Gas Air Mata

Parodi Maria Matildis Banda

MIRIP tetapi tak sama dengan di Kupang ibu kota Propinsi NTT, di Ngelindur ibu Kota Propinsi Mengigau, juga diadakan simulasi pengamanan Pilgub. Kalau di Kupang simulasi diadakan di lapangan upacara Mapolda, di Ngelindur simulasi digelar di pelataran Taman Makam Pahlawan Tak Dikenal. Yang tak sama tetapi mirip, hanyalah perasaan hati Benza salah satu warga kota Ngelindur. Rasa miriiiis sangat, menyaksikan bagaimana di kota dan propinsi kesayangannya itu ada kemungkinan rusuh, demonstrasi, dan tindakan anarkis, sehingga perlu disiapkan gas air mata. Ada pula kelompok bersenjata yang mau menyerang calon gub dan wagub, kemudian kelompok ini dibekuk aparat keamanan.

***
"Ah, itu kan hanya simulasi," kata Rara. "Ditanggapi santai sajalah! Jangan berat dipikir. Bisa-bisa, kepalamu yang sudah gundul sedikit tambah gundul gara-gara pikir itu simulasi!"
Benza enggan menjawab, sebab dia tahu persis bahwa simulasi dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi. Dalam kepala Nona Mia si penentu kebijakan simulasi di Propinsi Mengigau ini, sudah ada dugaan-dugaan bahwa masyarakatnya punya karakter buat onar, bikin kacau, maen demo, tabrak sana tabrak sini, sehingga perlu dihajar dengan tembakan peringatan, dengan pentung, dengan popor senjata, juga dengan gas air mata. Dalam kepala Nona Mia juga sudah ada dugaan kelompok bersenjata yang akan menyerang calon gub dan wagub. Hiiii kelompok bersenjata datang dari mana ya? Bukankah di negara kita ini pegang senjata ada undang-undangnya. Pegang senjata ada izin resmi? Kalau sampai ada kelompok bersenjata, duuuuuuuh.
"Kasihan Nona Mia dan segenap jajarannya," kata Benza begitu saja, membuat Rara bingung dan bertanya langsung, "Kok Nona Mia yang kamu kasian sih! Jatuh cinta berjuta rasanya ya?"
Benza pun enggan menjawab, sebab dia kecewa berat. Dalam kepala Nona Mia tidak ada sedikit pun ruang yang dibuka untuk mencoba menganalisis setiap kasus dengan mencermati akar masalah. Misalnya bertanya, mengapa masyarakat demo, mengapa buat onar, mengapa bikin kacau, mengapa maen demo, mengapa tabrak sana tabrak sini. Sayang sekali, kepekaan pikiran dan perasaan Nona Mia, hanya ditujukan untuk mengamankan calon orang-orang besar dan orang-orang besar. Bukan untuk memberikan rasa nyaman pada orang-orang kecil yang berada di tengah masyarakat. Nona Mia tidak pernah berupaya duduk diam, merenung, mengambil waktu jedah untuk mengenal dengan baik masyarakatnya. Apalagi untuk mengambil kebijakan tegas demi rasa keadilan dan kebenaran bagi rakyatnya. Yang penting bagi Nona Mia adalah keadilan dan kebenaran untuk para calon penguasa. Sayang sekali, di Propinsi Mengigau ini semua mata tertuju pada calon penguasa, bukan kepada calon pemimpin. Karena tujuannya adalah penguasa, maka cara-cara penguasalah yang diterapkan untuk mengambil kebijakan apa saja.

***
"Saya ingin sekali pindah ke Propinsi NTT," kata Benza sambil menarik nafas panjang.
"He he he, apa hubungannya?" Rara terkekeh-kekeh lucu melihat tampang Benza yang menurut Rara, sok pemikir. Tetapi Benza tetap serius memberi tanggapan.
Benza sekali lagi enggan menjawab. Dia hanya bicara untuk dirinya sendiri. "Kalau saya warga NTT tentu perasaan dan pikiran saya tidak akan semiris ini. Bukankah hanya mirip saja tetapi tak sama? Bukankah pelaksanaan pilgub dan wagub NTT berjalan lancar, jujur, adil, dan berwibawa? Bukankah proses penetapan calon gub dan calon wagup di NTT berjalan mulus tiada kekurangan suatu apa pun? Bukankah tidak ada udang di balik batu dalam penentuan calon? Oh, seandainya saya ada di sana, saya pasti bahagia sekali!รถ Benza setengah mengkhayal.
"Sayang, saya belum pernah ke NTT. Kapan ya saya ada waktu pergi untuk belajar kearifan di sana!" Kata Benza perlahan.
"He he he, apa hubungannya?" Rara terkekeh-kekeh lagi.

***
"Haloooo Rara, haloooo Benza!" Tiba-tiba Jaki muncul dengan segenggam peluru gas air mata yang belum meledak. "Saya dapat ini! Saya dapat ini!" Jaki melompat kian kemari karena kegirangan. "Peluru gas air mata. Saya dapat di depan Taman Makam Pahlawan. Ini peluru yang belum jadi meledak! Saya tahu dimana jatuhnya peluru, terus saya merayap perlahan-lahan, terus saya pura-pura duduk di atasnya, terus saya pura-pura garuk-garuk kiri kanan, terus ambil cepat-cepat, terus saya kasih masuk saku. Begitu tidak ada mata yang mencurigai saya, saya langsung kabur kesini.
"Untuk apa kamu bawa-bawa peluru gas air mata?" Rara terbelalak. "Bagi-bagi dong!" Rara penasaran.
"Saya mau bawa pulang kampung!" Jawab Jaki dengan enaknya. "Kamu tahu kan? Di kampungku ada banyak masalah. Masalah dengan ulat tanah, cacing tanah, air tanah, akar tanah, umbi tanah, tanah endapan, tanah garapan, tanah ulayat, dan tanah adat. Peluru gas air mata ini, akan kupakai untuk mengusir mereka-mereka yang mau tuntut mereka punya hak... Yang penting aman dan ABS alias asal bapak senang," Jaki beraksi.
"Tetapi yang dirugikan pada umumnya orang-orang kecil yang sangat membutuhkan uluran tangan kita untuk menolong mendapatkan hak-hak mereka. Mereka hanya orang kecil bagaimana mungkin kamu mau tembak dengan peluru gas air mata? Pada hal tuntutan mereka berdasarkan pada keadilan dan kebenaran!" Benza tidak percaya apa yang akan dilakukan Jaki.

***
"Ah, peduli amat! Orang kecil tahu apa mereka. Mereka orang bodoh. Yang tahu adil, benar dan punya keadilan dan kebenaran itu hanya kita orang-orang besar. Saya ini paling tahu benar dan kebenaran! Orang-orang kampung itu, orang kecil rakyat jelata itu, kita tembak saja pake gas air mata, biar bubar! Bila perlu kamu Benza dan segenap para pembela orang kecil itu saya sikat pakai ini! Peluru gas air mata!" Jaki melempar peluru gas air mata ke atas dan tangkap lagi. Lempar tangkap lempar tangkap, dan kemudian meledaklah dia! Aneh serpihan ledakan menancap di bibir, di jidat, dan di ulu hati. Jaki pun jatuh tak sadarkan diri. Sementara Benza dan Rara terpental dan untuk beberapa saat lamanya tak dapat melihat apa pun selain air matanya sendiri.
"Aduh Jakiiii kenapa kamu main-main peluru?" Begitu situasi kondusif, Rara langsung mengamankan peluru yang masih tersisa. "Ini untuk mengamankan Pilgub Propinsi Mengigau! Saya akan berada di barisan terdepan untuk membela calon unggulan saya. Berani ada yang macam-macam saya lempar peluru dan semua orang tersedu-sedu akibat kepedihan melanda matanya".
"Kamu ternyata sama dengan Jaki dan Nona Mia! Tidak punya mata lagi!" Komentar Benza dengan pahit.
"Bagaimanapun juga saya harus mendukung calon gub dan wagup saya. Saya akan gunakan cara apa saja, termasuk dengan gas air mata!"
"Kamu seperti udang di balik batu!"
"Memang! Yang penting batu di balik udang eh udang di balik batu dan calon unggulan saya jadi gubernur". *
Pos Kupang Minggu, 11 Mei 2008, halaman 1.


0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda