Di Batas Pencarian

Cerpen Hamilah

ORANG memanggilku Sisilia, seorang gadis 25 tahun. 22 September 1999 silam, kami sekeluarga dan juga ratusan KK yang lain, bertolak dari Pelabuhan Dili, Timtim, dengan KRI Tri Laksana ke NTT. Waktu itu, aku terpaksa pergi meninggalkan kampung halamanku Osu, Viequeque, yang damai.

Di jagad Lorosae, semua orang tahu, kalau Osu, tanah kelahiranku itu merupakan satu daerah yang sejuk dengan pertaniannya yang subur. Sawah-sawah membentang di sepanjang jalan, anak-anak kecil berlarian di antara pematang, dengan kail di tangan, mereka seolah berlomba untuk mendapatkan hasil pancingan. Di antara hijau dedaunan, kelok kali meliuk mengikuti alurnya. Seperti liukan penari yang molek, begitu indah menakjubkan membingkai setiap pandang yang terperangkap dalam lukisan agung Sang Ilahi, bernama Osu.

Kini hampir 10 tahun lamanya kutinggalkan kenangan itu. Kenangan yang terkadang hadir dalam alam bawah sadarku. Menjadi sebuah mimpi yang begitu indah sekaligus menyakitkan. Bagiku, Osu adalah potret hitam putih yang selalu membayangi setiap langkahku.

Saat ini aku adalah warga pengungsi, demikian orang menyebutku. Sisilia De Amaral adalah nama lengkapku. Aku berdomisili di Barak Tiga Desa Sulamu. Kami sekeluarga ada 10 orang termasuk ayah dan ibuku. Akibat kekalahan kami dalam Jajak Pendapat tahun 1999, kami akhirnya terdampar di sini. Aku seperti terperangkap di antara bebatuan yang menonjol di sepanjang jalan, debu yang berterbangan menyesakkan dada, dan tetes air dari sumur tua, yang lebih cocok disebut kubangan, karena debit airnya yang terbatas.

Di Sulamu inilah, babak baru dalam hidupku dimulai. Sejak kedatangan kami, para pengungsi dari Timor Lorosae, seperti kawanan bebek, kami semua tidak tahu apa dan bagaimana kami setelah ada di Timor Barat ini. Kami hanya mengikuti saja kemana para tentara itu membawa kami. Begitu pula dengan aku. Tetapi yang jelas, aku merasa, inilah satu-satunya cara untuk menunjukkan pada dunia, betapa aku bangga dan cinta terhadap merah putih. Sebegitu kentalnya cintaku pada negeri ini, hingga aku rela meninggalkan tanah asalku yang subur makmur, datang ke Sulamu, meski dengan keadaan yang sungguh-sungguh tidak pernah kubayangkan sebelumnya.

Hari berganti hari, bulan dan tahun, datang dan pergi. Hidupku mengalir seperti desau angin di pesisir Oehelok. Terkadang sejuk semilir melenakan sukma, tapi di waktu-waktu lain, keras menerpa, bahkan menerjang garang.

"Asila, o jadi ba kapela ga? Ohim ama Mia dihan tuk 5 o harus ba latihan."
Suara ibu tiba-tiba memutuskan lamunanku. Di antara kesibukannya menumbuk jagung bose, ibu kembali meneruskan bicaranya.
"Ohim alin Ameo, foin mak mai husi Kupang. Fulan 6 tiaona osan iskolah sidauk selu."

Aku hanya terdiam, mendengarkan saja apa yang disampaikan oleh ibu kepadaku. Rupanya ibu juga tidak memerlukan jawabanku. Sebagai anak tertua, aku memang sering dijadikan tempat curhat oleh ibuku.

Kalau ada sesuatu yang menjadi beban pikirannya maka ibu tak segan-segan mengutarakannya padaku. Sebagai anak, aku hanya bisa mendengarkan saja, meski sekali-sekali aku juga bisa memberikan pemikiran yang kuanggap perlu dan pantas dilihat dari statusku sebagai anak. Habis bagaimana lagi? Ibu hanya bisa bicara padaku. Sebab, kalau dengan ayahku, apa yang bisa diharapkan dari seorang laki-laki yang sebagian hidupnya tersita oleh jerigen-jerigen laru.

Ketika kami di Osu dulu, ayahku adalah seorang yang rajin dan bertanggung jawab. Meski ayahku bukanlah Pegawai Negeri, tetapi hidup keluargaku begitu berkecukupan. Sawah yang berpetak-petak, kawanan kerbau yang gemuk dan sehat, itu merupakan aset kami yang sangat berharga. Tapi apa mau dikata, semuanya itu kami tinggalkan di sana. Sementara itu, sekarang kami tinggal di bangunan triplek berukuran 4x6. Tanpa jendela apalagi plafon. Jangankan sawah berpetak-petak, sebidang tanah pun kami tak punya. Semuanya serba kontras, serba mengejutkan. Dan mungkin karena keadaan inilah, maka perangai ayahku jadi berubah. Dulu, dia laki-laki yang rajin dan membanggakan. Tapi kini ayahku tak lebih dari seorang peminum, seorang frustrasi yang menghabiskan hampir 10 tahun hidupnya dengan duduk di pak laru.

Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku tak ingin hidupku hancur seperti ayah. Aku ingin membantu keluargaku. Tapi, apa yang bisa kulakukan dengan hanya mengandalkan ijazah SMA.

"Heuhc...h...h...!" kutarik nafas panjang. Ku hirup dalam-dalam oksigen yang berkeliaran di sekitarku. Bagaimanapun aku harus kuat. Aku harus tegar.
Bergegas kuhela kain handuk yang tergantung tak jauh dari tempatku duduk. Aku segera menuju kamar mandi untuk membersihkan badan.

Jam 5 tepat, aku telah berada di kapela. Sudah bisa kupastikan bahwa teman-temanku yang lain pasti belum datang. Kebiasaan molor seperti ini sudah menjadi tradisi bagi kami. Kalau ada kegiatan apa pun di gereja, pasti waktu mulainya selalu terlambat. Maklum saja, karena memang, umat di sini selalu ogah-ogahan kalau sudah menyangkut hal-hal yang begini.

Tapi justru keadaan inilah yang sangat aku sukai. Entah mengapa, kalau di dalam kapela, aku selalu ingin sendiri. Tak ada keributan, hiruk-pikik percakapan teman-temanku, dan lain-lain, dan lain-lain. Setiap kali aku berada di dalam kapela, kurasakan kedamaian dan ketentraman segera menelusup ke dalam hatiku, bahkan meresap jauh hingga ke ruang-ruang batinku. Aku menyukai suasana seperti ini. Tenang...hening...dan damai. Di ruang yang tak seberapa luas ini, aku merasa hanya ada aku, salib Yesus yang tergantung di dinding, meja altar sederhana dan patung Bunda Maria. Aku merasakan ketenangan yang sangat. Sebab dengan begini aku merasa sebagai orang yang begitu berkelimpahan rahmat.

"Asila, su dari tadi kah?!" John yang baru masuk telah memecah keheningan. Aku hanya mengangguk dan tersenyum menanggapi sapaannya.

"Jangan heran. Asila itu on time. Son kayak lu! Karet tarus!!!" Agida yang berjalan di belakang John berkata membelaku. Kuangkat wajah, terlihat satu per satu teman-temanku masuk ke kapela dan segera mengambil tempat untuk duduk.
Tidak berapa lama ibu Mia, guru agama di stasi kami, masuk dengan setumpuk berkas copian di tangannya. Hari ini kami latihan koor untuk menyambut paskah yang beberapa saat lagi kami rayakan.

Jam 8 kami telah selesai latihan. Aku berbenah untuk segera pulang. Begitu aku beranjak dari tempat dudukku, ibu Mia memanggil namaku. Ibu Mia berasal dari Manggarai. Beliau Kepala Puskesmas Sulamu. Aku snagat menyukai guru agamaku itu. Orangnya lembut dan penuh perhatian.

"Asila, tunggu sebentar. Ada yang ingin ibu sampaikan." Ku lihat ibu Mia berjalan menghampiriku.
"Ya bu," jawabku singkat. Sambil mengulurkan sepucuk surat bersampul putih, ibu Mia meneruskan bicaranya.
"Ini dari susteran. Bukalah! Mungkin ada berita bagus."


Seketika riuh-rendahlah suara teman-temanku menanggapi berita yang disampaikan oleh ibu Mia kepadaku. Memang, beberapa bulan yang lalu dengan sepengetahuan ibu Mia, aku telah melayangkan surat lamaran ke Biara Religious of Virgin Maria (RVM) di So'E, TTS.
"Wah...Asila, mau jadi suster?! Apa bisa...??!
"Kapan Asila ke Biara?!

Baguslah kalau Asila jadi suster. Supaya bisa do'a kasih kita."
Bermacam-macam komentar berseliweran di telingaku. Aku bergegas pergi meninggalkan kapela, setelah terlebih dulu mengucapkan terima kasih kepada guru agamaku yang penuh perhatian itu. Dan berjanji akan membukanya saja setelah tiba di rumah.

Tiga tahun telah berlalu. Sejak surat panggilan dari Biara itu, aku dengan restu ayah-ibu dan dukungan keluarga, langsung menindaklanjuti panggilan tersebut. Selama dua tahun aku menjalani pendidikan calon suster di SoE. Begitu aku Novis, maka aku bersama beberapa teman seangkatan dipindahkan ke Matani, Kupang. Akhirnya segala do'a dan harapanku terkabul jua. Baru Minggu lalu aku telah menerima Kaulku yang pertama.

Di hadapan Bapak Uskup, para Imam, Diakon dan ratusan umat, terlebih-lebih kepada diriku sendiri, aku telah berjanji untuk setia melayani Tuhan dan sesama dalam keadaan dan situasi apa pun.

Aku melangkahkan kaki di antara lorong-lorong yang menghubungkan ruang do'a dengan ruangan suster kepala.
"Suster Sisilia, anda telah ditunggu oleh Muder Fergusa. Silahkan ikut saya," suara Suster Ave, tiba-tiba mengagetkanku. Dengan segera aku melangkah mengikuti Suster Ave menuju ruangan Muder Fergusa. Orang Filipina inilah yang menjadi Suster Kepala di Biara kami.

Tiba di depan sebuah pintu Jati, langkah kami terhenti.
Suster Ave segera mengetuk pintu.
"Masuk!" terdengar suara sahutan dari dalam. Segera aku dipersilahkan masuk ke dalam oleh Suster Ave.
"Suster Sisilia, saya memanggil anda untuk menyampaikan satu kabar." Muder Fergusa berkata, sesaat setelah aku duduk di hadapannya. Dengan tenang aku hanya diam menunggu kata-kata Muder Fergusa. "Anda siapkan batin, karena minggu depan anda akan bertugas ke Papua."

Suara Muder Fergusa yang tenang, mengalun merdu, bagai petikan dawai, merasuk menelusup hatiku. Dan dengan ketenangan pula kusambut penugasan ini dengan senyum dan hati yang tulus murni.

Dengan langkah seringan kapas, kutinggalkan ruangan Muder Fergusa, menuju ke kamar do'a. Di sana, di hadapan Patung Bunda Maria, kembali aku bersimpuh.
"Ya Bunda Maria, kuserahkan segala hidup dan matiku. Kiranya Bunda Maria, senantiasa melindungi dan memberkati setiap tugas pelayananku. Amin."
Kutatap wajahnya yang sejuk lembut, senyum damainya. Aku tak bisa berkata apa-apa.

Namaku Suster Sesilia, RVM. Asalku dari Kerajaan Surga. Tempat tinggalku rumah Tuhan, Jalan Trinitas. Demikianlah identitasku. (*)

Sulamu, 25 September 2007
Kenangan Bagi Suster dan Calon Suster dari Stasi Sulamu:
(Sr. Agusta Pareira, Avelina Gutteres, Brigida Soares dan Juanina Soares)

Pos Kupang Minggu, 8 Juni 2008 halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda