Fren, Gaul, Tulus

SATU, dua tiga. Fren, Gaul, Tulus. "Anak Gaul dengan Tulus memilih Fren." Demikian bunyi SMS yang diterimanya pagi-pagi menjelang waktu Pilkada Guberbur dan Wakil Gubernur NTT. "Anak Gaul pasti lebih mementingkan Tulus dibandingkan Fren," itu sms kedua. "Supaya gaul, Tulus dan Fren pasti percaya penuh untuk dijagokan Gaul sebagai gubernur dan wakil gubernur NTT 2009-2013," satu lagi sms masuk. Rara jadi bingung mau pilih siapa. Mantap memilih Fren, hatinya bercabang ke Gaul. Mantap pilih Gaul, eh pikirannya berubah lagi ke Tulus. Teror sms pagi-pagi benar membuat Rara pusing setengah mati.
"Kamu harus pilih satu saja," komentar Jaki. "Jangan susah-susah dipikir. Kamu ini anak Gaul bukan?"
"Jelas dong, gaul abis!"
***
"Nah, anak Gaul dengan tulus pilih Fren. Susah-susah amat nih. Jangan diganggu dengan apa pun. Pokoknya calon nomor satu, jangan yang lain!"
"Apa alasannya?" Tanya Rara masih tetap bingung.
"Kenyang pengalaman dalam organisasi politik, berpengalaman dalam birokrasi lima tahun jadi wagub, mudah bergaul, energik dan yang penting mudah usia dan sehat walafiat. Yang pasti orang muda itu sama dengan Fren.....," kata Jaki.
"Kalau kurangnya apa?"
"Wah, kampanye sudah berlalu, sekarang saatnya minggu tenang. Jadi, musim begini jangan omong kekurangan. Omong tuh yang baik-baik semua. Yang kurang-kurang kita simpan dulu! Sebentar lagi sudah pergi coblos, mana ada waktu untuk analisa kekurangannya?"
"Jadi, baik yah. Pilih Fren yang mudah dan energik?"
"Ambil!"

***
"Kalau alasan memilih Gaul?" Tanya Rara.
"Oh, jelas pengalaman birokrasi tidak meragukan, matang dalam membaca masalah, kenyang dalam mengatasi dan mengelola konflik, tegas dalam prinsip dan sekian tahun jadi Bupati Manggarai yang sukses, kurang apa lagi? Pokoknya pilih Gaul sama dengan Gaul abis tembak nomor dua," Jaki jual kecap.
"Kekurangannya apa?" Rara penasaran.
"Sudah bilang jangan omong kekurangan pada saat coblos di depan hidung. Nanti konsentrasimu buyar. Yang pasti kita manusia biasa bukan malaikat yang bebas dari kekurangan!"
"Oh, begitu ya?" Rara mengerutkan kening. "Kalau begitu saya memilih Gaul saja. Di samping keunggulannya saya tertarik dengan gaulnya itu. Seperti tak lekang dimakan zaman, Gaul terus sampai tua. Umur boleh terus bertambah, tetapi kapasitas, kapabilitas, kualitas dan sepatutnya dijamin dan dapat dilihat dalam kinerjanya. Bagaimana?"
"Ambil! Tidak percaya? Tanya saja pada Kraeng Pius."

***
"Kalau Tulus?"
"Soal pengalaman jelas menyaingi Gaul. Orangnya juga well come, tak kenal lelah untuk tersenyum dan yang penting nih dalam menyelenggarakan pelayanan kepada masyarakat, jamin hatinya pasti tulus. Jadi kalau Anda mau menjadi pemimpin yang tulus hati dan kamu pun ketularan punya hati tulus, tusuk nomor tiga!"
"Indikator kelulusan pemimpin itu apa saja ya?"
"Gampang. Kamu buat saja urutan ciri orang tulus."
"Kalau yang namanya Tulus sih bagus semua indikatornya. Kalau kekurangannya bagaimana?"
"Kamu ini sudah kubilang jangan tanya-tanya soal kekurangan! Bukan saat yang tepat. Mau coblos atau mau diskusikan kekurangan paket calon?" Komentar Jaki. "Kita tinggal tunggu kedatangan Benza membawa Surat Pemberitahuan Waktu dan Tempat Pemungutan Suara, kita tinggal ambil kartu pemilih, kita datang ke TPS, kita masuk kamar suara dan coblos, selesai."
"Tetapi, saya bingung mau pilih siapa?" Rara kebingungan.
"Kalau dari pilihannya hanya satu di antara ketiga paket ini, posisi aman, sepak terjang kiri kanan mudah dan yang lebih penting lagi adalah tetap saya yang paling hebat untuk pegang posisi apapun. Siapa takut!"
Demikian Jaki kian lama kian menjadi-jadi. Sampai Rara geleng-geleng kepala. Mau dibawa ke mana propinsi tercinta ini? "Aduh, saya juga tidak berani kalah! Karena itu Jaki harus atur posisi dukung Gaul biar kelihatan oleh Gaul, dukung Fren biar kelihatan oleh Fren dukung Tulus dong biar aman posisiku. Karena itulah, si Jaki ini harus pintar-pintar melihat arah angin condong ke mana dan pandai memainkan jurus bunglon. Beres bukan?" Kata Jaki dengan tanpa beban.

***
"Bagaimana menurutmu Benza?" Sambung Jaki lagi. "Semua sudah oke? Mana Surat Pemberitahuan dan Kartu Pemilih?"
"Silahkan gigit jari." Kata Benza dengan suara hampir tak terdengar. "Silahkan jadi golput! Kita bertiga tidak punya Surat Pemberitahuan dan Kartu Pemilih!"
"Siapa bilang? Bagaimana mungkin?" Rara terbelalak dan Jaki lebih terbelalak lagi. "Saya tidak mau jadi golput. Saya tidak mau hak suara saya jadi sia-sia belaka!"
"Ini kenyataan, bukan mimpi!" Benza tenang saja. "Tidak hanya kita bertiga. Masih banyak orang yang punya hak pilih tidak mendapat kesempatan memilih. Ada yang tidak pernah tercatat, ada yang tidak tercatat, ada yang tidak mendapat kartu, ada yang baru terkejut ketika hari H sudah di ujung hidung."
"Pasti ada yang salah!" Rara protes keras.
"Tentu saja!" Sambung Benza. "Persoalannya siapa yang mau mengaku salah? Siapakah yang jiwa besar untuk bertanggung jawab? Siapakah yang dengan berani mengoreksi kinerja? Siapa? Siapa?" Tanya Benza.
"Pasti ada manipulasi!" Jaki juga ikut protes. "Pilkada sudah makan biaya miliar- miliar, kok bisa begini jadi ya? Mesti ada yan bertanggung jawab!"
"Tentu saja!" Sambung Benza lagi. "Persoalannya siapa yang mau dituduh manipulasi? Bisa-bisa kamu yang diusut perdata pencemaran nama baik. Mau kamu?"
"Jadi siapa yang salah? Mau tuduh siapa?"
"Pertanyaan itu hanya mimpi di atas bunga tidur!"

***
Demikianlah hari H, pilgub wagub pun lewatlah sudah. Jaki Benza dan Rara terpaksa gigit jari. Pilkada. Pilkada. Kasian deh nasibmu......Oh nasib ketiga sahabat yang ketiban sial. Terlalu sibuk amankan paket calon, sibuk hadapi demonstran, sibuk atur strategi kemenangan, sibuk buat janji-janji politik, eh akibatnya fatal total, kehilangan suara. Menyesal tua tiada gunanya. Ketiganya duduk di bawah pohon lontar sambil mendengar quick count lewat RRI, siapa yang unggul sementara, siapa nomor dua dan siapa yang pegang juru kunci......(maria matildis banda)

Pos Kupang Edisi Minggu 15 Juni 2008, halaman 1

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda