Luapkan Kegembiraan, Rayakan Kelulusan


Foto Pos Kupang/alfred dama RAYAKAN--Para siswa SMA merayalan kelulusan dengan saling membubuhkan tanda tangan pada pakain seragam mereka. Nampak para siswa membubuhkan tanda tangan pada seragam teman mereka di Jalan Urip Sumoharjo-Kupang, Selasa (17/6/2008)
Oleh Alfred Dama

SUARA gelak tawa para para remaja wanita dan pria menyatu dengan deru mesin dan suara klakson kendaraan bermotor di Jalan Cak Doko, tepatnya di depan kompleks Sekolah Menegah Atas Negeri (SMAN) I Kupang, Selasa (17/6/2008). Baju seragam putih dan abu-abu yang tiap hari mereka kenakan ke sekolah, sudah berubah warga dengan aksi coret tanda tangan dan semprot. Bukan saja baju, rok atau celana sekolah tetapi rambut merekapun sudah berubah dari hitam menjadi warna-warna yang tak jelas.

Para remaja ini adalah siswa-siswi yang baru saja merayakan kelulusan ujian nasional (UN) 2008 . Kegembiraan mereka luapkan dengan melakukan aksi coret-coret baju seragam, selain saling menyalami. Ada juga aksi unjuk kreativitas pada baju mereka, meski terkesan hanya merusak seragam.


Bukan saja SMAN I Kupang yang merayakan kelulusan dengan aksi itu, hampir semua SMA dan SMK di Kota Kupang melakukan hal yang sama. Saling memberikan selamat dengan ciuman hingga mencoret baju para lulusan UN di Kota Kupang sudah menjadi pemandangan setiap tahun. Bahkan sudah menjadi tradisi para siswa SMA/SMK yang baru saja mendengar pengumuman hasil UN. Saling memberikan salaman bukan saja pada teman-teman sekelas atau satu sekolah, namun saling mengucapkan selamat juga diberikan pada teman-teman dari sekolah lainnya.

Para remaja dengan muda bisa memberikan selamat karena pada umumnya mereka yang bergembira karena baru saja dinyatakan lulus UN sekaligus lulus sekolah lanjutan atas tersebut bisa melihatnya dari seragam yang sudah dipenuhi dengan cat atau tulisan serta tanda tangan. Biasanya mereka saling salaman dan membiarkan baju mereka ditulis dengan tanda tangan. Kebiasaan ini seakan menjadi tradisi yang diwariskan oleh para senior ke yuniornya dan seterusnya kebiasaan ini menjadi pemandangan setiap tahun.

Tidak diketahui pasti sejak kapan kebiasaan ini mulai dilakukan para lulusan. Namun kebiasaan corat-coret baju berawal pembubuhan tanda tangan sesama lulusan dari satu sekolah atau kelas yang sama. Teman-teman saling membubuhkan tanda tangan pada baju sesama teman dengan maksud baju tersebut nantinya akan menjadi kenang- kenangan.

Seiring perkembangan zaman, bukan hanya tanda tangan yang dibubuhi, tetapi memberikan nuansa lain seperti gambar-gambar dengan cat semprot. Inilah kemungkinan yang menjadi cikal bakal dimulainya tradisi menggunakan cat semprot pada baju seragam saat perayaan kelulusan UN. Kini, bukan lagi sekadar baju, tetapi sudah mengecat juga wajah mereka.

Selaian aksi saling memberikan tanda tangan, para remaja berkumpul di sepanjang jalan Urip Sumoharjo dan Jalan A. Yani. Kebiasanya ini sudah berlangsung lama. Tidak diketahui pasti alasan para siswa ini berkumpul di tempat yang diberi nama halte (meskipun tak ada halte), padahal halte teramai di Kota Kupang itu sudah dicabut sejak tahun 2004 lalu.

Pastinya, letak halte berada di pusat jalur kendaraan umum dalam Kota Kupang sehingga siswa dari berbagai penjuru sekolah akan memilih tempat itu sebagai transit sambil mencari kendaraan umum ke tujuan pulang ke tempat tingga. Dan, tanpa disadari tempat itu menjadi berkumpul para siswa sehingga kawasan itu menjadi ramai. Aparat polisi-pun setiap tahun selalu dikonsentrasikan di tempat itu untuk tetap menjaga keamanan dan ketertiban lalulintas di tempat itu.

Aksi remaja tersebut terkesan hura-hura tersebut bisanya berlangsung sejak pukul 08.30 Wita atau sejak hasil UN diumumkan dan akan berlangsung hingga sekitar pukul 17.00 Wita. Setelah itu, para remaja akan kembali ke rumah masing-masing namun ada yang merasakan kelulusan tersebut hingga malam.

Beberapa remaja yang ditemui mengaku, aksi mencoret baju hingga semprot dilakukan hanya untuk meluapkan rasa gembira. Ketengan sejak hari pelaksanaan UN hingga jelang pengumuman dilepaskan seketika setelah mengetahui diri mereka lulus.
Kristin, salah satu siswa yang merayakan kelulusan saat ditemui di jalan Cak Doko- Kupang, mengatakan, aksi tanda tangan itu ia lakukan hanya untuk bersenang-senang saja. Apalagi, teman-temannya juga melakukan hal yang sama. "Kita semua tanda tangan baju, ini kan hanya sekali dalam seumur hidup. Apalagi kita mau berpisa," ujar gadis berparas manis ini. (*)


Pos Kupang Edisi 22 Juni 2008, halaman 13

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda