Kampanye Gratis

Oleh Maria Matildis Banda
"PILIH saya! Pendidikan gratis, kesehatan gratis, kendaraan gratis, makan minum gratis. Pokoknya serba gratis. Saya jamin, kamu semua tinggal tidur saja turut kamu punya mau. Semuanya sudah serba ada serba cukup bahkan berkelimpahan. Kamu tidak perlu melakukan apa pun. Juga tidak perlu berpikir dan tidak perlu merasa. Soalnya semua sudah disiapkan pemerintahan saya. Karena itu sekali lagi kukatakan dengan sungguh-sungguh, pilih saya! Calon dengan nomor dada sembilan sebuah nomor yang sempurna!" Demikian Rara naik panggung sambil berteriak sampai berbusa.

***
"Betulkah?" Jaki merasa berbunga-bunga. "Kita harus pilih Rara karena pemerintahannya yang sungguh menjanjikan. Bayangkan kalau semuanya gratis, aduh enaknya".
"Makan minum juga gratis pak?" Tanya Jaki.
"Ya! Setiap hari akan dibuka dapur umum di rumah jabatan gubernur propinsi Mengingau. Siapa saja boleh datang makan pagi siang malam. Bebas. Pemerintah akan mengalokasikan anggaran khusus untuk itu!" Demikian jawaban Rara.
"Lauk pauknya apa saja, Pak?"
"Berganti-ganti. Hari ini kita potong sapi, besok potong kerbau, lusa kambing, ayam dan babi. Besoknya lagi ikan."
"Ikan jenis apa saja?"
"Semua jenis ikan. Tinggal pilih saja, maka yang kamu mau!"
Kata Rara dengan penuh semangat. "Ada ikan bakar, ikan asap, ikan kukus, ikan rebus, ikan goreng, bahkan siapa yang mau santap ikan yang masih mentah pun disiapkan."
"Alokasi dananya dari mana, Pak?"
"Pertama DAU dan DAK dari pusat, kedua dana subsisi dari pusat, ketiga BLT alias bantuan langsung tunai, keempat dana bencana sesuai dengan kondisi daerah kita yang sering kena bencana, kelima dana busung lapar dan gizi buruk yang pasti ada setiap tahun, dan akan lebih baik lagi kalau jumlah penderita lebih banyak, dana akan datang lebih banyak, keenam BLN, bantuan luar negeri. Tujuannya hanya satu. Tidak ada seorang pun yang mengeluh lapar."
"Dana PAD bagaimana Pak? Akan diapakan Pak?"
"Aduh, jangan tanya PAD. Kita bisa apa dengan PAD? Kita punya berapa untuk tambah jumlah dana PAD. Ssssstt jangan buat malu. Ada peluang besar untuk mengemis Jakarta dan kuar negeri, ngapain pikir itu PAD. Yang penting PD aja lagi! PD alias percaya diri! Mengerti kamu?" Rara setengah mengancam. "Pemimpin mesti percaya diri. Apalagi dalam musim kampanye seperti ini, harus tampil sedemikian rupa biar tampak yakin dan PD tinggi. Kalau tidak begitu, siapa yang mau percaya?"
"Ya ya ya Pak! Baik baik Pak!"
"Nah, begitu dong! Yang penting kamu tidak perlu berpikir dan merasa! Titik"
"Tetapi pak!" Jaki ragu-ragu. "Kalau semuanya serba gratis, saya malu Pak!"
"Sudah kubilang, kamu rakyatku kelak, tidak perlu berpikir dan merasa! Termasuk rasa malu! Buang rasa malumu jauh-jauh!"
***
"Kalau ada yang haus, bagaimana Pak?"
"Ada macam-macam minuman. Pertama tuak dari segala daerah di Propinsi Mengigau ini akan kita beli untuk dikonsumsi bersama. Boleh minum sampai puas. Kedua, kita akan datangkan segala jenis aqua yang diproduksi di daerah kita untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Khusus untuk tuak, kita akan minum sama-sama demi membangun kedekatan hubungan antara pemerintah dan rakyatnya!"
"Bagaimana kalau ada yang mabuk?"
"Tidak ada masalah. Konsekuensi dari minum tuak ya mabuk. Sederhana sekali bukan? Kita bisa atur biar semuanya berjalan lancar. Santai saja! Yang penting kebijakan gratis ini, akan membuat kamu tidak perlu lagi berpikir dan merasa!"
"Kalau bapak juga mabuk bagaimana Pak?
Siapa yang akan urus kami?" Tanya Jaki lebih jauh.
"Biasa sajalah, namanya juga mabuk!
"Bagaimana bisa ambil kebijakan dalam keadaan mabuk, Pak? Apalagi kalau mabuknya tiap hari. Bisa-bisa pendidikan gratis, kesehatan gratis, DAK, DAU, BLT, BLN, UTN, dan ULTN dan lain-lainnya jadi kacau balau gara-gara mabuk, Pak?"
"Siapa bilang? Kebijakan-kebijakan yang diambil pada saat mabuk justru lebih mengigit rakyat, lebih memiliki kekuasan dan sekaligus kekuatan untuk membuat rakyat terperangah, kangaranga, dan tidur nyenyak! Tidak lagi berpikir dan merasa! Betul bukan?" Rara balik bertanya sambil menebar senyum kemana-mana.
"Bukan, eh betul pak!" Sambut Jaki dengan penuh semangat.
Penampilan Jaki cocok benar sesuai sebagai tim suksesnya Rara.
"Pergilah dan katakan kepada semua orang di segenap pelosok Propinsi Mengigau ini tentang gratis, gratis, dan gratis!"
***
"Semuanya gratis, Benza! Kita harus dukung Rara jadi gubernur," kata Jaki menyakinkan Benza.
"Aduh, kalau hal prinsipil yang menyangkut hakekat hidup manusia digratiskan, betapa buntunya pikiran saya, betapa malunya perasaan saya! Benza geleng-geleng kepala. "Akan kemanakah Propinsi Mengigau ini dibawa?"

"Kamu tidak perlu berpikir dan merasa!" Jaki menyambar cepat.
"Itu pembunuhan karakter sebuah bangsa yang pada prinsipnya selalu berjuang keras. Bangsa yang sesungguhnya memiliki harga diri dengan keringat dan air matanya untuk menyambung hidup. Bangsa yang sesungguhnya memiliki tanggung jawab penuh pada hidup dan masa depan anak-anak dalam keluarganya sebagai manusia yang bermartabat. Bangsa yang menggunakan pikiran dan perasaan, hati dan otaknya untuk membuat dirinya menjadi lebih berharga bagi diri sendiri dan orang lain!" Dahi Benza mengerut dan wajahnya terlipat".

"Aduuuuuhh susat amat!" Teriak Jaki. "Sudah kubilang semuanya gratis. Yang penting kamu tidak perlu berpikir dan merasa. Kalau semuanya sudah digratiskan, ngapain kamu mesti berpikir dan merasa sampai mengkerut begitu?"

"Rara tega membunuh karakterku yang suka bekerja dan berjuang mempertahankan hidup untuk menjadi lebih manusia sepanjang hidup!"
"Berhentilah kamu berpikir dan merasa, Benza! Supaya kamu lebih mengerti apa artinya gratis".
***
"Itulah bencana utama tanah air tercinta ini!" Kata Benza sambil tetap menggeleng-geleng. Konon, akibat semuanya akan digratiskan, Benza tetap menggeleng-geleng sepanjang waktu. Kondisi Benza menjadi bahan kampanye Rara dan Jaki. "Tidak perlu berpikir dan merasa, supaya kamu tidak menggeleng tetapi mengangguk terus. Aneh, Jaki dan Rara ikut-ikutan menggeleng dan mengangguk tanpa berpikir dan merasa.*

Pos Kupang edisi Minggu, 1 Juni 2008 halaman 1

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda