Propinsi Mengigau

Parodi Maria Matildis Banda

PROPINSI Mengigau adalah salah satu propinsi di Republik Mimpi. Sama dengan Propinsi NTT, besok, Senin 5 Mei, kalau tidak ada aral melintang KPU akan mengumumkan penetapan paket calon gubernur dan wagup di Propinsi Mengigau periode 2008 sampai 2013. Mudah-mudahan figur-figur yang dimunculkan oleh semua partai benar-benar dapat dipertanggungjawabkan kredibilitasnya. Mudah-mudahan partai juga tidak melakukan kesalahan yang sama. Hari ini dukung si A, besoknya dukung si B, lusa dukung si C. Mana yang untung dan mana yang buntung?

Tampaknya bagi pengurus partai Propinsi Mengigau, itu bukan masalah. Soal perilaku partai yang menjengkelkan, peduli amat. Bukankah selalu saja ada pihak lain yang tertawa untuk dapat memanfaatkan situasi. Dengan ancaman, mudah-mudahan Jaki bukan Benza. Atau semoga Benza bukan Jaki. Begitulah nuansa politik yang lagi panas di propinsi yang paling miskin di Republik Mimpi itu.
***
Siapa yang bakal keluar sebagai paket tetap, sudah bisa diketahui umum. Wah, pasar penjualan terbuka luas bagi siapa saja yang memenuhi syarat untuk membeli. Sekarang saatnya rakyat membeli secara bebas, untuk pertama kalinya. Benar-benar luber alias langsung, umum, bebas, dan rahasia. Hasilnya bagaimana? Susah diprediksi. Rara jadi gugup kembang kempis menanti saat itu. Lolos verifikasi dan ditetapkan sebagai paket tetap sebenarnya sudah ada dalam tangannya. Tetapi kehadiran Benza membuat telinganya panas. Partai yang sudah mendukungnya berbalik arah mendukung Benza.
"Kamu jangan maen-maen ya!" Rara jengkel bukan main. "Kemarin kamu terima saya, hari ini kamu terima Benza. Pagi kamu pake topi biru sore kamu pake topi merah. Apakah begitu caramu mempermainkan saya? Hati-hati kamu!"
"Kita harus menjunjung tinggi keputusan partai. Sepanjang masih bisa dipimpong kiri kanan, diatur kian kemari, ya kita pimpong dan kita aturlah! Biasalah, namanya juga perilaku partai Mengigau."
"Kamu penentu kebijakan! Tolonglah berbuat adil dan mendidik rakyat kecil dan para pemilih dengan etika partai yang benar!" Rara sungguh marah dengan sikap dan perilaku Jaki yang mengatur dukungan seenaknya saja.
"Aha, masak kamu buta dengan berbagai kebijakan Propinsi Mengigau selama ini. Tidur nyenyak, mimpi, dan mengigau sama enaknya bukan? Rakyat kecil tidak usah dipikir yang penting orang-orang elit seperti kita tidur nyenak dan mengigau terus!"
***
"Oooh, jadi kamu anggap saya buta?" Jaki membelalakan mata. "Yang punya partai itu kamu atau saya sih? Yang punya kuasa di partai itu kamu atau saya sih? Tahu diri dong!" Teriak Jaki.
"Oooh jadi kamu anggap saya tidak tahu diri?" Rara kebakaran jenggot. "Kamu yang tidak jujur, tidak konsekuen, dan maen dukung kiri kanan sesuka hatimu. Sungguh, saya kecewa dengan perilaku oknum partai seperti kamu! Kamu plin plan." Rara benar-benar marah.
"Siapa bilang aku plin plan? Aku hanya pegang prinsip PARTAI Peganglah Aku Relakan Tanganmu Aku Ikat. Jadi kalau kamu mau masuk lewat partaiku, relakanlah tanganmu aku ikat erat-erat. Jadi kalau banyak yang melamar, suka-suka aku dong, mau ikat tangan yang mana. Jadi kalau kamu tidak mau ikut kemauanku, jangan mimpi mau masuk lewat partaiku. Mengerti? Mau Benza atau mau Rara, suka-suka saya!"
"Perilaku kamu dan partaimu membuatku mual!" Rara langsung pergi. "Pikirkan sekali lagi. Saya atau Benza. Jangan sampai kamu menyesal." ancam Rara.
"Makanya, berbaik-baiklah sama partai. Gue lagi di atas angin nih! Yang punya partai kok dilawan sih! Rasakan akibatnya! Hari ini partai bilang Benza, besok partai bilang Jaki, besok lagi bilang Nona Mia, itu kan urusan partai. Berani macam-macam saya pecat kamu dari partai," Jaki merasa tersanjung. Perilakunya benar-benar menjengkelkan.
***
Lebih enak hidup di Propinsi Mengigau jaman dulu. Ketika belum ada KPU, belum ada Panwaslu, belum ada partai begini banyak. Mau jadi orang nomor satu hanya berhadapan dengan segelintir wakil rakyat. Kita sudah tahu lebih dulu, siapa yang bakal keluar sebagai sang juara. Apalagi otoritas partai-partai besar dalam menentukan pemilihan begitu jelas dilihat. Siapa yang punya banyak kursi, siapa yang kuat nego untuk menambah jumlah kursi, siapa yang berkuasa dan punya modal kuat, dia yang keluar sebagai pemenang. Tampak sekali, orang beli partai bukan orang beli orang.
Orang juga boleh punya mimpi yang sama. Sesuai dengan namanya, para wakil rakyat pun dapat mengigau hal yang sama. Kalau igauannya Benza, Benza, Benza, semua akan pilih Benza. Kalau igauannya Rara, Rara, dan Rara, semua akan pilih Rara. Semuanya sudah diatur. Yang tidak bisa bermimpi dan tidak dapat mengigau silahkan keluar dari fraksi dan otomatis keluar dari partai. Mudah bukan?
Kalau zaman sekarang, beda seratus delapan puluh derajat. Orang beli figur orang, dan tidak sudi beli partai. Begitu banyak contoh nyata di lapangan. Prediksi partai besar untuk memenangkan pemilihan orang nomor satu, gagal total. Jadi, kalau figurmu tidak meyakinkan, biar didukung partai besar, lebih baik pikir-pikir dulu baru tancap gas untuk lolos ujian. Zaman mimpi dan mengigau sudah berlalu. Kalau hari gini masih ada yang mau mimpi dan mengigau terus silahkan ketinggalan zaman.
***
Kata-kata Jaki ini, membuat Rara pusing tujuh keliling. Dia bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. "Apakah aku bukan figur yang meyakinkan?" Modal tampang ada, modal kantong ada, modal siksak ada. Bukankah penampilan saya cukup menjanjikan? Tetapi mengapa Jaki dan orang-orangnya tidak mencalonkan aku sebagai calon nomor satu, malah memilih Benza? Apa hebatnya Benza. Kalau begini keadaannya mukaku mau ditaruh di mana? Bagaimana mungkin Benza melampaui aku?
"Siapa yang bayarannya lebih tinggi?" Tanya Nona Mia seperti hakim yang berhak memutuskan siapa yang menang siapa yang kalah, ketika Rara mengadu padanya.
"Saya!" Rara menunjuk dadanya. "Jadi saya yang harus didukung, bukan Benza!"
"Siapa yang nilai jual untuk mendapat dukungan rakyat lebih tinggi?"
"Ya, sebenarnya saya!" Rara putar otak. "Tetapi karena Benza itu dekat dengan Jaki ya dia yang ditunjuk, bukan saya."
***
"Saya tolak jadi calon gubernur!" Benza berkata singkat saja dan membuat Rara melonjak kegirangan. "Saya mau pindah ke propinsi lain! Sebab saya tidak mau mimpi dan mengigau terus di sini!" Tegas kata-kata Benza.
"Oke! Besok pagi, kita lihat saja penetapan calon gubernur Propinsi Mengigau. Catatlah, saya yang pasti keluar sebagai calon jadi. Buat apa maju hanya untuk kalah? Apalagi di sebuah Propinsi Mengigau?" Kata Rara enteng saja.*

Pos Kupang Minggu, 4 Mei 2008, halaman 1

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda