Mengenal Upacara Mepandas Bagi Remaja Hindu


MINGGU (8/6/ 2008), di Pura Agung Giri Kertha Bhuwana Kolhua-Kupang merupakan hari paling bersejarah bagi 77 remaja Hindu. Di hari yang cerah itu, para remaja diuji kesanggupannya dalam menolak segala perbuatan yang tidak baik untuk menapaki kehidupan baru mereka sebagai manusia seutuhnya dengan mengikuti upacara potong gigi (Mepandas) atau Mesangih. Acara ini dilaksanakan sehari setelah diresmikannya tempat ibadah tersebut.
Menurut kepercayaan umat Hindu, upacara ini bertujuan mengendalikan manusia dari sadripu, enam musuh yang ada dalam diri manusia, yakni hawa nafsu (kama), serakah (lobha), kemarahan (krodha), kemabukan (mada), kesombongan (moha), cemburu, dengki, iri hati (matsarya). Selain itu dilakukan pula upacara menek kelih yakni upacara yang dilakukan kepada anak-anak yang beranjak remaja agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Sebanyak enam anak ikut dalam upacara menek kelih ini.

Walau upacara baru dimulai pada pukul 08.00 Wita, namun para remaja yang didampingi kedua orangtua dan keluarganya masing-masing, sudah berada di pura satu jam sebelumnya. Mereka mengenakan pakaian kebaya serba putih dengan kain putih, kampuh kuning dan selempang semararatih, sebagai simbol restu dari Dewa Samara dan Dewi Ratih. Sekuntum bunga dan mahkota warna warni menghiasi rambutnya. Sedangkan bagi remaja pria, menggunakan baju semi jas dengan sarung putih campur kuning. Pada bagian pinggang diikatkan selendang kuning.
Wajah mereka dimake up layaknya pengantin-pengantin remaja. Matahari yang mulai menghujam dari arah timur menambah semangat para remaja menyiapkan diri mengikuti upacara potong gigi.

Sebelum upacara potong gigi dimulai, dilakukan sembahyang bersama dan pemujaan Hyang Raditya untuk memohon keselamatan dalam melakukan upacara. Sembahyang dipimpin Ketua Perhimpunan Parisada Hindu Dharma (PHDI) Propinsi NTT, I Gusti Made Putra Kusuma. Setelah melakukan ibadah bersama memohon kehadiran Tuhan Yang Maha Esa dalam upacara ini, mereka membentuk barisan untuk melakukan ritual awal. Masing-masing mereka memegang uang logam, dan jari ibu bagian kiri diikatkan dengan benang prawita berwarna tridatu yakni merah, putih dan hitam sebagai simbol pengikatan diri kepada norma-norma agama. Kemudian rambut mereka dipotong menandai peningkatan status sebagai manusia yakni meninggalkan masa kanak-kanak menuju masa remaja. Kemudian mereka dipercik dengan air yang sudah didoakan sebagai tanda pembersihan diri.

Setelah itu, para remaja yang dibagi perkelompok dengan jumlah masing-masing empat orang; dipanggil ke depan untuk meminta restu dari orangtua masing-masing. Mereka bersujud di depan kedua orangtua masing-masing. Setelah itu, mereka dipersilahkan naik ke bale tempat potong gigi, dengan terlebih dahulu menginjak caru sebagai lambang keharmonisan dengan mengetukkan linggis sebanyak tiga kali (Ang- Ung-Mang) sebagai simbol memohon kekuatan kepada Tuhan dan di pangkal lengan bagian dalam (ketiak) kiri menjepit caket sebagai simbol kebulatan tekad untuk mewaspadai sadripu. Gigi yang akan dipotong sebanyak empat buah yang semuanya adalah gigi taring. Para remaja dipersilahkan tidur dan ditutup dengan selembar kain sarung batik. Para petugas yang sudah bersiap memulai memotong dengan menggunakan alat potong beripa kikir.

Sebelumnya para remaja ini dipersilahkan berkumur dengan antiseptic untuk menghindari bakteri. Setelah dikikir, gigi yang sudah dipotong ini digosok dengan batu asah untuk merapihkan. Selama gigi dipotong atau diratakan, air kumur dibuang di sebuah kelungahnyuh gading agar tidak menimbulkan kelatahan. Dengan senyum dan wajah berseri-seri, para remaja ini mengikuti ritual pemotongan gigi sampai selesai.

Ketua PHDI Propinsi NTT, I Gusti Made Putra Kusuma, yang juga sebagai rohaniawan yang memimpin upacara tersebut, mengatakan, upacara potong gigi perlu dilakukan umat Hindu agar para remaja ini menjadi manusia dewasa, agar karakter manusianya lebih nampak atau menanusiakan manusia.

Manusia, katanya, sebenarnya seperti binatang buas yang memiliki taring sehingga kadangkala berlaku ganas. Namun, lanjutnya, dengan adanya upacara potong gigi ini agar anak-anak memasuki masa dewasa yang lebih baik dan terhindar dari hawa nafsu dan sebagainya.
Menurut Made Putra Kusuma, sebelum dilahirkan dilakukan upacara tuju bulanan atau garbowadanc dimana agar anak bisa lahir dengan selamat. Selanjutnya, ada tujuh tahap bagi umat Hindu setelah dilahirkan sebelum memasuki usia dewasa. Pertama, 12 hari setelah dilahirkan anak didoakan yang disebut dengan lepas sawon, upacara ini dilakukan agar seorang ibu sudah bisa keluar kamar dan melakukan aktivitas di dapur. Ketika anak menginjak usia 42 hari dilakukan upacara 'akanbuhan' yakni mendoakan anak agar selamat dalam pertumbuhanya.

Upacara mendoakan anak agar selamat dalam pertumbuhan ini selalu dibuat orang tua setiap tiga bulanan atau enam bulanan. Ketika anak mulai naik remaja, dilakukan upacara menek kelih. Kemudian saat mereka mulai masuk masa dewasa (akil balik) dilakukan upacara potong gigi agar anak menjadi suputra, yakni berbakti kepada Tuhan, orang tua dan bangsa.

Menurut Made Putra Kusuma, beberapa sumber mengenai upacara potong gigi bisa digunakan sebagai acuan. Pertama, Lontar Kala Pati, disebutkan potong gigi sebagai tanda perubahan status seseorang menjadi manusia sejati, yakni manusia yang berbudi dan suci sehingga kelak kemudian hari bila meninggal dunia, Shang Hyang Atma (roh) bisa bertemu dengan roh leluhurnya yang sudah mendahului di sorga loka. Kedua, lontar kalla tattwa, dalam lontar ini disebutkan bahwa Bethara Kala sebagai putra Dewa Siwa dengan Dewi Uma tidak bisa bertemu dengan ayahnya di sorga loka sebelum taringnya dipotong. Oleh karena itu, manusiapun hendaknya menuruti jejak Bethara Kala agar rohnya dapat bertemu dengan roh leluhurnya du sunia loka. Ketiga, lontar semaradhana, dalam lontar ini ditulis bahwa Bethara Gana sebagai putra Dewa Siwa yang lain dapat mengalahkan raksasa Nilarudraka yang menyerang Sorga Loka dengan menggunakan potongan taringnya.

Selain itu disebutkan bahwa Bathara Gana lahir dari Dewi Uma setelah Dewa Siwa dibangunkan dari pertapaanya oleh Dewa Semara (Asmara), namun Dewa Siwa kemudian menghukum Dewa Semara bersama istrinya Dewi Ratih dengan membakarnya sampai menjadi abu, selanjutnya abunya ditebarkan di atas dunia serta mengutuk manusia di dunia agar lelaki tidak dapat hidup tanpa wanita atau manusia hidup berpasangan antara laki-laki dan perempuan. Keempat, lontar Sanghyang Yama, dimana potong gigi bisa dilakukan pada anak yang sudah menginjak dewasa yang ditandai dengan menstruasi pertama bagi anak perempuan, dan suara berubah membesar bagi anak laki-laki. Biasanya dilakukan pada anak yang akan menginjak usia 14 tahun.

Dikatakannya, upacara potong gigi ini merupakan kewajiban dari setiap orangtua untuk anak-anaknya serta memohon kepada Brahman atau Ida Sang Hyang Widhi atau Tuhan Yang Maha Esa agar terhindar dari pengaruh hawa nafsu (sadripu) yang tidak baik. Ia mejelaskan, upacara potong gigi ini biasanya dilanjutkan dengan upacara menek kelih yaitu upacara syukuran karena si anak sudah menginjak dewasa dan meninggalkan masa anak-anak menuju masa remaja.

Makna yang tersirat dari mitologi Kala Pati, Kala Tatwa dan Semaradhana adalah agar manusia selalu waspada untuk tidak tersesat dari ajaran agama (dharma) sehingga kelak roh yang suci dapat mencapai Sorga Loka dan bersama roh suci para leluhurnya bersatu dengan Brahman. Dalam lontar Semaradahana tersirat bahwa dalam pergaulan muda-mudi sehari-hari hendaknya diatur agar tidak melewati batas- batas kesusilaan. (apolonia dhiu)

Pos Kupang Edisi Minggu 15 Juni 2008, halaman 11

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda