BLT versus PLH

HATI Benza gembira sekali mendapat kesempatan menerima BLT alias bantuan langsung tunai. Paling kurang dengan uang yang ada, dia bisa tambah-tambah belanja keluarga, bisa dapat merencanakan dengan pasti mau beli apa. Bisa bersyukur bahwa dalam sitausi yang serba naik harga ini ada bantuan tunai dari pemerintah untuk masyarakat miskin seperti dirinya.

Pikirannya hanya satu! Uang BLT akan digunakan untuk membuat dapur berasap. Biar hanya untuk dua tiga hari, itu jauh lebih baik daripada dia pusing tujuh keliling mau makan apa besok. Paling kurang dia bebas berpikir selama dua sampai tiga hari berturut-turut. Benar-benar lega rasanya. Jaman sekarang ini mana ada orang yang mau memberi gtaris?


***
Beda dengan Rara, BLT baginya bisa hibur hati dengan menikmati kesenangannya minum tuak gratis. Namanya juga uang cuma-cuma, jadi tidak ada salahnya bukan, jika secara cuma-cuma juga uang itu dimanfaatkan. Maka tidak heran jika uang itu dielus-elus dan dicium-cium sambil membayangkan asap rokok dan tuak.
"Aku harus rayakan rejeki ini," kata Rara dengan penuh semangat. Sambil narek rokok Djisamsoe kegemarannya, sambil menghirup dan mengepulkan asap, Rara berpikir, "Enaknya dibuat apa ya dengan duit gratis? Hmm beli laru, kacang goreng, rokok, undang teman-teman, nonton Euro, menang taruhan, dan hati pun senang."
"Terima BLT juga ya?" Tanya Jaki.
"Ya!"
"Sama dong," Jaki bersandar sambil mengepulkan asap rokok.
"Kamu mau pakai untuk apa uang BLT yang sudah kamu terima?"
"Baru kemarin kamu beli pulsa, sekarang sudah beli pulsa lagi!"
"Yang kemarin itu untuk HP yang ini, sedangkan yang sekarang HP yang ini," Jaki memperlihatkan HP miliknya. "HP baru full musik, kamera dan penampilan hitam menawan, satu-satunya yang bisa beli HP mahal ini!" Jaki memperlihatkan HP yang baru dicicilnya sekali. Harganya dua setengah juta, dicicil 20 kali 200 ribu tidak menjadi soal bagi Rara. Yang penting penampilan. Satu HP khusus untuk urusan pribadinya sang kekasih, satu lagi buat ngobrol dan sms dengan teman-teman. Begitulah Jaki bangga bukan main. Apalagi ditambah dengan BLT yang diterimanya, tentu setiap bulan pulsa lancar dan urusan cintanya lewat sms juga tambah lancar.

***
BLT diberikan untuk membantu masyarakat miskin mengatasi masalah keuangan, menghadapi gejolak harga yang pasti tidak stabil. Kemungkinan akan diberikan dalam waktu satu tahun, waktu yang diberikan cukup bagi masyarakat untuk terbiasa dengan kenaikan harga. Setelah satu tahun, BLT berhenti dan diharapkan setelah itu tanpa bantuan masyarakat harus bisa dan apa boleh buat harus dapat mengatasi masalahnya sendiri. Jadi siapapun yang menerima BLT dapat mengatur sendiri uang yang diterima. Soalnya tidak ada pengawasan dari siapapun selain diri sendiri, tidak ada sosialisasi bagaimana sebaiknya penggunaan uang tersebut. Jadi ya suka-suka Jaki dan Rara mau gunakan uang BLT untuk apa.
"Kita pesta syukuran BLT!" Ajak Rara.
"Pakai BLT kamu punya?"
"Jadi saja. Pokoknya kita harus segera habiskan BLT!"
***
Maka pergilah Jaki dan Rara di tikungan dekat pos ronda. Di sana selalu ada laru, jagung bakar, ikan teri pedas, narek rokok, dan tempat untuk duduk yang aman lihat pemandangan, ngobrol soal pilkada para cagub-cawagub, juga terutama ganggu nona-nona yang lewat di jalan. Keduanya bersyukur bisa menikmati BLT dengan sepuas-puasnya. Keduanya sama-sama pasang aksi ketika Nona Mia datang dari jauh. Keduanya mulai pasang strategi untuk jerat hari Nona Mia.
"Halo Nona Mia, pulang terima BLT ya?" Tanya Jaki.
"Kamu dua ada buat apa?" Tanya Nona Mia.
"Pesta syukuran BLT. Ya, sekedar rokok, sekedar jagung bakar, sekedar tuak alias laru, sekedar beli pulsa buat kontak pacar, dan ya sekedar pesta sambil ngobrol di pinggir jalan. Sekali sebulan tentu harus dinikmati betul!" Rara bangga bukan maen.
"Kalau Nona Mia ada buat pesta syukur BLT? Undang dengan kita juga. Jangan lupa!" Sambung Jaki.
"Oh, jadi kamu sudah terima BLT?" Tanya Nona Mia.
"Mau tunggu apa lagi. Dapat uang gratis, ya sambar saja. Mengapa mesti menunggu besok atau lusa? Lihat sendiri kami lagi pesta. Ayoh, gabung!"
***
"Sorry alias maaf saja ya. Saya mau ke rumah Benza. Mau bahas soal pendampingan bagi semua penerima BLT di lingkungan kami, biar dapat memanfaatkan uangnya dengan sebaik-baiknya," kata Nona Mia. "Nah, kebetulan itu Benza datang! Kita bisa bahas sama-sama soal BLT apa dasarnya dan apa manfaatnya! Saya harap Benza dapat memberi pencerahan kepada kita supaya tidak takabur menerima bantuan!"
"Tetapi Benza bukan calon gubernur!" Potong Rara dengan jengkel. "Sekarang ini lagi musim kampanye. Yang bisa beri pencerahan hanya cagub-cawagub. Biar pun kata-katanya itu-itu saja. Biar janji-janjinya sukar dibuktikan nanti, biar mereka kelihatannya lomba-lomba omong keunggulan sambil tanpa sadar menjatuhkan lawan, biar mereka juga tampak mudah tersinggung karena merasa difitnah, tetapi merekalah para calon yang hebat. Kalau Benza, hebat apanya?"
"Tanya langsung saja kepada Benza. Apa hebatnya dia?" Sambung Nona Mia begitu Benza tiba di sisinya.
"Soal apa?" Tanya Benza. "Soal BLT ya? Saya merasa tambah miskin setelah menerima BLT. Karena itulah supaya jangan menjadi lebih miskin, saya pikir bagaimana BLT itu saya manfaatkan dengan berhasil guna. Apakah kalian sudah pada terima BLT?"
"Kami lagi pesta syukuran BLT. Minum laru, rokok, jagung bakar, sambal ikan pedas, sambil cuci mata," jawab Rara. "Kalau Jaki sudah langsung beli pulsa. Maklum HPnya dua buah jadi pulsanya juga mahal tentu saja!"
***
"Pokoknya langsung habis!" Jaki tertawa senang. "Namanya juga duit gratis!"
"Oh, jadi kamu ini BLT versus PLH? Miskin sekali ya," Benza manggut-manggut. "PLH alias pakai langsung habis! Waduh, meskipun miskin, saya tidak mau tambah miskin seperti kamu berdua," kata-kata Benza sangat tajam menusuk hati Jaki dan Rara.
"Kamu menghina ya? Untung kamu bukan calon gubernur. Kalau kamu calon gubernur, jangan harap saya mau pilih kamu!" Raa marah bukan main. Demikian juga Jaki.
"Merasa terhina ya soal BLT versus PLH. Duh, miskin sekali!" (maria matildis banda)

Pos Kupang Minggu, 8 Juni 2008 halaman 1

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda