Guru tidak perlu pegang tangan siswa

MENDIDIK anak sejak usia dini akan memberikan dampak yang positif baik untuk perkembangan motorik anak, juga membangun penguatan moral dan iman untuk lebih pada keyakinan moral. Mendidik anak layaknya pendidikan formal tidak harus menunggu usia anak menginjak lima tahun untuk bisa masuk ke taman kanak-kanak. Pemerintah saat ini sudah mengembangkan kelompok bermain atau Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Jenjang pendidikan ini sangat membantu anak-anak dalam membentuk kualitas belajar mereka jelang masuk ke sekolah formal, bahkan bisa menjadi dasar yang kuat bagi anak-anak untuk menapaki jenjang pendidikan formal mulai dari tingkat sekolah dasar.
Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pengembangan Kegiatan Belajar (PKB) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) NTT, Dra. Yohana Lingu Lango, S.Pd mengatakan, dengan metode belajar sambil bermain yang dikembangkan oleh lembaga yang dipimpinnya, maka anak-anak yang terbiasa belajar sendiri mulai dari menulis hingga membaca. Sehingga orangtua atau para guru tidak perlu memegang tangan anak untuk melatih menulis.

Mendidik anak sejak dini juga merupakan bentuk investasi orang. Atau dalam ruang lebih luas lagi, yaitu anak-anak yang mengikuti program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan investasi negara untuk membangun masa depan. Investasi dalam hal ini adalah menyiapkan anak-anak sejak pra sekolah dan bila ini dilaksanakan dengan komitmen, maka 20 tahun hingga 25 tahun ke depan, investasi yang ditanam saat ini hasilnya akan terlihat. Kepada Pos Kupang di ruang kerjanya, Selasa (24/4/2008) lalu. Wanita asal Sumba Barat Daya ini, selain menjelaskan tentang kipra lembaga yang dipimpinnya, juga banyak menjelaskan tentang kiprah wanita NTT masa kini. Sebagai wanita karier, dalam lubuk hatinya juga menginginkan wanita-wanita NTT bangkit untuk maju bersama kaum pria membangun NTT. Berikut petikan wawancara dengan Pos Kupang.

Anda sebagai pimpinan di UPTD PKB, apa hakekat lembaga ini?
Sesuai Peraturan Daerah (Perda) Nomor 5, Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pengembangan Kegiatan Belajar (PKB) melaksanakan kegiatan pengembangan model pembelajaran pendidikan non formal atau pendidikan luar sekolah (PLS). Jadi, model pengembangan pendidikan anak usia dini, model pengembangan pendidikan keaksaraan fungsional, model pengembangan pendidikan kesetaraan (Paket A, B, C), model pengembangan pendidikan life skills dan model pengembangan peningkatan mutu tenaga pendidik dan kependidikan non formal. Itu yang menjadi tugas dan fungsi kami di sini. Seluruh pelaksanaan kegiatan ini UPTD PKB bertanggung jawab kepada Kepala Dinas Dikbud dan pemerintah propinsi dalam hal ini Gubernur NTT.

Dalam kampus PKB ini model apa saja yang Anda kembangkan?
Walaupun masih banyak kekurangan di sana-sini, tapi ketika tanggal 17 Maret 2006, saya berada di sini, saya berusaha untuk melakukan apa yang menjadi tugas dari UPTD PKB. Pertama, PAUD yang sudah ada saya kembangkan menjadi tiga bentuk pelayanan, yakni kelompok bermain murni adalah kelompok yang disiapkan untuk masuk ke pendidikan dasar (SD), kelompok bermain yang terintegrasi, di mana anak- anak usia tiga hingga enam tahun lebih pada penguatan moral dan iman untuk lebih pada keyakinan moral mereka, Taman Penitipan Anak (TPA) yang beberapa bulan baru kami bentuk. Tetapi secara terus menerus terus kami kembangkan dalam hal alat permainan di dalam ruangan kelas agar bisa menstimulasi anak pertumbuhan dan perkembangan anak, sehingga mereka bisa tumbuh kreatif. Anak bisa melakukan apa saja, dan tidak bisa kita paksakan.

Anda katakan mengembangkan alat permainan anak. Maksdunya?
Jadi permainan anak yang kita kembangkan merupakan permainan-permainan yang edukatif untuk mendorong dan memotivasi anak untuk berkreatif. Alat permainan yang kami kembangkan di sini jika dibandingkan dengan TKK yang ada di luar, saya pikir di sini cukup lengkap. Banyak permainan yang bisa dimanfaatkaan anak-anak yang bisa mendorong motorik halus kasar anak. Jadi, tidak bisa kita hanya bisa bermain di dalam kelas saja, sementara ada begitu banyak permainan di luar kelas yang bisa anak- anak manfaatkan untuk pertumbuhan motorik halus dan kasar mereka.
Jadi, anak memilih apa yang diinginkanya. Tidak bisa dipaksakan oleh siapapun termasuk gurunya. Dengan demikian anak terbiasa dengan sendirinya untuk membaca, menghitung dan menulis. Sehingga tidak perlu lagi guru harus pegang tangan anak untuk menulis. Karena kelompok belajar ini adalah tempat di mana anak belajar sambil bermain dan bermain sampai belajar. Jadi, kita tidak bisa anak usia dini untuk harus bisa menulis, membaca dan menghitung tetapi dengan sendirinya mereka bisa. Dari pengalaman di sini, anak-anak yang menjadi binaan kami, tidak pernah kami memaksa untuk membaca, menulis dan menghitung. Tetapi pada saatnya kami yakin anak-anak ini bisa melakukanya dan pada akhir tahun berdasarkan penilaian dari tenaga pendidik yang bertugas di sini. Setelah selesai mengikuti kegiatan belajar di sini, anak-anak ini diberikan Surat Tanda Serta Belajar (STSB) sehingga mereka bisa masuk pada pendidikan dasar (SD). Program lainya adalah Taman Penitipan Anak (TPA). Program ini diperuntukkan bagi keluarga-keluarga yang sama-sama bekerja dan tidak memiliki pembantu. Anak-anak usia dua sampai empat tahun bisa dititipkan di sini. Walaupun kami memiliki keterbatasan alat, tetapi dari alat yang ada sudah cukup untuk dimanfaatkan. Tahun pertama ini, kami tidak memungut biaya, tetapi tahun-tahun berikutnya kami akan memungut biaya. Karena kami harus memberikan makanan- makanan tambahan.

Apakah di UPTD ini ada pengembangan kegiatan riset untuk berbagai kegiatan belajar yang ada di sini?
Jadi sebenarnya pengembangan yang dilakukan adalah berdasarkan pengamatan atau riset terbatas oleh teman-teman pejabat fungsional. Di sini ada 20 orang pejabat fungsional. Jadi tugas mereka adalah melakukan semacam penelitian terbetas untuk bisa mencari tahu kelemahan dan kekurangan. Atau anak-anak ini jika diberikan stimulasi melalui permainan ini apa dampaknya. Secara terus-menerus dilakukan, setiap pagi ketua-ketua pokja sudah berada di masing-masing kelas. Mereka akan memantau dan mencatat serta mengalisa aktivitas anak-anak di tempat ini serta menarik kesimpulan yang berguna dalam pendidikan anak-anak usia dini ini.

Pengembangan ini menjadi model bagi pendidikan anak usia dini di NTT?
Hasil pengembangan menjadi model pendidikan untuk NTT, tapi ini yang menjadi kendala adalah walaupuan sudah dilatih di tingkat propinsi, kita turunkan buku-buku di sana, teman-teman ini pemahamanya untuk menerapkanya mungkin tidak mampu. Ini yang menjadi kendala ada di kabupaten/kota. Seharusnya mereka harus mempelajari ketika mengikuti diklat di propinsi kembali mereka mempelajari dan mengimplementasi dalam pelaksanaan program-program PAUD di daerah."Kami tidak secara langsung turun, tetapi kami memberikan model sehingga apa yang mereka lakukan di daerah.

Seberapa penting PAUD bagi pengembangan mental dan tumbuh kembang anak?

Saya kira hal ini perlu dipikirkan bersama-sama. Bahkan orang tua, pemerintah, dan masyarakat berpikir ke depan bahwa PAUD sebenarnya sangat penting. Taman Kanak-Kanak tidak ada di mana-mana dan TKK harus punya gedung, guru, segala sesuatu yang menurut TKK ada area-area.Kalau area tidak ada, hanya sekedar mengumpulkan anak-anak berbaris, menyanyi, bercerita dan pulang itu bukan stimulasi. Itu hanya sebagian kecil saja. Banyak aspek yang perlu diberikan kepada anak untuk tumbuh kembang dan ini yang tidak dilakukan secara baik. Sehingga pemerintah tahun 2001 membentuk satu bahtera pendidikan anak usia dini di Departemen Pendidikan Nasional yang menangani secara khusus tentang pendidikan anak usia dini dan di-undang-undang-kan dalam sistim pendidikan nasional. Di pasal 28 dikatakan ada tiga jalur pendidikan, pendidikan anak usia dini sebenarnya hanya payung pendidikan formal, non formal dan informal. Dimana, pendidikan anak usia dini dilaksanakan di taman kanak-kanak dan raidatul'afal. Pendidikn non formal ada tiga bentuk, yakni kelompok bermain, taman penitipan anak dan satuan padu sejenis atau satuan padu sederajat. satuan padu sejenis atau sederajat adalah paud yang terintegrasi dengan Sekolah Minggu, Sekami, Pengajian Al-Qur'an, Posyandu, Bina keluarga beriman. PAUD ini merupakan buah pemikiran dari berbagai ahli tumbuh kembang anak, ahli otak, ahli deteksi dini tumbuh kembang anak, ahli pembelajaran anak bagaimana diberikan stimulasi sehingga menjadi anak yang sehat, cerdas dan ceria. Jadi di pendidikan non formal ada banyak tim pakar yang membantu meneliti sehingga harus diberikan stimulasi.

Sejak usia berapa anak masuk PAUD?
Kalau saya di sini 1,5 tahun sampai enam tahun. Kalau punya komitmen PAUD adalah investasi. Lebih baik investasi manusia dari pada barang. Investasi pada anak ini dengan mengembangkan kemampuan berpikir pada anak sejak usia dini. Otak anak yang sehat sudah ditunjukkan sejak dini bahwa anak ini termasuk cerdas dan ceria. Ada otak anak yang sakit yang lemah, perut besar, kaki kecil, matanya besar dan tidak bisa berkomunikasi dengan anak lain dengan baik. Banyak anak yang orang tua hanya asal beri dia makan kenyang, tapi tidak melihat faktor gizi yang baik untuk kesehatan anak. Saya bandingkan ketika saya masih kecil dulu, anak jaman dulu itu diam-diam beraktivitas bermain, bergaul tertawa dan sebagainya sangat rendah, disentuh sedikit menangis. Tapi coba sekarang kita kumpulkan dalam PAUD. Saya kira kalau kita punya komitmen 10- 25 tahun yang akan datang kalau PAUD bisa dilakukan dengan baik pasti akan membantu meningkatkan pendidikan. Jangan sampai kita hanya berpikir apa yang kita peroleh dari kegiatan ini, tetapi apa yang dibuat pada kegiatan ini.

Anda seorang wanita yang sukses, bagaimana menurut Anda tentang perkembagan peran wanita saat ini dan dahulu?
Saya melihat perempuan saat ini perlu menyadari diri, betapa pentingnya kehidupan perempuan bagi laki-laki dalam kehidupan dan sebaliknya dan sebenarnya perlu menghargai satu sama lain. Perempuan dan laki-laki adalah mitra, hilangkan konotasi bahwa perempuan atau istri hanya sebagai pelengkap sesuai kodrat yakni hamil, melahirkan dan menyusui. Saat ini perempuan sudah banyak melakukan pembenahan diri, walau di sana-sini masih banyak membutuhkan pembenahan karena bertahun- tahun dan berabad-abad, perempuan terkristal dalam rutinitas perempuan sebagai ibu rumah tangga, melahirkan, mencuci pakaian, memasak, ke pasar dan sebagainya. Sehingga ketika perempuan mulai bergerak untuk memperjuangkan keadilan dan kesetaraan gender, tentu saja banyak perempuan yang belum mau tampil sebagai pemimpin atau sebagai pemberi keputusan. Kerana sudah terkristal dan berakar bahwa laki-laki adalah kepala keluarga, pencari nafkah dan penentu dalam rumah tangga. Kondisi seperti ini yang sudah berabad-abad tertanam dan berakar sehingga perempuan merasa masih merasa bergantung pada pria. Berkaitan dengan peringatan hari Kartini, perempuan harus merefleksi diri, sebagai perempuan saya sudah buat apa. Karena Kartini sudah jauh melakukanya supaya perempuan bisa maju. Perempuan perlu merefleksi diri. Perjuangan ini bukan perjuangan merampas kedudukan laki-laki, bukan itu. Tetapi, perjuangan ini adalah untuk laki-laki dan perempuan dan laki-laki sama-sama membangun bangsa. Saya bersyukur karena Kartini sudah berusaha untuk memperjuangkan nasib kaum perempuan. Untuk itu, saya sebagai perempuan harus bisa bekerja keras sesuai dengan talenta yang saya miliki dan kepercayaan yang diberikan untuk membangun daerah ini.

Apakah Anda melihat adanya diskriminasi dari pemerintah terhadap perempuan untuk jabatan-jabatan tertentu?
Saya kira tidak juga, karena di tingkat propinsi ada banyak perempuan yang menjabat di tingkat-tingkat walaupun di eselon II, walau tidak strategis. Karena tim baperjakat belum ada perempuan di dalamnya. Jadi, masih laki-laki semua. Tetapi kembali ke perempuan, mungkin banyak perempuan yang belum bisa masuk ke jabatan-jabatan strategis.

Apakah ada keengganan dari laki-laki atau ketidakpercayaan laki-laki bahwa sebenarnya perempuan mampu?
Saya pikir mungkin banyak juga perempuan di NTT yang merasa belum pantas menduduki tempat-tempat srtategis. Perempuan harus bisa belajar dan mengejar ketertinggalan dengan bekerja keras dan meyakini diri bahwa kita mampu. Sehingga ketika diberi kepercayaan menjadi pimpinan di suatu lembaga maka kita sudah siap.

Atau memang perempuan tidak mampu?
Saya kira tidak. Saya yakini bahwa banyak yang terpanggil tetapi sedikit yang terpilih.

Bagaimana Anda melihat bahwa perempuan masih terpuruk dengan kondisi buta huruf dan sebagainya?
Kalau yang terpuruk yang dimaksudkan adalah yang usianya sudah 40 tahun ke atas dan di desa-desa. Tetapi saat ini sudah banyak program untuk mengentaskan buta aksara tersebut. untuk itu, semua komponen harus memberikan kesempatan dan motivasi kepada perempuan yang masih tertinggal, sehingga ketika dia melahirkan dia sudah bisa memberikan anak-anak sebagai penerus bangsa dengan belajar membaca, menulis dan menghitung. Penerus bangsa ini harus memiliki pendidikan yang cukup dan wajar. (alfred dama/apolonia matilde dhiu)


Memimpin dengan Membangun Kebersamaan

PEMIMPIN yang berhasil adalah pemimin yang memampu mengatur anak buahnya untuk bekerja mencapai hasil yang diharapkan. Demikian pula yang dilakukan Yohana L.Lango. Istri, A.M Dunga ini menerapkan pola kepemimpinan yang tegas namun tidak kaku. Ia membangun pola kepemimpinan layaknya seorang ibu pada anak- anaknya. Hal ini pula yang membuatnya berhasil membangun model kepemimpinan dengan menerapkan sistim kebersamaan. "Kalau ada pekerjaan atau tugas, saya tidak kerjakan sendiri. Biasanya saya kasih ke teman-teman lain. Tugas yang diberikan langsung dengan SK penunjukan, sehingga mereka punya dasar hukum dalam menjalankan tugas itu,"jelasnya.
Agar bisa memonitor pelaksanaan tugas, wanita asal Sumba kelahiran 19 Juli 1960 ini secara berkala memanggil bawahannya yang mendapat tugas tersebut untuk melakukan evaluasi. Menanyakan perkembangan atau pencapaian target, selain itu dalam pertemuan ia juga memberikan masukan yang berguna dalam menjalankan tugas tersebut. "Saya juga biasa turun langsung memantau, bisa juga saya panggil kepala sekolah atau penyelenggara untuk dievaluasi,"jelasnya.
Sebagai seorang wanita yang memiliki bawahan yang hampir sebagian para pria, tidak membuatnya lemah dalam mengambil keputusan. Sikap tegas namun cermat dalam mengambil keputusan membuatnya selalu dihormati dilingkungan kantornya. "Kalau ada staf disini yang salah, saya marah, siapapun dia baik laki-laki maupun perempuan. Cara marah, saya tidak panggil sendiri tetapi saya sampaikan pada saat apel, sehingga yang lain tidak terkontaminasi dengan perbuatan salah satu orang. Jadi saya berbicara di apel itu untuk semua. Memang ada hal-hal tertentu yang perlu dibicarakan secara tertutup. Saya merangkul semua orang dengan tidak melihat agama, suku dan ras, sehingga sesuai dengan pendidikan yang saya lakukan," jelasnya.
Wanita yang memiliki hobi berolaraga voly ini tidak hanya menghabiskan waktu untuk kesibukannya di kantor. Di sela-sela kesibukannya, ia juga kerap melakukan pekerjaan pelayanan Tuhan. "Karena anak-anak saya sudah besar-besar dan sudah menyelesaikan kuliah, yah saya memfokuskan diri untuk pekerjaan dan pelayanan di gereja,"jelasnya. (alf)



Data diri

Nama : Yohana L. Lango
Tempat Tanggal Lahir : Sumba 19 Juli 1960
Jabatan :Kepala UPTD Pengembangan Kegiatan Belajar-Dinas P dan K NTT
Suami : A.M Dunga
Anak-Anak : Yustinus M. Dunga, S.Kom
Marcel H.D Loma Dunga, S.H
Angelina Kartini dunga
Imanuel Dunga
Natalia Putri Dunga

Pendidikan : SD Masehi Matolanbu-Sumba Barat tamat 1972
SMP Kristen Waikabubak tamat 1976
SPG Kristen Laukandu tamat 1979
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Undana tamat 1984


Tamu Kita Pos Kupang edisi Minggu, 4 Mei 2008


1 komentar:

Tulisan artikel di blog Anda bagus-bagus. Agar lebih bermanfaat lagi, Anda bisa lebih mempromosikan dan mempopulerkan artikel Anda di infoGue.com ke semua pembaca di seluruh Indonesia. Salam Blogger!
http://www.infogue.com/
http://pendidikan.infogue.com/guru_tidak_perlu_pegang_tangan_siswa

11 Mei 2008 19.42  

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda