Pemikiran Masyarakat Disetir Media Massa

KUPANG, PK--Pemberitaan media masa pada isu-isu tertentu secara tidak sadar menjadikan masyarakat terpola dengan pemberitaan yang sebenarnya tidak penting untuk lingkungan sendiri. Akibatnya, masyarakat lupa dengan permasalahan- permasalahan pada diri sendiri.

"Sebenarnya pemikiran masyarakat kita sudah disetir oleh media masa dengan berita-berita yang belum tentu menjadi masalah kita. Yang pelu saat ini adalah kita mengenal masalah kita sendiri," kata penulis dan pengasuh Rubrik Teroka-Kompas, Radhar Panca Dhana saat menjadi pembicara pada Sekolah Menulis yang diselenggarakan komunitas Rumah Poetica di Auditorium Sanlima-Kupang, Minggu (11/5/2008) sore.

Di hadapan puluhan calon penulis muda NTT tersebut, Radhar mencontohkan media masa cenderung memberikan masalah tertentu seperti kasus kenaikan BBM, masalah politik dalam dan luar negeri, gosip artis dan entertain. Semua isu tersebut diangkat oleh berbagai media dalam waktu yang sama sehingga hal-hal tersebut menjadi diskusi masyarakat. Padahal, masalah- masalah tersebut sebenarnya tidak penting yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.

Mengakses informasi seperti itu, menurut Radhar, merupakan gejala kehidupan masyarakat modern. Dan hal tersebut sengaja diciptakan oleh orang-orang yang memiliki modal dan bermaksud ingin terus mengembangkan modal miliknya. "Orang yang punya modal tidak menghendaki masyarakat berpikiran benar tentang masalahnya sendiri. Mereka berusaha menggiring masyarakat masuk dalam masalah global. Caranya melalui media," jelasnya.

Dijelaskannya, bila masyarakat sudah terpola dengan gaya konsumsi berita tersebut, maka akan menciptakan masyarakat yang konsumtif dan selanjutnya dengan muda pemilik modal tersebut menjual barang-barang mereka.

Dia menjelaskan, penulis muda saat ini lebih beruntung dibandingkan dengan penulis masa lalu. Ia menyebutkan, fasilitas internet saat ini memberikan kemudahan bagi penulis muda untuk mendapat mengakses sumber informasi yang banyak dan cepat, sementara penulis dulu harus mencari literatur di perpustakaan dan dengan cara-cara manual. Tidak heran bila ada siswa SMA di Jakarta mampu menulis novel bernuansa filsafat setebal lebih dari 500 halaman. Bahkan, sudah membuat pula novel lebih dari bernuansa teologi. "Bagi teman-temannya, karya itu dianggap biasa-biasa saja, tapi gurunya tercengang dengan karya siswanya itu," jelas Radhar.

Menurutnya, banyak penulis muda berbakat di Indonesia namun karya mereka kurang kreatif. Ia mencontohkan, data-data yang disajikan dari sumber lain tidak dikembangkan lagi, namun terkesan hanya mengambil data statistik saja.
Sebelumnya, dalam acara pembukaan Sekolah Menulis, Sabtu (10/5/2008) sore, Ketua Panitia Sekolah Menulis-Rumah Peotica, Charlemen Djahedael mengatakan kegiatan tersebut merupakan wadah khusus memproduksi penulis-penulis lokal. "Kita patut memberikan stimulan awal dengan mengelaborasi para penulis dan para jurnalis, sehingga penting untuk mengundang mereka agar dapat memberikan suatu warna baru," jelasnya. (den/alf)

Pos Kupang edisi Senin, 12 Mei 2008, halaman 10


0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda