Penantian Patricia

Cerpen Christo Ngasi

HARI singgah dan pergi begitu cepat dari setiap kisah hidupku. Seketika aku termenung sendiri memikirkan masa depan. Aku mengusap wajahku yang lagi layu termakan oleh mimpi semalam. Kembali kurebahkan badanku pada tempat tidurku. Kicauan burung gereja terus terdengar.

Aku bangkit dan berlangkah menuju jendela, sinar matahari pagi menembusi dedaunan angsono dan langsung menjamah wajahku. Aku tersenyum dan dalam hati aku berucap, "Semoga aku dapat bersinar dalam hidupku layaknya matahari dipagi ini".

Aku tiba-tiba teringat akan masa SMU-ku dulu. Di sana ada satu kisah yang belum terungkap hingga setamatku dan kini menjadi penantian yang tak tahu sampai kapan harus kuakhiri. Seketika pandanganku beralih menuju rak buku. Ada berjuta perasaan yang kutuangkan dalam buku harianku. Namun mataku sejenak memandang foto yang berada di atas rak buku itu. Satu foto aku bersama teman angkatanku dan satunya lagi foto saat ketua OSIS mengenakan papan nama padaku pertanda dimulainya Masa Orentasi Siswa atau sering di singkat MOS. Aku memegang dan melihat lebih dalam isi di balik foto itu.

Kubersihkan debu yang menempel. Aku memeluk dan mengusap dengan penuh harapan kelak akan terjawab penantianku. Kuambil catatan harianku sewaktu SMU yang sempat kusimpan. Aku membuka pada halaman pertama tertulis Senin 9 juli 2001. Dengan satu judul kecil bertinta pink "Perasaanku untukmu Ka' Chrisna ". Aku secara perlahan membaca ulang judul tulisanku dan ku tersenyum seketika. Banyak kisah yang kuukir dalam buku harianku.

Aku sadari ini adalah ungkapan perasaanku yang tak dapat terkatakan secara langsung dan melalui tulisan ini, aku dapat mengungkapkan perasaanku. Selain itu tulisan ini juga membuat aku ingat bahwa begitu banyak kisah dan kenangan yang begitu indah saat berada di SMU. Satu motivasi sehingga kutuliskan setiap pengalamanku pada buku yang satu ini karena ada seseorang yang membuat aku tersenyum di setiap hariku. Dia adalah Ka' Chrisna ketua Osis di sekolahku. Namun aku belum mengungkapkan perasaanku hingga setamatku dari SMU. Sungguh aku takut sebagai seorang perempuan untuk mengungkapkan perasaanku.

Aku terus membaca pada halaman berikutya. Aku merasa gembira bercampur sedih ketika mengingat kembali kenangan itu. Sendiri itulah yang kualami. Tak ada teman seangkatanku yang kuliah bersamaku. Hampir semuanya kuliah di Yogya dan Denpasar, sedangkan aku hanya di kota propinsi tapi itu bukan menjadi ukuran bagiku. Tersenyum itulah perasaan yang terus kualami saat membaca buku harianku. Aku membayangkan kembali waktu mengikuti MOS.

Saat itu pagi masih berselimut mendung yang membasahi bumi. Aku bersama peserta MOS lainya berbaris di lapangan sekolah. Seorang peserta datang terlambat ketika kami sudah rapi berbaris. Seorang kakak kelas II yang bertugas sebagai keamanan dengan suara keras berteriak. "Cepat...cepat...cepat!!!". Siswi itu tampak ketakutan. Ia berlari dan mengambil tempat dalam barisan. Kakak tadi datang menghampiri dan menyuruh siswi itu untuk membuka jaketnya yang saat itu belum dilepas. Tak dipikirkan siswi itu kedinginan dan mengigil. Tampak dari jauh seorang pria datang mendekat dan mengambil jaket lalu mengenakan kembali pada siswi itu sambil ia berkata. "Apa kamu sakit???" tanya kakak itu. "Tidak ka. Aku hanya kedinginan" jawabnya. "Baiklah. Aku harap besok kamu tidak mengenakan jaket lagi sama seperti siswa lainnya." Ia tersenyum dan berlalu. Untuk pertama kalinya aku memandang pria yang ganteng itu dan langsung jatuh hati namun aku belum mengetahui namanya. Akupun berkenalan dengan siswi tadi. Namaku Patricia. Kalau kamu??? Namaku Eka."

Kami disuruh masuk dalam ruangan aula untuk mendapat pengarahan sebelum akhirnya nanti mengikuti upacara pembukaan. Pengarahan tak lama berjalan kami disuguhkan dengan snack. Guna mengisi kekosongan kami diminta beberapa orang untuk menyumbangkan lagu. Sebagian peserta sudah naik ke atas panggung dan berunding untuk memilih lagu yang dibawakan. Aku hanya tenang ditempat sambil mata melirik kalau-kalau aku dapat melihat pria itu lagi. Tak kusadari seorang kakak namanya Monika datang menghampiriku dan menyuruhku maju untuk menyanyi bersama mereka. Ka Monika tahu bahwa aku pasti malu untuk menyanyi soalnya kami teman dan sudah sejak kecil saling mengenal. Namun keadaan memaksaku untuk maju. "Ayo maju-maju jangan malu-malu." Itulah lagu yang memberi keberanian untukku untuk tampil.

Selesai kami menyumbang lagu, semua peserta disuruh keluar lagi untuk mengikuti upacara pembukaan MOS. Namun ada enam siswa yang diminta untuk tetap tinggal di atas panggung termasuk aku. Kami dipercayakan sebagai ketua dari setiap kelompok. Semua sudah berbaris rapi. Upacara pun dimulai. Kami berenam yang dipercayakan mengambil baris terdepan bersama pemimpin upacara. Setelah kepala sekolah memberikan map kepada ketua OSIS semua kegiatan menjadi tanggungan OSIS. Aku saat itu bersemangat karena pria yang kulihat adalah ketua OSIS.

"Pertama saya ingin mengucapkan terima kasih karena semua teman-teman sudah mempercayakan saya sebagai ketua OSIS untuk menjalankan masa orientasi kepada siswa baru. Saya tidak dapat jalankan tugas ini sendiri tanpa bantuan anggota OSIS lainya. Orientasi ini akan berjalan dengan baik jika ada kerja sama di antara kita. Terima kasih." Singkat tapi jelas ungkapannya.

Kami berenam diminta maju ke depan untuk menerima papan nama. Ketua OSIS memilih nama-nama kelompok untuk di berikan kepada kami. Ia mendekatiku dan memasang papan nama yang bertulis kelompok Bebek Hutan. Itulah kenangan yang tersimpan dalam tulisan dan foto yang masih kusimpan hingga saat ini.

***
Aku menutup catatan harianku dan membereskan kamar kostku. Aku keluar dan menghirup udara suci di pagi hari. Hari ini aku tidak ada kegiatan di kampus jadi aku ingin menghabiskan skripsiku. Saat ini aku sudah semester akhir pada Fakultas Ekonomi. Aku ingin memfokuskan diri untuk mengikuti ujian skripsi, namun kenangan itu selalu mengisi kesibukanku. Aku coba melawan namun tak bisa. Aku sadari bahwa aku tidak dapat melupakan Ka Chrisna hingga saat ini aku masih bertahan dengan perasaanku dan aku sudah berjanji dalam diriku bahwa Ka Chrisna adalah penantianku. Hanya aku saja yang belum memiliki pacar hingga saat ini, ini semua bukan karena tidak ada pria yang menyukaiku akan tetapi aku tidak ingin berbagi hati kepada orang lain selain Ka Chrisna. Jujur aku sangat terobsesi dengannya. Aku pernah mengungkapkan perasaanku ini saat aku kembali ke kampung halamanku Weetabula. Saat itu aku juga diundang untuk mengikuti acara syukuran wisuda Ka Chrisna. Saat itu aku sudah cukup akrap dengan Ka Chrisna. Aku juga sering bersurat dan sering telephon meskipun ia kuliah di Malang namun tak menjadi penghalang bagiku. Aku tahu bahwa Ka Chrina belum memiliki pacar. Kuberanikan diriku untuk menemuinya seusai misa malam minggu. Kami berjalan berdua ditemani sang bintang malam itu.

"Ka setelah ini kerja di mana?" tanyaku.
"Saya belum mau untuk kerja masih ingin melanjutkan kulih dulu supaya dapat gelar Insinyur, " jawabnya.
"Oh..., saya pikir langsung kerja".
"Kalau kamu Paticia selesai wisuda nanti kamu mau lanjut kemana??? Ka Chrisna bertanya balik kepadaku
"Aku langsung kerja saja. Aku sudah bosan kuliah" jawabku tegas.

Berjalan dengan alur cerita seputar perkuliahan. Aku takut namun keberanian muncul seketika dan kuberanikan untuk mengungkapkan.
"Ka...jujur saja waktu ka memasang papan nama padaku saat MOS dulu, aku sangat kagum dan terus mengidolakan ka hingga saat sekarang. Namun aku takut dan segan untuk mengungkapkannya. Aku mulai berani saat mendapat alamat tempat kuliah ka dari Ka Monika. Maaf kalau aku terlalu berani untuk mengungkapkan ini."

"Terima kasih kalau aku telah menjadi idolamu sejak dulu Patricia, namun aku tak bisa mengatakan saat sekarang. Biarlah waktu yang akan menjawab. Kelak semua kembali pada waktu jua.
"Tapi sampai kapan ka... ???
"Sampai waktu mengijinkanku untuk kembali ke sini???" Jawabnya tersenyum memandangiku sambil berlalu meninggalkanku di teras depan rumahku. Cukup sakit kalau kamu rasakan. Tapi aku bangga karena masih ada harapan baru dariku yang dijanjikannya yaitu waktu mengijinkannya untuk berkarya kembali di kampung halaman Weetabula.

***
Sejak saat itu aku tidak lagi jumpa ka Chrisna. Namun kami sering bersurat dan saling telepon. Tak terasa waktu mengizinkanku untuk menyandang gelar serjana ekonomi. Aku kembali ke kampung Weetabula guna mengabdi sebagai seorang guru di sekolahku yang dulu. Banyak yang melamarku untuk menjadi pendamping mereka namun Ka Chrisna memberiku harapan hingga saat ini. Aku seakan tuli ketika mendengar cemooh dari orang lain. "Biar jadi perawan tua." Kata itu memberi aku kekuatan untuk bertahan lebih lama dalam penantian. Aku baru mendapat via SMS dari Ka Chrisna yang bertulis "Patricia penantianmu segera akan terjawab". Aku bersyukur kepada Dia yang memberiku kekuatan. Kulepaskan segala gunda dan kuukir perasaanku pada kertas polos yang akan kulayangkan bersama angin menuju Kota Malang tempat arjuna menghuni.

Weetabula, Senin 4 Februari 2008
UntukMu
Yang dinanti Ka Chrisna
"Salam dalam kasih"

Lama tak berucap seakan bisu ditelan sang waktu namun injinkanku untuk berkata lewat surat ini. Selamat berjumpa kembali.

Ka chrisna tak ada kata capai bagiku untuk menantikanmu. Walau tak ada jawab yang pasti namun kuyakin yang kunanti pasti memberikan jawaban saat hari kasih sayang nanti. Kudoakan semoga studymu berjalan lancar. Aku tetap menantimu.
Patricia
Untuk yang menanti tulisan ini. Penfui medio Maret 08.

Dipublikasikan Pos Kupang Minggu, 18 Mei 2008, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda