Radhar: Walau kaki tetap di rumah

SEMANGAT hidup sastrawan Radha Panca Dahana seakan menembus batas- batas toleransi kemampuan dirinya. Ketika penyakit hendak merenggut nyawanya, Radhar masih saja menelorkan karya-karya sastra yang memikat perhatian banyak orang. Harus mencuci darah minimal dua kali dalam minggu tidak membuat ruang gerak dan ide-ide sastranya menjadi sempit.

Di tengah kesibukannya, Radhar menyempatkan diri datang ke Kupang untuk memberikan motivasi tentang tulis-menulis kepada ratusan peserta Sekolah Menulis yang digelar Rumah Poetica Kupang, Minggu (11/5/2008). Kepada wartawan Pos Kupang, Alfred Dama yang menemuinya, Senin (12/5/2008), Radhar berbicara banyak tentang dunia tulis-menulis di Indonesia. Radhar mendorong lahirnya penulis-penulis asal NTT dari kalangan muda. Berikut petikannya.

Bagaimana Anda melihat perkembangan dunia tulis-menulis di Indonesia?
Dunia tulis-menulis ini kan luas. Dunia tulis menarik karena banyak orang senang menulis. Muncul berbagai macam buku karya penulis Indonesia mulai dari masalah manajemen, kesehatan, psikologi, lingkungan. Jadi, tidak hanya sastra. Keragaman buku di Indonesia sekarang ini cukup baik dan muncul penulis-penulis baru. Dunia tulis-menulis berkembang, itu yang dihasilkan reformasi. Pada masa Soeharto, ekspresi tulis-menulis tidak berkembang. Dunia karang-mengarang pun berkembang, ditandai dengan tumbuhnya penulis-penulis baru. Ini juga ditunjang dengan munculnya penerbit-penerbit baru. Sekarang novel-novel anak dan remaja diminati publik. Publik berkembang sebagai pembaca. Membaca apa saja termasuk buku sastra dan yang menarik adalah banyak kalangan yang tidak terlibat dalam sastra tiba-tiba terlibat. Sastra menjadi pilihan media ekspresi disamping yang lain, katakanlah seperti foto, film, musik dan lainnya.

Apakah budaya baca turun karena pengaruh media elektronik (TV) 'memaksa' masyarakat kita lebih suka nonton?
Kalau budaya baca mau turun, turun dari mana? Naik juga belum. Daya baca kita masih terhitung rendah. Justru kita harus naikkan, dan kalau kita naikkan, itu bukan perkara adanya budaya nonton yang kuat. Kita butuh budaya baca. Pengetahuan itu harus dibaca, tidak hanya didengar dan dilihat. Nah, kontemplasi melalui pembacaan itu bekerja jauh lebih kuat ketimbang yang boleh terjadi melewati saluran audio, video, grafis. Bacaan itu penting dan harus ditingkatkan dan itu tidak ada hubungannya dengan urusan video dan audio, visual dan audial artinya waluapun banyak media menggunakan audio dan video, saya kira tidak banyak berpengaruh pada budaya baca karena tradisi membaca itu merupakan tradisi yang memiliki kekhasan tersendiri. Audio video adalah tradisi secara kolektif, komunal atau paling tidak bersama dua tiga orang. Seperti nonton wayang, nonton film di bioskop, nonton film layar tancap, pertunjukan musik dan lain-lain. Tapi kalau membaca itu kegiatan yang personal, setiap orang itu membutuhkan situasi-situasi yang personal dalam menimba ilmu pengetahuan. Kebutuhan personal itu dapat dipenuhi dengan membaca. Membaca itu tidak akan luntur.

Bagaimana Anda melihat minat anak muda sekarang?
Tulis-menulis itu menjadi medium ekspresi yang dipilih oleh anak-anak muda dari berbagai kalangan, tidak saja dari kalangan penulis sastra saja tapi kalangan lain, pelajar SD, SMP dan SMA bahkan dari profesinoal. Ada akuntan, manajer keuangan, manajer pemasaran, macam-macam deh. Di Jakarta banyak itu, di daerah juga. Menggunakan internet sebagai sarana informasi, menyebarkan puisi-puisi mereka bahkan beberapa diterbitkan. Jadi sastra itu sudah menjadi pilihan media ekspresi bagi kebanyakan orang yang sebelumnya tidak pernah terjadi.

Ada juga selebritis menulis seperti Rieke Diah Pitaloka, Nadine Candrawinata, Dewi Lestari dan lainya. Apakah mereka mencari popularitas?
Para artis merupakan bagian dari profesional yang melihat sastra sebagai medium ekspresi yang cocok buat dia, pas buat dia memperlihatkan keberadaannya. Untuk memperlihatkan bagaimana dia mengapresiasi hidup dan mungkin menurut mereka karya sastra itu adalah suatu medium yang jauh lebih bernilai ketimbang yang selama ini dia gunakan. Misalnya, seorang pemain film, dia beranggapan ekspresinya dalam dunia sastra jauh lebih sulit dan jauh lebih abadi atau lebih dalam. Sastra merupakan suatu tumpahan ekspresi, jadi dia jadi baskom dimana ekspresi-ekspresi kehidupan bisa diluapkan dengan cara yang lebih bernilai dan itu merupakan perkembangan yang menggembirakan untuk meningkatkan daya baca. Kemampuan penetrasi sastra itu tidak dilihat oleh para birokrat, tidak dilihat oleh para penanggung jawab kebudayaan di negeri ini bahwa gerak alami, gerak spontan dari masyarakat itu harus dilanjutkan dengan program-program yang mendukung sehingga perluasan sastra itu semakin kuat.

Tapi menjadi penulis (di Indonesia) berarti bersedia hidup susah atau tidak semapan profesional lain dari sisi ekonomi. Menurut Anda?
Ya, memang perkembangan ini patut diantisipasi dengan positif supaya kehidupan para penulis bisa lebih baik. Artinya begini, kalau semakin banyak kalangan yang berminat pada sastra akhirya banyak yang diminati, nah para pengarang akan menulis buku dengan makin banyak dibaca. Oplahnya makin besar, sering dapat undangan-undangan. Dengan begitu kehidupannya akan lebih baik.

Banyak penulis terkemuka asal NTT seperti Julius Siyaranamual, Umbu Landu, Gerson Poyk, Dami Toda. Setelah itu ada Maria Matildis Banda, Mezra Pellandou. Penulis muda agaknya belum muncul. Bagaimana Anda melihat ini?
Hilang si tidak. Cuma sekarang tingkat persaingan jauh lebih tinggi. Tapi itu juga bukan menjadi alasan mengapa penulis-penulis muda dari NTT belum juga muncul. Harus dipelajari sejarah orang NTT, situasi apa yang melahirkan orang-orang seperti Julius, Umbu dan Dami Toda. Kalau penulis di luar sastra, saya kira banyak sekali. Dari kalangan akademik dan ilmu pengetahuan, kan mereka pengamat sastra yang bagus seperti Daniel Dhakidae, Ignas Kleden itu bagus dari generasi sebelumnya. Penulis-penulis yang bergelut dalam bidang lain luar sastra itu banyak dan kapasitasnya tetap kuat. Penulis yang intelektual itu banyak, mungkin sastra tidak. Barangkali pengaruh kehadiran penerbit. Kalau dulu kan ada Penerbit Nusa Indah di Ende yang sangat berperan. Tapi sekarang sudah merosot. Penerbit itu melahirkan banyak karya bernilai seperti filsafat, akademis maupun karya-karya sastra. Saya imbau penggerak dan aktivis di NTT untuk memulai suatu upaya penerbitan yang independen. Usaha kecil-kecilan sebagaimana di Pulau Jawa. Jumlahnya ratusan di setiap kota. Di Bandung, Jakarta, Yogyayakarta, banyak penerbit besar memberikan peluang pada penyair-penyair muda, pengarang- pengarang muda, anak-anak dan remaja untuk menerbitkan bukunya. Bahkan ada yang menerbitkan sendiri. Dengan uang satu-dua juta sudah bisa menerbitkan buku dan jual ke pasar. Laku 500-600 eksemplar sudah kembali modal. Saya kira di NTT bisa melakukan itu karena modalnya tidak besar. Mumpung regulasi perbukuan belum begitu ketat, orang bisa setiap saat menerbitkan buku, tidak perlu harus menjadi anggota IKAPI. Kadang tidak punya izn sama sekali tapi bisa menjadi penerbit. Saya kira peluang ini bisa digunakan untuk menggerakkan atau menumbuhkan pengarang di NTT. Beberapa nama seperti Bhara Pattyraja, Dion Putra bisa bikin buku. Dengan modal tiga juta rupiah saja sudah bisa buat buku. Dan, buku itu abadi. Bisa dijual sepanjang masa. Nah, saya kita salah satunya dibutuhkan dukungan dari masyarakat NTT sendiri.

Saran untuk calon-calon penulis NTT?
Di sini punya potensi, kemampuan. Saya kira yang kita lakukan sama yaitu kerja keras, disiplin, dedikasi. Tak ada satu hasil apapun yang kita raih tanpa bekerja keras. Dan, lihatlah betapa luasanya dunia. Hai, teman, para penulis, lihatlah bahwa kamu tidak hidup di NTT saja. Kamu hidup di Indonesia, hidup di atas bumi yang kecil ini dan semua tempat adalah bagian dari dirimu. Berkelanalah kemana- mana walaupun kakimu tetap di rumah. Kau bisa pergi ke mana-mana lewat buku, internet, televisi, telepon, faks dan lain-lain. Jangan merasa wah orang NTT itu hanya bisa menulis di Pos Kupang. Kamu bisa tulis di mana-mana. Menulis di Malaysia, di Tokyo dan di mana saja di dunia ini.

Kita pindah ke soal lain. Sekarang anak muda kita 'berani' pose syur di kamera HP, misalnya. Fenomena apa yang melanda negeri kita?
Ya ini keterbukan yang ditafsirkan secara keliru. Karena demokrasi, reformasi, keterbukaan, semua boleh dibuka termasuk celana dalam. Saya kira ada bagian yang harus ditutup dan ada bagian yang harus dibuka. Biar udara cerah pun harus ada yang ditutup, kalau tidak kan kecoak, serangga bisa masuk. Biar hujan harus ada yang dibuka supaya udara tidak pengap. Masyarakat perlu diingatkan soal ini. Kesadaran begini ditentukan oleh norma. Ada benturan antara norma tradisional dan modern sehingga terjadi kekacauan lalu orang tidak tahu lagi batas-batas itu. Ada inkonsistensi dalam cara kita melihat perkembangan zaman. Inkonsistensi menciptakan kepribadian ganda. Ini PR kita, masalah kita. Para pemikir, termasuk jurnalis perlu menjelaskan apa yang bisa kita lakukan di dalam situasi normatif yang kacau seperti ini. Paling tidak, bolehlah kita menerima kemajuan dan teknologi tapi coba kita gunakan norma tradisional yang masih baik untuk menghadapi serbuan kebudayaan modern itu. Memang belum ada kata sepakat norma yang paling pantas kita gunakan. Sekarang majalah porno di mana-mana, dilegalkan. Harus tetapkan batasannya. Cuma para rohaniawan, budayawan, seniman yang bergerak di bidang itu tidak bergerak. Mereka jadi korban, mereka masuk ke dalam dunia yang kacau itu, terhanyutkan oleh situasi itu. Misalnya, rohaniawan malah menjadi politikus, bukannya urusi dunia moral yang menjadi bagian dia. Menjadi pedagang, jadi penyanyi. Jadi mereka yang bertugas di bidang itu tidak setia, tidak intens melurusi dunia moral di masyarakat. Inilah yang disebut krisis moral. Dalam kehidupan politik, ekonomi, banyak perilaku negatif yang tiba-tiba dibenarkan dalam tanda kutip dan menjadi norma baru. Untuk ikut Pilkada dia menggunakan uang yang luar biasa banyaknya guna merekrut simpatisan dan lain-lain. Itu praktek korupsi tapi sudah menjadi norma. Kalau tidak begitu, dia bukan politisi. Nah, penegak moral seperti budayawan, seniman, rohaniwan harus bergerak aktif. * Rubrik "Tamu Kita" Pos Kupang edisi Minggu, 18 Mei 2008, halaman 3.

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda