Potensi Air Tanah di Kota Kupang Mencukupi


DUA pria dewasa berlari-lari kecil mendekati Pos Kupang yang kebetulan melewati Jalan Perintis Kemerdekaan, samping Kantor Walikota Kupang, Sabtu (14/6/2008). Mereka awak truk tangki yang saban hari mangkal di tempat itu. Dua pria ini menawarkan jasa angkutan tangki air dengan harga Rp 55 ribu hingga Rp 100 ribu/tangki. Harga ini tergantung jarak antar dari tempat pengisian air ke rumah pelanggan.

Sementara dua pria lainnya sedang mengisi air pada truk tangki yang disalurkan dari selang pipa milik Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Air Bersih Kota Kupang. Beberapa pria lainnya duduk santai di bawa pohon di tepi jalan sambil menunggu warga yang membutuhkan air minum. Enam unit truk tangki masing-masing berkapasitas 5.000 liter sedang parkir di tempat itu untuk mendapat giliran mengisi air.


Di Kota Kupang, kebutuhan air bersih relatif tinggi, sementara penyediaan air dari PDAM Kabupaten Kupang belum cukup mampu memenuhi kebutuhan air minum warga Kota Kupang dan sekitarnya. Tidak heran bila pada musim kemarau seperti sekarang ini warga selalu mengelu kekurangan air.

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih atau air minum, warga Kota Kupang membeli air pada sejumlah sumur bor, termasuk air dari UPTD Air Bersih Kota Kupang. Untuk pengadaan air bersih, warga memanfaatkan jasa tangki yang setiap hari parkir di sejumlah sumur bor dan di UPTD Air Bersih Kota Kupang. Untuk menampung air dari mobil tangki tersebut, warga sudah membangun bak penampung di rumah mereka masing-masing. Kondisi ini menggambarkan betapa sulitnya memperoleh air bagi warga Kota Kupang.

Pertanyaan muncul, benarkah Kota Kupang tidak memiliki deposit air dalam jumlah banyak? Adalah Noni Banunaek, S.T, M.T, Ahli Geologi Daerah Karst telah melakukan penelitian potensi air tanah di Kota Kupang.

Dosen di Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, dalam orasi ilmia pada acara wisuda mahasiswa lulusan sarjana dan diploma Undana Kupang tahun 2003 lalu menyebutkan, di Kota Kupang memiliki sumberdaya air tanah yang cukup besar. Contoh, di kawasan Kecamatan Alak-Tenau yang tidak memiliki potensi air permukaan dan masyarakat harus berjalan beberapa kilometer untuk mendapat air bersih, padahal daerah ini memiliki sumber daya air tanah yang cukup besar. Sumur bor di tempat ini berkapasitas 20 liter per detik (1.728 meter kubik/hari pompaan). Menurut Noni, bila sumber daya air ini dimanfaatkan maksimal dapat memenuhi kebutuhan 21.600 orang.

Potensi air tanah hasil penelitian Noni adalah air tanah di Kota Kupang yang terdapat pada rekahan, rongga dan gua cekungan air tanah, sehingga tidak semua lokasi berpotensi air tanah.

Di Kota Kupang terdapat enam cekungan air tanah, Infiltrasi efektif (air hujan yang masuk ke dalam tanah) rata-rata setiap tahun 10,6 x 10 meter kubik hingga 39 x 10 meter kubik, atau hanya sekitar tujuh persen sampai 29 persen.

Jumlah air yang masuk ke dalam tanah sebesar 21,21 x 10 meter kubik per tahun. Meski demikian, diperkirahkan lima hingga delapan persen air tanah keluar dari sistem. Sebaiknya jumlah air tanah tidak diambil guna pengaman akuifer sehingga potensi air tanah yang dapat diambil sebesar 62 persen dari jumlah tersebut atau sebesar 13,68 x 10 meter kubik.

Air tanah di Kota Kupang tersebar di lima titik. Pertama, cekungan Bolok-Tenau- Alak-Namosain. Cekungan ini memiliki potensi sebanyak 2,87 x 10 meter kubik per tahun. Cekungan ini berhubungan langsung dengat laut sehingga memungkinkan terjadi penyusupan airlaut jika pengambilan airtanah melebihi jumlah tersebut di atas.
Kedua, cekungan Tabun-Bakunase-Haukoto-Sikumana.

Potensi air tanah di wilayah ini mencapai 1,8 x 10 meter kubik per tahun. Adanya tinggian lapisan impermeabel di bawa permukaan di selatan Air Sagu hingga selatan Oepura, menyebabkan cekungan ini terpisah menjadi dua bagian yaitu subcekungan Bakunase dan sub cekungan Tabun-Haukoto-Sikumana.

Tinggian lapisan impermeabeal ini juga menyebabkan munculnya mata air di bagian utara. Ketebalan mata air mencapai satu meter hingga 25 meter. Pengambilan air tanah secara berlebihan berpotensi keringnya mata air permukaan di daerah ini dan penurunan muka air tanah.
Ketiga, cekungan Kupang-Oesapa-Tarus. Potensi air di cekungan ini sebanyak 3,93 x 10 meter kubik per tahun. Cekungan ini berhubungan langsung dengan laut sehingga memungkinkan terjadi penyusupan air laut jika pengambilan air tanah melebihi jumlah tersebut.

Keempat, cekungan Penfui. Potensi air tanah yang dapat diambil dari cekungan ini mencapai 2,32 x 10 meter kubik per tahun. Ketebalan air tanah berkisar satu hingga 30 meter. Pengambilan air tanah di wilayah yang berlebihan dapat menyebabkan kekeringan di mata air daerah Tarus-Oesapa dan penurunan muka air tanah.

Kelima, cekungan Baumata. Potensi air tanah di wilayah ini sebanyak 2,74 x 10 meter kubik per tahun. Potensi air tanah di wilayah itu belum dimanfaatkan maksimal. Namun, kalau dimanfaatkan berlebihan berpotensi keringnya mata air Baumata dan penutupan muka air tanah.

Hasil penelitiannya, Noni juga menyebutkan risiko pencemaran air tanah di Kota Kupang sangat besar dan dapat terjadi dengan cepat karena air tanah mengalir melalui rekahan, rongga dan celahan. Hasil penelitian juga membuktikan bahwa kandungan bakteri e-coli pada air tanah di Kota Kupang cukup tinggi. Ini menggambarkan, masyarakat Kota Kupang bukan saja sulit mendapatkan air permukaan, tetapi air yang ada di dalam tanah pun sudah tercemar.

Materi orasi ilmiah itu juga menyebutkan, masalah pencemaran air tanah karena kebijakan tata ruang Kota Kupang.

Misalnya, sumber daya air tanah sebanyak 2,87 x 10 meter kubik per tahun di daerah Alak-Tenau dipastikan tercemar oleh sampah pada tempat pembuangan akhir (TPA) Alak. TPA Alak berada persis di atas jalur rekahan yang besar dan panjang yang berperan sebagai akuifer.

Masalah air bersih di Kota Kupang sebenarnya dapat diatasi melalui suplesi air tanah dari daerah yang berpotensi air tanah. Ini dengan catatan pengambilan air tanah tidak boleh melebihi jumlah pengisian akuifer dan manajemen pemanfaatan air tanah secara optimal.

Proyeksi kebutuhan air tanah perlu dirancang sedini mungkin mulai dari rencana jangka satu tahun dan lima tahun hingga 25 tahun. Ini agar pemanfaatan air tanah tidak sampai mengganggu persediaan air tanah, atau tidak merusak kualitas air yang sudah disediakan oleh alam. Jadi, potensi sumber daya air tanah di Kota Kupang cukup untuk memenuhi kebutuhan warga kota ini. (alf)

Pos Kupang Edisi Minggu 15 Juni 2006, halaman 16

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda