Waktu Belum Berhenti bagi Saya

MESKI baru bangun tidur dan kelelahan begitu kuat di wajahnya, penulis buku Dalam Sebotol Coklat Cair ini sangat antusias saat ditemui Pos Kupang di Wisma Wirasakti-Kupang, Senin (12/5/2008) pagi.

Sejak divonis gagal ginjal Januari 2001 lalu, Radhar Panca Dahana harus menjalani cuci darah seminggu dua kali. Dan ini akan berlangsung seumur hidupnya. Meski kesehatannya cenderung turun, pria yang mementaskan karya monolog berjudul "1 Hari 11 Mata Di Kepala" di Teater Kecil, TIM, Jakarta 6-7 Juli 2007 bersama Teater Kosong ini tetap bersemangat.

Motivasinya adalah selalu mencari kebenaran."Yang saya cari itu tidak lain adalah manfaat nilai kebenaran, dari apa, dari waktu yang diberikan kepada saya. Saya pernah mengalami satu situasi dimana saya berada di ujung kehidupan, di tepi kematian, dan saya menyadari bahwa setelah itu ujian atau krisis itu lewat," katanya.

Meski usianya seolah tergantung pada mesin pencuci darah, namun waktu baginya belum berhenti. Dan, selama masih ada waktu, ada hal berguna yang bisa digunakan untuk berkarya. "Yang dapat saya mengerti adalah waktu belum berhenti dalam hidup saya, masih ada waktu yang diberikan kepada saya, dan cara yang terbaik untuk mensyukuri itu, mengapresiasi itu adalah berterima kasih dan membuat setiap waktu saya bermanfaat," kata Radhar yang selalu menyebut nama Valens Goa Doy (alm) -- wartawan Kompas dan salah seorang pendiri Pos Kupang -- sebagai guru yang pertama kali memperkenalkannya dengan dunia tulis-menulis.

Waktu bagi Radhar sangat bernilai, sehingga tak sedetikpun waktu yang akan disia- siakan. "Saya akan menggunakan waktu -- sebisa mungkin bermanfaat untuk diri sendiri dan terutama untuk banyak orang. Saya belajar atau berkarya, saya datang ke sini (Kupang) untuk apa? Itu semata-mata karena saya ingin hidup saya bisa diabdikan untuk orang lain, untuk kepentingan banyak. Kalau saya diberikan waktu berarti masih ada tugas yang harus saya tunaikan, masih ada manfaat yang mesti harus saya berikan," ungkapnya. (alfred dama)

Data Diri
Nama :Radhar Panca Dahana
Lahir :Jakarta, 26 Maret 1965
Pendidikan : S1 Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Indonesia (1993), Studi Sosiologi di Ecole des Hautes Etudes en Science Sociales, Paris, Perancis (2001).

Pekerjaan/profesi : Dosen Sosiologi FISIP-UI
: Sastrawan/penulis
: Wartawan/pengasuh rubrik Teroka-Kompas
Isteri : Krisniaty Marchelino
Anak : Cahaya Prima Putri Dahana (9 tahun)

Radar Panca Dahana sudah mulai menulis sejak usia 10 tahun. Saat duduk di bangku SMP kelas dua, salah satu tulusannya Tamu Tak Di Undang sudah dimuat di Harian Kompas. Ia pernah menjadi redaktur di Majalan Anak-anak Kawanku tahun 1977.
Karya-karyanya antara lain Menjadi Manusia Indonesia" (esai humaniora, 2002), "Lalu Waktu" (kumpulan sajak, 2003), "Jejak Posmodernisme" (2004), "Cerita-cerita dari Negeri Asap" (kumpulan cerpen, 2005), "Inikah Kita: Mozaik Manusia Indonesia" (esai humaniora, 2006) "Dalam Sebotol Coklat Cair" (esai sastra, 2007), "Metamorfosa Kosong" (kumpulan drama, 2007).
Meskipun dalam kondisi sakit, Radhar tetap tegak menghasilkan karya-karya terbaiknya.

Penghargaan
- Terpilih sebagai satu di antara lima seniman muda masa depan Asia versi NHK (1996)
- Meraih Paramadina Award (2005)
- Duta Terbaik Pusaka Bangsa, Duta Lingkungan Hidup sejak 2004.
-Menerima Medali Frix de le Francophonie 2007 dari 15 negara berbahasa Perancis. (*)

Tamu Kita Pos Kupang edisi Minggu, 18 Mei 2008, halaman 3

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda