Adriana dan Pilkada

ANTARA Pilkada dan UN, apa hubungannya? Pilkada! Untung, tidak ada yang bunuh diri karena pilihannya masuk kotak. Untung tidak ada yang frustrasi akibat calon pilihannya tidak berhasil menjadi juara. Sedangkan UN? Oh, nasibmu UN, sampai ada yang menyongsong ajal karena tida beruntung. Siapa dia?

Mudah-mudahan berita ini mendapat perhatian serius dari gubernur dan wagub yang baru. Agar lebih serius menangani pendidikan. Sebab kebijakan pendidikan apapun yang kalian putuskan, ujung-ujungnya untuk anak. Perencanaan, program dan kegiatan apa pun yang dijalankan, ujung-ujungnya demi masa depan anak-anak NTT. Jangan sampai ada Adriana baru pada masa yang akan datang.
***
"Aduh, Adriana siapakah engkau gadis Sumba yang mati muda? Apa yang membuat hatimu begitu hancur sehingga mesti mengakhiri hidupmu dan masa mudamu yang cemerlang dengan cara mengenaskan? Mengapa mesti bunuh diri gara-gara tidak lulus UN? Pantaskah hidupmu mesti berakhir karena UN? Aduh Adriana, ketika setiap orang melewati masa remaja, masa yang terindah, engkau justru membeku berkalang tanah.

Apa yang terjadi dengan UN? Apakah UN yang telah membunuhmu?" Benza terpekur memikirkan Adriana, siswi SMU Negeri 1 Waingapu yang bunuh diri beberapa saat setelah pengumuman UN.
Masih berduka karena UN? Masih tidak setuju dengan UN? Rara bicara hati-hati karena sejak kemarin dilihatnya Benza berduka, tidak hanya karena Adriana, tetapi benar-benar karena UN.
"Jadi kami tidak setuju dengan UN?

Benza menjelaskan dengan tenang bahwa dia setuju dengan UN, sangat setuju! Tetapi tidak tidak setuju kalau UN dijadikan satu-satunya penentuan kelulusan. Bagaimana mungkin menentukan kelulusan anak hanya dengan otaknya, hanya dengan empat-lima mata pelajaran. Sebagai guru Benza merasa peran dirinya telah dimarginalkan.

Telah bertahun-tahun dia jadi guru, dia amati satu persatu anak-anaknya. Semua dilaksanakan sesuai kurikulum yang memperhatikan secara optimal tingkat kecerdasan anak, baik intelektual, emosional, maupun spiritual. Tetapi apa daya ketika kenyataan mengabaikan perannya?
"Oh begitu?" Sambung Rara. "Jadi guna apa UN dibuat kalau bukan untuk menentukan kelulusan anak? Kalau tidak ada UN pasti sekolah-sekolah kita seratus persen semua. Biar KBM alias Kegiatan Belajar Mengajar asal jadi, yang penting lulus! Gengsi dong!"

UN tetap dilaksanakan demi kepentingan akreditasi sekolah UN menjadi ukuran mutu sekolah, kompetensi dan kemampuan bersaing. Sekolah-sekolah yang hasil UN-nya bagus akan memperoleh nilai akreditas dan dukungan finansial yang lebih bagus. Sertifikasi sekolah, guru, kepala sekolah juga dapat ditentukan oleh UN. Tetapi sekali lagi jangan sampai UN menjadi satu-satunya penentu!
***
"Jadi kelulusan ditentukan sekolah?"
"Ya! Bagi saya wajah sekolah adalah wajah guru-gurunya, kepala sekolahnya, dan wajah kepala dinas pendidikannya! Kalau ada sekolah yang maen curang meluluskan anak karena gengsi, biar dia bertanggung jawab sendiri, dia ukur sendiri tanggung jawab moralnya. Biar dia nilai sendiri kualitas intelektual, emosional dan spiritualnya. Saya pikir harus dipikirkan matang-matang satu sistem yang menyakinkan untuk UN dan sistem untuk menentukan kelulusan. Intinya jangan sampai anak jadi korban," begitulah Benza berkata.

"Kenapa buang waktu pikir UN?" Jaki langsung beri komentar yang menyakitkan Benza. "Pemerintah tidak akan peduli dengan duka citamu! Lebih baik kita pesta sukses Pilkada sampai pagi!"

"Tentu saja kita perlu bersyukur, tetapi lebih syukur lagi kalau pesta sukses pilkada disertai dengan renungan introspektif mengapa ada ruang dalam sistem pendidikan yang luput dari perhatian dan akhirnya mengorbankan anak-anak. (maria matildis banda)

Pos Kupang Edisi 22 Juni 2008, halaman 1

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda