BBM

Oleh Maria Matildis Banda
GARA-gara isu kenaikan harga BBM, pernikahannya batal. Bagaimana tidak? Semua harga keburu naik sebelum BBM benar-benar naik. Bahkan ada yang simpan stok satu gudang menunggu saat yang pas untuk dijual dan mendapat keuntungan besar. Cerita ini membuatnya ambil langkah pasti, batal nikah. Untung segenap anggota keluarga kedua belah pihak bersedia sabar menunggu sampai tiba saat yang tepat untuk mengantarnya naik ranjang pelaminan bersama Nona Mia.

Namun, tidak ada seorang pun yang tahu, bahwa Nona Mia tersinggung gara-gara Jaki membuat pembatalan sepihak. Nona Mia merasa dirinya disamakan dengan BBM. Konon, diam-diam Nona Mia mencari dukun sakti agar pernikahannya tetap berjalan sesuai rencana

***

"Apa? Batal nikah gara-gara BBM?" Rara terbelalang. "Ini berita yang tidak lucu. Kesempatan naik ranjang kok ditolah gara-gara BBM?"
"Apa boleh buat! Terpaksa batal."

"Tunda sampai kapan? Tanya Rara sambil berpikir merencanakan sesuatu.
"Entahlah! Mungkin saya akan menunggu kepastian harga-harga dan merencanakan ulang kembali. Mungkin sebuah pesta sederhana atau entahlah. Lebih baik setelah pilkada Juni nanti. Kamu bagaimana?" Jaki balik bertanya.

"Tancap terus dong!" Sambung Rara. "Bagaimana mungkin saya mesti batalkan pilkada dan pencalonan saya sebagai cagub dan pasangan saya sebagai cawagub hanya gara-gara BBM?" Nanti kalau saya sudah terpilih, baru saya atur sedemikian rupa supaya BBM yang sudah naik tidak jadi naik alias turun kembali".
"Apa kamu yakin?" Jaki kebinguangan. "Bagaimana mungkin BBM yang sudah naik diturunkan lagi? Yang benar saja!"

"Saya janji! Saya akan turunkan harga BBM, saya beri subsidi sebesar mungkin, sehingga masyarakat hanya bayar sekian rupiah saja. Bila perlu gratis BBM. Beres bukan?" Kata Rara dengan bangga. "Makanya pilih saya, jangan pilih Benza! Daripada suaramu terbuang percuma, lebih baik serahkan seluruhnya untuk saya! Urusan BBM itu keciiiil," Rara menjentikkan jarinya. "Rara kok dilawan," demikian rara berdiri sambil membusungkan dada.

***
Semua orang juga tahu, BBM singkatan dari Bahan Bakar Minyak. Sekarang BBM lagi di atas angin. Jadi topik di mana-mana. Pagi siang malam hanya BBM yang dibahas. Maklum, BBM dapat dihubungkan dengan apa dan siapa saja termasuk dengan dukun sakti yang tinggal di ujung jalan itu. Penampilan dukun cukup menyakinkan. Dengan topeng monyet yang selalu menghiasi wajahnya, tidak ada seorang pun yang tahu siapa dia sebenarnya. Justru di sinilah letak kesaktian dukun. Justru karena ini pula sang dukun terkenal di mana-mana. Kecuali satu hal yang tidak diketahui semua pengguna jasanya. Konon, dukun sakti ini dapat mengubah air menjadi BBM. Senang sekali dia karena akan makan untung besar dari profesinya sebagai dukun. Dukun sakti ini bakal kaya mendadak. Bayangkan saja! Air berubah menjadi BBM.

Makanya ketika semua orang stress dengan kenaikan BBM sang dukung tenang-tenang saja. Bahkan topeng poleng hitam putih diubahnya menjadi hitam merah biar lebih menyeramkan. Begitulah!.

"Jadi engkau inginkan pernikahanmu tetap berjalan?" Tanya Dukun kepada Nona Mia. " Ha ha ha hanya gara-gara BBM naik, calon suamimu batalkan?"
"Ya, Pak Dukun! Tolonglah. Saya tidak ingin batal, saya ingin nikah secepatnya!" Nona Mia penuh harap. "Bisakah Pak Dukun menolong saja?"

"Tentu saja," kata Dukun dengan penuh siasat. "Batal saja! Pernikahanmu dengan Jaki. Kamu menikahlah denganku. Saya akan mengubah air menjadi BBM. Kita akan kaya raya. Aku akan mengajakmu berbulan madu di langit biru. Kamu bersedia bukan?" Jurus rayuan Sang Dukun rupanya kena sasaran telak. Nona Mia setuju. "Kamu harus pegang janji," kata Dukun. Nona Mia setuju. "Apapun yang terjadi kami akan tetap menikah denganku," Dukun memastikan. Nona Mia setuju.

***

"BBM naik, Naik kemana?" Tanyannya dengan pura-pura bego. "Biar saja BBM baik turun atau berhenti di tempat, untuk apa dipikir itu urusannya BBM bukan urusan kita," kata lagi. "Urusan kita hanya jalani saja apa yang bakal terjadi. Mau ngomong apa? BBM mau naik saja jadi resah begini!" kata sang Dukun. Topengnya yang poleng-poleng semakin poleng saat dia melihat ke sana kemari sambil tertawa puas meninggalkan Jaki seorang diri.

"BBM naik itu sama artiya dengan beras naik, ikan naik, sayur naik, dan semua kebutuhan pokok naik. Ongkos angkot ikut naik. Bagaimana tidak resah? Penghasilan pas-pasan, tidak bertambah malahan berkurang, mau mencukupi kebutuhan hidup bagaimana? Bagaimana saya bisa menikah?" Jaki meremas kepalanya.
"Sudahlah, nikah bisa diatur kapan-kapan. Yang penting kami tenang menghadapi BBM baik turun," Benza mencoba menghibur hati sahabatnya.

Maka, bertambah keraslah Jaki meremas kepalanya sendiri, karena Nona Mia lari dari dirinya dan akan menikah dengan dukun terkenal. Jaki bertambah pusing tujuh keliling. Dia memohon bantuan Benza, namn kali ini Benza terlambat sebab Nona Mia sudah berada di dalam pelukan dukun, sebelum saatnya tiba. Dengan terpaksa Benza dan Jaki menghadiri pernikahan Nona Mia.

"Rara tidak mau bergabung denganmu," kata Jaki dengan sedih. "Katanya kamu saingannya dalam pilgub-wagub. Jadi dia tidak mudah melihat wajahmu. Tahukah kamu Benza? Gara-gara BBM saya kehilangan Nona Mia, gara-gara calon gub-wagub kita kehilangan Rara..." Jaki dan Benza memperhatikan pengantin wanita yang cantik jelita dan pengantin laki-laki yang sekejap pun tidak melepas topengnya. "Semua ini gara-gara BBM!" Jaki merasa hatinya tertikam.

***

"Bukalah topengmu," kata Nona Mia sesaat setelah upacara pernikahan selesai. Bukan main terkejutnya Nona Mia, "Rara! Kamu Rara calon gubernur! Jadi kamukah dukun terkenal itu? Kamukah suamiku sekarang? Nona Mia ternganga. Benza dan Jaki dan segenap hadirin pun ternganga.

"Kamu calon gubernur?," Tanya Nona Mia sekali lagi.
"Ya! Saya akan menjadi suami terbaik. Saya akan menjadi gubernur terbaik. Saya akan penuhi janji saya untuk mengubah air menjadi BBM. Percayalah padaku sayang!"
"Gubernur tidak akan dapat mengubah apa pun!" Nona Mia tampak ketakutan menatap wajah Rara.

"Tetapi sayalah satu-satunya yang mampu mengubah apapun!" rara menyeringai. "Syaratnya hanya satu saja. Pilih saya! Jangan pilih Benza!"
"Kamu yakin dengan janjimu mengubah air menjadi BBM?
"Demi cintaku padamu. Yakin! Namanya juga janji.." kata Rara dengan penuh rencana *

Rubrik "Parodi Situsi" Pos Kupang Minggu, 18 Mei 2008, halaman 1

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda