Gadis Masa Lalu

Cerpen Roni Antonius Sitanggang

SEBAGAI seorang analis politik dan konsultan pada sebuah LSM yang bergerak di bidang sosial, Didi disibukkan dengan pekerjaannya sampai-sampai ia lupa akan masa lalunya, yaitu masa-masa kuliahnya dulu bersama dengan Nita, kekasihnya. Semenjak Didi pindah ke Jakarta, ia tinggal bersama kakaknya, Desi, yang bekerja sebagai kepala personalia pada salah satu perusahaan Korea di Jakarta.

Desi terkadang kasihan melihat Didi yang begitu sibuk mengurusi pekerjaannya demi memperoleh sedikit uang untuk membiayai hidup mereka di Jakarta dan demi membantu biaya kuliah si Dedek, adik bungsunya. Desi pun merasa kasihan kepada Didi karena selama empat tahun hidup di Jakarta, ia belum membuka pintu hatinya untuk gadis-gadis lain, padahal ada banyak cewek yang ingin menjadi pacarnya, di samping karena Didi memiliki tampang yang lumayan, juga karena Didi telah memiliki pekerjaan yang cukup mantap. Desi pun telah berusaha untuk memperkenalkan Didi dengan beberapa cewek yang juga memiliki perkerjaan yang mantap, namun Didi tetap saja menutup pintu hatinya itu.


Desi telah berulang kali berbicara dengan Didi tentang kehidupan mereka di Jakarta dan tentang cewek-cewek yang dikenalkan itu. Didi hanya menjawab "Kak, aku masih memfokuskan diri untuk biaya kuliah si Dedek"

"Tapi, Di. Kamu tidak bisa begini terus. Kamu harus segera mencari seorang gadis untuk menjadi calon pendamping hidupmu" kata Desi.
"Iya, Kak. Nanti aja sehabis kuliah si Dedek", jawab Didi.
"Di, kalau urusan biaya kuliah si Dedek, nanti Kakak bantu" jelas Desi.
"Tidak, Kak. Ketika kita kuliah dulu, kita berdua dah dibiayai oleh Bang Man. Sehabis

kuliah, kakak masih bantu biaya kuliah si Andre sampai sekarang. Kini, si Dedek adalah tanggung jawabku. Kakak, tenang aja. Kakak harus fokuskan diri untuk menghabiskan biaya kuliah si Andre dan biaya pernikahan Kakak kelak" jelas Didi.
Desi hanya diam merenungkan perkataan adiknya itu.

Memang benar apa yang dikatakan oleh Didi. Selama ini di antara mereka bersaudara, mereka telah saling membantu agar dapat menanggung biaya sesama saudara. Ayah mereka sakit-sakitan, sementara ibu mereka hanya bisa menanggung keperluan rumah sehari-hari.
Walaupun dua bersaudara itu telah hidup bersama selama empat tahun, namun bagi Desi, adiknya itu tetap misterius apalagi tentang masa lalu. Sampai hari itu, Desi tidak pernah mengetahui siapa kira-kira gadis yang pernah singgah di pelabuhan hati adiknya itu.

Sampai pada suatu malam, ketika Didi pulang dalam keadaan mabuk karena baru habis berpesta bersama rekan-rekan kantornya yang merayakan HUT LSM mereka, Desi melihat Didi langsung menuju mejanya dan mengambil diary-nya, lalu menulis sesuatu di dalam diary itu walaupun gerak tangan dalam keadaan tak menentu. Akhirnya, Didi tertidur di atas mejanya dengan berbantalkan diary-nya sendiri. Selama ini Desi belum pernah membaca diary adiknya itu. Malam itu, Desi penasaran tentang isi diary itu dan ia berniat untuk mengambil diary itu.

Dengan perlahan-lahan, Desi mengambil diary itu dari jepitan kepala Didi yang ada di atas meja supaya tidak membangunkan Didi. Kini, diary itu sudah berada di tangan Desi. Ia membuka lembar demi lembar diary itu dan membacanya. "Diary ini sepertinya telah diisi sejak di bangku kuliah dulu" pikir Desi. Desi merasa bingung karena diary itu disapa dengan nama "Nita" seolah-olah pada saat mengisi diary itu, Didi berbicara dengan Nita. "Siapa itu Nita" pikir Desi. Desi mencoba untuk mencari tahu tentang nama itu.

Tapi sepertinya nama itu belum terdaftar dalam memorynya. Akhirnya ia mencoba untuk mengecek nama itu di box phone number hp-nya Didi yang ada di atas meja. Nama "Nita" masih tersimpan. "Nomor ini sepertinya berada di luar Jawa. Iya, ini pasti nomor Kupang, tempat kuliah Didi dulu" pikir Desi. Desi segera memasukkan nomor Nita ke box phone number hp-nya. Tapi Susi belum berani memanggil nomor itu. "Lebih baik besok aja" pikirnya.
***
Ketika di kantor, Desi memberanikan untuk memanggil nomor yang tadi malam ia simpan itu. Desi agak gugup memegang hp-nya "Jangan-jangan nomor ini tidak aktif lagi" pikirnya. Tut...tut...tut...Setelah tiga kali berdering, panggilan itu akhirnya diangkat juga oleh seorang gadis.
"Halo, mat pagi. Apa betul ini dengan Nita" tanya Desi

"Iya, betul. Ini dengan siapa ya?" balas Nita
"Apa kamu masih kenal dengan Didi?" tanya Desi lagi
"Iya. Kenapa ya?" tanya Nita
"Namaku Desi. Aku adalah kakaknya Didi" jawab Desi
"Kak, bagaimana kabar Didi sekarang?" tanya Nita
"Dia baik-baik aja. Hanya selama tinggal di Jakarta, dia masih manjadi misteri bagiku" jawab Desi

"Emangnya kenapa dengan Didi, Kak?" tanya Nita dengan nada penasaran
"Begini ceritanya..." Desi menceritakan semua yang telah terjadi dengan Didi selama ini. Semua yang telah ia lakukan untuk mancarikan seorang pacar bagi Didi. Tapi hati Didi tetap tertutup bagi gadis lain. Desi juga menceritakan tentang kejadian malam itu, ketika dia menemukan nama 'Nita' di dalam diary Didi dan di hp-nya.
"Nit, apa betul kalian dulu pacaran?" tanya Desi

"Iya, Kak. Tapi semenjak lulus kuliah Didi hilang begitu saja. Yang kudengar dari teman-temannya kalau Didi berangkat ke Jakarta. Aku pun dah beberapa kali memanggil nomornya yang lama, tapi tidak aktif lagi" jelas Nita
"Kak, Didi masih baik-baik aja khan?" lanjut Nita
"Iya. Tapi persoalannya seperti yang aku telah ceritakan tadi bahwa dia masih menutup hatinya bagi gadis-gadis lain. Nit, apa kamu mau ketemu ma Didi ya?" tanya Desi
"Iya, Kak. Tapi aku tidak tahu harus bagaimana" jawab Nita
"Okey. Begini saja...kalau kamu ada waktu, kamu bisa ke Jakarta. Bagaimana?" tanya Desi
"Kak, bagaimana kalau dua minggu lagi karena ketika itu akan ada liburan anak sekolah karena sekarang aku masih ngajar nih" jawab Nita
"Aku setuju. Dua minggu lagi kamu akan ke Jakarta. Kalau mengenai biaya transportmu, nanti aku kirim dari Jakarta" pinta Desi
"Tidak usah kak" balas Nita
"Nit, tiket pesawat di musim liburan itu mahal. Jadi biar aku bantu biayamu sedikit. Kalau mengenai biaya kepulanganmu, nanti kita bisa atur di Jakarta" pinta Desi sekali lagi
"Baik Kak. Aku setuju. Nanti aku akan hubungi kakak kalo dah ada kepastian mengenai tanggal keberangkatanku" jelas Nita
"Okey. Nanti aku akan jemput kamu di Bandara. Sampai jumpa dua minggu lagi ya"
Akhirnya Desi menutup panggilan itu. Ia merasa bahagia karena ia telah berhasil mengundang Nita ke Jakarta. "Tidak lama lagi adikku akan ketemu dengan gadis masa lalunya. Aku tidak akan memberitahu Didi tentang kedatangan Nita. Aku ingin buat kejutan untuk dia" pikir Desi.
***
Dua minggu telah berlalu, Desi telah mendapat kepastian mengenai tanggal keberangkatan Nita ke Jakarta. Sabtu siang Nita akan tiba di Jakarta dengan pesawat Merpati dan Nita akan mengenai pakaian berwarna pink, warna kesukaannya.
Pukul 14.45 WIB pesawat telah tiba di Bandara. Desi membawa selembar kertas kardus yang tertulis nama "NITA" agar ia tidak keliru menemukan Nita walaupun ia masih ingat ciri-ciri yang diberitahu Nita sebelum berangkat ke Jakarta.
"Nita!" teriak Desi ketika ia melihat seorang gadis yang sesuai dengan ciri-ciri Nita melewati anjungan penjemputan. Nita mengarahkan pandangannya ke arah orang yang memanggilnya. "Tak salah lagi. Itu pasti kak Desi" pikirnya sambil melihat namanya tertera di kertas kardus yang dipegang Desi.
"Desi" sambil menjabat tangan Nita
"Nita" balas jabatan tangan Nita
"Bagaimana perjalanan tadi?" tanya Desi untuk membuka percakapan di antara mereka.
"Ya, lumayan lama Kak" jawab Nita
"Gimana. Kita langsung berangkat aja ya?" tanya Desi
"Oh. Baik Kak" jawab Nita

Desi pun segera memanggil taksi yang banyak mangkal di lapangan parkir bandara itu. Sepanjang perjalanan, Desi masih kagum dengan kecantikan Nita. "Ia pasti memiliki kepribadian yang baik. Tidak salah kalau Didi mencintainya", pikir Desi. Sepanjang perjalanan mereka berdua hanya diam tanpa ada yang mulai percakapan sampai akhirnya Desi berkata:
"Nit, nanti kita singgah di suatu tempat ya karena biasanya hari Sabtu gini Didi masih di tempat itu"
"Iya, Kak" jawab Nita
Nita bingung setelah tahu bahwa mereka singgah di satu lapangan mini di tengah kota. "Apa Didi menjadi pemain bola kaki sekarang?" pikir Nita
"Nit, hari Sabtu sore gini biasanya, sehabis pulang dari kantor, Didi bermain bola kaki bersama teman-temannya di lapangan ini" jelas Desi
"Lihat tuh yang sedang ngocek bola" sambil menunjuk ke arah Didi.
"Itu Didi" lanjutnya
"Didi!" teriak Desi dari kejauhan

"Iya, Kak!. Ntar lagi!" balas teriak dari Didi sambil melihat kakaknya itu tapi belum begitu jelas melihat Nita yang berada di samping Desi. Nita merasa gugup keika dilihat Didi. Tapi sepertinya Didi tidak mengenal dirinya
"Nit, mari kita tunggu Didi di mobilnya aja" tawar Desi
"Dia pasti belum begitu jelas melihat kamu" lanjut Desi

Nita masih saja gugup mau ketemu dengan Didi. Sudah lebih dari empat tahun mereka tidak ketemu dan tanpa kontak sama sekali. Masih ada perasaan cinta di hatinya dan ia pun berharap Didi masih menyimpan perasaan cinta yang pernah mereka bina semasa kuliah dulu. Setelah tiba di tempat parkir mobil Didi, Desi banyak bercerita tentang kebiasaan Didi yang membawa pakaian olahraga dan sepatu olahraga ke kantor setiap hari Sabtu supaya sehabis kerja Didi bisa langsung ganti pakaian kantor dan segera bermain bola kaki, olah raga kegemarannya.
"Nit, lihat pakaiannya yang terbuang aja di dalam mobil tuh" sambil menunjuk ke dalam mobil

"Iya Kak. Didi memang begitu. Ia kurang bisa merapikan pakaian di kamarnya juga. Tapi kalau berpakaian, Didi adalah orang yang paling rapi di dunia" sambil tertawa. Mereka berdua sama-sama tertawa
Tidak lama lagi Didi akan segera tiba di tempat parkir mobil, Desi pun meminta Nita supaya bersembunyi di belakang mobil. Ia ingin membuat kejutan untuk adiknya.
"Mat Sore Kak. Sorry ya kalo kakak nunggu lama" sapa Didi
"Mat sore juga Di. Nggak apa-apa kok" balas Desi
"Ada apa Kak. Tumben jemput aku di tempat ini. Jangan-jangan, tidak dijemput calon abang ipar nih"tanya Didi sambil tertawa
"Ledek kamu Di" balas Desi
"Kak, sepertinya tadi aku lihat kakak nggak sendirian ke tempat ini" tanya Didi
"Iya Di. Aku tadi dengan seorang cewek" jawab Desi dengan cara masa bodoh
"Ah...jangan-jangan cewek itu mo dikenalkan lagi ma aku lagi ya" tanya Didi
"Iya, Di. Kalau melihat cewek ini, pasti kamu mau deh" jawab Nita
"Hahaha" Didi tertawa "Bisa jadi" lanjut Didi sambil tetap tertawa
Sementara itu di belakang mobil, Nita masih diam dan gugup dengan pertemuan yang akan terjadi.
"Nita" panggil Desi

Ketika mendengar nama itu sepertinya Didi kembali ke masa lalunya. Nama itu sudah lama ia rindukan untuk hadir di hadapannya.

Dari belakang mobil, Nita muncul sambil tertunduk. Didi melihat gadis masa lalunya kini melangkah menuju dirinya. Dengan segera Didi bergerak cepat dan merangkul Nita. Sepasang kekasih itu berpelukan erat sekali seolah-olah mereka tak ingin berpisah lagi. Kedua insan itu hanya bisa menangis sebagai ungkapan bahagia mereka. Desi pun ikut menangis melihat pemandangan itu. Ia merasa bahagia karena ia telah berhasil mempertemukan adiknya dengan gadis masa lalunya.

"Di, kenapa kamu hilang tiba-tiba?"tanya Nita sambil tetap menangis
"Nit, aku harus lakukan itu karena aku memiliki tanggung jawab terhadap adik bungsuku. Aku tidak mau kamu ikut ambil bagian dalam tanggung jawabku itu" jelas Didi
"Lalu, kenapa kamu masih menutup hatimu bagi gadis-gadis lain?" tanya Nita lagi
"Nit, pintu hatiku ini hanya bisa dibuka oleh seorang saja dan hanya orang itu saja yang bisa memasuki hatiku itu. Orang itu adalah kamu" sambil melihat ke wajah Nita. Mereka berpelukan lagi.
"Kak, makasih ya atas kejutannya. Kita harus merayakan pertemuan ini" ungkap Didi kepada kakaknya
"Nggak apa-apa, kok. Kakak bahagia melihat kalian berdua" balas Desi
"Di, bukan 'kita' yang merayakannya tetapi 'kalian'" lanjut Desi

Sehabis merangkul kakaknya, Didi mengundang Desi dan Nita untuk masuk ke dalam mobil. Akhirnya mereka bertiga masuk ke dalam mobil dan Didi segera mengemudikan mobilnya menuju rumah mereka melintasi gedung-gedung pencakar langit kota Jakarta. Mereka bertiga bahagia, terutama Desi karena ia telah berhasil mempertemukan adiknya dengan gadis masa lalunya, gadis yang selama ini memegang kunci pintu hati adiknya itu.(*)

Pos Kupang Edisi Minggu 22 Juni 2008, halaman 6

2 komentar:

Wah...bangga karena cerpen saya ternyata sudah masuk pos kupang. Saya kira selama ini tidak masuk. Terima kasih Pos Kupang. Salam. Roni Antonius Sitanggang

2 September 2013 04.49  

wahhh...saya kira selama ini cerpen saya tidak dipublikasikan. ternyata dipublikasikan. terima kasih Pos Kupang. Salam. Roni Antonius Sitanggang

2 September 2013 04.50  

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda