Republik "Hot Ngelesot"

ORANG Yogya sedang mengalami demam hotspot. Fasilitas hotspot disediakan di mana-mana, mulai kampus, sekolah, taman kanak-kanak, kedai, kos-kosan, arena futsal, hingga angkringan. Saking banyaknya hotspot, anak-anak muda di sini berseloroh, "Kalau ada republik hotspot, Yogyakarta pasti jadi ibu kotanya.

"Jika Anda jalan-jalan ke Ambarukmo Plaza (Amplas) di Jalan Laksda Adisucipto, Anda akan mudah menjumpai anak-anak muda menenteng laptop. Mudah ditebak, mereka pasti akan mampir ke salah satu kafe yang dilengkapi hotspot (area di mana orang bisa mengakses internet tanpa kabel). Mereka akan memesan segelas minuman, kemudian menyalakan laptopnya dan mulai berinternet selama dua jam sesuai batas maksimal yang ditetapkan kafe-kafe di sana. Pemandangan serupa bisa ditemui di mal Jogjatronik di Jalan Brigjen Katamso, tepatnya di lantai tiga.

Jumat (6/6/2008) sore, ada dua belas orang duduk lesehan di selasar toko sambil memangku laptopnya dan asyik berselancar di dunia maya. Sama seperti di Amplas, mereka adalah para pemburu hotspot. Bedanya, mereka tidak perlu mampir di kedai dan membeli minuman sebagai prasyarat menikmati fasilitas hotspot. Mereka cukup memanfaatkan gelombang hotspot gratisan yang meluber hingga ke selasar toko. Pemburu hotspot di tempat ini mungkin termasuk orang yang hemat atau mungkin bokek.Sejumlah kedai di sepanjang Selokan Mataram, Gejayan, Sagan, dan Terban juga banyak yang ber-hotspot.

Biasanya kafe itu akan memasang spanduk bertuliskan "Free Hotspot, Unlimited". Ada juga yang bertuliskan "Hot Ngelesot". Maksudnya, fasilitas hotspot bisa digunakan sambil ngelesot atau lesehan di lantai.Fasilitas hotspot di kedai-kedai semacam itu pun gratis. Di Kafe Djendelo Tanah Airkoe, misalnya, Anda cukup membeli segelas Es Teh Djendelo Bersoebsidi seharga Rp 4.000 dan Anda sudah bisa memanfaatkan fasilitas hotspot mulai kafe itu buka di siang hari hingga tutup pukul 22.00.

Itu kalau Anda tidak malu!Nyatanya, kata Korlap Djendelo, Yusuf Sinaga, ada beberapa pelanggan yang tidak punya rasa malu. "Main internet dari pagi sampai malam kok cuma pesan satu gelas teh. Saya sudah mendelik-mendelik dan hilir mudik di depannya, eh dia cuek aja,"
katanya.Tidak mau ketinggalan, kos-kosan, lapangan futsal, dan TK juga dilengkapi hotspot. Ibu-ibu lebih senang hanyut dalam dunia maya ketimbang ngerumpi dengan sesama sambil menunggu anaknya selesai belajar dan bermain di TK.Yang lebih fenomenal, hotspot juga
bisa dijumpai di angkringan. Salah satunya angkringan di halaman Sawitsari, Condongcatur, Sleman. Kamis (5/6) malam, ada 10 anak muda tenggelam dalam dunia maya. Ada yang sekadar chatting, bergabung dengan milis, membuka situs Friendster, YouTube, bahkan ada yang sedang
bertransaksi bisnis (mungkin jutaan rupiah) sambil menyeruput kopi dan makan nasi kucing (nasi seukuran porsi makan kucing yang harganya cuma Rp 1.000 per bungkus).Ah, di sini simbol-simbol saling bertabrakan. Angkringan yang merupakan simbol kaum jelata Yogyakarta
bertabrakan dengan internet yang menjadi simbol kelas menengah.

Gaya metropolis pengunjung bertabrakan dengan gojek kere (humor kaum jelata)
khas Yogya yang biasa beredar di angkringan."Bapakmu masih kerja di Segitiga Bermuda? Kenapa enggak pindah ke Segiempat Bermuda atau Trapesium Bermuda?" canda salah satu pengunjung."Booming"Bagaimana demam hotspot terjadi? Riza Tantular, Manager Citranet, perusahaan penyedia jasa internet, mengatakan, fenomena ini sebenarnya dimulai sejak munculnya kafe dan kedai kopi kecil seperti yang ada di sepanjang Selokan Mataram tahun 2004. "Kedai-kedai itu menyediakan fasilitas hotspot untuk menarik mahasiswa," ujarnya.

Setelah Amplas-yang dilengkapi fasilitas hotspot-berdiri tahun 2006, demam hotspot kian menjadi. Orang makin betah nongkrong, sambil berselancar di dunia maya.Para pemilik tempat usaha mengakui, hotspot bisa menjadi alat yang efektif untuk memancing pelanggan. Franzeska Mei, General Manager Neofutsal, mengatakan, pengunjungnya terus bertambah setelah pihaknya memasang fasilitas hotspot. Dia mengaku hanya mengeluarkan dana Rp 380.000 per
bulan untuk berlangganan internet. "Dana yang dikeluarkan sebanding dengan penambahan pengunjung," katanya.Manager Data Internet PT Telkom Kandatel Yogyakarta Taryoko mengatakan, penggunaan akses internet nirkabel di Yogya memang mengalami ledakan sejak tahun lalu. Orang tinggal menambahkan perangkat access point seharga Rp 400.000 ke koneksi internet dan, bimsalabim, layanan hotspot tersedia.Taryoko menambahkan, saat ini pelanggan Speedy (produk layanan internet Telkom) di Yogyakarta berjumlah 7.000 orang.

Dia memperkirakan lebih dari 100 pelanggan telah menambahkan fasilitas hotspot.Riza dan Taryoko yakin demam hotspot akan terus berlanjut. Pasalnya, pengguna internet di Yogyakarta makin praktis dan mobil. Apalagi laptop yang dilengkapi perangkat Wi-Fi (wireless fidelity) semakin murah. Dengan uang kurang dari Rp 5 juta, orang sudah bisa memiliki laptop dengan Wi-Fi.Gejala itu memang semakin nyata. Indikasinya, penjualan laptop di Yogyakarta laris bak kacang goreng. Arie Asimilia, Media Relation Emax Fortune Yogja-distributor notebook Apple-mengatakan, sejak membuka gerai di Amplas tiga bulan lalu, pihaknya mencatat angka penjualan sangat tinggi. Bahkan, angka penjualan di gerai ini melampaui angka penjualan gerai Emax di Jakarta.

Sayangnya, dia tidak bersedia menyebutkan jumlahnya.Sekarang, lanjutnya, pembeli di gerainya harus menunggu 14 hari kerja untuk mendapatkan notebook. Notebook yang banyak dicari adalah yang harganya berkisar Rp 10 juta-Rp 11 juta dengan model trendi. Kebanyakan pembelinya mahasiswa.Diaz Ario, Junior Project Manager PT Dyandra Promotion Yogyakarta, yang sering mengadakan pameran komputer mengatakan, penjualan laptop satu-dua tahun terakhir di Yogyakarta memang gila-gilaan, terutama yang harganya berkisar Rp 3 juta-Rp 4 juta. "Sekali pameran, ratusan laptop yang terjual. Banyak yang tidak kebagian sehingga laptop pajangan pun ditawar," katanya.Weleh... weleh!* (Budi Suwarna dan Lusiana Indriasari, Kompas Minggu, 8 Juni 2008)

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda