Puisi-puisi BaraPattyradja

Selembar Dasi dan Sehelai Jas Politik

Buat Yosni Lagadoni Herin

Di teduh matamu
Puisi ini telah serimbun semak perdu
Tapi seperti kekuasaan, waktu membuatmu tak setia
Menyulap segalanya jadi selembar dasi
dan sehelai jas politik



Maka pada kabut yang turun pagi ini
Aku kembali menanyakan kediamanmu
Di pucuk gunung yang dingin

Bila engkau ibu segala duka
Mengapa tinggalkan tangis sedu sedan
Seperti perahu tinggalkan daratan
Mengapa juga bisu?
Sedang pintu-pintu masih menutup diri
Pada kenyataan. Beribu jiwa melolong
Di padang-padang gersang.

Kini aku tahu, jarak kita cuma baju
Kini aku tahu, kata-katamu cuma lidah asap
Yang membumbung di tengah kibaran bendera
Spanduk-spanduk kampanye, juga kaso oblong abu-abu
Yang kelak pudar warnanya

Tapi di sini, di tanah karang yang belum punya bahasa
Aku akan bertahan melukis kesunyian. Walau kadang ngungun
Senantiasa dengan puisi, kuusap nganga luka-luka
Di setiap jengkal hidupku. Senantiasa dengan puisi
Sesungguhnya aku tetap hidup dan berontak terus menerus
2008
(bait dengan huruf miring dipetik dari H 1991)

Tubuhku Adalah Rumahku

Menapak dingin batu tubuhku
Kepalaku menjadi jendela
Bagi pikiranku yang menatap keluar
Dadaku menjadi pintu
Bagi segala peristiwa
Yang meresap ke dalam

Tubuhku adalah rumahku
Tempat beribu musim
Gugur dan mekar
2008

Pos Kupang Edisi Minggu 22 Juni 2008

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda