Siklus Kehidupan dalam Upacara Suku Boti (1)


POS KUPANG MUCHLIS AL ALAWI Wanita Boti diharapkan terampil memintal benang dan menenun.

SELAMA
ini kita hanya mengenal berbagai upacara siklus kehidupan orang Jawa. Padahal, di NTT khususnya daratan Timor, juga mengenal berbagai upacara dalam siklus kehidupan. Pada masyarakat Dawan atau Atoni yang meliputi Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) dan Timor Tengah Selatan (TTS) serta Kabupaten Kupang (daratan) di masa lampau melaksanakan siklus kehidupan manusia dengan tata cara yang sama.

Namun, dalam perkembangan atau setelah masuknya agama Kristen (Protestan dan Katolik), berbagai upacara tersebut mulai mengalami perubahan. Bahkan di beberapa suku besar Dawan sudah tidak melaksanakan upacara tersebut. Namun upacara siklus kehidupan masih dipegang teguh dan terus dilaksanakan oleh Suku Boti di Kabupaten TTS.

Dalam buku Laporan Hasil Kajian Upacara Siklus Kehidupan Masyarakat Suku Boti- Kabupaten TTS yang diterbitkan oleh Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Arkeologi, Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional-Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menyebutkan, tidak semua warga Suku Boti melaksanakan berbagai upacara tersebut, hanya sebagian kecil saja yang masih melaksanakan upacara peninggalan leluhur tersebut. Suku yang masih melaksanakan upacara siklus kehidupan sebagian kecil adalah masyarakat Boti Dalam.

Penamaan Boti Dalam berkaitan dengan penganut kepercayaan asli (agama suku). Suku Boti Dalam adalah masyarakat yang masih berpegang teguh pada kepercayaan asli suku yang percaya pada tiga wujud kekuatan supranatura (Uis Neno, Uis Pah dan arwah leluhur). Data statistik jumlah penduduk Boti yang masih menganut aliran kepercayaan hingga tahun 2003 sebanyak 264 orang (70 KK), sementara jumlah penduduk Desa Boti sebanyak 1.761 jiwa.

Meski jumlah penduduk Boti Dalam makin berkurang, namun mereka masih survive tetap melaksanakan upacara-upacara peninggalan nenek moyang mereka. Fase upacara siklus kehidupan masyarakat Boti dimulai dengan upacara kelahiran atau lais mahont.

Upacara Kelahiran atau Lais Mahonit
Ada kepercayaan bahwa di setiap tempat di alam terbuka seperti pohon besar, gunung atau batu besar, sungai dan kampung ada penjanga atau penunggu. Ritus upacara yang dilakukan masyarakat Boti pada tahap ini adalah upaya untuk melindungi sang ibu yang sedang hamil serta meramal jenis kelamin bayi yang sedang dikandung oleh sang ibu.

Upacara ini dikenal dengan nama Ta Pe Fenu (pemecahan buah kemiri). Ritual ini dilakukan saat usia kandungan tujuh bulan. Hadir dalam upacara ini hanya hanya orangtua kandung dari pasangan suami istri beserta bayi yang disebut A mama fenu secara harafiah berarti pengunya kemiri namun secara gramatikal sebenarnya penyebutan kepada sang dukun bayi.

Pada upacara ini yang berperan adalah A mama fenu, melakukan pembakaran buah kemiri kira-kira setengah matang, kemudian kemiri tersebut dibungkus dengan sepotong kain dan dibenturkan hingga kemiri pecah. Pada saat kemiri pecah, diperhatikan dengan cermat bila daging buah kemiri tetap utuh, maka sang ibu sedang mengandung anak laki- laki. Tetapi bila daging kemiri terbelah maka anak yang sedang dikandung itu berjenis kelamin perempuan.

Setelah tahap pemecahan buah kemiri, upacara dilanjutkan dengan A mama fenu mengunyah daging kemiri yang sudah dipecahkan untuk digosok ke perut ibu yang sedang mengandung sambil membaca doa sesuai ajaran kepercayaan untuk memohon supra natural melindungi sang ibu dari gangguan makluk gaib serta memohon agar sang ibu bisa melahirkan dengan selamat.

Masa Persalinan (Mahonit)
Pada masyarakat Boti, menyambut kelahiran seorang bayi, terlebih dahulu dipersiapkan seorang dukun bayi yang akan bertanggung jawab untuk mengurus proses persalinan seorang ibu yang akan melahirkan. Dukun bayi tersebut sudah dikenal dan tahu akan kemampuannya.
Saat melahirkan; ketika tiba saat melahirkan yang mendampingi adalah A mama fenu dan ibu kandung dari wanita yang akan melahirkan (bila ada). Tugas A mama fenu adalah menyiapkan serta melaksanakan seluruh proses persalinan mulai dari pemotongan tali pusar dan menguru ari-ari (plasenta).

Ada kebisaan unik masyarakat sukun Dawan/Atoni dalam proses persalinan ini yakni cara pemberlakuan terhadap ari-ari atau plasenta. Ini diketahui dari cara menamakan yang disebut Li an Olif (adik dari bayi). Tata cara penyimpanan plasenta yakni plasenta anak perempuan akan digantung atau disimpan diatas pohon kapas, dengan harapan agar sang bayi dewasa nanti, bisa menjadi penyulam benang yang terampil dan penenun yang mahir. Sedangkan plasenta anak laki-laki digantung di atas pohon enau atau lontar dengan harapan agar saat dewasa nanti pandai menyadap nira.

Ada juga yang meggantung plasenta di pohon kusambi atau pohon beringin yang disebut oleh masyarakat Usaip Usuf atau Nun Usaf. Ini dengan maksud agar bayi tersebut nantinya menjadi pemberani (kusambi) dan menjadi pelindung atau pengayom (beringin). Pohon jenis ini juga jarang di tebang oleh masyarakat yang mempercayai hal tersebut. Masyarakat Boti percaya ada hubungan emosional antara bayi dan plasentanya, sehingga plasenta tersebut harus diperlakukan sebaik mungkin.

Selanjutnya bayi yang telah dilahirkan ini akan ditangani oleh A mama fenu dan mereka tinggal di dalam rumah bulat (ume khubu) selama empat hari dan empat malam. Selama itu pula, ibu dan bayi berada di atas tempat tidur dengan bara api di bawanya. Masyarakat Boti percaya kehangatan bara api itu untuk memberikan kekuatan, memulihkan tenaga, memberikan semangat hidup.
Empat hari merupakan kesempatan ibu untuk mengembalikan ketegangan saat masa krisis dalam hidupnya, sementara bagi sang bayi merupakan kesempatan pertama menikmati dunia baru dimana ia mendapat kekuaatan dari air susu ibu, saat bayo bebas menangis dan meronta di alam bebas.

Upacara pengenalan anak dengan dunia luar (Napoitan Liana)
Upacara ini dimaksudkan untuk memperkenalkan anak pada masyarakat sekaligus mengumkan bahwa masa krisis yang dijalani oleh bayi dan ibu telah berlalu. Pelaksanaan upacaya ini diperlukan persiapan yakni berbagai macam kebutuhan selayaknya, melaksanakan suatu pesta syukuran, yakni satu ekor babi, beras dan lain-lain terutama siri pinang. Pihak yang terlibat dalam upacara ini adalah keluarga inti ibu dan bapak dari suami-istri yang melahirkan dan turut serta tokoh adat dan atoin amaf (saudara laki-laki) dari ibu yang melahirkan.

Pelaksanaan acara ini sesuai kesepakatan antara kedua keluarga dari pihak suami istri. Ketika tiba waktu pelaksanaan upacara ini peserta terbagi atas dalam dua kelompok. Kelompok pertama terdiri dari ibu dan bayi bersama A mama fenu, berada di dalam rumah bulan, sedangkan kelompok kedua terdiri dari tokoh adat bersama keluarga dan undangan berada di luar rumah.

Dalam upacara ini terjadi percakapan atau tegur sapa antara kelompok pertama dan kedua. Pembicaraan ini dalam bahasa adat yang dipenuhi kiasan. Bunyi percakapan terdiri dari pertanyaan dan jawaban. Pertanyaan biasanya datang dari kelompok di luar rumah yakni tua-tua adat dan yang menjawab dari kelompok dalam rumah bulat yakni ibu bayi dan dukun bersalin. Setelah sesi dialog, ibu bersama bayi keluar dari rumah bulat dan menyalami tua adat bersama hadirin di luar sambil menikmati siri pinang yang disuguhkan.

Selanjutnya ibu dan bayi dihantar menuju sungai atau mata air. Di tempat itu, sang ibu mencelupkan dua kakinya diikuti dengan membasu kedua kaki bayi. Setelah selesai, ibu dan bayi bersama rombongan kembali ke rumah dan disambut dengan keloneng gong dan tambur menggenta bertalu-talu. Bunyi-bunyian ini merupakan simbol bahwa seluruh warga ikut bersuka ria karena bertambah satu jiwa penduduk Boti.

Pada kesempatan itu pula, pergelangan kaki dan tangan sang bayi diikutkan seutas benang berupa gelang sebagai simbo bahwa bayi tersebut belum mempunyai nama. Hal ini juga merupakan suatu fase siklus kehidupan yang harus dijalani. (*/alf/bersambung)

Pos Kupang Minggu 22 Juni 2008, halaman 11

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda