Surga Terampas

Cerpen N.A. Mitha Pelangi Putri

SIANG itu panas sekali. Di sudut Desa Sulamu, aku dan temanku berjalan membelah kesenyapan hutan jati. Sedetik-dua detik, terdengar simponi penghuni hutan bak konser spektakuler group musik Ungu di Jakarta. Indah menggetarkan sukma.
''Nan, ini ko tanahnya?'' aku setengah berbisik memecah kesunyian.

''Ho, ini su tanahnya. Ko lu liat tu pak-pak dong deng be pung bapak su ba ukur rame tu,'' Ferdinan langsung memotong pertanyaanku.


Di depan kami sekelompok petugas berseragam keki dibantu warga gesit mematok tanah milik Ferdinan. Mereka bergerak cekatan hingga secepat kilat mampu menyelesaikan tugasnya. Kami pun segera pulang.

Dalam perjalanan, Ferdinan diam-diam membangun obsesi. Dia berkhayal menjadi orang kota. Pergi ke mana-mana naik mobil, tidak seperti sekarang, harus berjalan kaki sampai tubuhnya basah kuyup bermandikan keringat. Keluar masuk warung kapan saja dia mau.

Saking hebatnya berkhayal, tanpa sadar air liur Ferdinan menetes deras. Rasa gemas bercampur jengkel, membuatku tak bisa menahan diri. Tanpa basa-basi, kudaratkan sebuah cubitan disertai teriakan yang mengejutkan Ferdinan hingga mendorongnya untuk menerjangku layaknya seekor macan yang haus akan darah. Kusadari Ferdinan berusaha membalasku, namun dengan enteng aku menepisnya dan meledaklah kemarahan Ferdinan.

''Iki nih ke apa sa... Lu bae orang kota de, Lu son pernah mangarti karmana susahnya jadi orang kampung. Beta berkhayal yang macam-macam karena jarang nikmati makanan di warung, nae oto atau pasiar di gedung-gedung mewah. Pi Kupang sa paling satu taon satu kali saat Natal tiba. Itu pun sonde jauh- jauh dari Oeba, te abis beli baju ju terus buru-buru pulang. Laen deng Lu. Sadiki-sadiki musti pulang Kupang liat Lu pung orangtua. Lu ju masih bisa berfoya-foya, apalai Lu pung orangtua pagawe, de tiap bulan tarima gaji."

Ferdinan meluapkan amarah dan kejengkelannya dalam kata-kata yang membuatku terpukul laksana sambaran petir.

***
Hatiku layu, teramat layu. Bak sambaran listrik kata-kata Ferdinan menampar perasaanku. Separuh rasaku seakan mati, seperti gesekan dedaunan jati diterpa angin semilir di musim kemarau. Aku tertunduk, tak sanggup menatap sepasang kelereng yang mencorong dari rongga mata Ferdinan. Hatiku kacau dan semangatku pergi entah ke mana.

Aku begitu malu pada ayah Ferdinan yang menatapku dalam-dalam. Dengan sekuat tenaga aku berusaha menenangkan diri, tapi rasanya sia-sia belaka. Aku sungguh merasa bersalah. Kuputuskan untuk menghindar dari Ferdinan beserta keluarganya.

Esok harinya, aku menghindar bertemu Ferdinan. Hampir semua pelosok sekolah menjadi tempat persembunyianku. Kelakuanku membuat warga SMP Negeri 2 Sulamu heran. Apalagi setelah melihatku hanya berdiam diri di dalam kelas. Aku benar-benar remuk. Tanpa sepengetahuanku Ferdinan menyelinap masuk kelas delapan, tempat persembunyianku. Di dalam ruang kelas yang asri Ferdinan menyodorkan tangan meminta maaf sambil mendesakku dengan berbagai pertanyaan menyelidik.

"Iki e...Lu jang manyandiri bagini. Lu su jadi banci ko? Atau kalo Lu masing marah na Beta minta maaf. Sonde sepantasnya Beta hardik Lu kae kamarin," Ferdinan terus bicara tanpa sedikit pun memberiku kesempatan untuk berkomentar.

***
Dua tahun berlalu. Kami berdua lulus dari SMP Negeri 2 Sulamu dan bertekad melanjutkan sekolah di Kupang. Kami pun diterima di salah satu SMA Negeri di Kupang. Belajar dan belajar, itulah tekad kami. Akhirnya kami naik kelas. Begitu senangnya orangtua Ferdinan akan prestasi yang diraih anaknya. Ferdinan meraih peringkat pertama di kelas. Sedangkan aku, apa yang bisa kubanggakan dari prestasi intelektualku yang pas-pasan?

Namun itu pula awal petaka besar bagi Ferdinan. Persoalan dipicu oleh berbagai pemberitaan di media massa cetak dan elektronik seputar rencana pemindahan Ibu kota Kabupaten Kupang. Singkat cerita, menurut pemberitaan di media massa, Sulamu dihapus dari daftar calon Ibu kota Kabupaten Kupang. Sebagai gantinya, Pemkab Kupang beralih melirik Oelmasi. Alasannya, karena Oelmasi dipandang lebih strategis dan berpotensi dikembangkan menjadi kota yang moderen.

Keunggulan tersebut antara lain karena jaraknya lebih dekat dengan jalan utama yang menghubungkan dengan Kupang sebagai Ibu kota Propinsi NTT, serta semua kota kabupaten di daratan Timor bagian barat. Pertimbangan yang lain karena di Oelmasi persediaan air melimpah, serta jalannya mulus.

Mimpi-mimpi masyarakat Sulamu terbawa angin laut Olibafa. Ferdinan terpuruk dan putus asa. Sampai-sampai dia putuskan kembali ke Sulamu. Ia tidak mau sekolah lagi. Sebagai gantinya, ia kini menjadi pemabuk, berandalan yang suka marah. Ia selalu menolak diberi nasihat oleh orangtuanya.

Seringkali Ferdinan berkelahi dengan ayahnya, bahkan sampai menampar ibunya. Kelakuannya sungguh di luar batas. Tanpa sepengetahuan Ferdinan ayahnya memintaku pergi ke Sulamu untuk menasehati Ferdinan. Pertimbangan orangtua Ferdinan, tentu saja mengingat kedekatan hubungan di antara kami sebagai dua bersahabat.

Begitu sampai di Sulamu aku pergi ke rumah Ferdinan. Begitu terkejutnya aku, Ferdinan yang dulunya berbadan proposional kini kurus kering dan tak terurus. Lebih parah lagi ketika Ferdinan menolak dan menghujat diriku. ''Buat apa Lu datang? Beta sonde ada urusan dengan Lu. Ko Lu apanya Beta? Sonde keluarga, sonde sodara. De lebe bae Lu cepat pulang dan jang pernah injak kaki lai di sini. Kalo sonde, Be bunuh Lu na!'', Ferdinan berteriak sambil menodongkan sebilah pisau ke arahku. Aku tak menjawab.

Segera aku pergi dan kembali ke Kupang dan berusaha melupakan Ferdinan. Ayah dan ibu Ferdinan tidak putus asa, mereka bertekad menginsafkan Ferdinan untuk kembali ke jalan yang benar. Orangtuanya mendorong Ferdinan untuk mengolah sisa tanah yang belum terjual untuk mengurangi rasa frustasinya. Tetapi Ferdinan bersikeras. Ia tidak mau menuruti kata-kata orangtuanya. Apalagi untuk menjadi seorang petani. Malah ia memaksa ayahnya untuk membeli sebuah motor untuknya, meski dengan cara kredit.

Dengan terpaksa dan berat hati ayahnya menjual sapi-sapi warisan kakek Ferdinan untuk kredit sepeda motor. Ketika motor itu sudah dibeli, Ferdinan begitu bergaya dan sombongnya kepada para tetangga. Ia berpendapat naik di atas motor lebih tinggi derajatnya daripada mencangkul tanah. Ferdinan tidak memikirkan kerja keras ayahnya menjual sapi-sapi, satu-satunya harta yang mereka miliki. Setiap hari, pagi-pagi buta dia sudah bangun. Dan mulai memanaskan mesin motornya dengan menaikkan gas tinggi-tinggi. Tak peduli bunyi bising yang ditimbulkannya. Apalagi perasaan para tetangga yang terganggu tidurnya.

Baru dua bulan Ferdinan menikmati perubahan statusnya, dia mendapat kecelakan. Motornya menabrak sebatang pohon kepok yang berakibat dia harus terbaring di rumah sakit. Ferdinan menderita cacat seumur hidup. Ferdinan harus selamanya duduk di kursi roda. Sepeda motor yang dibanggakannya telah disita polisi dan entah bagaimana nasibnya sekarang. Ferdinan jadi berubah, dia sering membisu.

Semua angan-angannya telah hilang melayang. Sapi dan tanahnya yang berhektar-hektar sudah tak berbekas lagi. Kini orangtuanya semakin tua dan rapuh. Setiap kali tetangga sebelah rumahnya mendulang hasil panen yang banyak dan melimpah, Ferdinan hanya melongo dan menahan perut. Ia tidak mampu berbuat apa-apa karena tanah yang dulunya banyak sekarang tinggal hanya sebidang. Ditambah dengan orangtuanya yang semakin tua dan hanya sanggup mengurus sepetak, sebagai kebun untuk menyangga hidup mereka. Ferdinan begitu menyesal, namun apa daya, ia tidak dapat berbuat apa-apa. Dia hanya bisa terdiam. (*)

Pos Kupang Minggu, 8 Juni 2008, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda