. Dengan terpaksa Benza dan Jaki menghadiri pernikahan Nona Mia.

"Rara tidak mau bergabung denganmu," kata Jaki dengan sedih. "Katanya kamu saingannya dalam pilgub-wagub. Jadi dia tidak mudah melihat wajahmu. Tahukah kamu Benza? Gara-gara BBM saya kehilangan Nona Mia, gara-gara calon gub-wagub kita kehilangan Rara..." Jaki dan Benza memperhatikan pengantin wanita yang cantik jelita dan pengantin laki-laki yang sekejap pun tidak melepas topengnya. "Semua ini gara-gara BBM!" Jaki merasa hatinya tertikam.

***

"Bukalah topengmu," kata Nona Mia sesaat setelah upacara pernikahan selesai. Bukan main terkejutnya Nona Mia, "Rara! Kamu Rara calon gubernur! Jadi kamukah dukun terkenal itu? Kamukah suamiku sekarang? Nona Mia ternganga. Benza dan Jaki dan segenap hadirin pun ternganga.

"Kamu calon gubernur?," Tanya Nona Mia sekali lagi.
"Ya! Saya akan menjadi suami terbaik. Saya akan menjadi gubernur terbaik. Saya akan penuhi janji saya untuk mengubah air menjadi BBM. Percayalah padaku sayang!"
"Gubernur tidak akan dapat mengubah apa pun!" Nona Mia tampak ketakutan menatap wajah Rara.

"Tetapi sayalah satu-satunya yang mampu mengubah apapun!" rara menyeringai. "Syaratnya hanya satu saja. Pilih saya! Jangan pilih Benza!"
"Kamu yakin dengan janjimu mengubah air menjadi BBM?
"Demi cintaku padamu. Yakin! Namanya juga janji.." kata Rara dengan penuh rencana *

Rubrik "Parodi Situsi" Pos Kupang Minggu, 18 Mei 2008, halaman 1
Lanjut...

Waktu Belum Berhenti bagi Saya

MESKI baru bangun tidur dan kelelahan begitu kuat di wajahnya, penulis buku Dalam Sebotol Coklat Cair ini sangat antusias saat ditemui Pos Kupang di Wisma Wirasakti-Kupang, Senin (12/5/2008) pagi.

Sejak divonis gagal ginjal Januari 2001 lalu, Radhar Panca Dahana harus menjalani cuci darah seminggu dua kali. Dan ini akan berlangsung seumur hidupnya. Meski kesehatannya cenderung turun, pria yang mementaskan karya monolog berjudul "1 Hari 11 Mata Di Kepala" di Teater Kecil, TIM, Jakarta 6-7 Juli 2007 bersama Teater Kosong ini tetap bersemangat.

Motivasinya adalah selalu mencari kebenaran."Yang saya cari itu tidak lain adalah manfaat nilai kebenaran, dari apa, dari waktu yang diberikan kepada saya. Saya pernah mengalami satu situasi dimana saya berada di ujung kehidupan, di tepi kematian, dan saya menyadari bahwa setelah itu ujian atau krisis itu lewat," katanya.

Meski usianya seolah tergantung pada mesin pencuci darah, namun waktu baginya belum berhenti. Dan, selama masih ada waktu, ada hal berguna yang bisa digunakan untuk berkarya. "Yang dapat saya mengerti adalah waktu belum berhenti dalam hidup saya, masih ada waktu yang diberikan kepada saya, dan cara yang terbaik untuk mensyukuri itu, mengapresiasi itu adalah berterima kasih dan membuat setiap waktu saya bermanfaat," kata Radhar yang selalu menyebut nama Valens Goa Doy (alm) -- wartawan Kompas dan salah seorang pendiri Pos Kupang -- sebagai guru yang pertama kali memperkenalkannya dengan dunia tulis-menulis.

Waktu bagi Radhar sangat bernilai, sehingga tak sedetikpun waktu yang akan disia- siakan. "Saya akan menggunakan waktu -- sebisa mungkin bermanfaat untuk diri sendiri dan terutama untuk banyak orang. Saya belajar atau berkarya, saya datang ke sini (Kupang) untuk apa? Itu semata-mata karena saya ingin hidup saya bisa diabdikan untuk orang lain, untuk kepentingan banyak. Kalau saya diberikan waktu berarti masih ada tugas yang harus saya tunaikan, masih ada manfaat yang mesti harus saya berikan," ungkapnya. (alfred dama)

Data Diri
Nama :Radhar Panca Dahana
Lahir :Jakarta, 26 Maret 1965
Pendidikan : S1 Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Indonesia (1993), Studi Sosiologi di Ecole des Hautes Etudes en Science Sociales, Paris, Perancis (2001).

Pekerjaan/profesi : Dosen Sosiologi FISIP-UI
: Sastrawan/penulis
: Wartawan/pengasuh rubrik Teroka-Kompas
Isteri : Krisniaty Marchelino
Anak : Cahaya Prima Putri Dahana (9 tahun)

Radar Panca Dahana sudah mulai menulis sejak usia 10 tahun. Saat duduk di bangku SMP kelas dua, salah satu tulusannya Tamu Tak Di Undang sudah dimuat di Harian Kompas. Ia pernah menjadi redaktur di Majalan Anak-anak Kawanku tahun 1977.
Karya-karyanya antara lain Menjadi Manusia Indonesia" (esai humaniora, 2002), "Lalu Waktu" (kumpulan sajak, 2003), "Jejak Posmodernisme" (2004), "Cerita-cerita dari Negeri Asap" (kumpulan cerpen, 2005), "Inikah Kita: Mozaik Manusia Indonesia" (esai humaniora, 2006) "Dalam Sebotol Coklat Cair" (esai sastra, 2007), "Metamorfosa Kosong" (kumpulan drama, 2007).
Meskipun dalam kondisi sakit, Radhar tetap tegak menghasilkan karya-karya terbaiknya.

Penghargaan
- Terpilih sebagai satu di antara lima seniman muda masa depan Asia versi NHK (1996)
- Meraih Paramadina Award (2005)
- Duta Terbaik Pusaka Bangsa, Duta Lingkungan Hidup sejak 2004.
-Menerima Medali Frix de le Francophonie 2007 dari 15 negara berbahasa Perancis. (*)

Tamu Kita Pos Kupang edisi Minggu, 18 Mei 2008, halaman 3
Lanjut...

SEMANGAT hidup sastrawan Radha Panca Dahana seakan menembus batas- batas toleransi kemampuan dirinya. Ketika penyakit hendak merenggut nyawanya, Radhar masih saja menelorkan karya-karya sastra yang memikat perhatian banyak orang. Harus mencuci darah minimal dua kali dalam minggu tidak membuat ruang gerak dan ide-ide sastranya menjadi sempit.

Di tengah kesibukannya, Radhar menyempatkan diri datang ke Kupang untuk memberikan motivasi tentang tulis-menulis kepada ratusan peserta Sekolah Menulis yang digelar Rumah Poetica Kupang, Minggu (11/5/2008). Kepada wartawan Pos Kupang, Alfred Dama yang menemuinya, Senin (12/5/2008), Radhar berbicara banyak tentang dunia tulis-menulis di Indonesia. Radhar mendorong lahirnya penulis-penulis asal NTT dari kalangan muda. Berikut petikannya.

Bagaimana Anda melihat perkembangan dunia tulis-menulis di Indonesia?
Dunia tulis-menulis ini kan luas. Dunia tulis menarik karena banyak orang senang menulis. Muncul berbagai macam buku karya penulis Indonesia mulai dari masalah manajemen, kesehatan, psikologi, lingkungan. Jadi, tidak hanya sastra. Keragaman buku di Indonesia sekarang ini cukup baik dan muncul penulis-penulis baru. Dunia tulis-menulis berkembang, itu yang dihasilkan reformasi. Pada masa Soeharto, ekspresi tulis-menulis tidak berkembang. Dunia karang-mengarang pun berkembang, ditandai dengan tumbuhnya penulis-penulis baru. Ini juga ditunjang dengan munculnya penerbit-penerbit baru. Sekarang novel-novel anak dan remaja diminati publik. Publik berkembang sebagai pembaca. Membaca apa saja termasuk buku sastra dan yang menarik adalah banyak kalangan yang tidak terlibat dalam sastra tiba-tiba terlibat. Sastra menjadi pilihan media ekspresi disamping yang lain, katakanlah seperti foto, film, musik dan lainnya.

Apakah budaya baca turun karena pengaruh media elektronik (TV) 'memaksa' masyarakat kita lebih suka nonton?
Kalau budaya baca mau turun, turun dari mana? Naik juga belum. Daya baca kita masih terhitung rendah. Justru kita harus naikkan, dan kalau kita naikkan, itu bukan perkara adanya budaya nonton yang kuat. Kita butuh budaya baca. Pengetahuan itu harus dibaca, tidak hanya didengar dan dilihat. Nah, kontemplasi melalui pembacaan itu bekerja jauh lebih kuat ketimbang yang boleh terjadi melewati saluran audio, video, grafis. Bacaan itu penting dan harus ditingkatkan dan itu tidak ada hubungannya dengan urusan video dan audio, visual dan audial artinya waluapun banyak media menggunakan audio dan video, saya kira tidak banyak berpengaruh pada budaya baca karena tradisi membaca itu merupakan tradisi yang memiliki kekhasan tersendiri. Audio video adalah tradisi secara kolektif, komunal atau paling tidak bersama dua tiga orang. Seperti nonton wayang, nonton film di bioskop, nonton film layar tancap, pertunjukan musik dan lain-lain. Tapi kalau membaca itu kegiatan yang personal, setiap orang itu membutuhkan situasi-situasi yang personal dalam menimba ilmu pengetahuan. Kebutuhan personal itu dapat dipenuhi dengan membaca. Membaca itu tidak akan luntur.

Bagaimana Anda melihat minat anak muda sekarang?
Tulis-menulis itu menjadi medium ekspresi yang dipilih oleh anak-anak muda dari berbagai kalangan, tidak saja dari kalangan penulis sastra saja tapi kalangan lain, pelajar SD, SMP dan SMA bahkan dari profesinoal. Ada akuntan, manajer keuangan, manajer pemasaran, macam-macam deh. Di Jakarta banyak itu, di daerah juga. Menggunakan internet sebagai sarana informasi, menyebarkan puisi-puisi mereka bahkan beberapa diterbitkan. Jadi sastra itu sudah menjadi pilihan media ekspresi bagi kebanyakan orang yang sebelumnya tidak pernah terjadi.

Ada juga selebritis menulis seperti Rieke Diah Pitaloka, Nadine Candrawinata, Dewi Lestari dan lainya. Apakah mereka mencari popularitas?
Para artis merupakan bagian dari profesional yang melihat sastra sebagai medium ekspresi yang cocok buat dia, pas buat dia memperlihatkan keberadaannya. Untuk memperlihatkan bagaimana dia mengapresiasi hidup dan mungkin menurut mereka karya sastra itu adalah suatu medium yang jauh lebih bernilai ketimbang yang selama ini dia gunakan. Misalnya, seorang pemain film, dia beranggapan ekspresinya dalam dunia sastra jauh lebih sulit dan jauh lebih abadi atau lebih dalam. Sastra merupakan suatu tumpahan ekspresi, jadi dia jadi baskom dimana ekspresi-ekspresi kehidupan bisa diluapkan dengan cara yang lebih bernilai dan itu merupakan perkembangan yang menggembirakan untuk meningkatkan daya baca. Kemampuan penetrasi sastra itu tidak dilihat oleh para birokrat, tidak dilihat oleh para penanggung jawab kebudayaan di negeri ini bahwa gerak alami, gerak spontan dari masyarakat itu harus dilanjutkan dengan program-program yang mendukung sehingga perluasan sastra itu semakin kuat.

Tapi menjadi penulis (di Indonesia) berarti bersedia hidup susah atau tidak semapan profesional lain dari sisi ekonomi. Menurut Anda?
Ya, memang perkembangan ini patut diantisipasi dengan positif supaya kehidupan para penulis bisa lebih baik. Artinya begini, kalau semakin banyak kalangan yang berminat pada sastra akhirya banyak yang diminati, nah para pengarang akan menulis buku dengan makin banyak dibaca. Oplahnya makin besar, sering dapat undangan-undangan. Dengan begitu kehidupannya akan lebih baik.

Banyak penulis terkemuka asal NTT seperti Julius Siyaranamual, Umbu Landu, Gerson Poyk, Dami Toda. Setelah itu ada Maria Matildis Banda, Mezra Pellandou. Penulis muda agaknya belum muncul. Bagaimana Anda melihat ini?
Hilang si tidak. Cuma sekarang tingkat persaingan jauh lebih tinggi. Tapi itu juga bukan menjadi alasan mengapa penulis-penulis muda dari NTT belum juga muncul. Harus dipelajari sejarah orang NTT, situasi apa yang melahirkan orang-orang seperti Julius, Umbu dan Dami Toda. Kalau penulis di luar sastra, saya kira banyak sekali. Dari kalangan akademik dan ilmu pengetahuan, kan mereka pengamat sastra yang bagus seperti Daniel Dhakidae, Ignas Kleden itu bagus dari generasi sebelumnya. Penulis-penulis yang bergelut dalam bidang lain luar sastra itu banyak dan kapasitasnya tetap kuat. Penulis yang intelektual itu banyak, mungkin sastra tidak. Barangkali pengaruh kehadiran penerbit. Kalau dulu kan ada Penerbit Nusa Indah di Ende yang sangat berperan. Tapi sekarang sudah merosot. Penerbit itu melahirkan banyak karya bernilai seperti filsafat, akademis maupun karya-karya sastra. Saya imbau penggerak dan aktivis di NTT untuk memulai suatu upaya penerbitan yang independen. Usaha kecil-kecilan sebagaimana di Pulau Jawa. Jumlahnya ratusan di setiap kota. Di Bandung, Jakarta, Yogyayakarta, banyak penerbit besar memberikan peluang pada penyair-penyair muda, pengarang- pengarang muda, anak-anak dan remaja untuk menerbitkan bukunya. Bahkan ada yang menerbitkan sendiri. Dengan uang satu-dua juta sudah bisa menerbitkan buku dan jual ke pasar. Laku 500-600 eksemplar sudah kembali modal. Saya kira di NTT bisa melakukan itu karena modalnya tidak besar. Mumpung regulasi perbukuan belum begitu ketat, orang bisa setiap saat menerbitkan buku, tidak perlu harus menjadi anggota IKAPI. Kadang tidak punya izn sama sekali tapi bisa menjadi penerbit. Saya kira peluang ini bisa digunakan untuk menggerakkan atau menumbuhkan pengarang di NTT. Beberapa nama seperti Bhara Pattyraja, Dion Putra bisa bikin buku. Dengan modal tiga juta rupiah saja sudah bisa buat buku. Dan, buku itu abadi. Bisa dijual sepanjang masa. Nah, saya kita salah satunya dibutuhkan dukungan dari masyarakat NTT sendiri.

Saran untuk calon-calon penulis NTT?
Di sini punya potensi, kemampuan. Saya kira yang kita lakukan sama yaitu kerja keras, disiplin, dedikasi. Tak ada satu hasil apapun yang kita raih tanpa bekerja keras. Dan, lihatlah betapa luasanya dunia. Hai, teman, para penulis, lihatlah bahwa kamu tidak hidup di NTT saja. Kamu hidup di Indonesia, hidup di atas bumi yang kecil ini dan semua tempat adalah bagian dari dirimu. Berkelanalah kemana- mana walaupun kakimu tetap di rumah. Kau bisa pergi ke mana-mana lewat buku, internet, televisi, telepon, faks dan lain-lain. Jangan merasa wah orang NTT itu hanya bisa menulis di Pos Kupang. Kamu bisa tulis di mana-mana. Menulis di Malaysia, di Tokyo dan di mana saja di dunia ini.

Kita pindah ke soal lain. Sekarang anak muda kita 'berani' pose syur di kamera HP, misalnya. Fenomena apa yang melanda negeri kita?
Ya ini keterbukan yang ditafsirkan secara keliru. Karena demokrasi, reformasi, keterbukaan, semua boleh dibuka termasuk celana dalam. Saya kira ada bagian yang harus ditutup dan ada bagian yang harus dibuka. Biar udara cerah pun harus ada yang ditutup, kalau tidak kan kecoak, serangga bisa masuk. Biar hujan harus ada yang dibuka supaya udara tidak pengap. Masyarakat perlu diingatkan soal ini. Kesadaran begini ditentukan oleh norma. Ada benturan antara norma tradisional dan modern sehingga terjadi kekacauan lalu orang tidak tahu lagi batas-batas itu. Ada inkonsistensi dalam cara kita melihat perkembangan zaman. Inkonsistensi menciptakan kepribadian ganda. Ini PR kita, masalah kita. Para pemikir, termasuk jurnalis perlu menjelaskan apa yang bisa kita lakukan di dalam situasi normatif yang kacau seperti ini. Paling tidak, bolehlah kita menerima kemajuan dan teknologi tapi coba kita gunakan norma tradisional yang masih baik untuk menghadapi serbuan kebudayaan modern itu. Memang belum ada kata sepakat norma yang paling pantas kita gunakan. Sekarang majalah porno di mana-mana, dilegalkan. Harus tetapkan batasannya. Cuma para rohaniawan, budayawan, seniman yang bergerak di bidang itu tidak bergerak. Mereka jadi korban, mereka masuk ke dalam dunia yang kacau itu, terhanyutkan oleh situasi itu. Misalnya, rohaniawan malah menjadi politikus, bukannya urusi dunia moral yang menjadi bagian dia. Menjadi pedagang, jadi penyanyi. Jadi mereka yang bertugas di bidang itu tidak setia, tidak intens melurusi dunia moral di masyarakat. Inilah yang disebut krisis moral. Dalam kehidupan politik, ekonomi, banyak perilaku negatif yang tiba-tiba dibenarkan dalam tanda kutip dan menjadi norma baru. Untuk ikut Pilkada dia menggunakan uang yang luar biasa banyaknya guna merekrut simpatisan dan lain-lain. Itu praktek korupsi tapi sudah menjadi norma. Kalau tidak begitu, dia bukan politisi. Nah, penegak moral seperti budayawan, seniman, rohaniwan harus bergerak aktif. * Rubrik "Tamu Kita" Pos Kupang edisi Minggu, 18 Mei 2008, halaman 3.
Lanjut...

Penantian Patricia

Cerpen Christo Ngasi

HARI singgah dan pergi begitu cepat dari setiap kisah hidupku. Seketika aku termenung sendiri memikirkan masa depan. Aku mengusap wajahku yang lagi layu termakan oleh mimpi semalam. Kembali kurebahkan badanku pada tempat tidurku. Kicauan burung gereja terus terdengar.

Aku bangkit dan berlangkah menuju jendela, sinar matahari pagi menembusi dedaunan angsono dan langsung menjamah wajahku. Aku tersenyum dan dalam hati aku berucap, "Semoga aku dapat bersinar dalam hidupku layaknya matahari dipagi ini".

Aku tiba-tiba teringat akan masa SMU-ku dulu. Di sana ada satu kisah yang belum terungkap hingga setamatku dan kini menjadi penantian yang tak tahu sampai kapan harus kuakhiri. Seketika pandanganku beralih menuju rak buku. Ada berjuta perasaan yang kutuangkan dalam buku harianku. Namun mataku sejenak memandang foto yang berada di atas rak buku itu. Satu foto aku bersama teman angkatanku dan satunya lagi foto saat ketua OSIS mengenakan papan nama padaku pertanda dimulainya Masa Orentasi Siswa atau sering di singkat MOS. Aku memegang dan melihat lebih dalam isi di balik foto itu.

Kubersihkan debu yang menempel. Aku memeluk dan mengusap dengan penuh harapan kelak akan terjawab penantianku. Kuambil catatan harianku sewaktu SMU yang sempat kusimpan. Aku membuka pada halaman pertama tertulis Senin 9 juli 2001. Dengan satu judul kecil bertinta pink "Perasaanku untukmu Ka' Chrisna ". Aku secara perlahan membaca ulang judul tulisanku dan ku tersenyum seketika. Banyak kisah yang kuukir dalam buku harianku.

Aku sadari ini adalah ungkapan perasaanku yang tak dapat terkatakan secara langsung dan melalui tulisan ini, aku dapat mengungkapkan perasaanku. Selain itu tulisan ini juga membuat aku ingat bahwa begitu banyak kisah dan kenangan yang begitu indah saat berada di SMU. Satu motivasi sehingga kutuliskan setiap pengalamanku pada buku yang satu ini karena ada seseorang yang membuat aku tersenyum di setiap hariku. Dia adalah Ka' Chrisna ketua Osis di sekolahku. Namun aku belum mengungkapkan perasaanku hingga setamatku dari SMU. Sungguh aku takut sebagai seorang perempuan untuk mengungkapkan perasaanku.

Aku terus membaca pada halaman berikutya. Aku merasa gembira bercampur sedih ketika mengingat kembali kenangan itu. Sendiri itulah yang kualami. Tak ada teman seangkatanku yang kuliah bersamaku. Hampir semuanya kuliah di Yogya dan Denpasar, sedangkan aku hanya di kota propinsi tapi itu bukan menjadi ukuran bagiku. Tersenyum itulah perasaan yang terus kualami saat membaca buku harianku. Aku membayangkan kembali waktu mengikuti MOS.

Saat itu pagi masih berselimut mendung yang membasahi bumi. Aku bersama peserta MOS lainya berbaris di lapangan sekolah. Seorang peserta datang terlambat ketika kami sudah rapi berbaris. Seorang kakak kelas II yang bertugas sebagai keamanan dengan suara keras berteriak. "Cepat...cepat...cepat!!!". Siswi itu tampak ketakutan. Ia berlari dan mengambil tempat dalam barisan. Kakak tadi datang menghampiri dan menyuruh siswi itu untuk membuka jaketnya yang saat itu belum dilepas. Tak dipikirkan siswi itu kedinginan dan mengigil. Tampak dari jauh seorang pria datang mendekat dan mengambil jaket lalu mengenakan kembali pada siswi itu sambil ia berkata. "Apa kamu sakit???" tanya kakak itu. "Tidak ka. Aku hanya kedinginan" jawabnya. "Baiklah. Aku harap besok kamu tidak mengenakan jaket lagi sama seperti siswa lainnya." Ia tersenyum dan berlalu. Untuk pertama kalinya aku memandang pria yang ganteng itu dan langsung jatuh hati namun aku belum mengetahui namanya. Akupun berkenalan dengan siswi tadi. Namaku Patricia. Kalau kamu??? Namaku Eka."

Kami disuruh masuk dalam ruangan aula untuk mendapat pengarahan sebelum akhirnya nanti mengikuti upacara pembukaan. Pengarahan tak lama berjalan kami disuguhkan dengan snack. Guna mengisi kekosongan kami diminta beberapa orang untuk menyumbangkan lagu. Sebagian peserta sudah naik ke atas panggung dan berunding untuk memilih lagu yang dibawakan. Aku hanya tenang ditempat sambil mata melirik kalau-kalau aku dapat melihat pria itu lagi. Tak kusadari seorang kakak namanya Monika datang menghampiriku dan menyuruhku maju untuk menyanyi bersama mereka. Ka Monika tahu bahwa aku pasti malu untuk menyanyi soalnya kami teman dan sudah sejak kecil saling mengenal. Namun keadaan memaksaku untuk maju. "Ayo maju-maju jangan malu-malu." Itulah lagu yang memberi keberanian untukku untuk tampil.

Selesai kami menyumbang lagu, semua peserta disuruh keluar lagi untuk mengikuti upacara pembukaan MOS. Namun ada enam siswa yang diminta untuk tetap tinggal di atas panggung termasuk aku. Kami dipercayakan sebagai ketua dari setiap kelompok. Semua sudah berbaris rapi. Upacara pun dimulai. Kami berenam yang dipercayakan mengambil baris terdepan bersama pemimpin upacara. Setelah kepala sekolah memberikan map kepada ketua OSIS semua kegiatan menjadi tanggungan OSIS. Aku saat itu bersemangat karena pria yang kulihat adalah ketua OSIS.

"Pertama saya ingin mengucapkan terima kasih karena semua teman-teman sudah mempercayakan saya sebagai ketua OSIS untuk menjalankan masa orientasi kepada siswa baru. Saya tidak dapat jalankan tugas ini sendiri tanpa bantuan anggota OSIS lainya. Orientasi ini akan berjalan dengan baik jika ada kerja sama di antara kita. Terima kasih." Singkat tapi jelas ungkapannya.

Kami berenam diminta maju ke depan untuk menerima papan nama. Ketua OSIS memilih nama-nama kelompok untuk di berikan kepada kami. Ia mendekatiku dan memasang papan nama yang bertulis kelompok Bebek Hutan. Itulah kenangan yang tersimpan dalam tulisan dan foto yang masih kusimpan hingga saat ini.

***
Aku menutup catatan harianku dan membereskan kamar kostku. Aku keluar dan menghirup udara suci di pagi hari. Hari ini aku tidak ada kegiatan di kampus jadi aku ingin menghabiskan skripsiku. Saat ini aku sudah semester akhir pada Fakultas Ekonomi. Aku ingin memfokuskan diri untuk mengikuti ujian skripsi, namun kenangan itu selalu mengisi kesibukanku. Aku coba melawan namun tak bisa. Aku sadari bahwa aku tidak dapat melupakan Ka Chrisna hingga saat ini aku masih bertahan dengan perasaanku dan aku sudah berjanji dalam diriku bahwa Ka Chrisna adalah penantianku. Hanya aku saja yang belum memiliki pacar hingga saat ini, ini semua bukan karena tidak ada pria yang menyukaiku akan tetapi aku tidak ingin berbagi hati kepada orang lain selain Ka Chrisna. Jujur aku sangat terobsesi dengannya. Aku pernah mengungkapkan perasaanku ini saat aku kembali ke kampung halamanku Weetabula. Saat itu aku juga diundang untuk mengikuti acara syukuran wisuda Ka Chrisna. Saat itu aku sudah cukup akrap dengan Ka Chrisna. Aku juga sering bersurat dan sering telephon meskipun ia kuliah di Malang namun tak menjadi penghalang bagiku. Aku tahu bahwa Ka Chrina belum memiliki pacar. Kuberanikan diriku untuk menemuinya seusai misa malam minggu. Kami berjalan berdua ditemani sang bintang malam itu.

"Ka setelah ini kerja di mana?" tanyaku.
"Saya belum mau untuk kerja masih ingin melanjutkan kulih dulu supaya dapat gelar Insinyur, " jawabnya.
"Oh..., saya pikir langsung kerja".
"Kalau kamu Paticia selesai wisuda nanti kamu mau lanjut kemana??? Ka Chrisna bertanya balik kepadaku
"Aku langsung kerja saja. Aku sudah bosan kuliah" jawabku tegas.

Berjalan dengan alur cerita seputar perkuliahan. Aku takut namun keberanian muncul seketika dan kuberanikan untuk mengungkapkan.
"Ka...jujur saja waktu ka memasang papan nama padaku saat MOS dulu, aku sangat kagum dan terus mengidolakan ka hingga saat sekarang. Namun aku takut dan segan untuk mengungkapkannya. Aku mulai berani saat mendapat alamat tempat kuliah ka dari Ka Monika. Maaf kalau aku terlalu berani untuk mengungkapkan ini."

"Terima kasih kalau aku telah menjadi idolamu sejak dulu Patricia, namun aku tak bisa mengatakan saat sekarang. Biarlah waktu yang akan menjawab. Kelak semua kembali pada waktu jua.
"Tapi sampai kapan ka... ???
"Sampai waktu mengijinkanku untuk kembali ke sini???" Jawabnya tersenyum memandangiku sambil berlalu meninggalkanku di teras depan rumahku. Cukup sakit kalau kamu rasakan. Tapi aku bangga karena masih ada harapan baru dariku yang dijanjikannya yaitu waktu mengijinkannya untuk berkarya kembali di kampung halaman Weetabula.

***
Sejak saat itu aku tidak lagi jumpa ka Chrisna. Namun kami sering bersurat dan saling telepon. Tak terasa waktu mengizinkanku untuk menyandang gelar serjana ekonomi. Aku kembali ke kampung Weetabula guna mengabdi sebagai seorang guru di sekolahku yang dulu. Banyak yang melamarku untuk menjadi pendamping mereka namun Ka Chrisna memberiku harapan hingga saat ini. Aku seakan tuli ketika mendengar cemooh dari orang lain. "Biar jadi perawan tua." Kata itu memberi aku kekuatan untuk bertahan lebih lama dalam penantian. Aku baru mendapat via SMS dari Ka Chrisna yang bertulis "Patricia penantianmu segera akan terjawab". Aku bersyukur kepada Dia yang memberiku kekuatan. Kulepaskan segala gunda dan kuukir perasaanku pada kertas polos yang akan kulayangkan bersama angin menuju Kota Malang tempat arjuna menghuni.

Weetabula, Senin 4 Februari 2008
UntukMu
Yang dinanti Ka Chrisna
"Salam dalam kasih"

Lama tak berucap seakan bisu ditelan sang waktu namun injinkanku untuk berkata lewat surat ini. Selamat berjumpa kembali.

Ka chrisna tak ada kata capai bagiku untuk menantikanmu. Walau tak ada jawab yang pasti namun kuyakin yang kunanti pasti memberikan jawaban saat hari kasih sayang nanti. Kudoakan semoga studymu berjalan lancar. Aku tetap menantimu.
Patricia
Untuk yang menanti tulisan ini. Penfui medio Maret 08.

Dipublikasikan Pos Kupang Minggu, 18 Mei 2008, halaman 6
Lanjut...

Kemarau di Krakatau

Bersama Ujung Kulon, Sunset di Selat Sunda, P. Sanghyang, P. Sebesi, Suku Baduy, dan Situs Arkeologi Banten Lama, Gunung Krakatau dijuluki sebagai Seven Wonders of Banten. Musim kemarau merupakan saat tepat untuk menikmati indahnya gunung itu. Ada banyak jalan untuk mendekatinya.

Di musim kemarau, antara Mei hingga September, gelombang dan arus laut tidak begitu liar. Cuaca juga bersih benderang. Perjalanan dengan kapal di Selat Sunda menjadi nyaman. Dari kejauhan, keanggunan gunung yang pernah menggemparkan dunia karena letusannya pada 27 Agustus 1883 itu juga sudah kelihatan. Apalagi bila perjalanan dilakukan sesaat sebelum matahari tenggelam. Aneka warna sinar yang tercurah membuat suasana benar-benar berubah. Sangat menyentuh perasaan.

Selain berpanorama indah, di sekitar Krakatau juga dimungkinkan untuk melakukan dilakukan berbagai kegiatan rekreasi. Selam, renang, snorkling bisa dilakukan sambil menikmati matahari terbenam.

Anak Krakatau

Secara administratif, pulau bergunung api di Selat Sunda ini sebenarnya masuk dalam wilayah Provinsi Lampung. Gunung ini telah dikenal dengan baik dan tercatat dalam sejarah sejak abad 16. Saat itu Selat Sunda telah menjadi jalur lalulintas bisnis yang ramai dari Eropa menuju Hindia Barat (Indonesia). Kini Selat Sunda juga memegang peranan penting sebagai jalur lalu lintas bisnis dan lapangan penelitian ilmu geologi dan kelautan.

Krakatau, dulu diperkirakan memiliki ketinggian 2.000 meter dengan radius 9 km2. Ledakan dahsyat pernah terjadi pada tahun 416, sebagaimana tercatat dalam buku jawa kuno Pustaka Raja, dan menyisakan 3 buah pulau yakni pulau Rakata, Sertung dan Panjang.

Dalam perkembangannya Rakata memunculkan puncak-puncak Danan dan Perbuatan. Ledakan yang lebih dahsyat pada tangal 27 Agustus 1883 telah menghancurkan 3/4 bagian tubuhnya dan menyebabkan gelombang besar dengan ketinggian 40 meter.

Konon sebuah bagian kapal di pelabuhan Teluk Betung sampai terlempar sejauh 2,5 km akibat letusan itu. Hujan abu dan batunya mencapai areal seluas 483 km2 dalam radius 150 km2. Pada waktu itu Jakarta dan daerah sekitar Selat Sunda, seperti Anyer, Merak, Labuan, Kalianda, Teluk Betung dan Kota Agung menjadi gelap gulita. Suara ledakannya terdengar dari Pilipina hingga Madagaskar. Kekuatan ledakannya diperkirakan mencapai 21.547,6 kali ledakan bom atom.

Lalu setelah beristirahat selama 44 tahun, Anak Krakatau muncul pada Bulan Desember 1927 dan terus berkembang hingga kini. Saat ini, Anda bisa menapakkan kaki di anak gunung itu untuk melakukan penelitian ilmiah atau pun sekedar rekreasi.

Paket Kegiatan

Perjalanan rekreasi bisa Anda mulai dengan mendirikan tenda di kaki gunung Anak Krakatau atau biasa pula disebut pulau Rakata. Dari situ Anda bila memili kegiatan di laut seperti berenang, menyelam atau snorkeling. Sementara untuk kegiatan darat, Anda bisa melakukan tracking mengelilingi pulau Rakata.

Untuk kegiatan tracking ini sebaiknya dilakukan jangan sampai melewati matahari terbenam. Ini semata untuk menghindari air pasang sehingga Anda tidak terjebak di suatu tempat dan tidak bisa kembali ke tempat Anda mendirikan tenda. Karena sangat berbahaya, bila Anda memilih acara pendakian menuju puncak Krakatau, Anda perlu ijin khusus dari Dirjen Perlindungan dan Pelestarian Alam (PPA), Departemen Kehutanan, supaya bisa mendapatkan pendamping dan penunjuk jalan yang bisa diandalkan.

Jalur Laut

Sekarang, Anak Krakatau telah mencapai ketinggian 200 meter di atas permukaan laut dengan diameter 2 km. Untuk mengunjunginya Anda bisa berangkat dari Pelabuhan Tanjung Priuk dengan naik Jet-Foil atau Kapal Phinisi Nusantara. Jalur kedua adalah dari Pelabuhan Labuan, Banten. Dari sini Anda dapat menyewa kapal motor atau kapal nelayan yang berkapasitas antara 5 sampai 20 orang.

Jalur ketiga bisa ditempuh melalui Pelabuhan Canti, Kalianda-Lampung. Di pelabuhan ini Anda juga dapat menyewa kapal motor atau kapal nelayan yang akan menempuh Krakatau melalui P. Sebuku dan P. Sebesi. Pada bulan Juli saat Pemda Provinsi Lampung menggelar Festival Krakatau, Anda bahkan bisa ikut menyeberang ke pulau itu.

Sedang dari kawasan Anyer dan Carita, sejumlah hotel juga punya paket mengunjungi Krakatau. Silakan pilih cara sesuai kemampuan. (SENIOR/Hendra Priantono)

Sumber


Lanjut...

Oleh Mulyawan Karim

"Pemerintah Belanda memiliki panggilan moral
terhadap kaum pribumi Hindia Belanda."

Dalam pidatonya, September 1901, Ratu Wilhelmina dengan tegas menyatakan, Pemerintah Belanda memiliki panggilan moral terhadap kaum pribumi Hindia Belanda. Orasi Ratu Belanda dalam sidang pembukaan parlemen itu kemudian umum disepakati sebagai momentum kelahiran faham atau aliran etis dalam kancah politik kolonial Belanda.

Banyak pihak meyakini, Ratu Wilhelmina mendapat inspirasi bagi pidatonya dari puisi The White Man's Burden karya sastrawan Inggris, Rudyard Kipling, yang dipublikasikan untuk pertama kali dua tahun sebelumnya. The White Man's Burden merupakan percikan permenungan Kipling atas nasib rakyat Filipina di tengah perang Amerika Serikat-Spanyol, 1898, untuk memperebutkan negeri mereka. Pesan yang ingin disampaikan Kipling lewat syair tujuh baitnya itu adalah bangsa-bangsa Barat memikul tugas suci untuk menyejahterakan dan mengangkat derajat bangsa jajahannya di seluruh muka bumi.

Kalaupun tidak sama sekali, puisi Kipling setidaknya bukan satu-satunya mata air inspirasi Ratu Wilhelmina. "Sebelum The White Man's Burden diterbitkan dalam majalah McClure's pada 1899, sejumlah pejabat pemerintah, politisi, cendekiawan, dan sastrawan Belanda sudah mewacanakan gagasan itu.

Tunas pertama gagasan etis di Belanda muncul dari Pieter Brooshooft (1845-1921), wartawan yang pada masanya dikenal kritis terhadap pemerintah dan masyarakat Belanda. Seperti disebutkan sastrawan Indo-Belanda, Rob Nieuwenhuys, dalam buku Oost Indische Spiegel (Cermin Hinda Timur), antara 1883 dan 1884 Brooshooft menulis karangan sindiran yang menyoroti sikap masa bodoh warga Eropa di Hindia Belanda saat terjadi wabah kolera yang banyak menewaskan warga pribumi. Mereka baru peduli setelah ada warga kulit putih yang ikut jadi korban penyakit tropis itu.

Pada 1887, Brooshooft juga melakukan perjalanan berkeliling Pulau Jawa dan terkejut melihat kondisi kehidupan kaum pribumi. Ia kemudian menyampaikan imbauan kepada 12 tokoh terkemuka di Belanda untuk memahami dan memerhatikan "keadaan yang sangat menyedihkan di Hinda Belanda, yang terjadi akibat kebijakan pemerintah Den Haag".

Namun, di antara para etisis, tak dapat disangkal Theodore van Deventer (1857-1915) adalah yang paling dikenal dan berpengaruh di Belanda. Van Deventer adalah seorang praktisi hukum di Hindia Belanda yang kemudian menjadi politisi di negeri asalnya. Saat masih menjadi penasihat hukum bagi berbagai perusahaan swasta di Hindia Belanda, Van Deventer pernah menulis surat kepada orangtuanya. Di sana ia bilang, harus dilakukan sesuatu untuk kaum pribumi. "Jika tidak, suatu hari bendungan akan jebol dan lautan manusia akan menelan kita semua," seperti tertulis dalam surat tertanggal 30 April 1886.

Beberapa tahun kemudian, Van Deventer membuat karangan terkenal yang muncul dalam majalah De Gids (Panduan) pada 1899. Dalam tulisan berjudul "Een Ereschuld" (Utang Budi) itu, ia menjelaskan, Nederland menjadi negara makmur dan aman karena adanya dana yang mengalir dari tanah jajahan di Asia Tenggara. Jadi, sudah sepantasnya Belanda mengembalikannya.

Dalam tulisan itu Deventer, yang kemudian menjadi anggota parlemen dari Partai Liberal, bahkan mendesak dikembalikannya semua dana hasil keuntungan yang diraup pemerintah Den Haag dari Hindia Timur sejak 1867.

Balas budi setengah hati

Meski difatwakan ratunya, Belanda tak pernah sampai menerjemahkan faham etis ke dalam kebijakan kolonial yang dilaksanakan secara konsekuen. Gagasan itu juga tidak mengakar secara luas dalam masyarakat Belanda di Hindia Belanda. Di negeri jajahan yang kemudian bernama Indonesia itu, faham etis hanya dipahami sekelompok kecil pejabat, cendekiawan, sastrawan, dan wartawan yang, meski jumlahnya kecil, memiliki pengaruh yang besar.

Padahal, faham etis sempat lama jadi wacana politik yang hangat. Seperti diungkap sejarawan Inggris, DGE Hall, dalam buku Sejarah Asia Tenggara (1988), politisi sosialis di parlemen Belanda bahkan sempat menjadikannya titik tolak untuk mengampanyekan doktrin "Pemerintah Hindia untuk Hindia" yang berisi gagasan untuk memberikan hak desentralisasi atau otonomi bagi Hindia Belanda.

Dalam buku Nieuwenhuys di atas, yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Dick Hartoko, disebutkan, dalam praktiknya, haluan etis hanya menghasilkan perbaikan sistem persekolahan dan sejumlah usaha lain yang dilakukan secara hati-hati untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa pribumi. Pembangunan sarana irigasi, pendirian bank perkreditan rakyat, dan pengucuran bantuan bagi industri kerajinan rakyat adalah beberapa di antaranya.

Meski lewat politik etis kaum pribumi memiliki peluang lebih besar menikmati berbagai fasilitas ekonomi, pendidikan, dan kesehatan, hal itu sama sekali tak bertujuan untuk benar-benar menyejahterakan rakyat Hindia Belada. Pendidikan yang ditujukan bagi kaum pribumi hanyalah bertujuan untuk menghasilkan tenaga birokrat rendahan yang diperlukan dalam struktur pemerintah kolonial. Politik etis tak lebih dari politik balas budi setengah hati.

Faktor eksternal

Bagaimanapun, faham politik etis dan berbagai kemajuan bagi kaum bumiputera yang dibawanya merupakan masa mulai memudarnya faham kolonialisme dan kekuasaan Belanda yang menyengsarakan. Kian terbukanya kesempatan bagi putra-putri Indonesia untuk mengenyam pendidikan menengah dan tinggi, termasuk di STOVIA (School Tot Opleiding van Inlandsche Artsen/Sekolah Kedokteran Bumiputera), yang sudah berdiri sejak 1898 tak saja menghasilkan pemuda Indonesia yang berilmu, tetapi juga berwawasan luas dan sadar politik.

Meski tak dimaksud demikian, munculmya faham politik etis merupakan faktor internal Hindia Belanda yang memicu lahirnya kesadaran kebangsaan.

Kalau saja faham politik etis tak pernah muncul di Belanda, juga jika peristiwa internasional yang berdampak luas di atas tak pernah terjadi, mungkin tak akan lahir pula Dr Wahidin Sudirohusodo dan Dr Sutomo, pendiri Budi Utomo, organisasi pergerakan modern Indonesia yang pertama, yang hari berdirinya, 20 Mei 1908, sampai kini kita sepakati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. * Harian Kompas, Senin, 5 Mei 2008

http://www.kompas.com/index.php/read/xml/2008/05/05/07491150/



Lanjut...

Bersama Kita Bisa Apa, Ya?

Oleh Budiarto Shambazy

Pada awal dekade 1980-an, Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew sebal kepada warganya sendiri, terutama yang berkecimpung di sektor layanan umum. Mereka punya dua kebiasaan buruk: kurang ramah dan suka buang dahak di sembarang tempat.

PM Lee lalu melancarkan kampanye nasional mengajak warga belajar senyum lagi. Ia memanfaatkan Mr Groovy, ikon asosiatif berwajah kuning serupa matahari dengan kedua ujung bibir ditarik ke atas pertanda senyum. Ikon itu ditambahi tulisan "Smile, Please!" Tanda seru sengaja ditampilkan untuk menimbulkan kesan paksaan karena PM Lee tahu sukarnya mengubah tabiat warga Singapura yang kurang ramah itu.

Ia menerbitkan jutaan stiker, spanduk, pin, lambang, dan aneka barang cetakan dengan beragam ukuran yang bergambar ikon itu. Ada stiker di taksi, gambar besar di atas mesin kasir, dan spanduk di jembatan penyeberangan.

Pada awalnya kampanye senyum itu sempat ditentang karena kalau orang tersenyum terus bisa dibilang kurang waras. Namun, sikap ramah paling tidak membuat betah wisman dari sini rajin berbelanja ke Singapura.

Andaikan produk yang dicari tak ada, pelayan toko rela mencarikan alamat toko-toko lain- bahkan menelepon-untuk Anda. Beda dengan pelayan toko di sini yang kalau ditanya telah terbiasa menjawab, "Wah, saya enggak tahu."

Soal buang dahak, PM Lee menerapkan aturan denda yang nilainya besar. Denda besar diberlakukan pula untuk yang tertangkap tangan merokok, lupa menyiram kloset sehabis buang hajat, dan sebagainya.

PM Malaysia Mahathir Mohamad hebat ketika mencanangkan "Malaysia Boleh!". Tujuannya satu: membangkitkan patriotisme rakyat untuk mencetak prestasi di berbagai bidang, termasuk olahraga dan pariwisata. Hasilnya antara lain sukses kampanye pariwisata "Malaysia, Truly Asia". Di bidang olahraga, prestasi mereka menjulang di tingkat dunia, Asia, dan Asia Tenggara.

Amerika Serikat (AS), bangsa penemu internet, sejak 1993 telah menyiapkan "manusia analis-simbolik" untuk mempertahankan daya saing pada abad ke-21. Mereka mendagangkan simbol-simbol yang dimanipulasi-data, kata, atau isyarat oral-visual.

Mereka peneliti, perancang, ahli perangkat lunak komputer, ahli bioteknologi, pakar suara, konsultan, musisi, penulis, dan lainnya. Mereka menjual jasa menyelesaikan, mengidentifikasi, dan memperantarai simbol-simbol yang telah dimanipulasi itu. Mereka menyederhanakan semua abstraksi yang potensial dijual. Abstraksi itu diatur ulang, diolah tuntas, dieksperimentasi, dikomunikasikan dengan analis-simbolik lainnya, dan diubah menjadi produk baru yang siap dipasarkan.

Banyak jalan menuju Roma, banyak cara bagi bangsa untuk bangkit. Pas Mei 2008 ini kita memperingati 100 Tahun Kebangkitan Nasional sekaligus 10 tahun reformasi dan lengser ing keprabon. Bangsa ini sejak 1908 mendapat kesempatan bangkit karena sempat "tidak hidup lagi" dua kali, tahun 1965 dan 1998. Namun, kebangkitan tahun 1965 dan 1998 tak berlangsung lama.

Kebangkitan 1965 dan 1998 berlangsung sebentar saja karena yang bangkit cuma segelintir orang yang punya kuasa dan uang. Sisanya, kayak Anda dan saya, tidur lagi seperti habis digigit lalat tsetse dari Afrika. Anda dan saya dipaksa ikut "Kesetiakawanan Sosial", "Gerakan Disiplin Nasional", atau "Aku Cinta Produk Indonesia". Ya, sudahlah.

Kebangkitan ala 1908 masih akan tetap susah karena, seperti ditulis Mochtar Lubis tahun 1977, ada enam ciri manusia Indonesia. Selama 31 tahun kita masih terbelenggu kultur yang lama sekalipun sistem dan struktur telah berubah-ubah.

Ciri pertama manusia Indonesia munafik. Pak Mochtar menulis "kata sakti" itu dengan huruf-huruf kapital-mungkin pertanda saking sebalnya dia. Setiap kali mendengar kata munafik, saya langsung ingat watak presiden kita yang kedua. Bagaimana dengan Anda?

Ciri kedua, enggan bertanggung jawab. Dalam setiap pemeriksaan kasus korupsi sang pejabat biasanya enggan "menjawab" interogasi, apalagi "menanggung" kesalahan dia. Sampai kini tak ada yang mengaku bertanggung jawab atas tragedi 12 Mei, padahal militer mengajarkan pentingnya bersikap ksatria. Ciri ketiga, feodal.

Ciri keempat, masih percaya takhayul dan jago bikin perlambang tanpa makna. Masih percaya takhayul dalam bahasa abad ke-21 artinya "masih menunggu kedatangan Ratu Adil/ Satria Piningit untuk memimpin bangsa".

Jauh sebelum Pak Mochtar sudah ada yang menulis parahnya watak memercayai takhayul, yakni Pahlawan Nasional Tan Malaka. "Dunia mistis dan takhayul menyebabkan orang mudah menyerah," tulis Tan Malaka.

Ciri kelima, artistik. "Bagi saya ciri artistik ini yang paling memesonakan, merupakan sumber dan tumpuan harapan bagi hari depan," tulis Pak Mochtar.

Ciri keenam, punya watak yang lemah sehingga mudah dipaksa berubah keyakinannya demi kelangsungan hidup manusia Indonesia.

Momentum bangkit bagi setiap bangsa selalu tersedia. AS saja kini bangkit lagi lewat slogan "Ya Kita Bisa!" ala Barack Obama.

Dalam rangka 10 tahun Reformasi, ada mahasiswa bertanya tentang kelanjutan slogan SBY-JK, "Bersama Kita Bisa". Saya menjawab, "Bersama Kita Bisa Apa, Ya?" Nah, marilah kita temukan jawabannya bersama-sama.

Sumber Kompas 13 Mei 2008
Lanjut...

KUPANG, PK--Pemberitaan media masa pada isu-isu tertentu secara tidak sadar menjadikan masyarakat terpola dengan pemberitaan yang sebenarnya tidak penting untuk lingkungan sendiri. Akibatnya, masyarakat lupa dengan permasalahan- permasalahan pada diri sendiri.

"Sebenarnya pemikiran masyarakat kita sudah disetir oleh media masa dengan berita-berita yang belum tentu menjadi masalah kita. Yang pelu saat ini adalah kita mengenal masalah kita sendiri," kata penulis dan pengasuh Rubrik Teroka-Kompas, Radhar Panca Dhana saat menjadi pembicara pada Sekolah Menulis yang diselenggarakan komunitas Rumah Poetica di Auditorium Sanlima-Kupang, Minggu (11/5/2008) sore.

Di hadapan puluhan calon penulis muda NTT tersebut, Radhar mencontohkan media masa cenderung memberikan masalah tertentu seperti kasus kenaikan BBM, masalah politik dalam dan luar negeri, gosip artis dan entertain. Semua isu tersebut diangkat oleh berbagai media dalam waktu yang sama sehingga hal-hal tersebut menjadi diskusi masyarakat. Padahal, masalah- masalah tersebut sebenarnya tidak penting yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.

Mengakses informasi seperti itu, menurut Radhar, merupakan gejala kehidupan masyarakat modern. Dan hal tersebut sengaja diciptakan oleh orang-orang yang memiliki modal dan bermaksud ingin terus mengembangkan modal miliknya. "Orang yang punya modal tidak menghendaki masyarakat berpikiran benar tentang masalahnya sendiri. Mereka berusaha menggiring masyarakat masuk dalam masalah global. Caranya melalui media," jelasnya.

Dijelaskannya, bila masyarakat sudah terpola dengan gaya konsumsi berita tersebut, maka akan menciptakan masyarakat yang konsumtif dan selanjutnya dengan muda pemilik modal tersebut menjual barang-barang mereka.

Dia menjelaskan, penulis muda saat ini lebih beruntung dibandingkan dengan penulis masa lalu. Ia menyebutkan, fasilitas internet saat ini memberikan kemudahan bagi penulis muda untuk mendapat mengakses sumber informasi yang banyak dan cepat, sementara penulis dulu harus mencari literatur di perpustakaan dan dengan cara-cara manual. Tidak heran bila ada siswa SMA di Jakarta mampu menulis novel bernuansa filsafat setebal lebih dari 500 halaman. Bahkan, sudah membuat pula novel lebih dari bernuansa teologi. "Bagi teman-temannya, karya itu dianggap biasa-biasa saja, tapi gurunya tercengang dengan karya siswanya itu," jelas Radhar.

Menurutnya, banyak penulis muda berbakat di Indonesia namun karya mereka kurang kreatif. Ia mencontohkan, data-data yang disajikan dari sumber lain tidak dikembangkan lagi, namun terkesan hanya mengambil data statistik saja.
Sebelumnya, dalam acara pembukaan Sekolah Menulis, Sabtu (10/5/2008) sore, Ketua Panitia Sekolah Menulis-Rumah Peotica, Charlemen Djahedael mengatakan kegiatan tersebut merupakan wadah khusus memproduksi penulis-penulis lokal. "Kita patut memberikan stimulan awal dengan mengelaborasi para penulis dan para jurnalis, sehingga penting untuk mengundang mereka agar dapat memberikan suatu warna baru," jelasnya. (den/alf)

Pos Kupang edisi Senin, 12 Mei 2008, halaman 10


Lanjut...

Propinsi Mengigau

Parodi Maria Matildis Banda

PROPINSI Mengigau adalah salah satu propinsi di Republik Mimpi. Sama dengan Propinsi NTT, besok, Senin 5 Mei, kalau tidak ada aral melintang KPU akan mengumumkan penetapan paket calon gubernur dan wagup di Propinsi Mengigau periode 2008 sampai 2013. Mudah-mudahan figur-figur yang dimunculkan oleh semua partai benar-benar dapat dipertanggungjawabkan kredibilitasnya. Mudah-mudahan partai juga tidak melakukan kesalahan yang sama. Hari ini dukung si A, besoknya dukung si B, lusa dukung si C. Mana yang untung dan mana yang buntung?

Tampaknya bagi pengurus partai Propinsi Mengigau, itu bukan masalah. Soal perilaku partai yang menjengkelkan, peduli amat. Bukankah selalu saja ada pihak lain yang tertawa untuk dapat memanfaatkan situasi. Dengan ancaman, mudah-mudahan Jaki bukan Benza. Atau semoga Benza bukan Jaki. Begitulah nuansa politik yang lagi panas di propinsi yang paling miskin di Republik Mimpi itu.
***
Siapa yang bakal keluar sebagai paket tetap, sudah bisa diketahui umum. Wah, pasar penjualan terbuka luas bagi siapa saja yang memenuhi syarat untuk membeli. Sekarang saatnya rakyat membeli secara bebas, untuk pertama kalinya. Benar-benar luber alias langsung, umum, bebas, dan rahasia. Hasilnya bagaimana? Susah diprediksi. Rara jadi gugup kembang kempis menanti saat itu. Lolos verifikasi dan ditetapkan sebagai paket tetap sebenarnya sudah ada dalam tangannya. Tetapi kehadiran Benza membuat telinganya panas. Partai yang sudah mendukungnya berbalik arah mendukung Benza.
"Kamu jangan maen-maen ya!" Rara jengkel bukan main. "Kemarin kamu terima saya, hari ini kamu terima Benza. Pagi kamu pake topi biru sore kamu pake topi merah. Apakah begitu caramu mempermainkan saya? Hati-hati kamu!"
"Kita harus menjunjung tinggi keputusan partai. Sepanjang masih bisa dipimpong kiri kanan, diatur kian kemari, ya kita pimpong dan kita aturlah! Biasalah, namanya juga perilaku partai Mengigau."
"Kamu penentu kebijakan! Tolonglah berbuat adil dan mendidik rakyat kecil dan para pemilih dengan etika partai yang benar!" Rara sungguh marah dengan sikap dan perilaku Jaki yang mengatur dukungan seenaknya saja.
"Aha, masak kamu buta dengan berbagai kebijakan Propinsi Mengigau selama ini. Tidur nyenyak, mimpi, dan mengigau sama enaknya bukan? Rakyat kecil tidak usah dipikir yang penting orang-orang elit seperti kita tidur nyenak dan mengigau terus!"
***
"Oooh, jadi kamu anggap saya buta?" Jaki membelalakan mata. "Yang punya partai itu kamu atau saya sih? Yang punya kuasa di partai itu kamu atau saya sih? Tahu diri dong!" Teriak Jaki.
"Oooh jadi kamu anggap saya tidak tahu diri?" Rara kebakaran jenggot. "Kamu yang tidak jujur, tidak konsekuen, dan maen dukung kiri kanan sesuka hatimu. Sungguh, saya kecewa dengan perilaku oknum partai seperti kamu! Kamu plin plan." Rara benar-benar marah.
"Siapa bilang aku plin plan? Aku hanya pegang prinsip PARTAI Peganglah Aku Relakan Tanganmu Aku Ikat. Jadi kalau kamu mau masuk lewat partaiku, relakanlah tanganmu aku ikat erat-erat. Jadi kalau banyak yang melamar, suka-suka aku dong, mau ikat tangan yang mana. Jadi kalau kamu tidak mau ikut kemauanku, jangan mimpi mau masuk lewat partaiku. Mengerti? Mau Benza atau mau Rara, suka-suka saya!"
"Perilaku kamu dan partaimu membuatku mual!" Rara langsung pergi. "Pikirkan sekali lagi. Saya atau Benza. Jangan sampai kamu menyesal." ancam Rara.
"Makanya, berbaik-baiklah sama partai. Gue lagi di atas angin nih! Yang punya partai kok dilawan sih! Rasakan akibatnya! Hari ini partai bilang Benza, besok partai bilang Jaki, besok lagi bilang Nona Mia, itu kan urusan partai. Berani macam-macam saya pecat kamu dari partai," Jaki merasa tersanjung. Perilakunya benar-benar menjengkelkan.
***
Lebih enak hidup di Propinsi Mengigau jaman dulu. Ketika belum ada KPU, belum ada Panwaslu, belum ada partai begini banyak. Mau jadi orang nomor satu hanya berhadapan dengan segelintir wakil rakyat. Kita sudah tahu lebih dulu, siapa yang bakal keluar sebagai sang juara. Apalagi otoritas partai-partai besar dalam menentukan pemilihan begitu jelas dilihat. Siapa yang punya banyak kursi, siapa yang kuat nego untuk menambah jumlah kursi, siapa yang berkuasa dan punya modal kuat, dia yang keluar sebagai pemenang. Tampak sekali, orang beli partai bukan orang beli orang.
Orang juga boleh punya mimpi yang sama. Sesuai dengan namanya, para wakil rakyat pun dapat mengigau hal yang sama. Kalau igauannya Benza, Benza, Benza, semua akan pilih Benza. Kalau igauannya Rara, Rara, dan Rara, semua akan pilih Rara. Semuanya sudah diatur. Yang tidak bisa bermimpi dan tidak dapat mengigau silahkan keluar dari fraksi dan otomatis keluar dari partai. Mudah bukan?
Kalau zaman sekarang, beda seratus delapan puluh derajat. Orang beli figur orang, dan tidak sudi beli partai. Begitu banyak contoh nyata di lapangan. Prediksi partai besar untuk memenangkan pemilihan orang nomor satu, gagal total. Jadi, kalau figurmu tidak meyakinkan, biar didukung partai besar, lebih baik pikir-pikir dulu baru tancap gas untuk lolos ujian. Zaman mimpi dan mengigau sudah berlalu. Kalau hari gini masih ada yang mau mimpi dan mengigau terus silahkan ketinggalan zaman.
***
Kata-kata Jaki ini, membuat Rara pusing tujuh keliling. Dia bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. "Apakah aku bukan figur yang meyakinkan?" Modal tampang ada, modal kantong ada, modal siksak ada. Bukankah penampilan saya cukup menjanjikan? Tetapi mengapa Jaki dan orang-orangnya tidak mencalonkan aku sebagai calon nomor satu, malah memilih Benza? Apa hebatnya Benza. Kalau begini keadaannya mukaku mau ditaruh di mana? Bagaimana mungkin Benza melampaui aku?
"Siapa yang bayarannya lebih tinggi?" Tanya Nona Mia seperti hakim yang berhak memutuskan siapa yang menang siapa yang kalah, ketika Rara mengadu padanya.
"Saya!" Rara menunjuk dadanya. "Jadi saya yang harus didukung, bukan Benza!"
"Siapa yang nilai jual untuk mendapat dukungan rakyat lebih tinggi?"
"Ya, sebenarnya saya!" Rara putar otak. "Tetapi karena Benza itu dekat dengan Jaki ya dia yang ditunjuk, bukan saya."
***
"Saya tolak jadi calon gubernur!" Benza berkata singkat saja dan membuat Rara melonjak kegirangan. "Saya mau pindah ke propinsi lain! Sebab saya tidak mau mimpi dan mengigau terus di sini!" Tegas kata-kata Benza.
"Oke! Besok pagi, kita lihat saja penetapan calon gubernur Propinsi Mengigau. Catatlah, saya yang pasti keluar sebagai calon jadi. Buat apa maju hanya untuk kalah? Apalagi di sebuah Propinsi Mengigau?" Kata Rara enteng saja.*

Pos Kupang Minggu, 4 Mei 2008, halaman 1

Lanjut...

Gas Air Mata

Parodi Maria Matildis Banda

MIRIP tetapi tak sama dengan di Kupang ibu kota Propinsi NTT, di Ngelindur ibu Kota Propinsi Mengigau, juga diadakan simulasi pengamanan Pilgub. Kalau di Kupang simulasi diadakan di lapangan upacara Mapolda, di Ngelindur simulasi digelar di pelataran Taman Makam Pahlawan Tak Dikenal. Yang tak sama tetapi mirip, hanyalah perasaan hati Benza salah satu warga kota Ngelindur. Rasa miriiiis sangat, menyaksikan bagaimana di kota dan propinsi kesayangannya itu ada kemungkinan rusuh, demonstrasi, dan tindakan anarkis, sehingga perlu disiapkan gas air mata. Ada pula kelompok bersenjata yang mau menyerang calon gub dan wagub, kemudian kelompok ini dibekuk aparat keamanan.

***
"Ah, itu kan hanya simulasi," kata Rara. "Ditanggapi santai sajalah! Jangan berat dipikir. Bisa-bisa, kepalamu yang sudah gundul sedikit tambah gundul gara-gara pikir itu simulasi!"
Benza enggan menjawab, sebab dia tahu persis bahwa simulasi dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi. Dalam kepala Nona Mia si penentu kebijakan simulasi di Propinsi Mengigau ini, sudah ada dugaan-dugaan bahwa masyarakatnya punya karakter buat onar, bikin kacau, maen demo, tabrak sana tabrak sini, sehingga perlu dihajar dengan tembakan peringatan, dengan pentung, dengan popor senjata, juga dengan gas air mata. Dalam kepala Nona Mia juga sudah ada dugaan kelompok bersenjata yang akan menyerang calon gub dan wagub. Hiiii kelompok bersenjata datang dari mana ya? Bukankah di negara kita ini pegang senjata ada undang-undangnya. Pegang senjata ada izin resmi? Kalau sampai ada kelompok bersenjata, duuuuuuuh.
"Kasihan Nona Mia dan segenap jajarannya," kata Benza begitu saja, membuat Rara bingung dan bertanya langsung, "Kok Nona Mia yang kamu kasian sih! Jatuh cinta berjuta rasanya ya?"
Benza pun enggan menjawab, sebab dia kecewa berat. Dalam kepala Nona Mia tidak ada sedikit pun ruang yang dibuka untuk mencoba menganalisis setiap kasus dengan mencermati akar masalah. Misalnya bertanya, mengapa masyarakat demo, mengapa buat onar, mengapa bikin kacau, mengapa maen demo, mengapa tabrak sana tabrak sini. Sayang sekali, kepekaan pikiran dan perasaan Nona Mia, hanya ditujukan untuk mengamankan calon orang-orang besar dan orang-orang besar. Bukan untuk memberikan rasa nyaman pada orang-orang kecil yang berada di tengah masyarakat. Nona Mia tidak pernah berupaya duduk diam, merenung, mengambil waktu jedah untuk mengenal dengan baik masyarakatnya. Apalagi untuk mengambil kebijakan tegas demi rasa keadilan dan kebenaran bagi rakyatnya. Yang penting bagi Nona Mia adalah keadilan dan kebenaran untuk para calon penguasa. Sayang sekali, di Propinsi Mengigau ini semua mata tertuju pada calon penguasa, bukan kepada calon pemimpin. Karena tujuannya adalah penguasa, maka cara-cara penguasalah yang diterapkan untuk mengambil kebijakan apa saja.

***
"Saya ingin sekali pindah ke Propinsi NTT," kata Benza sambil menarik nafas panjang.
"He he he, apa hubungannya?" Rara terkekeh-kekeh lucu melihat tampang Benza yang menurut Rara, sok pemikir. Tetapi Benza tetap serius memberi tanggapan.
Benza sekali lagi enggan menjawab. Dia hanya bicara untuk dirinya sendiri. "Kalau saya warga NTT tentu perasaan dan pikiran saya tidak akan semiris ini. Bukankah hanya mirip saja tetapi tak sama? Bukankah pelaksanaan pilgub dan wagub NTT berjalan lancar, jujur, adil, dan berwibawa? Bukankah proses penetapan calon gub dan calon wagup di NTT berjalan mulus tiada kekurangan suatu apa pun? Bukankah tidak ada udang di balik batu dalam penentuan calon? Oh, seandainya saya ada di sana, saya pasti bahagia sekali!รถ Benza setengah mengkhayal.
"Sayang, saya belum pernah ke NTT. Kapan ya saya ada waktu pergi untuk belajar kearifan di sana!" Kata Benza perlahan.
"He he he, apa hubungannya?" Rara terkekeh-kekeh lagi.

***
"Haloooo Rara, haloooo Benza!" Tiba-tiba Jaki muncul dengan segenggam peluru gas air mata yang belum meledak. "Saya dapat ini! Saya dapat ini!" Jaki melompat kian kemari karena kegirangan. "Peluru gas air mata. Saya dapat di depan Taman Makam Pahlawan. Ini peluru yang belum jadi meledak! Saya tahu dimana jatuhnya peluru, terus saya merayap perlahan-lahan, terus saya pura-pura duduk di atasnya, terus saya pura-pura garuk-garuk kiri kanan, terus ambil cepat-cepat, terus saya kasih masuk saku. Begitu tidak ada mata yang mencurigai saya, saya langsung kabur kesini.
"Untuk apa kamu bawa-bawa peluru gas air mata?" Rara terbelalak. "Bagi-bagi dong!" Rara penasaran.
"Saya mau bawa pulang kampung!" Jawab Jaki dengan enaknya. "Kamu tahu kan? Di kampungku ada banyak masalah. Masalah dengan ulat tanah, cacing tanah, air tanah, akar tanah, umbi tanah, tanah endapan, tanah garapan, tanah ulayat, dan tanah adat. Peluru gas air mata ini, akan kupakai untuk mengusir mereka-mereka yang mau tuntut mereka punya hak... Yang penting aman dan ABS alias asal bapak senang," Jaki beraksi.
"Tetapi yang dirugikan pada umumnya orang-orang kecil yang sangat membutuhkan uluran tangan kita untuk menolong mendapatkan hak-hak mereka. Mereka hanya orang kecil bagaimana mungkin kamu mau tembak dengan peluru gas air mata? Pada hal tuntutan mereka berdasarkan pada keadilan dan kebenaran!" Benza tidak percaya apa yang akan dilakukan Jaki.

***
"Ah, peduli amat! Orang kecil tahu apa mereka. Mereka orang bodoh. Yang tahu adil, benar dan punya keadilan dan kebenaran itu hanya kita orang-orang besar. Saya ini paling tahu benar dan kebenaran! Orang-orang kampung itu, orang kecil rakyat jelata itu, kita tembak saja pake gas air mata, biar bubar! Bila perlu kamu Benza dan segenap para pembela orang kecil itu saya sikat pakai ini! Peluru gas air mata!" Jaki melempar peluru gas air mata ke atas dan tangkap lagi. Lempar tangkap lempar tangkap, dan kemudian meledaklah dia! Aneh serpihan ledakan menancap di bibir, di jidat, dan di ulu hati. Jaki pun jatuh tak sadarkan diri. Sementara Benza dan Rara terpental dan untuk beberapa saat lamanya tak dapat melihat apa pun selain air matanya sendiri.
"Aduh Jakiiii kenapa kamu main-main peluru?" Begitu situasi kondusif, Rara langsung mengamankan peluru yang masih tersisa. "Ini untuk mengamankan Pilgub Propinsi Mengigau! Saya akan berada di barisan terdepan untuk membela calon unggulan saya. Berani ada yang macam-macam saya lempar peluru dan semua orang tersedu-sedu akibat kepedihan melanda matanya".
"Kamu ternyata sama dengan Jaki dan Nona Mia! Tidak punya mata lagi!" Komentar Benza dengan pahit.
"Bagaimanapun juga saya harus mendukung calon gub dan wagup saya. Saya akan gunakan cara apa saja, termasuk dengan gas air mata!"
"Kamu seperti udang di balik batu!"
"Memang! Yang penting batu di balik udang eh udang di balik batu dan calon unggulan saya jadi gubernur". *
Pos Kupang Minggu, 11 Mei 2008, halaman 1.


Lanjut...

KECANTIKAN seseorang tidak dilihat secara fisik saja, melainkan satu-kesatuan antara fisik dan perilaku serta tutur kata. Seseorang yang menganggap dirinya berpenampilan menarik, belum tentu menarik bagi orang lain. Bahkan seseorang yang merasa diri cantik, bisa dianggap sangat tidak cantik oleh orang lain.
Venny Montolalu, yang sudah menggeluti dunia kecantikan dan kepribadian sejak tahun 1984, mengatakan, setiap orang yang terlahir ke dunia sebenarnya sudah menarik, namun hal itu kurang disadari. Akibatnya, muncul perasaan kurang cantik, kurang menarik, kurang tampan dan sebagainya. Perasaan- perasaan itu mengakibatkan seseorang kurang percaya diri.


Padahal kecantikan itu harus berasal dari dalam diri atau inner beauty. Menurutnya, seseorang yang dikatakan menarik tidak harus berkulit putih atau kuning langsat atau kulit mulus, tidak harus berambut air atau memiliki tekstur wajah yang indah. Seseorang yang menarik sangatlah relatif. Penampilan menarik sebenarnya bisa dibentuk.
Vennyta Lilly, pimpinan Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Kursus Kecantikan dan Salon, Spa Mutis Multi Perdana di Jalan Bakti Karang No 9 Oebobo saat ditemui Pos Kupang di kantornya, Rabu (7/5/2008), juga mengisahkan pengalamannya di dunia kecantikan. Berbagai jenjang pendidikan non formal di bidang kecantikan dan perawatan tubuh dan pengembangan kepribadian telah dilaluinya.
Berikut petikan perbincangan dengan Pos Kupang.

Sejak kapan anda mulai menggeluti dunia kecantikan ini?
Saya mulai ikut kursus kecantikan pada tahun 1983 akhir. Saya mulai dengan tata rias dan perawatan rambut, kulit, rias pengantin bahkan dari tingkat dasar sampai tingkat mahir satu macam saja. Untuk kecantikan rambut, saya memang mengikuti pendidikan untuk menjadi tenaga pendidikan dan kependidikan, baik untuk teori maupun praktek, saya punya ijazah nasional. Kemudian untuk kecantikan kulit, yaitu menyangkut perawatan tubuh atau spa, juga dari tingkat dasar hingga tenaga pendidik dan kependidikan. Kemudian rias pengantin. Jadi, kalau rias pengantin ini, ada macam-macam daerah di Indonesia. Karena pengalaman itu, saya ikut pendidikan di John Robert Power tahun 1994. Saya ikut seleksi untuk tingkat instruktur di Bali dan terpilih untuk pendidikan di Jakarta. Selesai training, saya menjadi instruktur sekolah kepribadian John Robert Power, milik Ricard Absten dari Boston-USA. Saya mengajar dua tahun di tempat itu. Selain menjadi instruktur, saya juga buka salon dan sekolah kecantikan yang masih terus berjalan sampai saat ini. Saya juga pernah ikut pendidikan instruktur untuk senam dan saya punya ijazah dari senam aerobik, cha-cha-cha kemudian senam untuk SKJ. Saya mengajar di sekolah modeling MA Club Denpasar dan di Alianz International Modeling di Denpasar. Saya juga pernah di mengajar di sekolah pengembangan pribadi Orient di Depnasar sekitar tahun 2005. Kemudian saya mengundurkan dari Orient untuk mengembangkan kemampuan saya di Kupang, NTT.

Mengapa anda ke NTT?
Saya lihat di NTT ada peluang, apalagi kecantikan dan pengembangan kepribadian itu sangat berkaitan. Saya lihat di NTT ini perlu untuk peningkatan SDM, khususnya dalam pengembangan kepribadian. Saya membentuk lembaga ini. Dan dalam kerja sama dengan Dinas P dan K, saya akan membuka lagi sekolah pengembangan kepribadian. Kalau pendidikan untuk kecantikan dan spa, perizinannya sedang saya upayakan. Saya akan membuka kelas public speaking, sekretaris, PR (Public Relation) khusus untuk ibu-ibu dan umum.

Mengapa anda tidak membuka salon atau spa saja, tetapi juga pendidikan kecantikan?
Saya melihat juga dari apa yang saya bidangi sekarang, saya tidak punya gelar karena sekolah formal saya hanya tamat SMA, tapi saya menghabiskan waktu saya bertahun-tahun untuk mengikuti sekolah kecantikan. Jadi, saya sekolah ini mulai dari tahun 1983 akhir hingga selesai tahun 1995. Tahun 1995 untuk tingkat pendidikan dan kependidikan. Dengan latar belakang pengalaman dan pendidikan itu, saya sudah punya kompetensi melakukan pendidikan. Di bidang pendidikan kecantikan ini, sebenarnya saya sudah punya kompetensi. Bahkan kalau memakai gelar, pendidikan saya sudah setingkat S2 atau magister. Saya dapat gelar magister itu dari kecantikan. Tapi karena ini pendidikan non formal, jadi tidak ada gelarnya. Saya senang dengan kondisi ini karena di NTT ini kita lebih berkembang dan membantu masyarakat seperti ini. Tujuan saya, supaya wawasan masyarakat NTT tentang kencatikan kepribadian makin luas. Kalau masyarakat di sini memiliki wawasan lebih luas, maka mereka bisa melihat semua potensi yang ada, baik dalam diri, lingkungan maupun daerah ini sehingga daerah ini lebih maju lagi.

Mengapa anda menyukai dunia kencantikan?
Ya, memang dari dulu saya tertarik dengan dunia kecantikan. Setelah tamat SMA saya berpikir, kalau saya kuliah belum tentu habis kuliah saya dapat kerja. Kesukaan saya pada dunia kecantikan bermula dari kebiasaan saya membaca rubrik-rubrik kecantikan di majalah-majalah, saya juga baca koran, nonton di televisi. Dari situlah terpikirkan, mungkin lebih cepat dapat kerja kalau saya ikut kursus kecantikan. Tapi, dasarnya memang saya suka dengan kecantikan ini. Saya merasa senang dengan dunia saya ini. Jadi saya sekolah kecantikan itu lima tahun berjalan. Banyak orang yang mengatakan untuk apa sekolah bertahun-tahun. Dengan apa yang ada saja kan sudah cukup, tapi saya berpikir tetap melanjutkan berbagai pendidikan ini karena umur saya masih muda. Saya mulai ikut kursus kecantikan saat usia 16 tahun. Terakhir itu saya mengambil tenaga pendidik dan kependidikan kecantikan. Semua jenjang pendidikan profesional sudah saya ikuti. Saya juga pernah ikut kursus tentang penataan dan perawatan rambut pada Rudiardi Suwarno dan Sari Ayu Martha Tilaar. Kemudian kursus kencatikan pada Mustika Ratu dari Murdiaty Sudibyo lalu dengan Ultima.

Bagaimana seseorang itu dikatakan cantik?
Sekarang kita beranggapan ah.. cantik itu dilihat dari wajah orang atau warna kulit. Menurut saya, semua orang yang dilahirkan itu cantik karena kecantikan itu tidak bisa dilihat dari wajah, kulit atau rambut saja. Seseorang tidak hanya memiliki kecantikan dari luar, tetapi juga dari dalam (inner beauty). Karena apa yang terungkap di luar bukan saja dari penampilan, tapi juga dari yang dikeluarkan. Sekarang dunia kecantikan sudah maju pesat. Orang bisa mengubah wajah mereka agar terlihat cantik, dan itu membuat mereka senang. Tetapi, menurut saya, sebaiknya cantik itu alami saja. Caranya muda saja, bila kita make up, maka harus menggunakan tata rias wajah yang sesuai dengan bentuk wajah dan kulit kita. Misalnya orang berkulit gelap pasnya bedak yang warna apa. Demikian juga untuk orang berkulit putih. Kecantikan itu bukan melihat orang itu hidung pesek, kulit hitam, jelek. Kecantikan itu dilihat dari kebersihan, cara merawat diri, kemudian penampilan dan kesesuaian berpakaiain dan tutur kata kita. Kita tidak perlu make up yang tebal-tebal agar orang melihat kita cantik. Make up yang sederhana saja tetapi terlihat fresh. Kecantikan itu harus melihat semua karena kita punya inner beauty, kencatikan dari dalam, bukan dari luar (fisik). Jadi, saya selalu menerapkan konsep kecantikan alami kepada murid-murid saya. Karena kencatikan manipulasi wajah dengan bahan-bahan asing ke dalam tubuh itu akan membawa efek negatif yang sangat merugikan. Cara itu juga memerlukan biaya yang mahal dan rutin.

Apa hubungan spa dan kecantikan?
Spa ini terkait dengan kecantikan karena spa itu menyangkut perawatan tubuh, bukan dari dalam saja, tetapi juga dari luar. Kalau kita bisa merawat tubuh, berarti kita merawat dari dalam seperti apa. Ada yang minum jamu sudah merasa percaya diri dengan penampilan. Mungkin kulit saya tidak putih atau tidak cantik, tapi dari cara berpakaian, dari cara berdandan yang sederhana sesuai wajah kita dan warna kulit dan usia. Kemudian bisa menempatkan waktu, maka orang lihat pasti ada kesan cantik alami. Tapi ada juga orang yang menggunakan cara-cara tidak alami sehingga cantik alaminya hilang. Contoh, orang yang biasa suntik-suntik wajah untuk terlihat cantik seperti suntik ke dagu, hidung lama-lama juga jadi rusak dan wajah asli tidak kelihatan lagi. Kepada murid-murid saya hanya memberikan masukan saja bahwa memepercantik wajah dengan cara-cara tidak alamiah itu akan merusak wajah. Saya juga belajar dan bisa praktek itu, tapi saya tidak mau lakukan itu. Jadi di NTT saya tidak terapkan metode kecantikan degan cara- cara buatan, saya hanya terapkan cara-cara alami sehingga orang tidak mampu pun bisa menunjukkan kecantikannya secara alami.

Sekoloh kepribadian itu apakah sangat dibutuhkan?
Menurut saya, kepribadian itu sangat dibutuhkan semua individu, semua orang. Kalau kita melihat di luar negeri kepribadian seorang anak itu mulai dipupuk, Nah, kita di Indonesia kepribadian itu sangat dibutukan oleh seluruh masyarakat, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Karena kepribadian itu bisa mencerminkan kita di hadapan sesama seperti etiket dan sopan santun kita terhadap orang, baik kita di rumah terhadap orangtua maupun di tempat kerja atau di mana pun kita berada. Kemudian soal tata krama atau pergaulan. Kalau kita memiliki pergaulan yang bagus, tahu menempatkan diri, kita tidak boleh merasa ego atau berpikir untuk diri sendiri tetapi harus juga memikirkan orang lain. Kita juga harus tahu bertutur kata yang baik dan benar sesuai porsi kita. Saya mau katakan penampilan yang bagus itu dilihat pertama dari luar, penampilan kalau kita lihat sudah sesuai maka kita bisa mengetahui isi hatinya dia dan bisa dipastikan kalau orang itu bukanlah orang sembarangan. Jadi kepribadian yang baik itu harus diutamakan penampilan disesuikan dengan usia, warna kulit, cara berpakaian, cara menata rambut. Kemudian cara berbicara, cara berjalan, cara menyapa orang, cara duduk didepan orang. Cara duduk saja bisa diketahui, orang ini punya kepribadian yang baik atau tidak.

Sekolah kepribadian bisanya identik dengan perempuan. Apakah sekolah ini juga bisa untuk laki-laki?
Ini pertanyaan yang baik. Kalau kepribadian itu milik semua orang, jadi bukan untuk satu orang saja tapi untuk laki dan perempuan. Cuma memang sekarang kalau orang dengar sekolah kepribadian pasti biasa dianggap cocok untuk ibu rumah tangga atau ibu-ibu pejabat. Jadi bukan begitu, karena saya yakin di NTT semua pejabat belum tentu paham soal kepribadian. Atau kepribadian itu berlaku juga untuk orang laki- laki dan perempuan. Nanti ada juga porsi kepribadian bagi seorang laki-laki yang menjadi atasan di kantornya, bagaiman cara dia berbicara dengan bawahan dan sebaliknya dengan seniornya atau tamu-tamu pentingnya. Jadi aturan sendiri. Seorang pria juga harus memperhatikan kepribadian terutama cara berpakaian, penampilan, dan cara duduk. Seorang pria juga harus memiliki cara-cara duduk layaknya seorang pria sejati.

Bagaimana menurut anda tentang kepribadian orang di NTT?
Ini pengalaman saya di NTT dan ini fakta di Kupang, saya perna ke suatu kantor terutama instansi pemerinta. Kan bisa satu ruangan itu banyak, kalau kita masuk kesitu alangka baiknya orang yang terdekat di tempat itu bisa kita menegur sapa dengan mengatakan selamat siang ibu, tapi karena mungkin merasa tidak kenal lalu dia cuek saja. Malahan dia lihat ke arah saya dan memalingkan wajah melihat ke tempat lain dan seakan tidak mau tahu dengan orang yang datang. Nah, kita sebagai tamu harus melihat-lihat dan mencari-cari orang yang kita kenal atau kita perlu. Jadi kalau orang yang saya cari tidak ada disitu otomatis saya harus menyapa mereka tapi selalu dijawab dengan ketus saja. Jadi dalam memberi penjelasan terkesan tidak mau repot, ini sudah menunjukan tata krama yang tidak baik. Nah jadi di NTT perlu, walaupun instansi pemerintah seharusnya bisa memajukan wawasan dengan tata krama ini. Kalau seperti ini, maka orang yang datang dari luar NTT apalagi orang asing, maka dia sampai di luar negeri dia akan ceritakan tentang orang sini. Jadi kualitas diri bukan saja ilmu yang dimiliki tetapi tatakrama dan etika sopan santun.

Sekolah kepribadian apakah perlu?
Manusia dilahir itu pada umumnya sudah memiliki kepribadian yaitu kebiasaan sudah ada. Tetapi belum tentu kebiasaan itu terbawa terus dengan arah yang betul. Contoh misalnya anak- anak kecil itu selalu berperilaku berbahaya misalnya ingin masukan tangannya ke colokan listrik, tapi kita tdak bisa langsung marah dia atau pukul supaya jangan berbuat hal-hal itu. Tapi kita harus menjelaskan kedia bahwa yang begini jangan karena berbahaya jadi kita mengarahkan dia ke pribadi yang baik. Setiap orang lahir memiliki kepribadian, sudah punya pribadi bawaan tapi itu saja tidak cukup. Kita harus mengaahkan lagi, jadi dari kecil kita pupuk itu sampai ke jenjang dewasa. Ada yang yang bilang pengembangan pribadi itu hanya untuk pejabat saja, itu tidak betul. Pengembangan pribadi itu berlaku untuk ibu rumah tangga, masyarakat yang tidak mampu sampai dengan pejabat-pejabat, siapaun dia dan tidak terkecuali. Dalam diri kita ini ada sifat-sifat yang baik yang bisa dikembangkan lagi. Jadi begini menekan kekurangan kita dan menonjolkan kelebihan kita.

Kecantikan orang NTT secara fisik sudah kalah dengan orang- orang dari Jawa, Sumatera, Sulawesi. Bagaimana menurut Anda?
Nah, itu karena tidak memiliki rasa percaya diri sehingga dia masih lihat wah saya ini kulit gelap jadi saat ketemu orang berkulit putih, dia langsung minder. Itu jangan berpikiran demikian. Jadi kalau dia mengikuti pendidikan kepribadian dan pengembangan pribadi maka akan tahu bahwa baik kulit gelap atau hitam mapun putih itu sama saja. Jangan berpikir dia lebih dari saya. Jadi walaupun kulitnya tidak putih tapi memiliki dandasanan, cara busana dan make up yang baik maka akan membangkitkan rasa percaya diri. Jadi orang disni karena belum paham pengembangan pribadi jadi dia belum ada rasa percaya diri padahal dalam diri dia juga ada kelebihan. Jadi mungkin nanti mereka tahu tentang pengembangan pribadi itu.Pengembangan diri dan kepribadian juga bisa menghilanghkan rasa minder dan membangkitkan rasa percaya diri. Kalau seorang yang sudah mengetahui tentang pengembangan pribadi maka siapapun bisa ditemui dengan rasa percaya diri, demikian berbagai acarapun bisa diikuti dengan rasa percayan diri tinggi.

Anda berencana membuka sekolah pengembangan kepribadian. Apa yang akan anda lakukan?
Nanti ada kelas reguler tiga sampai empat bulan dengan jadwal kursus tiga kali seminggu. Satu kali pertemuan itu dua hingga tiga jam. Pengembangan kepribadian itu dilakukan secara umum. Ada pendidikan pengembangan pribadi, tata krama, etiket, tata busana, cara jalan yang baik, cara naik dan turun tangga, cara duduk, naik ke mobil. Cara makan ada juga, cara make up kemudian penataan rambut dan tubuh sendiri. Bagaimana berbicara di muka umum atau ekspresi suara. Ekspresi suara itu cara berpidato dan presenter, cara berbicara dengan orang lain. Kemudian ada table meyners, ini tata cara duduk di meja makan secara internasional. Itu kita mengajarkan cara duduk di meja makan, cara mengunyah makanan kemudian cara mengatur posisi tangan saat makan, cara pegang gelas, sendok, cara masuk sendok ke mulut, terus komunikasi di meja makan saat jamuan makan. Cara makan dengan tata cara internasinal mungkin tidak digunakan setiap saat. Tapi, kalau ada jamuan-jamuan makan internasional dan kita harus ada, maka kita sudah siap. Sebab bisanya jamuan-jamuan makan yang sifatnya kenegaraan atau internasinal dengan meja makan itu piringnya, sendok dan piasu itu lebih dari satu. Gelasnya juga ada beberapa. Jangan sampai piring untuk taruh makanan ini, kita gunakan untuk lain atau gelas untuk anggur malah kita taruh air. Itu sama saja kita menciptakan kekacauan di meja makan. (alfred dama)


Baru Sekali Ikut Fashion Show

MENYUKAI dunia kecantikan bukan berarti harus terjun menjadi modeling. Ini pula yang dilakukan oleh Venny Montolalu. Meski sejak usia 16 tahun mulai menekuni dunia kecantikan, Venny baru sekali mengikuti event fashion show. Padahal wanita cantik ini sudah memiliki pengetahuan dan pengalaman tentang dunia kecantikan dan fashion show sejak masa remaja.
"Saya dulu juga suka modeling, tapi baru pertama ikut saat saya sudah banyak pengetahuan dan pengalaman," jelas ibu tiga anak ini.
Ia menuturkan, event modeling yang pernah diikutinya adalah lomba fashion show untuk wanita karier tahun 1998 di Bali. Saat itu, pesertanya datang dari Nusa Propinsi Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat dan Bali. "Waktu itu saya bekerja di perusahaan garmen sebagai desainer. Kebetulan baju yang saya pakai harus saya desain sendiri. Saya ikut dan kebetulan meraih juara pertama," jelasnya.
Diakui, meraih juara tersebut merupakan satu-satunya selama keterlibatannya dalam dunia kecantikan dan fashion show meskipun ia sendiri kerap terjun dalam dunia tersebut. Ini tidak terlepas dari pengalamanya sebagai juri dalam berbagai lomba fashion. "Saya sering jadi juri, jadi sekali-sekali saya pingin coba jadi peserta. Kebetulan saya mengerti dan tahu standar- standar peniliaian yang membuat saya juara. Tapi banyak protes, Katanya saya sudah jadi juri, tapi kok ikut lagi," ujarnya sambil tersenyum.
Ikut dalam lomba fashion show tersebut sebenarnya bukan tujuannya sebab ia menyadari kalau grate-nya akan turun. Apalagi banyak yang protes, namun ajang tersebut merupakan kesempatan untuk mengetahui dan merasakan panggung lomba. "Kebetulan saat itu, saya sebagai wanita karier dan lomba itu juga sebagai wanita karier,"jelasnya.
Dengan berbagai pengalamannya, Venny Lilly, MJ kini mebuka lembaga pendidikan dan pelatihan kursus kecantikan, salon dan spa. Ada keinginannya untuk membagi pengalaman pada putri- putri NTT tentang kencatikan. Bahkan, menurut rencana dalam waktu dekat ia akan membuka sekolah pengembangan diri dan kepribadian di Kupang. (alf)


Data Diri

Nama : Venny Montolalu
Tempat Tanggal Lahir : Manado-Sulawesi Utara, 27 April 1965
Pekerjaan :Pimpinan Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Kursus Kecantikan, Salon dan Spa Mutis Multi Perdana

Pendidikan SD - SMA di Manado (Tamat SMA 1982)
Selain pendidikan formal, Venny Montolalu juga mengantongi 25 ijaza dan sertifikat pendidikan kecantikan, kepribadian, tata rias penganti tradinal, senam mulai dari tingkat dasar hingga tingkat tenaga pendidik dan kependidikan.
Beberapa diantaranya adalah
*Pendidikan Tata Rias Pengantin Barat 1985
*Pendidikan Kecantikan Ngadi Saliro dan Ngadi Busana Mustika Ratu di Jakarta 1986.
*Pendidikan Tenaga Pendidik Ujian Nasional Kecantikan Rambut, Dasar, Terampil, Mahir 1994.
*Pendidikan Instruktur Sekolah Kepribadian Jhon Robert Power Jakarta 1996.
*Pendidikan Nasional Penguji Nasional Kecantikan Rambut Tingkat Dasar, Terampil, Mahir tahun 1996
*Pendidikan Nasional Penguji Nasional Kecantikan Kulit Tingkat Dasar, Terampil dan Mahir tahun 1996.
*Pendidikan Tenaga Pendidik Ujian Nasional Kecantikan Kulit Tingkat Dasar, Terampil, Mahir 1996.
*Pendidikan Instruktur Senam Tinkat Terampil, Mahir di Denpasar 1999.

Suami Hanny S.L
Anak-anak Syska Yullia
Christine
Billy

Tamu Kita Pos Kupang Minggu, 11 Mei 2008

Lanjut...

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda