Puisi-puisi Yohanes Manhitu

Meredam Jeritan dan Kejutan

Belakangan ini jeritan jadi soal lumrah
Dan kejutan pun bukan hal yang jarang.
Bila sempat kauselusuri jalan-jalan sepi
Suara-suara itu lebih nyaring kaudengar.

Jika bilik hatimu masih cukup longgar
Dan tak kauberi tembok kedap suara,
Dari segala penjuru bumi kautangkap
Jeritan yang tak mesti menjadi kejutan.

Ini bukan pekikan karena hadiah besar
Dari lotre asing di kotak berita e-mail,
Juga bukan karena ada hibah anonim.
Ini jeritan karena ulah harga melonjak.

Beramai-ramai kita mencari penawar
Untuk meredam jeritan dan kejutan.
Namun kini tampaknya gelombang
Jeritan kian ramai menerjang kita.

Yogyakarta, April 2008


Masih Kauucapkan Kata Manismu
Untuk Dia yang Telah Berjanji

Tak pernah kusangka bahwa kaulupa,
Lupa memelihara janji di setiap waktu.
Alangkah mudahnya mengucap janji
Ketika hasrat memenuhi jiwa-ragamu.

Kata-katamu lincah di mulut berbusa
Walau maknanya setipis serat buram.
Biarpun di prasasti, kata-kata kauukir,
Hujan kelupaan akan menghapusnya.

Apakah kaumasih jua pandai berdalih
Bahwa beban dunia terlampau berat
Sehingga kau tak sempat merekam
Dan meresapi makna kata-katamu?

Aku sama sekali tak akan keberatan
Mendengar kaupatri surga dan bumi
Asalkan kautiru cara bicara malaikat
Dan tak undang nestapa ke wajahku.

Yogyakarta, April 2008


Pos Kupang Minggu, 11 Mei 2008, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda