Malam Mencekam

Cerpen Dani Polla

TELAH menjadi pemandangan biasa saat matahari merangkak gelap. Bunyi klakson karet bulat memanjang bersayut-sayutan. Berjejal wajah-wajah sedih dan gembira dari wajah lusuh pedagang-pedagang kecil mendorong gerobak berisi jualan. Tertawa- tertawa kecil menguatkan tangan-tangan mungil menggenggam dua balok sebesar lengannya dan badan gerobak seukuran bahu yang pas buat ukuran seragam putih merah. Setapak demi tapak langkah merayapi aspal yang dijemur panas terik.

Sisa got-got keringat menghitam di leher membuktikan melangkah dibarengi teriakan telah mengikis tenaga. Sudah belasan kilometer terlampau, belokan-belokan kecil diseruduk bunyi untuk mendapatkan perhatian dari pembeli. Beratapkan kopiah lontar, Ricard mengiming-iming recehan logam yang diperoleh dari terjualnya tomat sebungkus.

Nyanyian pilu recehan perak menyimpulkan pendapatan hari ini, untuk membeli setumpuk ubi kayu. Wajah sedih membalut dirinya, ketika ia mengangkat roman menatap isi gerobak yang didorong adik terkecilnya, Jhou. Di sana tergantung bawang merah yang dibungkus selembar plastik bening, sayur pit sai terlilit erat pada tiang gerobak, ajino moto kecil terlempar di atas koran bekas berlobang. Seolah tidak ada yang dapat diraih buat makan esok bersama mama.

"Jhou, uang berapa yang kau dapat?" Teriak Domi merampas perhatiannya. Terbersit keakraban. Bahasa-bahasa daerah mengalir dalam kesahajaan. Aku mendekati mereka dengan bahasa daerah sebisaku. Dari sapaan yang sempat terekam, kusapa mereka satu persatu. Raut ketakutan terlihat dari kepolosan jiwa mereka. Tak berselang kemudian, senyum kecil ini mengembang dari pipi dan bibir yang tipis. Jhou pendorong kecil menggantungkan tangan di dekat telinga hendak menggaruk. Perasaan malu merayapinya. Aku tertegun, kupeluknya dan menyapanya dengan bahasa ibunya. Ia tersenyum dan tertawa kecil mengumpal tanpa suara.

"Kaka mau beli tomat?" Aku kagum akan kebesaran hatinya. Pertanyaan dari bocah yang mungkin hanya tahu bertanya. Lama tak menjawab, kusodorkan selembar uang Rp 1000,00.

Aku masuk dalam dunia mereka. Keluguan Jhou dan Ricard mengurutkan satu bagian hidup yang mungkin dilupakan oleh kebanyakan orang. Malam itu, sementara makan malam berlangsung datanglah tiga orang pemuda, berpakaian preman mengetuk pintu rumah. Terburu-buru. Tanpa berbasa-basi langsung mengutarakan tujuan mereka. Datang untuk menjemput bapak karena ada hal penting. Bapak dipaksa keluar dari rumah memakai celana pendek dan kain ungu tua melintang di dadanya. Sejak kepergian tanpa pesan itu, bapak tak pernah kembali. Lembaran hitam menutup harapanku, mataku menyapu bapak yang dingin membisu. Mama tidak pernah menceritakannya. Kami hidup penuh kecemasan karena banyak ceritera beredar bahwa akan terjadi sesuatu. Kalau ingin hidup tinggalkan rumah. Kami berlari dari rumah tinggal kira-kira jam tujuh malam. Merunduk kegelapan tanpa bekal. Alasannya supaya tidak dikenal oleh tetangga. Harapanku untuk bersekolah ditelan serdadu kawakan itu. Perasaan ingin hidup memaksa kami bertiga berjalan 15 kilometer hingga menepi di ujung perkampungan.

Tiba pertama di sini, hidup dari belaskasihan penduduk sini. Tidur dengan perut kosong adalah hal yang biasa sejak menetap di gubuk beratapkan daun kelapa kering. Pernah diberitahu untuk mendapatkan beras bantuan. Beras yang ada hanya cukup untuk semalam. Pas-pasan yang kami peroleh membuat kami harus berusaha lagi. Mungkin inilah yang pantas kami jalani. Berjalan seharian menadahkan gerobak di setiap mulut rumah. Syukurlah kalau hari ini jagung bose, ubi hutan dan air putih melewati perut. Lain waktu, malam adalah saksi penderitaan. Tidur beralaskan robekan terpal, setelah kenyang dengan air dan segenggam jagung goreng yang diberikan tetangga. Semenjak peristiwa kelam itu, hari demi hari adalah lembaran hitam yang enggan dibuka. Bersama sebongkah bening beradu dengan kuatnya politik dan egoisme manusia yang lincah mencari untung.

Domi mendekam dalam kesepian dan getirnya hidup akibat ayahnya, Tadores yang hilang ditelan kasarnya politik. Bak turis lokal yang berdomisili, setelah menatap pilu rumah dijilati si jago saat setelah kemerdekaan di palu kamar pemilu tujuh tahun silam. Bangku sekolah tak terpikirkan, mereka terlibat dalam persoalan orang dewasa bertemakan 'makan apa esok'. Tameng 'urusan penting' telah menyeret Jhou dan teman-temannya mendulang kedukaan sepanjang hidup. Matahari pagi telah membakar sumbu perjuangan untuk terus menyala walau diterpa sakal urusan penting bernafas memanfaatkan yang kecil. Mendorong gerobak menjejal kebutuhan di atas titian hidup yang terlupakan, tak menyerah saat angin laut menyapa keletihan hidup yang tersisa. Kepada pohon yang menaunginya di sepanjang jalan terbukalah sejarah keangkuhan manusia. (*)

Pos Kupang edisi Minggu, 1 Juni 2008, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda