Puisi-puisi Pion Ratulolly

Syair Para Pencari-Mu

Duhai Engkau Yang Maha Sembunyi!
Kali ini aku datang pada-Mu dalam sunyi
Aku datang dengan keluhan batinku
Desahan nuraniku dan erangan naluriku
]Aku hendak mengadu rasa pada wujud-Mu
Aku ingin mendapatkan seberkas cahaya dalam sinar-Mu
Dalam kelam pengusutanku


Tuhan!!!
Kemana tempatkah lagi aku harus mencari-Mu?
Kemana lorongkah lagi aku harus menuju-Mu?
Demi menggapai keberadaan-Mu?
Ke rumah-rumah ibadah-Mu kah?
Ke ladang-ladang amal-Mu kah?
Ataukah aku harus ke singgasana-Mu?

Sebab Sayang
Setiap rumah dan ladang-Mu yang kutuju
Tak pernah kutemukan wujud baqa-Mu
Malah yang kujumpai
Adalah kegundahan
Kegelisahan, keragu-raguan
Bahkan memuncak pada ketakyakinan atas bentuk-Mu

Tuhan!!!
Ke mana tempatkah lagi aku harus mencari-Mu?
Ke mana lorongkah lagi aku harus menuju-Mu?
Demi menggapai keberadaan-Mu?
Ke lokasi-lokasi maksiatkah?
Ke lembah-lembah dosakah?
Ataukah aku harus ke neraka sekalian?

Sebab sayang
Setiap lokasi dan lembah keinistaan yang kutapaki
Tak pernah kutemukan wujud baqa-Mu
Malah yang jumpai
Adalah rasa bersalahku
Berdosakah, penyesalanku
Lantas memuncak pada ketidakyakinanku atas bentuk-Mu

Duhai engkau yang masa Misteri!!!
Mengapah Engkau lari di tengah pencarianku?
Mengaapa Engkau bersembunyi di balik galau resahku?
Apakah aku tak pantas jadi umat-Mu?
Tak layakkah aku jadi penyembah-Mu?

Jikalau memang demikian, Tuhan!!!
Cabutlah nyawa di raga ini!
Lucutilah!
Dan campakan jasadku!

Biar aku tak lagi berambisi mencari-Mu
Biar aku tak lagi berhasrat menggapai keberadaan-Mu
Biar aku mati dalam ketaktahuanku atas-Mu
Biarlah!
Tuhan! Tuhan! Tuhan!
(Rumah Poetica Kupang-NTT)


Demonstrasi Batin

Wahai presiden hatiku!!!
Engkau yang telah memproklamirkan
Berdirinya Republik Rasa di bilik nuraniku
Di atas jerit kolonialisme kebencian dulu
Di tengah peluh reformasi sejarah yang pincang

Keluar dan dengarkan jeritan batinku kini
Jerit yang meronta karena krisis agape darimu
Jerit pilu yang kian membuncah

Hadapi aku raktar cintamu
Hadapi aku dengan gentelmu
Sebagaimana keambisianmu
Mengkampanyekan Republik Rasamu lalu

Jangan sembunyi di balik ibaku
Aku sudah tersadar oleh peninaboboanmu

Ayo lekas!!!
Sebelum orasi cinta ini menjadi persuasif celurit
Sebelum altar ini berbunga darah
Aku tak akan menjauh sebelum mengkalkulasi absah cintamu

Keluarlah!!!
Ini demonstrasi batin murni tak bersyarat
Hadapi aku atas nama kasihmu
Hadapi aku!!!
Aku tunggu!!!
(Rumah Poetica Kupang-NTT)


Pos Kupang Edisi Minggu 22 Juni 2008 halaman 6



0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda