Di Bawah Rinai Hujan

Oleh Rudyard Balukh

SUATU ketika seseorang membayangkan masa kanak-kanaknya. Bahkan ingin kembali ke sana. Berlari-lari, melompat kegirangan di bawah hujan yang merintik. Seolah tak pernah ada duka dalam hidupnya. Sobatku, seorang bocah pengembara bertubuh kecil berlari-lari kegirangan, melompat, dan menyambar titik-titik hujan yang hendak jatuh ke bumi. Ia penuh senyum menyambut bayu yang mengibaskan kesejukan di tubuh mungilnya. Menginjak rerumputan yang menggelikan telapak kakinya yang kasar tak beralas. Menerkam dedaunan yang gugur dengan telapak tangannya yang hangat.

Awan berarak pekat terus menjatuhkan tetesan-tetesan bening mengusapi wajah yang bercahaya itu. Sementara angin sepoi basah terus berhembus menafasi makhluk bumi, termasuk aku dan daun-daun itu yang kini telah jatuh, karena usainya waktu yang diberikan

.

Di gubuk tua yang reot, pada malam yang muram, aku dan sobatku itu hanyut beku dalam sebuah percakapan tentang pasang-surutnya kehidupan makhluk bumi. Tentang manusia-manusia perkotaan yang terpenjara dalam kemewahan namun terasing satu dengan yang lain. Atau orang-orang desa yang berkelana dalam kemiskinan namun terapit damai satu dengan yang lain. Dan juga tentang suatu kenyataan yang paling sulit diterima manusia yaitu saat datangnya kematian.
Dalam usapan angin malam itu, hujan terus menitik perlahan sambil melucuti daun-daun tua dan melepaskannya ke tanah bahkan membenamkannya dalam genangan lumpur. Percakapan masih terus berlanjut ditemani suara guruh serta kilatan cahaya petir.

Hidup manusia memang berliku seperti anak sungai yang berkelok, namun terus mengalir tiada henti. Terkadang ia harus mengalir melalui lapisan cadas yang keras, atau karang yang tajam, bahkan berbelok menuju tebing yang curam, serta menuruni lereng yang terjal. Namun menariknya, ia tak pernah mengalir ke tempat yang lebih tinggi, ia selalu merendah dan pasti akan bermuara.

Di sela-sela percakapan itu, kulihat sobatku menggenggam selembar daun kumuh yang diraihnya dari tanah. Daun itu jatuh ditetesi air hujan. Mungkin tak kuat lagi menggelayut pada tangkainya karena sudah termakan usia atau memang waktunya sudah usai. Ia bertanya, apakah daun ini masih bisa disebut daun? Lalu apa hubungan antara hujan yang meneteskan kehidupan buat ia bertumbuh dan hujan yang kemudian menjatuhkannya dengan paksa? Aku diam. Tak bisa menjawabnya. Dalam benakku, jika daun-daun itu diasosiasikan sama dengan manusia maka mungkin salah satu diantaranya adalah aku. Andai daun yang jatuh itu adalah aku, mungkin ini adalah giliranku karena waktuku telah usai, walau aku masih sanggup menggelayut pada sebuah kehidupan yang kokoh.

Sulit kumengerti mengapa manusia harus lahir bila pada akhirnya mengalami kematian. Kelahiran dan kematian adalah seperti dua sisi mata uang yang tak pernah mungkin untuk dipisahkan. Tak seorangpun yang mengetahui seberapa jauh jarak antara kelahiran dan kematiannya. Ada yang mempunyai jarak yang terlalu jauh hingga lelah atau bahkan bosan untuk menempuhnya. Tapi ada juga yang terlalu pendek hingga tanpa disadari ia sudah menyentuh garis batasnya.

Kematian bukan lagi sebuah hal yang mengejutkan. Setiap saat ia selalu datang menghampiri manusia dengan berbagai macam trick. Kadang manusia memenangkannya, tapi kadang harus bertelut menyerah padanya. Memang manusia boleh berkuasa atas segalanya tapi tidak untuk kematian. Setiap hari selalu saja aku mendengar berita-berita duka tersiar. Tak mengenal waktu siang maupun malam. Tak mengenal musim hujan maupun kemarau. Kematian datang menjemput sahabat-sahabatku dengan seribu satu cara yang tak terduga. Kecelakaan, pembunuhan, dan virus adalah sebagian dari trick-trick kematian itu.

Satu per satu daun-daun yang terbenam dalam lumpur itu dipungut oleh sobatku. Dedaunan yang sudah hampir kering, layu, dan belepotan lumpur itu ditaruh dalam genggamannya. Aku heran melihatnya. Namun pikiranku masih berada pada alur kehidupan yang dilakonkan manusia bukan pada dedaunan kumuh itu.

Waktu terus merangkak perlahan menggapai malam dan masih pada langit yang kelam kami berteduh, mendefenisikan sikap dan jejak langkah manusia pada tumpukan kerikil tajam atau hamparan permadani yang mewangi. Kadang harus terluka memikul beban hidup yang semakin berat atau terseret jatuh oleh badai yang kian hari kian kencang. Aku menatapnya tak berkedip. Dahiku berkerut, tak mengerti apa maksudnya ia berkata "Aku akan meraih daun-daun yang aku kehendaki namun yang tidak berkenan akan kubiarkan ia jatuh untuk kembali menyatu dengan tanah". Kata-kata itu coba kurenung beberapa saat. Otakku sejenak berputar-putar mencari maknanya. Namun, akhirnya tak kunjung kudapati.

Waktu berlalu begitu cepat tak terasa bagai berlari. Kami telah berada pada penghujung malam, namun tak satupun bintang yang mau menemani kami. Bulan pun seolah malu menatap bumi, tak mau keluar, tetap bersembunyi di kayangan. Burung-burung malam melintas di atas atap gubuk tua tempat perteduhan kami, seolah mengingatkan bahwa sejenak lagi hari kan berganti. Tapi aku tak mau menghiraukannya, karena aku tetap ingin menemukan arti yang pasti dari pernyataan sobatku tadi.

"Bolehkah aku tahu apa artinya itu?" tanyaku memelas.
"Kematian itu adalah ibarat tanda baca. Ia adalah sebuah titik di mana kita harus berhenti membaca. Ia juga adalah sebuah tanda tanya, yaitu sebuah rahasia yang tidak dapat dimengerti oleh manusia. Kematian dapat juga merupakan sebuah tanda seru, karena dapat dikatakan sebagai penyelamat manusia dari segala penderitaan yang menggerogoti hidupnya. Itu semua adalah pendapat sobat-sobatku yang atheis, sedangkan bagiku, kematian itu adalah titik dua, di mana kita harus memilih antara dua kemungkinan yang akan terjadi. Sebab, di belakang kematian itu sendiri ada dua dunia lagi yang berbeda yaitu dunia kehidupan dan dunia kematian."
"Lalu bagaimana aku harus memilih?" tanyaku lagi.

"Kamu bebas memilih, tapi sayangnya bukan kamu yang memutuskan." Jawabnya tegas.
"Lalu apa indikatornya bila aku memilih dunia kehidupan?"
"Kamu mempunyai dua buah tangan yang bisa memungut kembali sesama-sesamamu yang kini telah jauh terbenam dalam lumpur. Jangan biarkan mereka terus tenggelam dalam lumpur atau menyatu dengan debu sebelum melangkah mencapai garis batas. Dan seandainya tangan-tangan itu cacat, kamu masih mempunyai sebuah mulut yang dapat membisikan kata-kata pertobatan. Sehingga, bila kematian itu datang kepadamu, ia tidak berupa tanda baca lagi tetapi akan menjelma menjadi sebuah kata yang mudah dibaca yaitu "SELAMAT!!!"

Akhirnya kami harus menyudahi percakapan itu dalam balutan malam yang semakin pekat dan hujan yang masih merinai, seiring lelahnya sobatku yang sedari tadi mengalirkan kata-kata tanpa spasi. Apalagi ia harus melanjutkan pengembaraannya memungut kembali sahabat-sahabatnya yang telah terjerat lumpur sebelum ia menyentuh garis batas perjalanannya.(*)

Pos Kupang Edisi Minggu 15 Juni 2008 Halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda