Babo Woda

Cerpen Roni H Bata

APA yang paling sering dikenang tiap September tiba? September Cerianya Vina Panduwinata, suhu panas mencapai titik kulminasi di daerah-daerah tropis, daun- daun mulai berguguran di negeri empat musim atau luruhnya helai-helai ketapang di halaman sekolah? Tidak. Bukan itu semua. Saya tidak terlalu hafal peristiwa-peristiwa bersejarah sepanjang September, kecuali Napoleon Bonaparte memasuki kota Moskow dan membakar seluruh kota pada tanggal 14 September 1812, kelahiran aktris super jelita dan berbakat Sophia Lauren tanggal 20, Sovyet meledakkan bom atom pertamanya sebagai percobaan pada tanggal 22 tahun 1949, Saudi Arabia merdeka di tanggal 23, hari ulang tahun kekasihku yang jatuh pada tanggal 24 dan tentu saja Gerakan 30 September di tahun 1965. Tapi melebihi semua itu, saya selalu terkenang Babo Woda. Ya, lelaki berusia 70-an itu.

Di akhir September, tiga pohon ketapang di halaman sekolah akan gugur sampai telanjang bulat sepanjang kurun waktu dua minggu. Babo Woda, petugas kebersihan sekolah akan kebanjiran pekerjaan. Mulai pukul tujuh sampai pukul sembilan, Babo Woda akan menyapu luruhan helai ketapang di depan ruang guru Sasana Mitra 2. Dua jam berikutnya di halaman XII Bahasa 1, dan dua jam terakhir di halaman samping perpustakaan. Dan, ketika sapunya sibuk menyeret daun ke tempat sampah, dua halaman yang tadi sudah dibersihkan sudah dipenuhi helai-helai ketapang yang terus saja berjatuhan.

Kalau tidak sedang mengajar saya suka mengajaknya bercerita atau sekedar menanyakan apa kabar. Saya sering mengangguk seolah mengerti karena artikulasinya yang buruk. Saya menduga giginya hampir seluruhnya tanggal kecuali dua atau tiga gigi depan.
"Babo, September pasti bikin Babo lebih banyak kerja e?" Saya membuka percakapan dengannya pada suatu pagi di bulan September.
"Kenapa?" Dia balik bertanya.
"Karena di bulan September semua ketapang di sini daunnya berguguran. Saya kasihan lihat Babo sapu setiap saat tapi sia-sia karena akan penuh lagi dalam sesaat." Dia tersenyum.

"Sama saja, Ibu. September atau bukan saya tetap akan menyapu dari jam tujuh sampai jam satu. Itu tugas saya." Saya tersentak. Malu dan masgul. Kesenduan saya tentang September ternyata ditanggapi Babo Woda sebagai rutinitas mekanik biasa, tak ada beban atau kesedihan atau secuil emosi pun dalam jawabannya.

Suatu ketika beberapa guru bertengkar di ruang piket, memprotes kebijakan kepala sekolah yang masih saja mempekerjakan Babo Woda, bukan karena alasan kemanusiaan bahwa dia sudah seharusnya beristirahat tetapi karena alasan produktivitas. Geraknya lamban, hasil kerja tidak maksimal sehingga perlu bantuan para petugas piket untuk mengatur siswa-siswi yang terlambat untuk membantu membersihkan sampah sebagai sanksinya. Kepala Sekolah dianggap terlalu halus dan tidak rasional. Pekerja uzur kok dipertahankan, sedangkan masih banyak orang muda berkeliaran di jalan tak punya pekerjaan.

Tapi entah mengapa Babo Woda masih saja ditemui di tiap-tiap pergantian pagi. Celana panjang hitam, baju kaos bertuliskan Pembina di punggung yang mulai kekuning-kuningan karena kotor dan usang dan seperangkat alat kerja berupa karung bekas dan sapu lidi. Dan, saya menikmati setiap perjumpaan dengannya. Dia meraup kekaguman saya karena dia begitu tua tapi juga begitu kuat.
"Pagi, Babo!" Begitulah saya selalu menyapanya.
"Pagi, Ibu. Saya ada titip kelapa empat buah di rumah Ibu. Semuanya sudah 30 buah". Saya agak kaget.
"Iya kah? Nanti selesai ngajar saya kasih uangnya, Babo."

Bukan cuma kepala sekolah yang dianggap tidak rasional. Sudah banyak tumpukan kelapa di dapur karena kami toh tidak akan mengkonsumsi kelapa sebegitu banyak. Ibu saya mulai marah-marah karena dapur menjadi makin sempit dan tidak tahu mau diapakan kelapa-kelapa itu. Entah kenapa saya selalu saja memesan kelapa lagi, bahkan ketika syaraf perintah di otak saya belum bekerja, kata-kata permintaan sudah meluncur licin di bibir saya sebelum saya bisa mengkalkulasi asas-asas manfaatnya. Tapi adakah kita benar-benar mendasari tiap-tiap tindakan dengan asas manfaat?
Sejak ribuan tahun yang lalu jasad tumbuhan dan hewan yang hidup di laut maupun yang datang dari darat terbawa arus sungai telah terhempas ke dasar laut. Jasad renik ini ditambah berton-ton pasir dan lumpur tertimbun membentuk lapisan-lapisan ribuan meter tebalnya, suatu substansi yang oleh tekanan dan hawa panas kemudian berubah menjadi minyak mentah yang dipakai jadi bahan bakar dan minyak pelumas setelah diolah di kilang-kilang minyak. Lapisan apakah yang membentuk Babo Woda sampai begitu kuat? Dari kemelaratan dan kekurangan yang berlapis lalu jadi endapan kesabaran jutaan meter tebalnya, mendapat tekanan kebutuhan hidup yang memaksanya masih bekerja sampai renta? Dia mungkin bekerja untuk membunuh rasa jenuh, tapi lebih banyak dan hampir menjadi alasan terpenting adalah demi menyambung beberapa utas nyawa. Nyawanya sendiri, istri dan anak-anaknya, mungkin juga para cucu.
"Ibu Maya, ini ada disposisi dari Kepala Sekolah. Ibu diperintahkan mengikuti Pelatihan KTSP untuk guru Mata Pelajaran Bahasa Jerman selama seminggu di Kupang."
Seru Ibu Margareta dari ruangan kantor sekolah. Dia berlari-lari kecil menyerahkan nota disposisi dimaksud. Saya agak kaget karena saya sudah harus melapor diri di tempat pelatihan keesokan harinya. Tanpa banyak pikir saya segera booking tiket pesawat dan menyiapkan segala macam keperluan untuk segera berangkat ke Kupang.
"Babo, besok saya berangkat ke Kupang. Sore Babo ke rumah. Saya mau bayar hutang." Saya menyapanya ketika hendak pulang ke rumah. Babo Woda hanya mengangguk dan tidak menoleh ke arah saya. Perlu energi dan kelenturan sendi untuk sekedar menoleh apa lagi memindahkan kaki dan tangan ke arah yang berlawanan. Asam urat, tulang rapuh, pinggang encok, adalah penambah sederetan penderitaan.

"Ibu, saya lihat Ibu sering pesan kelapa di Babo Woda. Untuk apa beli kelapa begitu banyak? Perlu atau buang-buang duit?" Ibu Hartati bertanya. Saya tidak menjawab, membiarkan pertanyaannya berlalu sampai gemanya menghilang di balik riuh suara para siswa yang bergembira karena lonceng telah berdentang tanda usai sekolah. Saya tidak perlu alasan apa pun untuk membeli kelapa Babo Woda. Saya tidak menyesali tindakan saya yang kelihatannya hanya ungkapan emosi sesaat. Apakah keadaan Babo Woda yang tidak menguntungkan disebabkan karena dia tidak menjadikan dirinya maknet positif yang memungkinkan dia mencapai jutaan cita-cita positif? Semesta tidak bersekutu dengannya dan tidak memenuhi keinginannya untuk bisa hidup layak, punya anak-anak yang berhasil sehingga bisa nginap di home stay di Moni selama tiga hari, menikmati keindahan danau tiga warna sambil melukis, atau diving di Waiara, tidur di hotel mewah di Labuan Bajo, mengunjungi Riung 17 pulau dan jutaan kegembiraan lain seperti dalam cerita orang-orang sukses.

Mengikuti pelatihan selama seminggu cukup melelahkan. Tapi terobati karena bisa bertemu teman-teman kuliah dan mendengar cerita-cerita mereka seputar kehidupan keluarga dan pengalaman di tempat kerja masing-masing. Sejenak masa-masa kuliah seperti diputar ulang. Pada satu titik hidup seperti berhenti dan saya menikmati moment ketika saya kembali ke pusaran waktu yang pernah begitu indah. Tapi hari-hari terus berlari. Pelatihan usai dan saya kembali teringat Babo Woda. Dia tidak datang ke rumah seperti yang saya minta dan saya terburu-buru pergi sebelum membayar hutang padanya. Saya lalu membelikan sebuah hadiah untuk Babo Woda. Setelah beberapa saat bingung mau membeli apa, akhirnya pilihan jatuh pada sepasang sandal carvil dan sweater. Saya mulai membayangkan seulas senyum simpul yang menyembunyikan gigi-giginya yang hampir semuanya tanggal.

"Pagi, Pak. Lihat Babo Woda kah?" Saya bertanya pada Pak Vincent di hari pertama sekembalinya saya dari Kupang. Pak Vincent menggeleng dan berlalu.
"Yum, ketemu Babo Woda?" Kali ini siswa kelas XII IPS 4 yang saya tanyai.
"Tidak, Ibu." Jawabnya singkat. Saya lalu menemui Om Senda, satpam sekolah.
"Om, lihat Babo Woda?" Dia nampak tak peduli. Bibirnya tiba-tiba dinaikan seperti orang yang hendak mencibir atau protes atau sejenisnya.

" Saya tidak tahu, Ibu. Saya heran dengan orang-orang yang kerja disini. Dua puluh tahun saya bekerja disini, saya hanya digaji empat ratus ribu. Saya jaga sekolah mulai dari jam7 pagi sampai selesai sekolah lalu jaga lagi sore dan malam hari. Kalau ada barang-barang sekolah yang hilang atau rusak, saya turut kena getahnya, juga kalau ada keributan antar siswa atau siswa dengan guru, atau orang tua siswa mengamuk, saya orang pertama yang hadir di TKP, dapat ngamuk, caci maki. Eh, ada pegawai honor baru hanya pake baju bagus, sebentar datang lalu pulang digaji lima ratus ribu. Kalau bukan pegawai negeri berarti kuli. Jadi kuli macam saya harus tahu diri"

Tenggorokan saya seperti kering mendadak. Kesesakan kaum terabaikan kadang tidak peduli tempat, apa, siapa untuk jadi tempat sampah. Saya tidak tahu siapa sebenarnya yang sedang dibencinya dan baru saja ingin pergi ketika tiba-tiba Ibu Margareta, pegawai sekolah muncul dari pintu gerbang. Saya pun tahu kini saya menemukan orang yang pas untuk bertanya tentang Babo Woda.
"Ibu Margareta tahu dimana Babo Woda?" Ibu Margareta tidak segera menjawab pertanyan saya, malah balik bertanya, "Ibu tidak tahu kah?". Saya mengerutkan dahi. Bingung.
"Tahu apa maksud Ibu?" Saya bertanya lagi.

"Ibu Maya, sudah empat hari Babo Woda diistirahatkan dari pekerjaanya. Babo Woda sudah terlalu tua dan sakit-sakitan. Kerjanya pun makin lamban. Akhirnya rapat Kepala Sekolah, dewan guru dan komite memutuskan untuk mengistirahatkan Babo Woda. Saya dengar kemarin Babo Woda dan keluarganya pulang ke kampungnya di Rate Nggoji."
Saya mendadak tuli, bisu, gagu kaku, beku. Benarkah? Kenapa? Saya teringat sepasang sandal carvil dan sweater yang belum sempat saya berikan, juga hutang yang belum saya lunaskan. Saya ingin mengatakan banyak hal baik tentangnya dan mengakui arti kehadirannya untuk sekolah. Saya juga mau berterima kasih telah begitu setia menghantarkan kelapa ke rumah, untuk menemani saya ngobrol di sela-sela waktu mengajar, dan terutama untuk menjadi seperti berlian, sebongkah batu bara yang menjadi indah karena sejumlah tekanan. Tapi seribu bahasa tak lagi bermakna sebab saya telah tertinggal oleh waktu yang telah membawanya berlalu dari keseharian saya. Seonggok rasa sesak menyeruak. Saya tenggelam dalam perasaan yang tidak sanggup saya namai.

Hari-hari lewat begitu cepat, meninggalkan saya dengan sejumlah kenangan. Saya teringat ketika tangan-tangannya masih menyapu daun-daun yang jatuh, tidak banyak orang yang menyadari bahwa dia ada di lapangan basket, halaman Batara, di naungan pohon johar, akasia, ketapang. Dia hanya seperti angin di antara pepohonan atau kutu kecil di rerumputan sekolah. Cerita tentangnya terkubur bersama helai-helai ketapang di lubang-lubang sampah.

September ketiga telah datang dan pergi lagi sejak Babo Woda meninggalkan sekolah. Saya sibuk mengingat hal-hal bersejarah sepanjang September. Pada 1 September 1992 Soeharto membuka KTT Nonblok X di Jakarta, 5 September hari lahir Raja Louis XIV dari Perancis, 10 September 1907 New Zealand menjadi dominion dari persemakmuran Inggris, 11 September gedung WTC diluluh-lantahkan kaum teroris, 15 September (1917) Republik Rusia diproklamirkan oleh Alexander Kerensky, 1 sampai 30 September ada lelaki tua berusia 70-an bercelana panjang hitam, berkaos oblong dengan tulisan Pembina di balik punggung, dengan seperangkat sapu lidi dan karung menyapu guguran helai ketapang di halaman sekolah.......

Ende, April 2008

For an old man who always passes by my door.

Pos Kupang Minggu, 11 Mei 2008, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda