Bekali Diri Kerja di Luar Negeri


BERUSIA relatif muda bukan hambatan bagi seseorang untuk mengemban tugas yang cukup berat. Ini pula yang dijalanlan oleh drh. Maxs Urias Ebenhaizar Sanam, M.Sc. Ia dipercaya oleh unsur pimpinan Universitas Nusa Cendana (Undana)-Kupang untuk menjadi Kepala Lembaga Urusan Luar Negeri (Undana).
Tugasnya adalah membuka hubungan Undana dengan universitas di luar negeri, bahkan pemerintahan di luar negeri dalam rangka menjadikan Undana sebagai lembaga pendidikan tinggi yang benar-benar berwawasan global. Tugas ini tidak amat berat, namun dibutuhkan keseriusan mengingat hubungan kerja yang dibangun adalah dengan pihak asing yang sangat menjunjung tinggi komitmen.
Dalam perbincangan dengan wartawan Pos Kupang, Alfred Damabelum lama ini, Maxs Sanam yang juga seorang dokter hewan ini mengatakan banyak peluang yang bisa didapat oleh tenaga kerja Indonesia di luar negeri. Bekerja di luar negeri tidak selamanya identik dengan menjadi Tenaga Kerja Indonesia atau Tenaga Kerja Wanita (TKI/TKW) di Malaysia, Singapura, Hongkong, Korea atau di negara-negara timur tengah. Bekerja di luar negeri juga bisa didapat di Australia, Amerika Serikat atau di negara-negara Eropa. Asalkan pencari kerja bisa berbahsa Inggris dan terampil dalam mengoperasikan internet.
Berikut petikan perbincangan dengan Maxs Sanam.

Anda menjabat sebagai kepala hubungan luar negeri di Undana. Lembaga hubungan negeri ini kan tidak lazim di institusi pemerintah. Apa saja tugas dari lembaga ini?
Memang betul bahwa secara struktural tidak begitu lazim organisasi ini ada di pemerintahan. Kalau kita di sini Rektor Undana menamakan International Relation Officer (IRO). Sebenarnya ini murni terobosan Rektor Undana untuk membuat suatu unit atau staf untuk mengelola beberapa kegiatan kerja sama luar negeri yang menurut rektor sangat penting dalam rangka mendukung visi Undana sebagai universitas atau perguruan tinggi berwawasan global. Struktur seperti ini biasanya hanya ada di beberapa universitas yang berbentuk BHPT (Badan Hukum Perguruan Tinggi). Tapi memang benar bahwa struktur ini secara resmi tidak ada pada semua perguruan tinggi. Jadi yang kita lakukan saat ini adalah sebagai perpanjangan tangan untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan kerja sama luar negeri Undana yang dilaksanakan oleh rektor.

Sudah bangun hubungan dengan siapa saja di luar negeri?
Kita melakukan pendekatan sudah cukup banyak dengan pihak-pihak luar negeri. Kalau saya melihat sekarang yang sudah ada hasilnya saja itu yang pertama yang paling signifikan adalah kerja sama dengan Flinders University-Australia dalam rangka pembukaan Fakultas Kedokteran Undana. Kita mendapatkan bantuan yang cukup signifikan dalam arti bantuan dalam penguatan institusinya. Kita akan mengadopsi kurikulum dari Flinders University. Bantuan tenaga ahli ke depan juga sangat signifikan bagi Undana, karena Undana sendiri belum punya tenaga ahli atau dosen yang ahli untuk mengajar dalam bidang kedokteran, terlepas dari tenaga ahli dokter yang kita punya di sini. Lalu, kerja sama dengan Charles Darwin University. Ada beberapa kegiatan, antara lain dalam ritisannya itu kita mengembangkan program Master Tropical Rural Development atau master pembangunan pedesaan tropis. Ini dalam proses, tapi kita sudah melaksanakan kegiatan-kegiatan perantara, antara lain training dan seminar internasional di bidang GIS (Geographic Information System). Lalu dengan Belanda melalui empat program yaitu bidang pengembangan kelembagaan, pengembangan di bidang pertanian atau agrikultur, bidang perikanan dan manajemen sumber daya alam. Lalu dengan JICA (Japan International Cooperation Agency), khusus di bidang energi alternatif.

Kelihatan kerja sama ini lebih banyak ke Australia. Apakah karena Undana banyak lulusan Australia atau karena secara geografis Undana dengan perguruan tinggi di Australia lebih dekat?
Itu bentuk kerja sama. Kita membangun kerja sama ini pada mulanya melalui hubungan individu. Saya mengambil contoh, misalnya, dari Australia sering aktif ke sini, ketemu di sini. Jadi terjadi pendekatan individu. Dari pendekatan individu ini dibawa ke komitmen institusi. Jadi secara teoretis, semakin sering kita berkumpul, maka semakin besar kita bekerja sama.

Konsep kerja sama selama ini dalam bentuk seminar. Kelihatannya penguatan lebih ke tenaga pengajar. Bagaimana dengan mahasiswa Undana?
Itulah yang diambil terobosan melalui kerja sama dengan Jepang. Kita namakan enterpreneurship pada mahasiswa. Tahun lalu kita sudah kembangkan bidang ini. Mahasiswa yang akan lulus ini akan akan dibekali dengan skill, pengetahuan, spirit dan motivasi untuk bergerak di bidang wirausaha. Jadi ada pelatihan wirausaha untuk mereka. Bagaimana mereka dididik dan diberikan spirit serta motivasi bahwa orientasi tidak sekadar hanya menjadi pegawai negeri dan sekian lama kamu berjuang menjadi pegawai negeri dan akhirnya menghabiskan waktu dengan menunggu, tapi bagaimana melihat peluang usaha di luar yang sangat besar sehingga ambil peluang itu dan menciptakan pekerjaan bagi diri kamu sendiri dan menciptakan pekerjaan bagi orang lain. Itu salah satu contoh kerja sama dengan pihak luar untuk memberdayakan mahasiswa.

Kalau melakukan kesepakatan semacam itu, biasanya hambatan apa saja yang ditemui? Kendala saya selama ini adalah saya juga dalam proses belajar, antara lain karena saya latar belakang dokter hewan dan diberikan tugas menangani hubungan luar negeri ini. Tetapi saya terapkan bahwa ketika kita berkomunikasi dengan orang luar, hal yang mereka butuhkan adalah komitmen kita. Komitmen ini dalam arti kita berkomunikasi dengan mereka (orang asing) bahwa kita harus tepat waktu. Yang penting komunikasi dengan orang luar negeri itu adalah bagaimana kita melakukan komunikasi secara efisien dan efektif dan harus cepat. Tidak permasalahkan bahasa Inggris. Saya sendiri bahasa Inggris tidak terlampau bagus, tapi saya bisa menggunakan ekspresi sederhana yang bisa membuat mereka mengerti. Tapi, jika mereka tidak mengerti dengan cara mereka, maka mereka tidak akan berkomunikasi dengan kita, tapi syaratnya adalah ketika dia berkomunikasi dengan kita, maka kita secepat mungkin merespons.

Selama ini dalam kerja sama, orang dari luar negeri yang datang ke Undana. Adakah kerjasama Undana yang keluar?
Ya, kerja sama kita ini merupakan pengalaman dan sudah dilakukan. Kendala kita adalah biaya. Kalau orang asing datang ke sini ini, berarti dia menggunakan dollar yang dikonversikan ke rupiah akan lebih murah, sedangkan bila kita ke luar negeri berarti rupiah ke dollar, kan lebih mahal.

Sesudah kerja sama dengan beberapa perguruan tinggi itu, apa kesan mereka tentang Undana?
Ya, karena baru-baru ini dengan Cherles Darwin, mungkin saya terlalu subyektif menilai, tapi sebenarnya mereka merasa terheran-heran karena semula kegiatan konferensi ini ingin dilakukan di Darwin, tapi ternyata ini bisa dilakukan di Kupang. Anda bayangkan dengan dana yang relatif terbatas dalam rupiah, kita bisa mendatangkan orang dari berbagai negara dan tidak hanya sekadar kesuksesan membahas substansi pada bidang GIS itu sendiri, tapi ditambah lagi atraksi-atraksi budaya dan sebagainya, yang punya nilai positif. Itu mereka tidak akan dapatkan bila dilakukan di Darwin. Jadi ini merupakan satu hal yang sangat positif bagi mereka dan bagaimana impresinya sangat positif.

Tapi orang berpikir dengan otonomi daerah ini, kebijakan luar negeri itu menjadi kewenangan pusat?
Betul, memang hubungan luar negeri ini menjadi kewenangan pemerintah pusat. Artinya bahwa kita harus bertindak secara smart, artinya begini di satu daerah atau propinsi, kita punya satu unit yang bisa digabungkan. Tapi inisiatif itu harus dimulai dari kita, sehingga ketika kita mendapat kontak baru kita bawa ini ke pusat. Jalurnya seperti itu.

Undana membuka Lembaga Hubungan Internasinal, apakah ke depan juga mendorong mahasiswa melihat peluang bekerja di luar negeri?
Saya kira bukan saja karena keberadaan lembaga ini, tetapi sudah menjadi komitmen Undana. Rektor Undana dalam setiap arahan dia bahwa ke depan lulusan Undana ini tidak hanya berpikir mencari kerja di lingkungan NTT saja, tetapi dia juga harus bisa terjerat ke bidang yang luas. Dia bisa ke Jawa dan akhirnya sesuai dengan misi kita yakni menghasilkan output yang mampu bersaing di pasaran kerja internasional. Itu sudah menjadi visi, komitmen dari Undana, tinggal sekarang bagaimana membangun kebersamaan atau kesadaran bersama semua pelaku akademik di Undana ini untuk benar-benar berkomitmen bahwa kita jangan ragu untuk bermimpi ke arah itu karena itu bisa saja terwujud. Kita jangan berpikir pesimis bahwa itu hanya ilusi atau mimpi, kita pasti bisa kalau kita punya komitmen untuk itu. Sekarang ini, hal yang paling sederhana adalah setiap dosen sebagai guru mulai di depan kelas memberikan motivasi itu. Kalau dosen sendiri tidak ada motivasi itu, tidak yakin ya, mahasiswa juga akan berpikir begitu.

Kalau seorang berpikir ingin bekerja di luar negeri, apa yang harus dia lakukan?
Yang pertama yang dia lakukan adalah dia harus membekali dirinya, baik secara pengetahuan maupun secara skill. Karena pengetahuan saja tidak cukup, teori saja tidak cukup, orang harus punya skill. Saya beri contoh, di Fakultas Peternakan tidak bisa kalau kita hanya bicara bagaimana memberi atau memelihara ternak sapi. Tapi tidak pernah seorang itu memiliki keterampilan tentang bagaimana merancang pakan sapi yang baik. Jangan-jangan dia sendiri tidak pernah pegang sapi itu. Ini yang jadi masalah. Ini berbicara tentang skill. Kalau dia sudah punya dua itu (pengetahuan dan skill), dia harus dibekali lagi dengan pengetahuan tambahan, misalnya dengan bahasa Inggris. Kalau dia sudah punya itu, motivasi dan spirit itu akan muncul dengan sendirinya. Kita tidak akan berbicara kalau dia punya spirit dan motivasi. Kalau dia tidak punya tiga ini, bagaimana dia bisa percaya diri. Ilmu yang dia kuasai juga tidak membuatnya punya rasa percaya diri, apalagi keterampilan, maka kita sebagai guru atau siapa pun juga yang menjadi guru tinggal memberikan motivasi. Untuk ke sana kan tidak sulit. Bagi siapa pun juga dengan adanya internet, dia bisa tinggal membuka internet dan mencari di mana peluang kerja di luar negeri. Dia tinggal bagaimana menyusun biodatanya dalam bahasa Inggris dan dia kirim. Pada saatnya atau dalam satu hari, dia sudah mendapat jawaban. Jadi dia tidak perlu pergi ke Singapura lalu terputar cari kerja dan menghabiskan waktu di sana. Hanya itu saja yang orang lakukan. Dengan internet saja, orang bisa melakukan banyak hal. Ke mana saja kita bisa buat aplikasi itu. Cuma sekarang bagaimana kita bisa mengubah mentalitas kita, mahasiswa khususnya yang masih ke arah situ yang susah.

Dari tiga persyaratan itu, masalah bahasa Inggris yang paling sulit. Bagaimana menurut Anda?
Memang pelajaran bahasa Inggris ini paling rumit. Suasana pendidikan kita hanya mengatakan bahasa Inggris itu penting, tapi kita tidak begitu cukup menciptakan kondisi yang sedikit meMaxsa mahasiswa itu dalam tanda petik, untuk mau belajar bahasa Inggris. Karena ada istilahnya, kontradiktif juga. Di satu sisi, kita ingin memudahkan proses belajar kita dengan menterjemahkan seluruh bahasa ajar dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Tetapi dalam waktu yang sama, kita merendahkan motivasi mereka dalam belajar bahasa Inggris. Ini yang menjadi masalah, jadi harusnya pada titik tertentu, mahasiswa itu harus diberikan tantangan. Misalnya dosen ini di dalam perkuliahannya, menugaskan mahasiswa untuk menterjemahkan bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Atau sebaliknya dengan cara mahasiswa itu sendiri dan kemudian tugas-tugas (assignment). Jadi bahasa Inggris itu bahasa internasional sehingga menjadi sangat penting, karena ketidakmampuan kita, tidak Maxsimal kita dalam penguasaan bahasa Inggris itu yang secara sadar atau tidak sadar ia mendegradasi horison berpikir kita, seperti pemahaman, sudahlah saya hanya mampu di sini saja, tapi sebenarnya potensi kita besar sekali, peluang kerja di luar negeri itu besar karena apa yang kita punya itu mungkin kita tidak pakai, tapi semangat kita, daya juang kita dan toleransi kita cukup besar. Mungkin orang luar negeri tidak mampu kerja kasar seperti kita dan itu peluang buat kita.

Apakah Anda punya pengalaman pribadi bekerja dengan orang asing?
Ya, saya punya pengalaman bekerja di perkebunan mangga. Di situ orang Australia tidak mau kerja. Kita kerja dari pagi sampai siang. Menurut kita, walau dibayar Rp 500 ribu perhari untuk satu kelompok, jadi untuk saya bisa dapat Rp 150 ribu perhari. Bagi orang Australia ini kerja kasar, tapi bagi orang Asia ini kerja biasa saja. Hanya tambahan saya adalah saya bisa bahasa Inggris sedikit. Anda bayangkan kalau tidak ada proteksi untuk bekerja di luar negeri, dan perusahaan-perusahaan memanfaatkan orang dari NTT sini, orang luar negeri (Australia) juga pasti merasa tersaingi.

Kalau mahasiswa sendiri bagaimana?
Mahasiswa itu sendiri ya tadi itu, orang itu dikasih tantangan mestinya akan bisa. Tapi selama ini kita tidak pernah memberikan tantantan yang cukup, menurut saya. Karena segala sesuatu kita permudah. Bahan-bahan ajar harus kita terjemahkan, tapi tidak ada penugasan yang mengharuskan mereka belajar mandiri bahasa Inggris. Menurut saya, literatur perpustakaan tidak lagi menjadi masalah. Karena dengan orang akses internet, kita bisa membuka segala macam. Hanya tinggal sekarang kemauan mereka (mahasiswa), informasi apa saja bisa kita dapatkan.(alfred dama)


Ijazah Sarjana Kedokteran Hewan Pernah Hilang

SEJAK duduk di bangku SD, Maxs Sanam sudah menunjukkan kemampuan yang lebih dibandingkan teman-temannya. Bahkan, saat duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), drh. Maxs Urias Ebenhaizar Sanam, M.Sc terpilih sebagai salah satu siswa SMA di NTT yang mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan SMA di Pulau Jawa.

"Ada program pemerintah mengatasi kesenjangan pendidikan di NTT dengan Pulau Jawa. Jadi ada beasiswa, setiap tahun itu dikirim 20 anak SMA dari NTT dan saya salah satunya. Kebetulan saya dapat SMA di Solo. Yang dipilih itu waktu kelas II SMA. Jadi kami dikirim sehingga ada penyesuaian diri dan punya peluang yang besar untuk tes perintis sehingga kita bisa masuk ke pergruan tinggi negeri di Jawa," jelas pria hitam manis ini.

Ketika menyelesaikan pendidikan SMA, Maxs yang bercita-cita menjadi dokter berniat masuk ke Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Namun, Maxs melihat kurang peluangnya masuk ke FK dengan risiko bila gagal maka harus pulang Kupang. Agar tetap mendapat kesempatan kuliah, Maxs memilih Fakultas Kedokteran Hewan di UGM.
"Saya memang bercita-cita jadi dokter, jadi mau ambil fakultas kedokteran. Saya pikir-pikir kalau saya tidak lulus, maka saya harus pulang. Orangtua saya pegawai biasa, jadi saya tidak mungkin sekolah di perguruan tinggi swasta yang sangat mahal. Jadi saya ambil fakultas kedokteran hewan, ya masih dekat-dekatlah dengan kedokteran. Terus dulu ada dokter hewan, ada yang jadi kepala dinas, jadi pejabat itu juga menjadi motivasi saya. Tapi, yang penting saya tidak mau kehilangan kata dokter," jelas Maxs mengisahkan masa lalunya.

Ayah dua anak ini gemar membaca serta selalu mengisi waktu dengan belajar sehingga dengan mudah menyelesaikan kuliah. Bahkan ia sempat dipercayakan menjadi asisten dosen. Lebih dari itu, ia menjadi koordinator asisten dosen di laboratorium.
"Setelah tamat fakultas kedokteramn hewan UGM, saya sudah menjadi asisten dosen. Karena saya koordinator asisten dosen, saya sudah diusulkan dan diminta melamar jadi dosen di sana," jelasnya.

Namun ketika pulang ke berlibur di Kupang, Maxs oleh ibunya diminta tidak kembali ke Yogyakarta. Ia diminta bekerja saja di Kupang. Di lain pihak, Maxs sudah mengajukan lamaran dan sudah mendapat lampu hijau untuk menjadi dosen di Fakultas Kedokteran Hewan UGM. Di sini pula nasib membawa Maxs kembali ke Kupang.

"Mama saya menangis habis-habisan minta saya jangan jalan, tapi saya paksa tetap jalan kembali ke Yogyakarta. Dalam perjalanan, waktu naik bis malam di Denpasar dengan tujuan Yogyakarta, pagi sampai di Yogyakarta, saya terkejut karena tas dan seluru isinya hilang. Tas itu berisi ijazah saya dari SD sampai dokter hewan dan semua hilang. Anda bisa bayangkan bagaimana perasaan saya saat itu? Sebagai orang Timor, saya berpikir mungkin ini peringatan dari Tuhan karena mama yang minta saya tetap tinggal di Kupang," jelasnya.

Sebagai umat Kristen, Maxs pun langsung berdoa dan berharap agar melalui orang lain, Tuhan bisa mengembalikan tas beserta isinya. "Doa saya waktu itu hanya satu permintaan, Tuhan tolong kembalikan ijazah saya, berikan bukti bahwa Tuhan mengasihi saya dan saya akan melaksanakan titahmu yakni saya akan kembali ke Kupang," kisah Maxs.

Doa dan harapannya menemukan ijazah terkabul. Dalam waktu seminggu, ada surat dari Solo yang memberitahukan bahwa seseorang telah menemukan tas miliknya. "Rupanya tas saya itu terangkat waktu dia turun. Saat itu juga saya langsung pulang." jelas Maxs.

Kembali ke Kupang dijalani sebagai nazar, bahkan di Kupang jalan untuk mendapat pekerjaan terbuka, sebab di UGM ada pengumuman Fakultas Peternakan Undana Kupang sedang membutuhkan tenaga dokter hewan. "Saya bahkan sempat meninggalkan istri saya. Istri saya saat itu masih berstatus adik kelas saya. Seminggu sebelum saya ke Kupang, saya mengatakan bahwa saya menetap di Yogyakarta, tapi seminggu kemudian, saya angkat koper dan jalan ke Kupang. Saya bilang, kalau kita jodoh pasti jadi menikah karena saya sudah berjanji dalam doa bahwa saya harus pulang ke orangtua di Kupang," jelasnya.

Maxs akhirnya meninggalkan Yogyakarta dan kembali ke Kupang. Bahkan ia rela meninggalkan adik kelasnya yang ia pacari. Pacaran jarak jauh pun terpaksa dia lakukan. Namun jodoh dan cinta menemukan mereka kembali di Kupang. "Pada awalnya istri saya ini merasa berat meninggalkan saya, tapi saya bilang saya harus pulang dan saya katakan kalau kita jodoh, maka pasti kita akan bersama lagi. Dan, sekarang kita sudah menikah," tuturnya. (alf)

Data diri
Nama : Maxs Urias Ebenhaizar Sanam, M.Sc
Tempat Tanggal Lahir : Kupang 8 Maret 1965
Jabatan :Kepala Lembaga Kerja Sama Luar Negeri Undana
Pendidikan : SD GMIT Kuanino I Kupang 1976
SMPN I Kupang 1980
SMAN 6 Surakarta 1983
S1 Kedokteran Hewan UGM 1987
Dokter Hewan UGM 1989.
Istri : Drh. Hembang Murni Pancasilawati
Anak-anak : Zerlinda Christine Aldira Sanam (13 tahun)
Viona Mariana Dewi Sanam (7 tahun)




0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda