Ajaibnya Cinta

Cerpen Fr. Gusty R Jura

LEMBARAN telegram itu masih tergeletak di atas meja belajarku, kemudian perlahan ditiup oleh angin laut yang menerobos gorden jendala kamarku dan jatuh. Huruf pesannya masih bisa terbaca, walau sedikit pudar oleh air mata dukaku.
"Segara pulang. Adikmu belum ditemukan. Mama masih trauma dan belum sadarkan diri". Bapa--Ruteng.

Dengan tenaga yang masih tersisa, menanggung kesedihan sejak tiga hari yang lalu, aku berusaha memungut lembaran telegram itu, tetapi kemudian jatuh lemas dan berbenturan dengan pinggiran kaki meja. Darah segar menetes perlahan dari kepalaku dan berbauran dengan tinta hitam di atas lembaran telegram itu. Samar-samar aku melihat perubahan warna, mulai dari warna merah tua, abu, ungu dan akhirnya tidak bisa kubedakan warnanya lagi sebab yang ada hanyalah kegelapan yang paling gelap. Aku tak sadarkan diri lagi.




Aku tak tahu persis, dunia baru yang kudiami sekarang, sebab tiba-tiba aku berada di suatu tempat yang sangat asing bagiku. Sebuah taman yang seakan tak pernah dikunjungi orang. Aku menggigil ketakutan karena tak tahu harus berbuat apa. Sunyi dan sepi. Aku mencoba untuk melangkah dan segera berlalu dari tempat ini, tetapi sia- sia saja, sebab aku hanya bisa mengitari taman yang menakutkan itu.

"Plak.......kkk." Sebuah ranting terlepas dari batangnya dan jatuh di depanku. Setelah mengangkat kepala, aku melihat Lusi adik perempuanku berlari menghampiriku. Pakaiannya putih kemilau, begitu indah dan mempesona. Ia kelihatan sangat bahagia mewarnai potongan wajah mongoloidnya. Begitu cantik dan manis. Tak ada kata yang terucap dari bibirnya dan dari balik tatapan polosnya seakan mengatakan padaku," kakak, aku bahagia berada di tempat ini." Aku mencium dan memeluknya. Ketakutanku perlahan-lahan sirna. Aku betah berada di tempat ini bersama Lusi adik perempuanku satu-satunya yang sangat kucintai. Ia adalah mutiara indah dalam hatiku.

"Plak.....kkk." Untuk kedua kalinya ranting itu jatuh. Aku menoleh dan melihat seorang gadis melambaikan tangan kepadaku.
"Kak Rhino, kembali. Tinggalkan tempat itu." Teriaknya penuh permohonan. Ia tak mampu menghampiriku seakan dibatasi oleh jurang yang amat dalam. Aku berusaha menghampirinya, tetapi Lusi selalu memegang tanganku. Aku tak tahu harus berbuat apa. Tetap bersama Lusi atau pergi menghampiri gadis yang belum kukenal itu. Di tengah kebingunganku ini kembali ranting itu jatuh dan tepat mengenai kepalaku.

"Akh......." Aku merintih kesakitan. Setelah membuka mata kutemukan diriku berbaring di atas tempat tidur dalam ruangan rawat inap Arnoldus di Rumah Sakit Marianum-Halilulik. Seseorang masih duduk di sampingku dan tertidur sementara tangan kirinya masih memegang perban putih yang membaluti luka di kepalaku.
"Apakah tadi aku sedang bermimpi dan siapakah gadis ini," pikirku dalam hati. Aku belum sempat menemukan jawabannya ketika dia yang duduk di sampingku terbangun. Ia mengumbarkan senyuman kegembiraanya padaku.

"Christin," kataku perlahan.
"Syukurlah kau telah sadar," katanya sambil mengusap wajahku yang basah oleh keringat yang sudah melekat kemudian meluruskan lengan kanan tempat jarum infus tertancap di urat nadiku.

"Kamu telah melewatkan masa kritismu. Aku bangga dengan ketegaran hatimu, walau lebih dari delapan belas jam kamu tak sadarkan diri. Kamu telah mencemaskan aku," katanya sambil tertawa kecil tetapi beberapa butiran bening meluncur spontan dari kelopakmatanya. Aku hanya diam membisu dan membiarkan diri dipeluk oleh gadis yang kukenal selama ini sangat membenciku. Dia adalah anak tunggal sebuah keluarga pengusaha sukses sementara ibunya seorang Direktur Bank Negara.

Sebagai mahasiswa perantauan, aku merasa banyak dibantu oleh keluarga ini. Mereka sungguh mengerti dengan posisiku. Namun, tidaklah begitu dengan Christin, putri tunggal mereka. Walau kami satu jurusan, namun tidak pernah akur sebagaimana aku dengan orang tuanya. Dia menginginkan aku menjadi pribadi yang penurut dan lugu dan bodoh. Ia ingin dimengerti, tetapi tidak pernah mengerti diriku. Kerapkali ia sengaja meminta uang rumah kontrakanku di kampus sekedar mempermalukan aku di hadapan teman-temannya. Dan aku hanya bisa mengalah dan menghindar.

Pada hari Selasa di pertengahan bulan Maret yang lalu, ia datang ke tempatku sambil membawa lembaran telegram dengan wajah yang penuh prihatin dan sedih. Aku merasa kecewa dengannya sehingga segera menutup pintu setelah menerima lembaran telegram itu dari tangannya. Ternyata babak penderitaanku dimulai. Tanah kelahiranku mengalami kelongsoran besar dan menelan warga kampung termasuk Lusi adikku satu-satunya. Bapa menyuruhkku pulang di tengah kesibukanku menyelesaikan ujian skripsi. Lagi pula tak seorangpun nahkoda kapal motor berani mengarungi Laut Sawu di musim hujan seperti ini, karena getaran ombaknya yang deras dan anginnya yang kencang. Aku hanya bisa mengeram dalam kegelapan, kegalauan dan kehancuran hatiku. Memikirkan mama yang belum sadarkan diri, perasaan kehilangan dari bapa serta Lusi adikku yang belum jelas nasibnya. Aku seakan berada di dunia yang hampir kiamat dan merasa Tuhan sungguh meninggalkan aku dan keluargaku.

"Kak Rhino," suara Christin kembali menghadirkan dan membuyarkan lamunan kesedihanku.
"Maafkan aku ya?" Aku turut prihatin dan sedih dengan sesuatu yang telah menimpa keluargamu. Sejak menerima telegram itu aku sangat kuatir denganmu, karenanya aku menyuruh Pak Engos mengawasi kamu. Dan ternyata kekuatiranku benar. Pak Engos menemukan kamu berbaring lemah di kamarmu dengan darah yang terus mengalir dari kepalamu. Syukurlah golongan darah kita sama dan aku mendonorkannya untuk kamu. Kakak tak perlu cemas, sebab bapa telah melunasi segala biaya perawatan kakak. Tetapi, tadi pagi saya menerima telepon bahwa......" Ia tak bisa melanjutkan lagi dan menarik napas untuk menemukan kata yang tepat. Aku menatapnya setelah lama menanti suaranya. Air mataku segera meluncur deras setelah melihat sesuatu di balik kebisuan Christin.

"Aku sudah tahu, Chris. Adikku Lusi telah tiada." Kataku dengan suara parau.
"Kakak tahu dari mana?" Tanya Christin penasaran.
"Lusi adalah adik kandungku," jawabku.
"Kakak, aku sadar bahwa selama ini aku sering menyakiti hatimu dan tak pantas mendekat apalagi menasehatimu. Tetapi, aku juga tahu bahwa saat ini kamu membutuhkannya. Aku hanya mengatakan satu hal pada kakak, hidup ini adalah sebuah proses, penuh dinamika dan ketahuilah semua orang merasakannya, termasuk yang namanya duka dan kehilangan. Bukankah bencana itu menelan banyak korban dan mereka merasa kehilangan sebagaimana yang dialami oleh kakak. Memang cukup sulit untuk menerima dan memahami semuanya itu, apalagi segera melupakanya. Tetapi, bila kita mau membuka diri dan melihat semuanya itu dalam rencana dan kehendak Tuhan yang adalah segalanya, yakinlah kita bahwa pada saat itu sebenarnya kita masuk dalam rahasia cinta-Nya. Memahami rahasia salib yakni penderitaan, kematian dan kehidupan baru." Kemudian ia mengecup keningku dan segera berlalu dari ruangan itu seakan ada sesuatu yang terlupakan.
Aku sungguh merasa diteguhkan dan disadarkan olehnya. Christin benar bahwa kesedihan dan kekecewaan yang berkepanjangan tidak bisa menghilangkan situasi yang ada. Aku harus bangkit dan berani untuk mulai belajar menerima semua ini dengan jiwa besar. Aku harus kehilangan Lusi adikku yang amat kucintai. Aku yakin bahwa Lusi sangat bahagia di rumah Bapa di Surga, sebab rumah-Nya ada banyak tempat. Kupandangi langit-langit kamarku dengan kata-kata yang tak terucapkan.

"Tuhan, hidup ini ternyata bagitu indah, sekalipun wajahku basah oleh air mata duka. Hidup ini sungguh menyenangkan sekalipun darahku memerah berlumuran darah kecewa dan gelisah. Hidup ini membahagiakan kendati robek dan terkoyak oleh pisau derita.
Tuhan, hidup ini, karena kehalusan dan ketulusan-Mu yang berjongkok pasrah, menyerahkan kerinduan yang halus dan tulus di hati yang luka oleh berita dan derita. Kerinduan-Mu bukan hanya mengiris jiwa melainkan menoreh kelembutan yang menawan sehingga mesti sakit namun indah dan nikmat dalam kepasrahan."
Christin datang dengan setangkai mawar di tangannya. Sentangkai mawar hidup yang dipetiknya di halaman rumah sakit yang asri itu.

"Aku tahu, cinta itu mengalir bebas. B egitu unik dan aneh, bahkan ada yang mengatakan bahwa cinta itu gila. Tetapi itulah cinta, sulit dipahami dan dimengerti sebagaimana cinta Tuhan terhadap umat-Nya. Dan akupun tahu harus mulai dari mana, tetapi sesungguhnya aku mecintai kakak. Sebab ketika aku berjumpa denganmu untuk pertama kalinya aku takut berkenalan denganmu. Ketika aku berkenalan denganmu, aku takut bersahabat denganmu. Ketika aku bersahabat denganmu aku takut mencintaimu.

Makanya aku tak tahu harus bagaimana kecuali menarik perhatian kakak, walaupun dengan cara membenci sekalipun. Tetapi, semakin aku membuat kamu kecewa dan sakit hati pada saat yang sama aku semakin mencintaimu. Dan kini, aku mencintaimu tetapi akua tidak akan pernah takut kehilangan kamu sebab aku tahu siapa kamu. Seorang yang mengenal dan mengerti arti sebuah cinta walau dalam derita sekalipun," katanya polos sambil memberikan mawar merah itu padaku dan mengecup keningku. Aku sangat kagum dengan sikap dan perhatian Christin yang berubah seratus delapan puluh derajat itu padaku. Kusadari bahwa selama ini aku juga sangat mencintainya walau terkadang bingung dengan sikapnya.

Kami saling beradu pandang sambil mengalirkan embun cinta di hatiku yang hampir gersang oleh kedukaanku. Dia adalah secercah cahaya, pantulan dari cahaya Tuhan sendiri dan telah menerangi hati dan pikiranku yang diliputi kegelapan oleh rasa kecewa, sedih dan putus asa atas bencana yang menimpa keluarga dan kampung halamanku. Kami berdua memegang mawar itu dengan tatapan penuh arti dan makna lalu mengikat janji dalam kelimpahan cinta yang tak akan surut oleh aneka berita dan derita. (*)

Pos Kupang Edisi Minggu 15 Juni 2008, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda