Sopir Bemo

Oleh Maria Matildis Banda

PANAS terik begini, antri bensin begini, enaknya buat apa ya? Mau sedot es sirup yang dijual di pinggir jalan depan SPBU, leher tidak terima es karena sudah satu minggu antero terserang batuk pilek. Mau narek rokok, dada sudah enam bulan sakit. Bahkan hasil rontgen ada flek hitam di dada kiri. Mau pulang rumah sudah tidak mungkin lagi karena terjepit di antara antrian depan belakang kiri dan kanan. Lagi pula, kalau pulang tanpa bensin, sudah pasti kena caci maki dari bos. Duh, nasib, nasib...
***
Makanya ketika temannya tanya mau pilih siapa 14 Juni nanti? Dia enggan menjawab. Sebenarnya bukan enggan tetapi tidak tahu pasti mau pilih yang mana karena dalam obrolan sesama supir, tidak ada kata pasti untuk satu paket yang mereka yakin bisa meningkatkan kesejahteraan para supir bemo. Pada hal para calon punya visi misi hebat, tidak hanya untuk NTT. Itu visi misi kalau dipakai untuk bangun Indonesia bahkan bangun dunia, pasti jamin akan sejahtera lahir batin. Rupanya Rara dan Jaki supir angkot ini, dengan kesederhanaannya mengerti bahwa kata-kata sering kali hanya wacana, hanya lipstik, hanya penghias permukaan wajah, yang akan terhapus oleh tetesan keringat.

Bisa apa para calon dengan kenaikan BBM?” Rara bicara sambil terbatuk- batuk menahan rasa sakit di dada. Bisa apa mereka dengan antrian begini panjang. Stok BBM menipis dan lenyap tiba-tiba. Pedagang eceran seenaknya jual dengan sepuluh ribu rupiah satu liter. Para toke menumpuk solar bertangki-tangki, menunggu saat yang tepat untuk raup keuntungan besar dengan modal kecil. Bisa apa mereka dengan beras naik harga, gula naik harga, kangkung naik harga, ikan teri naik harga, dan tempe tahu naik harga dengan alasan BBM naik pada hal BBM belum naik? Bisa apa?”

***

Memang tidak bisa apa-apa! BBM naik itu kebijakan pemerintah pusat dengan pertimbangan macam-macam. Pemerintah daerah tinggal akui saja. Biar mahasiswa mau demo sampai gergantang putus, biar para bos yang duduk di kursi kuasa bilang suara rakyat akan dilanjutkan ke pusat. Biar janji macam-macam, tetap janji tinggal janji, hanya wacana saaaa...” Jaki menyambung.

Apalagi mau turunkan harga beras, kangkung, dan tahu tempe? Mimpi kali yeee. Pedagang lebih pintar berkelit dengan alasan-alasan enteng. Sementara para bos hanya pintar bicara dan buat janji tanpa bukti. Pintar sekali rancang kata-kata dan lempar ke publik,” Rara menarik nafas panjang.
Coba kalau lu yang jadi cagub pasti laen ceritanya,” kata Jaki.

Jangan omong begitu teman. Saya tahu diri bukan siapa-siapa. Jangan menghina begitu ko! Saya sudah susah, penyakitan lagi! Panas terik begini jangan pancing emosi. Bisa bahaya!”

Bagaimana kalau cagup dan cawagub antri bensin seperti kita? Capek, panas, gerah, batuk, haus, sakit pikiran, sakit perasaan, gerah, malas, kesal, dan tidak karu-karuan seperti kita?”
***

Nah, itu dia! Cagub antri bensin!” Teriak Jaki. Ini baru namanya kisah nyata!” Keduanya sama-sama menoleh. Betul! Benza calon gubernur sedang antri bensin sambil tersenyum. Kok bisa ya? Ada apa gerangan sampai mau- maunya Benza antri bensin di antara para supir bemo. Jangan-jangan hanya trik untuk cari simpati, cari suara, cari dukungan. Biasa musim begini semua orang berupaya ramah, murah senyum, tegur sapa sana sini.

Kita mendekat. Berani?” Ajak Jaki. Dia teman kelas kita waktu SD sampai SMP. Cuma ya, nasib berbeda. Dia calon gubernur sementara kita berdua hanya supir angkot. Tetapi sebagai teman pasti dia masih ingat kita bukan? Ayoh, kita tegur sapa!”
Aduh, saya takut! Malu. Kita hanya orang kecil!”
Tetapi dia kita punya teman!”
Tidak!”

Mumpung lagi di pom bensin, tidak ada birokrasi, tidak ada penjaga, sekretaris, anak buah di sekitar beliau. Mari sudah...” Jaki memaksa Rara. Tetapi Rara berkeras tidak mau ikut mendekati cagub yang sangat terkenal itu.

***

Rupanya Benza melihat aksi tarik menarik kedua sahabatnya pada masa kecil dulu. Sahabat pada jaman tidak enak sampai sekarang jaman tidak enak lagi. Sebagai calon gubernur dia memang sengaja turun lapangan pada saat prihatin seperti ini. Merasakan bagaimana harus antri BBM pada saat harga belum naik. Dia tahu diri bahwa dirinya tidak mampu buat apa-apa. Dia tidak punya pengaruh sedikit pun untuk mengubah keadaan.Keputusan memang ada di Jakarta. Sementara dia sendiri hanya orang daerah yang sembilan puluh sembilan persen tergantung pada apa kata orang pusat. APBD tergantung pusat, DAU DAK dari pusat, dana bencana dari pusat, mau makan dari pusat, mau minum tunggu pusat, mau goreng tadah tangan ke pusat, mau bolak balik badan pun tergantung pusat. Jadi pusat mau atur bagaimana, mau perintah apa, mau buat bagaimana tinggal akui saa... Urusan BBM mau omong apa? Benza mau buat janji BBM tidak akan naik dan kalau dia terpilih, pemerintah bisa beri subsidi secukupnya kepada rakyat, hanya gombal. Rakyat pasti tidak percaya dan marah setengah mati, sebab janjinya kelak hanya janji palsu.

Selamat siang, Pak Benza!” Jaki sudah berdiri di sisi jendela mobil Benza.
Siang juga. Kamu Jaki bukan?” Sambut Benza dengan ramah tamah. Mana teman kita Rara? Apa khabar?”
Baik Pak! Bapak antri bensin juga ya Pak?”

***
Jaki jadi salah tingkah saat Benza turun dari mobil dan bergabung bersamanya di antara bemo. Bapak calon gubernur ya?” Tanyanya dengan sangat hati-hati. Bisa bantu tegur SPBU? Biar tidak sembunyi minyak, biar tidak buat kami supir bemo gila antri begini Pak. Tolong Pak! Kami pasti pilih Bapak!” Kata Jaki sambil membungkuk.

Saya akan ke KPU besok siang. Mau batal jadi cagup. Rasanya saya tidak pantas jadi tumpuan harapan kalian semua, khususnya temanku Jaki dan Rara,” kata Benza.

Bapak mimpi apa mimpi Pak!” Rara ikut bergabung. Di dunia ini tidak ada balon alias bakal calon dan calon yang merasa tidak pantas Pak! Semua merasa bisa rebut kursi nomor satu. Yang paling penting bukan BBM Pak! Yang paling penting itu bapak bisa ngomong janji semanis dan seyakin mungkin. Soal nantinya janji hanya tinggal janji, itu urusannya lain!”

Saya bukan tipe pemimpin seperti itu. Saya akan undur diri besok pagi!”
Ini NTT Pak, bukan Propinsi Mengigau!” Rara dan Jaki tidak percaya.
Justru karena ini NTT saya berani putuskan untuk mundur,” jawab Benza. Saya malu menghadapi kalian para supir angkot. Pintar-pintar sekali kalau bicara!”
Orang kita memang tidak ada yang tidak pintar, Pak! Kalau soal bicara!” Kata Rara sambil tertawa-tawa. Kali ini ketiga sahabat masa kecil itu merasa diri sama seperti dulu dan kini dan akan datang. Tidak ada yang tidak pintar bicara... *

Parodi Situasi, Pos Kupang edisi Minggu 25 Mei 2008, halaman 1

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda