Seorang Pelacur

Cerpen Yoseph Mau

DI beranda rumah bagian depan, aku duduk termenung seorang diri. Wajah murung dan aku meneteskan air kesedihan, ketika aku meghadirkan kembali perbuatan yang penuh kekilafan, kesalahan dan kedosaan yang sudah dan terus aku lakukan ke alam pikiranku. Aku menatap diriku. Aku sadari bahwa Yang Teratas, dalam ajaran agamaku disebut Tuhan atau Allah.

Dia menciptakan aku bukan sebagai sesuatu. Tetapi Dia menciptakan diri pribadiku sebagai seorang manusia yang unik, mempesona dan menarik. Aku memiliki rambut hitam kelam dan panjang, kulit putih, tubuh seksi, badan tinggi dan ramping, mata sipit dan kalau mau dibilang aku cantik. Aku pribadi yang berbeda sekali dengan semua insan manusia di dunia ini dan segala ciptaan lain di semesta alam ini. Dulu waktu masih Di jenjang pendidikaan sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, aku adalah siswa teladan di sekolah. Aku seorang pribadi yang rajin, jujur, polos, pintar, disayangi guru, disayang teman-teman, dibanggakan oleh sekolah dan bapa serta mamaku.

Membayangkan pribadi akuku yang dulu dengan akuku yang sekarang, membuat sanubariku sakit. Pribadiku yang sekarang tidak seperti dulu. Akuku yang sekarang beda sekali. Memang tubuhku tetap indah, mempesona, menarik dan cantik, namun perbuatanku tidak seperti tubuh yang kumiliki. Perbuatanku begitu bobrok dan jahat.
Langkah laku yang tercermin di alam pikiran, tiba-tiba saja membuat aku membenci diriku. Aku marah, aku muak dan jijik. Karena aku telah melakukan perbuatan yang melanggar ajaran agamaku, terlebih melawan kehendak Tuhan yang kuimani dan kuyakini sebagai sumber dan tujuan hidupku kini dan setelah beralih dari dunia nyata ini, yaitu dunia yang sekarang ini aku hidup dan berpijak di atasnya.

Sudah hampir empat bulan lebih aku tenggelam dalam dunia gelap. Aku menjadikan diriku seorang wanita murahan, wanita pelacur. Siang aku bernaung di rumah dan tidur terlelap lalu malam kabur dari rumah dan melalang buana. Aku melacurkan diriku. Tidak terbayangkan dalam pikiranku bahwa aku akan terjun dalam dunia gelap seperti ini, bahwa aku akan menjadi pelacur yang melayani dan memuaskan nafsu birahi pacarku dan kaum adam lainnya. Sebab aku seorang anak yang baik, memiliki orang tua yang kaya sehingga apapun yang kuminta selalu diberikan dan ber-Tuhan.

Langkahku terjebak dalam dunia gelap ini karena pacarku. Aku kurang diperhatikan, kurang dicintai bapa dan mama. Karena kurang mendapat kehangatan dari mereka, aku mencari kehangatan dari perhatian dan cinta dari pacarku. Kehangatan yang kucari ditemukan dalam diri pacarku. Waktu baru permulaan menjalani masa pacaran Andre, pacarku sangat memperhatikan dan mencintai aku. Bagiku Andre adalah segalanya karena perhatian dan perhatiannya yang begitu besar atas diriku. Aku pikir perhatian dan cinta Andre tulus dan murni. Sebab aku lihat dirinya tidak menampakkan kepalsuan. Selama pacaran enam bulan, dia sering ke rumahku karena bapa dan mama sibuk kerja, jadi tidak ada di rumah. Mengajak aku jalan-jalan. Kadang mengantar atau menjemputku walaupun aku diantar dan dijemput oleh sopirku.Ternyata tidak. Dia perhatian dan cinta padaku karena mau mendapatkan kenikmatan dan kepuasan dari diriku

Aku melakukan seks dengan Andre terjadi di rumahku. Aku dirayu oleh Andre dengan kata-kata indah dan sentuhan- sentuhan hangat. Sebagai wanita normal dengan kodrat manusianya, aku merasa tergoda dan terbuai dalam rayuannya. Mulanya aku sempat menolak karena aku takut hamil. Sebab ada gema sebuah suara dalam hatiku yang melarang aku untuk tidak melakukanya. Namun pada akhirnya aku pasrah saja dan mengikuti keinginan Andre dan nafsu birahinya. Kuserahkan diriku padanya. Sebab Andre mengatakan bahwa cinta mesti dibuktikan. Kalau tidak dibuktikan, itu bukan namanya cinta. Dan kalau aku tidak melakukan hubungan intim dengannya, itu berarti aku tidak mencintainya.

Setelah melakukan hubungan untuk pertama kalinya, ada ketagihan untuk melakukan terus, walaupun kenikmatan dan kepuasannya yang kualami sementara saja. Mungkin lima menit. Kekuatan cinta dan perhatian antara Andre dan aku berubah menjadi kekuatan sex. Kami melakukan hubungan sex berulang kali selama kurang lebih tiga bulan.

Relasi mendalam dengan Andre perlahan mulai renggang. Andre menyakiti aku. Dia pacaran dengan orang lain, menyingkirkan aku dan tidak peduli lagi padaku setelah menyentuh tubuhku. Dia sering marah dan menghidariku. Karena tidak tahan disakiti, aku memutuskan temali asmara dengannya.

Putus hubungan asmara dengan Andre, aku merasa dunia ini seperti runtuh. Aku berencana bunuh diri, tapi tidak jadi. Untuk menghilangkan depresi, stres dan tekanan batin yang kualami, aku lari pada dunia narkoba dan hampir setiap malam kabur dari rumah dan pergi ke bioskop atau klub-klub malam. Di sanalah aku mengenal banyak kaum adam. Aku sering melayani mereka. Hal ini sudah berlangsung sebulan lebih. Orang tuaku tidak tahu karena jarang di rumah.

Aku menghakimi diriku dengan mendaratkan pertanyaan atas diriku. Mengapa aku mudah jatuh dalam rayuan? Mengapa aku merusak tubuhku? Mengapa aku mau menghancurkan masa depanku? Mengapa aku menjadikan diriku seorang wanita pelacur? Mengapa aku tega membiarkan diriku sebagai wanita pemuas nafsu birahi pria? Mengapa aku memperbudak tubuhku? Pertanyaan-pertanyaan itu menyiratkan secercah dan seberkas sinar terang dalam lubuk terdalam dan sukmaku, bahwa aku sampai melacurkan diri dan memakai narkoba karena alasan cinta.

Aku baru sadari sore ini, saat duduk di beranda depan rumahku ketika terang itu, yaitu kesadaran sejati yang mendatangi dan menerangi aku, bahwa cinta sejati tidak harus diungkapkan lewat hubungan seks. Kalau cinta hanya menjadikan seks sebagai tujuan satu- satunya dan sumber kebahagiaan, itu omong kosong dan bukan cinta sejati, melainkan pemenuhan akan kepuasan dan kenikmatan atas nafsu birahi dan keinginan daging dari kemanusiaan manusia.

Aku telah keliru bahkan salah mengerti tentang konsep cinta, sehingga dalam perwujutanyapun aku keliru dan salah. Aku menyesal atas semua perbuatanku. Selama ini aku menghindar dan melarikan diri dari masalah dan kenyataan menimpaku dengan memakai narkoba dan melacurkaan diri. Apa yang aku lakukan rupanya tidak mengurangi dan menyelesaikan. Malah menambah beban dan memperparah lagi diriku.

Aku ingin bertobat. Aku mau berubah. Aku tidak mau menjadi pelacur lagi. Aku ingin menghargai, mencintai dan memperhatikan tubuh yang diciptakan Tuhan ini. Aku berusaha menjadikan diriku wanita baik seperti semula. Tidak ada yang terlambat kalau masih ada napas dan kesempatan untuk berubah sebelum kematian menjemputku. Aku bersumpah untuk tidak pergi ke tempat-tempat yang penuh dengan perbuatan kegelapan malam.

Aku bangun dan meninggalkan beranda depan lalu melangkah menuju ruang kamarku. Sesampainya di kamar aku memanjatkan doa pada Realitas Tertinggi, Tuhan. Aku menangis dan menangis pada Tuhan. Aku mohon pada Dia agar Dia mengampuni aku dan melupakan segala kesalahanku dan Andre. Dan semoga Andre bertobat dan tidak mempermainkan dan menghancurkan wanita lain seperti yang ia lakukan padaku.

Setelah berdoa, aku membersihkan seluruh tubuhku dengan air, mengganti pakaian, makan, lalu mengayunkan langkah menuju rumah Tuhan untuk berdoa. Aku seorang yang terlahir dari keluarga Kristen jadi aku ke gereja yang sudah kutinggalkan. Aku bersyukur pada-Nya karena segala dosa dan kesalahanku telah dilupakan-Nya. Aku berani pergi berdoa karena aku percaya bahwa Sang Realitas tertingi yaitu Tuhan telah mengampuni aku sebelum aku datang pada-Nya. Aku datang untuk merayakan kegembiraanku bahwa aku selalu dan selalu diampuni oleh Sang Ada. Dalam doaku aku mohon, semoga akuku yang pelacur yang telah bertobat, mampu menjadi manusia yang baik sperti dulu, mampu menghargai tubuhku dan menjadi peneladan kasih bagi sesama dan bagi dunia serta menampak diri-Nya.

Jakarta, 7 Maret 2008

Pos Kupang edisi Minggu, 1 Juni 2008, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda